Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Terbangun


__ADS_3

Mari kembali membangun apa yang pernah hancur, secara bersama, dengan lembar baru


° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °


Rasa sakit menyerang dari segala sisi. Dengan alunan gemuruh petir pun tangisan Sang Langit yang mengantarkan sesosok lelaki bertubuh kurus itu terbangun, suasana terasa mencekam. Bahkan di antara manisnya taburan bintang pada langit malam yang memancarkan cahayanya secara malu-malu, dengan kursi piano di ruangan terbuka, tidak mampu menghilangkan perih yang menghujam.


Bukan lagi rahasia ketika angkernya gedung tempat lelaki itu terbangun selalu dihindari manusia tepat di jam 4 sore. Lelaki itu, Ghai, mengerang kala sentuhan hangat melalui jemari kecil seseorang berusaha menyadarkannya.


"Gh--. Hei, bangun." Ditusuknya pipi lelaki itu dengan jemari kecilnya.


Ghai perlahan membuka matanya yang sempat terpejam, menyesuaikan desakan cahaya yang memasuki netranya. Kala mata mampu menyesuaikan, Ghai mengambil posisi duduk.


"Ini, di mana? Dari tempatnya sih aku rasa aku kenal baik tempat ini," ujar lelaki itu.


"Gedung jurusan seni musik. Maaf ya, karena di saat kayak ginipun aku masih ingin meluk kamu," ujar anak lelaki itu.


"Hah?" tanya lelaki itu.


"Aku bersyukur kamu masih hidup. Aku kira, kamu mati karena aku. Maaf ya." Kabut mulai tergambar jelas, tercetak di netra lawan bicaranya itu.


"Ke-kenapa nangis?" tanya lelaki yang baru saja bangun dari tidurnya tadi.


"Hei cebol, berhenti nangis. Katanya udah tua, tapi sifatnya masih kekanakan. Lagian kamu mau melakukan kesalahan yang sama untuk ke-dua kalinya?  Ingat perjanjian kita sebelumnya, 'kan? Aku di sini sebelum dia datang. Jadi, aku harus buru-buru," ujar suara seorang lelaki yang terdengar berat.


"Masih berani panggil aku bocah?! Dasar mahluk gadungan. Mana ada malaikat maut yang mau bertransaksi dengan arwah penasaran seperti itu. Beraninya kau mengancam seorang anak lelaki tampan seperti aku."


"Jangan lupa aku yang masih pegang kuasa atas kontrak yang kita lakukan. Lagipula lihat siapa yang tadi baru saja tidak mau dipanggil bocah?" ujar suara berat itu sekali lagi.


"Itu dua hal yang berbeda. Jangan coba-coba mengartikan secara sembarang, aku peringatkan sekali lagi. Berhenti memanggilku cebol dan memperlakukanku seperti anak kecil."


"Tentu saja itu dua hal yang memiliki pengertian yang samakan?" tanya suara berat itu.


"Lihat siapa yang bodoh di sini. Oi, cepat keluar! Dasar cupu, beraninya main sembunyi. Lagipula kenapa malah kamu yang muncul?"


"Memastikan keadaan tidak terlalu kacau," jawabnya.


Pertanyaan seolah-olah datang layaknya ombak pasang yang siap kapan saja menenggelamkan. Dua sosok yang kini ada di sanapun tidak mampu menjawab semua tanya di benak Ghai. Alih-alih menjawab, ke-duanya hanya meambah beban pikiran Ghai saja.


"Kalian berdua, aku rasa udah cukup. Bisa tolong jelaskan apa yang terjadi sama aku?" tanya lelaki itu.


"Aku Derren, maaf telat kenalin diri. Kamu tahu sendirikan? Perhatian aku teralihkan," ujar anak lelaki bergaris muka campuran Belanda-Indo.


"Derren?" tanya lelaki itu yang kini tengah mencoba mengingat sesuatu yang mungkin saja mampu menjawab salah satu dari ribuan pertanyaan di benaknya.


