
"Sorry tadi agak lama, biasa ibu-ibu belanja bulanan di Indomaret jadi macet," ujar Nea.
"Gak apa, ya udah ayo lanjut ke RS*S dulu," ajak Arka.
"Oke," jawab Nea.
Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka sudah tiba di RS*S, rumah sakit tujuan pertama mereka. Arka bilang pada Nea bahwa dirinya tidak perlu ikut Arka untuk menghampiri meja informasi, biar saja Arka sendiri.
"Halo, saya mau tanya."
Seorang perawat yang berada di meja informasi menoleh menatap Arka dengan senyuman. Tak lama kemudian Arka membuka ponselnya.
"Apakah di sini ada pasien dengan nama Abhiyoga Ghaitsa Mahawira?" tanya Arka.
Perawat itu mengangguk sembari tersenyum. Selang beberapa detik kemudian, perawat tersebut kembali duduk untuk mencari data pasien di rumah sakit tersebut.
"Baik, sebentar saya cari ya mas."
Tak membutuhkan waktu lama, perawat itu kembali berdiri dan lagi-lagi menatap Arka tapi, kali ini dengan ekspresi yang berbeda. Arka bisa menebak jawabannya.
"Maaf mas, di rumah sakit ini tidak ada pasien dengan nama tersebut."
"Oh gitu ya? Ya sudah terimakasih sus," ujar Arka pamit.
Nea tengah duduk di kursi yang tersedia di sana sembari memainkan ponselnya. Sebelum pergi menghampiri Nea, Arka terlebih dahulu berbicara pada Ghai.
"Lo gak di sini Gha. Kita lanjut ke lokasi ke-2 aja."
"Oke," jawab Ghai.
Nea dapat melihat sepatu biru gelap dengan merk Adi*as milik Arka di hadapan matanya yang tertuju pada lantai rumah sakit. Nea segera memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu berdiri.
"Udah? Cepet amat. Nomor antri berapa?"
Pertanyaan dari Nea mengundang tawa Ghai. Nea sempat menoleh sejenak, mencari sumber suara yang menyerupai suara Ghai. Arka memutar bola matanya.
"Cepet orang gue cuma nanya informasi. Udah yuk ke tujuan selanjutnya" ajak Arka sembari merangkul Nea.
Tawa Ghai hilang seketika. Menatap Arka dengan tatapan membunuh. Iri rasanya melihat Arka yang mampu berkontak fisik dengan Nea.
***
Lama mencari dengan hasil yang buruk, Nea dan Arka lelah. Mereka memutuskan untuk pergi mencari makan terlebih dahulu.
"Lo nyari apaan si Ka? Udah nyamperin 5 rumah sakit ujung-ujungnya balik dan cari rumah sakit yang lain. Bukannya lo cuma mau nyembuhin bisul lo?" tanya Nea.
Arka berhenti meneguk minuman Es Teh Manis miliknya. Ia menaruh ponsel yang sebelumnya beristirahat di saku celana Arka ke meja.
"TA lo udah sampe mana Ne?" tanya Arka dalam upaya mengalihkan perhatian.
Nea sebenarnya tahu Arka mengalihkan pembicaraan tapi, ia tidak berniat menggali lebih dalam. Jangan lupakan persahabatan mereka yang terhitung lama. Nea tahu betul ketika Arka ditanya tentang suatu masalah namun dijawab dengan bentuk pengalihan, artinya Arka ingin memecahkan masalah itu sendiri. Toh Nea tau pribadi Arka yang pada dasarnya sulit menyimpan rahasia, entah setelah masalah itu selesai atau mungkin ketika Arka kelelahan di tengah jalan saat memecahkannya, Arka pasti akan menceritakan dan berbagi mengenai hal itu.
"Gue dah mulai bikin animasinya sih. Karakter udah gue buat soalnya. Sketsa kasar udah mulai."
"Bagus deh. Gue yang milih pameran sekarang lagi kewalahan jir."
