
Kebangkitan mengenai misteri yang terlupakan
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
"J-jadi aku udah mati?!"
"Aku tau ini sulit dicerna, tapi orang yang ada di hadapan kamu ini sama-sama hantu loh," ujar Derren.
"Tapi, aku masih belum matikan?" tanya Ghai.
"Hmm, mungkin memang terlalu lemah untuk dikatakan mati, tapi kamu juga benar-benar lemah untuk dikatakan hidup. Kalau tentang keberadaan aku, ya gak usah dipertanyakan lagi," ujar Derren dengan raut muka sedih.
"Kamu, arwah gentayangan?" tanya Ghai.
Derren segera memegang dadanya yang baru saja tertusuk belati bermata 2. Harga dirinya sebagai hantu hampir saja ternodai. Ayolah, Derren tidak memiliki derajat serendah itu. Lagipula kondisi tubuhnya baik, bahkan menyerupai manusia, hanya saja kulitnya memang terlihat pucat sebagai pembeda terbesar.
"Kamu masih gak ngerti apa itu arwah gentayangan? Gak apa-apa, aku bakal jelasin lagi. Aku bukan arwah gentayangan, mereka yang gentayangan adalah kaum hantu yang memiliki kasta paling rendah di antara hantu lainnya. Arwah gentayangan artinya mereka yang kehilangan akal dan berakhir mengganggu manusia dengan anggota tubuh yang tidak sempurna. Jadi, jangan lagi panggil aku sama sebutan itu lagi. Itu melukai harga diriku," ujar Derren.
"Oh, maaf kalau aku bikin kamu ngerasa kayak gitu. Aku cuma bingung, ini semua masih belum bisa aku terima dengan akal sehat," ujar Ghai.
"Aku cukup benci mengakuinya, tapi ucapan sosok tadi itu benar. Aku akan membantumu, jadi feel free to ask. Aku sama kamu sama-sama dibangkitkan karena satu tujuan, jadi kita sama-sama punya misi," ujar Derren.
"Jadi, kamu sama kayak aku?" tanya Ghai.
"Yap," jawab Derren.
"Mencurigakan," ujar Ghai.
"Apanya yang mencurigakan? Udah ah, mending ke kamar aku sekarang," ajak Derren antusias.
"Di mana?" tanya Ghai.
"Masih di dalam gedung kok. Ayo, sekalian aku kasih tour house kecil-kecilan untuk menyambut kedatangan kamu," ujar Derren.
Dua jam telah berlalu. Gedung ini sebenarnya tidak seluas itu sampai perlu memakan waktu 2 jam untuk dijelajahi. Seandainya saja Derren tidak berhenti tiap 5 menit sekali ketika bertemu dengan hantu lainnya, mungkin kini baik Ghai pun Derren bisa beristirahat di sana. Kebanyakan dari mereka yang diajak berbicara dengen Derren adalah mereka yang siap berpamitan, katanya sudah waktunya bagi mereka untuk pergi ke atas sana.
Entah karena lama menjadi hantu atau bagaimana, Derren terlihat menganggap semua yang ada di sana adalah keluarganya sendiri. Derren kerap kali merengkuh mereka satu persatu ditemani tangisan, khususnya kepada mereka yang waktunya tak lagi lama.
"Sebenernya kamar kamu itu sejauh apa? Perasaan gak sampe-sampe," ujar Ghai yang mulai merasa jenuh.
"Sabar Ghai. Kita baru jelajahin gedung ini sekitar 30% loh! Masa kamu udah bosen lagi?!" tanya Derren.
__ADS_1
"Jadi, dari tadi kita baru berjalan sedikit?!" tanya Ghai.
"Iya, hehehe. Ya sorry deh, gara-gara aku sibuk ngobrol dan pamitan sama hantu yang lain kamu jadi harus lama-lama ngelakuin tour ini. Coba kamu pikir deh Gha, kita hantu itu sama aja kayak manusia, sama-sama mengikat hubungan satu sama lain. Setiap hubungan itu berharga, makannya aku menghargai mereka semua. Sama halnya kayak kamu yang memutuskan untuk kembali. Semua itu ada harganya."
