Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Ambrosius Derren Ryker


__ADS_3

30/3/2005


08.00


"Kolam renangnya jauh mah?" tanya Nea kecil pada sang mama.


"Sebentar lagi sampai kok. Tuh mobilnya Derren udah berhenti," jawab mama Nea.


"Asyik! Berenang."


Nea segera keluar dari mobilnya, ia membuka pintu mobil Balqis yang parkir tepat di sampingnya. Balqis turut keluar begitu melihat Nea yang paling pertama menyambutnya.


"Ayo cepetan Balqis!" ajak Nea.


"Iya ayo!"


Tahun itu, Nea beserta ke-7 teman miliknya pergi berenang di kolam renang milik komplek. Rumah milik Nea berdekatan dengan rumah milik Arka, Fai, dan Balqis. Rencana mereka kali ini adalah rencana milik para orangtua yang mau mengajak anak-anaknya bermain.


"Ganti baju dulu, baru nyebur," ujar Esha--Mama Nea.


"Oke ma!" jawab Nea.


Semuanya baik-baik saja, berjalan seperti biasa. Ghai, Arka, Yaza, dan Derren sama-sama sibuk bermain perosotan yang langsung terhubung pada kolam renang, sedangkan Nea, Balqis, Fai, dan Renren sibuk menciptakan gaya lompatan yang lucu ketika mencoba masuk ke kolam. Hingga tiba-tiba,


"Arka sini makan dulu!" ajak Hani, mama Arka.


"Sebentar! Masih mau main perosotan!" balas Arka.


"Sini cepet! Nanti papah marah loh!" ujar Hani.


"Ish, sebentar ya. Aku makan dulu," pamit Arka yang kemudian pergi mengikuti mamanya.


Nea melihat ke arah Ghai, Yaza, dan Derren lalu melambaikan tangannya. Ghai, Yaza, dan Derren akhirnya pergi menghampiri Nea.


"Itu Nea panggil. Ke sana yuk!" ajak Derren.


"Ayo," balas Ghai.


Ghai, Yaza, dan Derren berlari ke arah Nea beserta yang lain. Lisa--Mamanya Renren--yang melihat aksi anak-anak berlarian segera berteriak.


"Hei jangan lari-lari! Nanti kepeleset," peringat Lisa.


Ghai, Yaza, dan Derren memperlambat langkahnya. Balqis menarik Yaza ke sampingnya agar jarak mereka tidak terlalu jauh.


"Ayo main lompat-lompatan!" ajak Nea.


"Gak seru ah!" balas Ghai.


"Seru tau!" balas Renren.


"Ya udah aku mau ikutan," balas Derren.


"Yaza juga ikutan ya? Biar Ghai sendirian mainnya," ajak Balqis.


"Aku sih mau ikutan," jawab Yaza.


"Ish! Ya udah aku main sendiri," balas Ghai.


"Serius?" tanya Fai mencoba meyakinkan Ghai.


"Ghai mah ngambekan ih gak rame," ujar Nea.


"Biarin," balas Ghai.


Ghai membuang muka lalu bertatapan dengan sesosok anak lelaki kecil yang berada dalam jarak yang terhitung cukup jauh. Anak lelaki itu menatap Ghai sembari tersenyum.


"Ya udah aku mah main sama Arsa aja," ujar Ghai.


Yaza segera menahan tangan Ghai yang ingin pergi. Yaza menggelengkan kepalanya, begitu pula dengan Derren.


"Jangan, sama kita aja," ujar Derren.


Balqis segera menoleh ke arah pepohonan kecil di kolam renang itu. Melihatnya Balqis segera menahan tangan Ghai juga.


"Iya, Ghai main sama kita aja. Ayo main perosotan kalau gitu," ujar Balqis.


"Ada apa sih?" tanya Fai tidak mengerti.


"Aku bercanda kok, ayo main lompat-lompatan aja," ujar Ghai sembari tersenyum.


Nea segera memukul tangan Ghai. Ghai meringis mendapatkan pukulan dari Nea.


"Aw!"


"Makannya jangan bercanda terus," ujar Nea.


"Biarin," balas Ghai.

__ADS_1


Sosok anak kecil itu menurunkan bahunya. Air mukanya berubah kusut begitu melihat Ghai yang memilih untuk bermain dengan teman nyatanya.


"Sini Ghai main sama Renren aja," ajak Renren sembari menarik tangan Ghai.


"Emang cuma Renren yang baik sama aku," ujar Ghai yang merasa dibela.


"Hati-hati ya, jangan sampai kepeleset," peringat Renren.


"Iya," jawab Ghai.


Nea tiba-tiba datang mencoba nyelip di antara Ghai dan Renren. Renren jadi harus menyingkir, begitu pula dengan Ghai.


"Minggir, aku mau lompat."


"Ish! Dasar cewek kasar," ujar Ghai.


Renren hanya tertawa sembari melihat aksi pertengakaran Nea dan Ghai. Di sisi lain, Yaza, Derren, beserta Balqis sibuk mencipratkan air ke segala arah. Lalu,


"Ghai mimisan!" ujar Nea histeris.