"Iya, aku Derren. Mungkin kamu lupa, tapi sebentar lagi kamu akan tau. Udah lama ya gak ketemu? Tiap kali ada kesempatan, aku sealu menghindar. Maaf. Oh, aku benci mengatakannya, tapi jangan membenci sosok itu lagi. Kali ini dia benar-benar berniat memperbaiki semuanya," ujar Derren.


"Sosok itu? Siapa?" tanya Ghai.

__ADS_1


"Jawab aku, aku ada di mana? Kenapa aku bisa ada di sini? Siapa nama aku?" tanya Ghai yang tak jua menemukan titik terang mengenai dirinya sendiri sedari tadi.


"Jawablah dengan nuranimu. Aku tidak mampu menjawab semua pertanyaan yang terlihat seperti ombak pasang itu, kau tau kenapa? Karena yang tahu perihal jawabannya hanya dirimu sendiri saat ini. Lagipula kalian yang lebih dulu merepotkanku. Jangan salahkan aku atas apa yang akan kamu lalui melalui kejadian ini. Satu hal yang harus kamu tau, ini kesempatanmu satu-satunya," ujar sosok bersuara berat itu.


"Aku gak ngerti," ujar lelaki itu.


"Tidak usah dimengerti kalau begitu. Mau kau pikir secara logika sekalipun kamu tidak akan menemukan jawabannya. Temukan itu melalui nuranimu. Akan ada saatnya ketika jawaban datang dengan sendirinya. Tentunya dengan usaha ya! 


Satu hal lagi, hal ini bukan sepenuhnya salah dia. Jadi, maafkan dia. Aku tau, akupun akan membencinya jika kamu itu aku. Mengenai rasa penyesalan di dalam dirimu yang sangat besar, itu cukup menyulitkan bung! Huft, kamu juga berhasil membuat transaksi yang benar-benar merugikanku. " ujar sosok bersuara berat itu lagi.


"Transaksi?" tanya Ghai.


"Hei, dia datang. Aku pergi dulu! Sampai jumpa! Ingat Derren, ini masih rahasia kita berdua. Barangkali kamu lupa. Aku Ryan."


Si pemilik suara berat, Ryan, pergi entah kemana. Derren tampak tenang sebelum akhirnya ia kedatangan sesosok yang sedari tadi ia bicarakan dengan Ryan, mungkin.


"Aku pikir kamu yang bakal paling antusias nyambut kepulangan Ghai," ujar Derren.


"Aku antusias, cuma banyak yang harus diurus." Lagi-lagi hanya suara yang terdengar. Tidak ada wujudnya, tetapi dapat diketahui melalui tipe suaranya bahwa, yang baru saja berbicara adalah bocah lelaki lainnya.


"Sekarang siapa lagi?"


"Sesosok mahluk paling menyebalkan seantero alam semesta. Maaf-maaf nih, aku masih membenci kamu," ujar Derren.


"Aku tahu, aku gak akan salahin kamu. Tentang pertanyaan kamu, tunggu sedikit lebih lama ya Ghai? Aku janji kita bakal temanan lagi suatu hari nanti," ujar sosok itu lagi.


"Di luar hujan loh, Abhiyoga Ghaitsa Mahawira," ujar sosok itu sembari mengulas senyum.


Entah dari mana datangnya, rasa nyeri itu kembali menghampiri kala suara lainnya datang melalui garis khayalnya. Suara seorang wanita paruh baya yang terdengar lembut sekedar memanggil nama putranya. Hanya suara, iya, lagi-lagi hanya suara. Namun, kini pertanyaan mengenai namanya sudah terjawab.


"Itu nama kamu Ghai, jangan lupa. Nama yang dibuat khusus dengan kasih sayang kedua orangtua kamu. Ghai, sekarang biarin aku kasih tahu kamu peraturan yang kamu punya selama masih ada di sini.


Pertama, jangan sesekali keluar dari gedung ini. Kalau kamu keluar, sosok kamu bakal masuk dan terjebak di antara dimensi hidup dan mati yang gak  pasti, dan aku gak mau kamu terjebak di sana lagi. Aku berusaha menyelamatkanmu asalkan kamu tau," ujar sosok itu lagi."Apa-apaan semua ini? Biarin aku pulang," ujar Ghai.