Ghai sedikit terusik mendengarnya. Entahlah, tiap kali Derren memamerkan deretan gigi bungsunya itu, selalu terasa menyenangkan pun menyakitkan di detik yang bersamaan.
"Aku rasa aku gak pernah menganggap hubungan adalah suatu hal yang penting di dalam hidup," ujar Ghai yang mengundang helaan napas lega dari Derren.
"Eii, ayolah. Aku tau kamu dengan baik Ghai. Manusia itu bersosialisasi begitu juga kaum seperti kami, manusia membutuhkan seseorang untuk mengisi harinya bersama. Tidak selalu dalam konteks romantis ya! Bisa aja itu persahabatan, atau mungkin jauh lebih kuat? Seperti keluarga. Kita semua memilikinya selama kita hidup, itu pasti adanya. Itu semua hadir untuk mengobati rasa sepi. Jadi, aku juga merasa sedih karena mereka sudah mau pergi mendahului aku. Maksudku, mereka temanku selama aku ada di sini dan berpisah dengan mereka sama menyakitkannya seperti kehilangan sesuatu yang berharga," ujar Derren. Raut wajahnya berubah sedih, matanya tak lagi berbinar.
"Teman?" tanya Ghai.
"Ya, seperti kamu dan aku. Kita teman! Ekhem, biar aku koreksi, kita sahabat," ujar Derren dengan beberapa gelengan kepala untuk mengoreksi kesalahan ucapannya.
Ghai tersenyum, hatinya merasa hangat. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, Ghai tidak peduli. Mengetahui bahwa, ia tidak kesepian selama menjalani misi-misi aneh itu saja sudah cukup.
"Aneh, padahal kamu gak sekaku ini. Apa karena ingatan kamu belum balik sepenuhnya ya?" monolog Derren.
Ghai diam-diam mendengarnya, hanya saja ia malas mengungkit. Alih-alih bertanya, Ghai tersenyum.
"Makannya bantuin dong."
"Iya, iya."
Derren melanjutkan perjalanan house tour-nya dengan Ghai di samping. Derren yang berperan sebagai tour guide selalu menjelaskan mengenai sejarah dari tiap-tiap ruangan dengan nada yang selalu terdengar antusias. Derren juga tak pernah lupa untuk mengenalkan Ghai pada penduduk lainnya.
"Nah! Sekarang kamar aku!" ujar Derren.
"Namanya juga house tour ! Ya harus muterlah rute jalan yang diambilnya," ujar Derren.
Sejujurnya Ghai kesal, tetapi ia tidak bisa marah pada Derren, mengingat Derren-lah yang berjasa dalam mencegah kemungkinan Ghai tersesat di dalam gedung itu sendiri di masa depan. Memilih bungkam, Ghai kemudian mengikuti Derren dari belakang.
"Kamarku emang masuk lorong, privasi. Kamarku ini bekas ruang latihan piano yang ditutup," ujar Derren.
"Kenapa ditutup?" tanya Ghai.
"Kata mereka sih, angker," ujar Derren dengan tatapan sendu yang sulit diartikan.
"Itu udah cukup buat dijadiin bukti kalau kamu emang hantu jahil," ujar Ghai dengan senyuman miringnya.
"Enak aja! Aku gak jahil tau!" ujar Derren.
"Masa? Hahahaha," Ghai merasa senang meledek Derren.
"Ck, ayo cepetan masuk ke dalam," ujar Derren.
Derren kemudian menembus lewat pintu. Ghai yang melihatnya mencoba membuka pintu terlebih dahulu dan memasuki ruangan dengan cara normal.
__ADS_1
"Hampir aja aku mempertanyakan kenapa kamu bisa pegang benda. Ghai! cobain deh masuk dengan cara nembus kayak aku. Enak loh! Kayak keren gitu rasanya," ujar Derren.
"Gak, aku masih belum bisa biasa sama hal-hal kayak gitu. Oh, Derren aku mau tanya. Apa kamu tau alasan sosok itu taruh kita di tempat seperti ini?" tanya Ghai.