"Semangat bro. Satu lagu buatan Ghai udah masuk ke gue. Tinggal 2 lagi dan penyelesaian animasinya sih. Lagian gue kan gak pake voice over dan cuma ngandalin musik si Ghai jadi, semoga aja bisa selesai dalam waktu dekat."
"Ya bagus deh kalau gitu. Hari ini sampai sini dulu aja."
__ADS_1
"Loh kenapa? Udahan?"
"Lo keliatan capek banget."
"Gak capek kok gue. Ayo kemana lagi habis ini?"
"Balik ke rumah lo," jawab Arka yang mulai berdiri mau bersiap membayar makanan.
"Gue aja yang bayar, lo langsung ke parkiran aja," ujar Arka.
Nea menurut, setelah mendengar Arka, Nea segera berjalan ke arah parkiran. Lama menunggu membuat Nea memainkan ponselnya mencari inspirasi warna untuk animasinya.
"Nea!"
Suara seorang anak lelaki terdengar. Nea pernah mendengarnya, terasa akrab Nea mulai memutar pikirannya. Mencoba mengingat siapa pemilik suara tersebut.
"Nea!"
Suara itu terdengar kembali. Nea menghentikan aktivitas memainkan ponselnya dan mulai menoleh kanan-kiri.
"Di sini!"
Nea melihat sesosok anak lelaki kecil tengah berdiri di tengah jalan. Terlihat seperti siluet, wajahnya tidak terlihat. Nea berjalan perlahan hingga sampai di pinggir jalan.
"Mau ku beritahu satu hal?"
Sosok itu mulai tertawa kecil sembari menatap Nea yang mencoba melihat samping kanan-kiri, apakah mungkin ada mobil atau motor yang akan lewat di jalan itu. Nea akhirnya memberanikan diri melangkah maju ke arah jalan raya yang kosong saat itu.
Nea sampai di sana. Tepat di hadapan sosok anak lelaki itu, Nea dapat melihat dengan baik pakaian yang dikenakan sekaligus wajahnya yang terlihat pucat. Sosok itu berjalan dengan kaki tak beralaskan apapun. Sosok itu tersenyum, ia mengangkat tangannya.
"Ini tentang Ghai, Derren, juga Renren. Kenangan kamu yang hilang selama hampir setahun."
"Siapa kamu?"
***
"Hari ini sampai sini dulu ya Gha," ujar Arka.
"Iya. Gak apa-apa kok, toh masih bisa dilanjut besok," jawab Ghai.
"Lo tau sendiri selama kita tadi ngunjungin rumah sakit, gak ada yang ngerawat pasien dengan nama lo," ujar Arka.
"Iya, eh ngomong-ngomong Ka. Lo jangan suka buat gue ngiri napa?" ujar Ghai.
"Maksud lo apaan?" tanya Arka.
"Ngerangkul Nea kayak gitu. Kesel tau gue liatnya," jawab Ghai.
"Ciailah, cemburu dia," Arka tertawa.
Mereka sampai di tempat parkir. Nea tidak ada di sana, Arka segera mencari Nea.
"Lah, ni anak kemana? Suka gini dah, mabur sendiri," ujar Arka yang mulai mengeluarkan ponselnya dengan tujuan menelpon Nea.
Ghai menunggu tepat di samping Arka. Ghai ikut mencari sosok Nea, melihat ke segala arah mencoba menemukan Nea.
Dering telepon milik Nea terdengar dekat. Arka yang mendengar segera menoleh ke sumber suara, mengikuti suaranya dan menemukan Nea yang tengah berjongkok di tengah jalan.
Arka panik, ia segera memanggil Nea. Di sisi lain, Ghai sibuk menerawang siapa sosok anak kecil di hadapan Nea.
__ADS_1
"Woy! Ngapain lo di sana?! Balik sini cepet! Nea!"
Sebuah mobil melaju, dan Nea masih dalam posisinya terfokus pada sesuatu yang tidak dapat Arka lihat. Ghai segera berlari, sama halnya dengan Arka.
"Nea!"