"Ini rumah kamu sekarang Ghai, aku harap ini sementara. Maaf kalau aku jahat, tapi faktanya kamu bukan lagi sesosok manusia yang memiliki wujud nyata di dunia, kamu cuma sesosok mahluk yang lagi kehilangan arah dan coba mecahin masalah hidupnya yang belum tuntas. Lagian kamu yang sekarang masih berupa mahluk tanpa ingatan," ujar sosok itu lagi.


"Hei! Peraturan apa itu?! Kenapa dia disuruh mecahin masalah, tapi dia gak boleh pergi keluar untuk mecahin semuanya. Bukannya itu sama saja kayak bunuh Ghai secara perlahan?" tanya Derren.


"Derren, jangan sok tau. Aku mohon jangan bawa kebiasaan lama kita. Kitakan udah janji mau kerjasama. Lagian ini masih terlalu awal untuk menyimpulkan suatu jawaban. Percaya sama aku, aku gak mau buat kesalahan yang sama, aku gak sekejam itu," ujar sosok itu.


"Tetep aja! Itu gak adil, gimanapun kamu mau membela diri. Fakta tentang kejadian sebelumnya tetap gak bisa diubah."


"Derren, di sini ada Ghai. Kita gak bisa sembarang berucap. Kamu gak mau kejadian yang sama terulang pada Ghai, 'kan? Aku bakal terus minta maaf walau tau gak akan pernah dimaafin, tapi aku mohon, untuk kali ini aja ayo kita kerja sama memperbaiki semuanya," ujar sosok itu lagi.


Derren tahu, ia sebenarnya tidak ingin menyalahkan sosok itu lebih lanjut. Terlebih Derren turut mengambil peran atas kemalangan yang harus mereka jalani. Namun, luka tetap luka. Fakta mengenai patah di hatinya akibat goresan sosok itu tidak pernah bisa menghilang secara sempurna.


"Bisa berhenti, aku satu-satunya orang yang tidak mengerti di sini. Jangan masukan aku pada drama 'percintaan' kalian berdua," ujar Ghai sembari mengutip kata percintaan dengan kedua jemarinya.

__ADS_1


"Maaf Ghai," ujar Derren.


"Maaf. Kali ini aku bakal lebih serius. Ghai ayo duduk," ujar sosok itu.


Ghai tak tahu di mana pastinya ia harus duduk, pasalnya Ghai merasa ia tidak bisa duduk dengan tenang dalam situasi seperti ini. Namun, melihat Derren yang turut meminta Ghai untuk duduk membuat lelaki itu mengambil posisi di kursi piano. Derren kemudian berjalan semakin mendekat ke arah Ghai.


"Aturan pertama udah aku sebutin. Maaf, tapi aku juga gak bisa bantu kamu lebih lanjut kalau kamu melanggar peraturan itu. Itu di luar kuasa aku. Lalu untuk aturan ke-2, kamu gak boleh berkeliaran dan menghantui mahasiswi ataupun mahasiswa di sini, bukan apa-apa, tapi ketahuilah semakin banyak kamu menjahili seseorang kesadaranmu akan semakin terenggut," ujar sosok itu.


"Kesadaran terenggut?" tanya Ghai.


"Itu artinya kamu bakal jadi hantu gentayangan. Hantu yang sifatnya jahil dan bentuknya gak sempurna alias tidak menyerupai manusia. Contohnya sosok mahluk halus yang ditakuti kebanyakan manusia," ujar Derren menjelaskan.


"Oh, oke. Apa cuma segitu aturannya?" tanya Ghai.