"Semua ada alasannya Ghai jadi, gak usah takut, 'kan ada aku di sini," ujar Derren.
"Aku kok malah jadi ngasihanin kita ya?" tanya Ghai.
"Eii, kamu tuh harusnya bersyukur! Kamu masih termasuk sebagai hantu kasta menengah," ujar Derren.
"Kasta menengah?" tanya Ghai.
"Ya, jadi di dimensi kita ini, kita punya 3 kasta. Kasta rendah, menengah, sama atas. Kasta rendah adalah kasta hantu gentayangan, sedangkan kasta menengah adalah kasta hantu yang gak punya ingatan apa-apa, dan kasta tertinggi adalah mereka yang mampu memiliki ingatan mereka semasa hidupnya," ujar Derren.
"Oh, jadi gitu toh." Ghai kemudian menganggukan kepalanya berulang kali.
"Masih penasaran sama hal lain?" tanya Derren.
"Apa semua hantu punya aturan yang sama kayak aku?" tanya Ghai.
"Untuk soal itu, cuma mereka yang mengalami kebangkitan yang punya aturan. Gini-gini, mudahnya, pas ada orang meninggal, arwah mereka masih menapakkan dirinya di bumi. Nah, bagi mereka yang punya penyesalan biasanya mereka akan mengalami apa yang disebut sebagai 'kebangkitan'. Kebangkitan ini terjadi sebagai kesempatan bagi mereka untuk bisa nyelesaiin semua masalah hidupnya, singkatnya, masalah yang buat mereka menyesal.
Untuk mencegah adanya bentrok antar alam semesta, mereka yang dibangkitkan punya peraturannya sendiri-sendiri. Aturan yang dimiliki mereka yang mengalami kebangkitan beda-beda, mereka tercipta berdasar bentuk penyesalannya, atau momen terakhirnya, atau juga berkaitan sama kenakalan yang dia lakuin, atau yang terakhir karena hukuman dia atas apa yang dia lakuin dengan menentang cara semesta bekerja.
Gak sedikit dari kalangan yang kayak gitu berakhir jadi hantu gentayangan karena merasa dosanya gak termaafkan. Mereka menentang apa yang harus diperbaiki, apa yang pernah mereka lakukan, dan apa yang terjadi sama mereka karena merasa gak adil. Nah, berhubung kamu termasuk golongan arwah yang masih mencari jawaban dari semua penyesalan kamu. Kamu ini masih mengalami kebangkitan pertama.
Ada tahap-tahap kebangkitan. Kebangkitan pertama yaitu, masa-masa arwah tanpa ingatan. Kebangkitan ke-dua yaitu, masa-masa di mana arwah udah mendapatkan semua ingatannya semasa hidup dan diberi pilihan untuk memperbaiki atau menggila akibat penyesalannya. Kebangkitan ke-tiga adalah masa-masa di mana arwah kembali untuk pulang ke akhirat," ujar Derren panjang lebar.
"Panjang ya? Jadi aku ini baru aja ngalamin kebangkitan pertama?" tanya Ghai.
"Iya," jawab Derren.
"Terus kalau kamu? Kamu gimana? Apa kamu juga arwah yang mengalami kebangkitan? Kalau iya, apa peraturan kamu?" tanya Ghai.
Tatapan mata Derren tiba-tiba saja terlihat kosong. Sedikit banyaknya, ada rahasia yang Derren jaga dari Ghai. Seperti kebangkitan yang sebenarnya hanya dialami oleh mereka yang melakukan transaksi dengan malaikat maut. Di sisi lain, Ghai diam menunggu jawaban dari Derren, karena merasa pegal akhirnya dia mengambil posisi duduk di lantai dekat dengan Derren.
"Aku juga punya aturan. Beda sama kamu, kamu mau tau?" tanya Derren yang kini mulai mengulas kembali senyumannya yang sempat hilang beberapa saat tadi.
"Iya," jawab Ghai.
"Oke, peraturanku itu...
__ADS_1
©AksamalpaAksara