Yaza, Derren, dan Balqis segera menatap ke satu arah yang sama. Sosok anak lelaki itu menghilang, entah kemana. Yaza segera keluar dari kolam renang dan menghampri Ghai. Di sisi lain Ghai hanya terdiam dalam posisinya, selang beberapa detik kemudian tangannya tergerak untuk menghapus jejak darah yang turun dari hidungnya.


Ghai kemudian berjalan memegang tangan Renren, lalu dituntunnya Renren ke arah kolam yang dalam. Renren yang dipegang hanya menuruti langkah yang diambil Ghai.


"Ghai jangan!" ujar Yaza.


Ghai terus melangkah, lalu berhenti di bagian kolam paling dalam. Ia menatap Renren dingin, sedangkan yang ditatap membalasnya dengan rasa bingung.


"Ghai? Ada apa? Kepalanya pusing lagi?" tanya Renren.


"Aku bukan Ghai, aku Arsa."


Tak lama setelahnya Ghai mendorong Renren ke dalam kolam. Yaza yang melihatnya segera mendorong Ghai, ia kemudian mencoba menggapai tangan Renren yang pada dasarnya tidak bisa berenang. Derren yang gemas melihat Yaza tidak dapat meraih tangan Renren akhirnya memilih melompat masuk ke dalam kolam lalu membawa Renren ke samping kolam.


"Renren!" teriak Lisa.


Wanita berumur itu berlari menghampiri anaknya yang hampir tenggelam. Di sisi lain, tiba-tiba tubuh Ghai terhuyung ke belakang. Dapat dilihat oleh Yaza, Arsa kabur.


"Ghai! Kamu apakan Renren?!" teriak Lisa.


"Bukan Ghai tante. Yaza bisa jamin, itu bukan Ghai," jawab Yaza.


"Iya, Nea juga lihat. Itu bukan Ghai," ujar Nea.


Ghai yang baru mendapatkan kembali kesadarannya mulai menatap Renren penuh dengan rasa bersalah. Tubuhnya bergetar hebat saking takutnya.


"Renren hampir tenggelam karena anak kamu!" ujar Lisa.


Gesta menatap Ghai hampir tidak percaya. Ia kemudian menghampiri Ghai lalu berjongkok tepat di hadapan Ghai.


"Ghai, benar kamu yang dorong Renren ke area yang dalam?" tanya Gesta dengan lembut.


"Gak ma, Ghai gak akan lakuin itu ke Renren," ujar Ghai yang kini mulai menangis.


"Bohong! Ghai bohong, ini semua gak akan terjadi kalau bukan karena Ghai!" ujar Derren kecil.


"Gak! Ghai gak bohong," ujar Nea kecil. Mama Nea turut datang ke area lalu mulai menggendeong Nea di tangan kanannya.


Tak lama kemudian, sosok Arka kembali terlihat. Yaza menatap Arsa dengan tatapan penuh amarah, sedangkan yang ditatapnya hanya membalas dengan tatapan dingin lalu beranjak pergi. Lisa menggendong Renren di ke-dua tangannya.


"Kita pindah ke Belanda minggu depan. Tolong jangan cari kita lagi."


***


4/4/2005


15.00


"Besok Renren pergi ke Belanda," ujar Fai sedih.


"Iya, tenang aja. Aku bakal sering kirim surat kok," ujar Renren.


"Maaf ya. Gara-gara aku kamu jadi harus pindah," ujar Ghai.


"Gak apa-apa, lagian kasian nenek sama kakek di sana berduaan terus," balas Renren.


"Tetep aja sedih gak ada lagi Renren di sini," ujar Yaza sedih.


"Iya, kamu juga ya?" tanya Nea pada Derren.


"Gak, aku cuma anter Renren doang. Papa kan temen mamanya Renren waktu di Belanda," ujar Derren.


Hari itu, hanya ada Ghai, Yaza, Derren, Nea, dan Renren di sana. Mereka berkumpul di sebuah villa milik keluarga Ghai. Semua orangtua mereka berkumpul di sana, kecuali orangtua Renren. Mereka hanya mengizinkan Renren mengucapkan perpisahan dengan sahabat-sahabatnya sebelum akhirnya pergi ke Belanda.


"Gak bisa salahin Lisa juga sih," ujar Devi, mama Derren.


"Iya, di antara kita yang nikah lebih dulu emang Beti kan?" tanya Gita, mama Yaza.

__ADS_1


"Ya, kehilangan anak 3 kali itu berat loh," ujar Esha, mama Nea.


"Iya, udah keguguran 3 kali, makannya sama Renren mereka protektif banget," ujar Gita, mama Yaza.


"Aku juga gak tau apa yang sebenernya terjadi waktu itu," ujar Gesta, mama Ghai.


"Aku tau gak mungkin Ghai kayak begitu. Ghai emang jahil, tapi anaknya tahu batasan kok," ujar Esha.