Pengendara mobil yang tengah fokus pada ponselnya, terus melajukan mobil tanpa melihat jalan yang memang pada dasarnya jarang dilalui orang. Nea masih terlarut dalam dialognya bersama sosok anak kecil di hadapannya.
"Ghai masih hidup. Jiwa Ghai lagi lalu lalang ke sana kemari. Nea harus bisa bawa Ghai balik lagi. Jadi---"
Sosok anak kecil tersebut menghentikan kalimatnya begitu melihat sosok Ghai yang mendekat. Matanya beralih menatap Ghai dan Arka.
"Itu Ghai," ujar anak lelaki tersebut.
Nea menoleh menatap ke arah yang sama-sama dilihat oleh sosok tersebut. Hanya Arka yang terlihat olehnya.
"Sebelum terlambat, biar aku kasih kamu satu hadiah."
Ketika Nea menoleh, keningnya diusap oleh sosok tersebut. Tepat bersamaan dengan aksi sosok tersebut, tubuh Nea ditarik ke belakang oleh Ghai dan Arka.
Nea terjatuh dalam pelukan Arka dengan keadaan pingsan. Ghai masih tidak tersentuh, ia menyesal. Ia benci keadaannya yang seperti ini.
"Nea! Lo gak kenapa-napa?" tanya Arka.
Tepat di saat Nea ditarik ke sisi jalan, mobil tersebut menghentikan lajunya. Walau tidak ditarik, Nea mungkin tidak akan ditabrak karena mobil itu menghentikan laju tepat sekitar 5cm sebelum menyentuh Nea. Sang pengemudi segera keluar memeriksa situasi Nea.
"Aduh, maafkan saya. Tadi saya gak fokus," ujarnya.
Arka kesal setengah mati. Mungkin inilah yang tadi Nea rasakan. Hari ini kejadian hampir ditabrak sudah 2 kali, Ghai yang menyadarinya mulai memeriksa keadaan Nea yang masih pingsan.
"Lo gila?! Kalau gak bisa nyetir gak usah bawa mobil t*lo*!" ujar Arka marah.
Memang tidak sopan sikap Arka yang membentak dan mengumpat pada pengemudi yang bisa dibilang lebih tua dari Arka. Namun apa daya, Arka kini tengah kehilangan kesabarannya.
"Maaf dek, saya bawa temennya ke rumah sakit sekarang. Adek juga boleh ikut, nanti saya suruh orang untuk bawa kendaraan adek ke rumah sakit," ujar si pengemudi.
Arka mengusap wajahnya kasar. Pandangannya beralih pada Nea yang masih dalam posisinya ditidurkan di trotoar jalan. Orang yang berada di tempat makan sebelumnya, terutama di tempat parkir, jadi ikut keluar melihat apa yang terjadi, ada beberapa yang menjaga tubuh Nea.
"Mana kunci mobil lo?!" tanya Arka masih dengan nada marah.
"Ini," jawab si pengemudi yang memberikan kuncinya pada Arka.
Arka mengambil kunci mobil tersebut dengan kasar. Sebagai gantinya, ia memberikan kunci motor miliknya pada si pengemudi.
"Gue yang bawa mobil lo, lo bawa motor gue ke rumah sakit."
"Saya aja dek yang nyetir."
"Gak, gue gak mau ngasih nyawa temen gue ke tangan lo. Bawa mobil aja masih remed,". ujar Arka sekaligus penutup pembicaraan mereka berdua.
Arka berjalan menghampiri Nea lalu menggendongnya ala bridal style. Ia kemudian menaruh tubuh Nea di kursi belakang.
"Gha, lo jaga Nea di belakang."
"Oke."
Para pengunjung tempat makan terlihat kebingungan mendengar ucapan Arka yang terlihat tengah berbicara pada seseorang. Arka menghentikan langkahnya, tanpa membalikan badannya dan hanya menoleh memberikan pemandangan setengah wajahnya, ia kembali berbicara.
"Sampai temen gue kenapa-napa. Lo gue bawa ke jalur hukum," peringat Arka pada si pengemudi.
__ADS_1