"Ya, hanya segitu. Sedikitkan? Tapi, kamu punya tugas untuk memecahkan misteri yang mampu membawa kamu sampai di kondisi seperti ini. Nanti, kamu akan bertemu dengan seseorang yang memegang kunci dari semua ingatanmu semasa hidup. Aku gak mau lebih banyak ikut campur, aku akan lebih hati-hati mulai sekarang. Sama halnya dengan kamu Derren, tolong selama proses ini, jaga semuanya berjalan dengan lancar, jangan sampai kejadian itu terulang lagi," ujar sosok itu.


Derren berdiri mematung di sana. Ghai lagi-lagi kesal karena ia tidak mengerti semua percakapan dua mahluk itu.


"Derren sama aku dulu saling kenal?" tanya Ghai.


Hening yang tercipta, tak ada jawaban untuk mengkonfirmasi pertanyaan Ghai. Sosok itu mengalihkan.


"Kamu yang paling tau siapa orang itu Gha, pecahkan misterinya. Kamu cuma bisa keliatan sama dia di jam 4 sore saat hujan turun. Ingat, semua ini, mulai dari peraturan sampai tugasmu akan berubah seiring waktu. Jika seseorang itu mampu melihat sosok kamu lebih awal dari jam 4 sore, artinya waktu kamu untuk memecahkan misteri kehidupan kamu sendiri semakin menipis. Hal ini juga mampu dibuktikan dengan kamu yang mulai bisa melangkahkan kaki keluar dari gedung ini," ujar sosok itu.


"Bukannya kamu terlalu jahat dalam menyusun skenario kali ini?" tanya Derren.


"Bukan aku yang menyusunnya. Kita kehabisan waktu. Kamu tau sendiri betapa susahnya aku menemukan berbagai cara untuk memperbaiki semuanya, Derren. Oh, setiap satu persatu ingatanmu kembali kamu akan merasa kesakitan. Mulai dari telinga yang berdengung, kepala yang berputar, denyut jantung yang tak berirama, dan kaki yang kehilangan tumpuan. Jangan dilawan, aku tau Ghai orang kuat. Sebaliknya, cepat cari Derren ketika semua ingatan itu kembali, karena yang bisa menghilangkan rasa sakit itu cuma Derren dan dia. Sekalinya kamu ngelawan rasa sakit itu, Ghai bisa aja kehilangan akal. Jadi, Derren, aku rasa kamu tau tugasmu di sini," ujar sosok itu.


"Apa kamu punya maksud tertentu untuk ngehukum aku? Ngeliat Ghai kesakitan?" tanya Derren dengan nada sarkastik.


"Bukan menghukummu, aku sudah bilang aku cuma mencoba memperbaiki semuanya, sebelum aku benar-benar pergi. Berhenti berpikiran negatif padaku Derren, percayalah kali ini aku benar-benar ingin memperbaiki, bukan merusak. Lagipula apa yang kau khawatirkan? 'Dia' sudah ku kunci bukan?" ujar sosok itu lagi.


Lagi, Derren berdiri membatu memandang sendu keramik yang memantulkan hangatnya cahaya rembulan di malam nan dingin dengan suara hujan sebagai alunannya. Di sisi lain Ghai terdiam, ia merasa bingung mengenai langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya. Apakah mempercayai semua perkataan yang terdengar seperti dongeng anak kecil itu? Atau apakah ia harus mencoba kabur dan lari dari sini?


Memikirkan cara terlogis yang mampu membawa dirinya mendapat jawaban sangat membuatnya frustasi. Namun, jika semua yang dikatakan oleh Derren juga sosok-sosok sebelumnya itu benar, apa ini artinya Ghai berada pada ujung jurang? Atau mungkinkah artinya Ghai sudah berada di dalam jurang itu sendiri?


"Aku peringatkan sekali lagi. Waktu kamu terbatas Ghai, jadi berusahalah dengan giat. Aku tidak mau lagi menyaksikan semua kepahitan di akhir cerita seperti yang sebelumnya. Aku mempercayaimu Ghai, jadi mari kita perbaiki semuanya untuk yang terakhir kali. Kalau begitu sampai jumpa lagi," ujar sosok itu.


"J-jadi, aku udah mati?"


 


 


 


 

__ADS_1


©AksamalpaAksara


__ADS_2