***


4/4/2005


15.45


"Arsa? Lagi apa di sini?" tanya Ghai.


"Arsa kan selalu bareng sama Ghai," jawabnya.


"Arsa bukan temen aku lagi. Arsa jahat sama Renren, Arsa kalau nyelakain temen Ghai artinya Arsa bukan temen yang baik," ujar Ghai.


"Tapi emang mereka yang jahat deluan sama Arsa," ujarnya.


"Jahat apa? Mereka baik," sangkal Ghai.


Di tengah perdebatan antar dua jenis mahluk di dunia ini, Yaza tiba-tiba datang sembari membawa permen di tangannya. Kedatangan Yaza disusul Derren.


"Ghai! Jangan deket-deket. Sini aja!" ajak Yaza.


"Kamu ngapain masih di sini? Dasar hantu gak tau diri. Buat apa mau celakain Renren? Dari awal sampai sekarang Ghai gak pernah jadi temen kamu," ujar Derren.


Ghai yang mendengar sebenarnya sedikit tidak terima dengan perkataan Derren. Ghai itu lembut hatinya, mendengar ucapan Derren pada Arsa yang terasa tajam itu, berhasil melukai hatinya juga, namun Ghai harus akui bahwa Arsa juga salah.


"Ghai beneran gak anggap Arsa temen?" tanyanya.


Ghai yang mendengar memilih bungkam. Alih-alih menjawab, ia hanya menatap Arsa dengan tatapan sendu. Arti tatapan itu sulit dimengerti oleh anak-anak. Apa yang dilihat Arsa pada hari itu membuatnya menyimpulkan suatu hal bahwa, dia adalah mahluk paling kesepian di dunia ini.


"Kalau gitu Arsa lebih baik pergi," ujar sosok itu sekali lagi sebelum menghilang.


Ghai menatap kepergian Arsa dengan hati terenyuh. Tiba-tiba Renren datang ke sana, tanpa pemberitahuan walau sudah dilarang oleh Yaza dan Derren.


"Renren kok ke sini?" tanya Yaza.


Alih-alih menjawab, Renren memilih pergi melangkahkan kakinya mendekat ke arah sungai. Ia menghitung jumlah pohon yang ia lalui, lalu berhenti tepat di samping pohon pinus ke 13 dari hulu sungai. Derren segera menghampiri Renren dengan niat menyeretnya pergi dari area itu.


"Gak baik di sini. Ayo kita pulang," ajak Derren.


Tangan Derren ditepis kasar oleh Renren. Tak lama setelahnya Renren menatap Ghai lekat-lekat, selang beberapa detik pandangannya beralih pada Yaza.


"Ini karena Ghai gak mau jadi teman aku," ujar Renren.


Beberapa detik kemudian, Renren mendorong Derren hingga terjatuh ke sungai yang alirannya tengah deras hari itu. Derren berusaha keras menggapai bebatuan di sana. Kepalanya terluka karena membentur salah satu batu besar di sana. Ghai yang pertama berlari menangkap tangan Derren, disusul Yaza.


"Derren!!! Ghai tarik tangannya lebih keras!" teriak Yaza kecil.


"Iya, ini udah aku tarik paling keras! Renren, bantu kita!" ujar Ghai kecil.


Ghai dan Yaza berusaha keras menarik tangan Derren untuk keluar dari sungai yang berarus deras saat itu. Hujan perlahan turun, semakin deras membasahi bumi.


"MAMA! TANTE DEVI! DERREN JATUH!!" teriak Ghai.


"Ghai, lepas aja tangan Derren. Derren berusaha misahin kita berulang kali, sekarang biar aku yang misahin Derren dari kita," ujar Renren.


Ghai membelalakan matanya. Ia menatap Renren tidak percaya.


"Renren! Sadar, ini Derren. Derren teman kita!" ujar Ghai.


"MAMA!! TOLONGIN DERREN! TOLONG! TOLONG!!" teriak Yaza sekuat tenaga.


"Ghai ini aku, bukan Renren. Ghai udah mulai lupa sama aku?" tanya Renren kecil.


"ARSA!!!!"


Teriakan Yaza terdengar penuh amarah. Nea yang baru saja datang melihatnya segera menatap Renren tidak percaya, sedangkan yang ditatapnya mulai membalas dengan tatapan dingin. Selang beberapa detik kemudian, Devi--Mama Derren--keluar berlari secara tergopoh-gopoh.


"Derren!"


Nea dapat melihat dengan jelas tubuh Derren yang terseret arus deras. Terlepas dari genggaman Ghai dan Yaza yang sedari tadi masih mencoba menarik tubuh Derren keluar dari sungai. Renren jatuh pingsan, melihatnya Nea muntah. Lalu tak lama kemudian, ia terjatuh dan kegelapan segera menghampirinya.


***


20/1/2019


17.56


"Nea?!! Lo udah bangun? Lo gak kenapa-napakan?!"


"Ghai?"

__ADS_1


__ADS_2