
Tentang kamu, saya, pun semesta di dalamnya
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
8/12/2018
08.30
"Kenapa mata lo bengkak begitu?" tanya Fai.
"Halah, paling juga nangis gara-gara drakor. Benerkan gue?" tanya Arka.
"Sok tau lo! Gue nangis gara-gara kemarin gue diusir 3 kali sama orang gak jelas! Disuruh pulang naik Gajek pula! Untung ada Yaza kemarin. Terus masa ya?! Gue dibentak," keluh Nea.
"Dibentak? Sama siapa?" tanya Fai. Arka terlihat seperti yang paling tak acuh, padahal diam-diam ia yang paling menaruh khawatir mendengar keluhan Nea.
"Sama anak itu tuh, cowok yang gue ajak kolaborasi," ujar Nea.
"Cocok tuh sama lo, sama-sama kasar," ujar Arka diiringi tawa.
"Sialan lo Ka!" ujar Nea.
"Seriusan dibentak? Khayalan lo aja kali. Lagian ya, kalau misalnya dia beneran cowok, mana mungkin dia berani bentak lo," ujar Arka.
"Halah, sok jadi gentleman lo Ka! Tapi Ya, kalau misalnya dia kayak gitu mending cari partner lain aja deh? Kayaknya tuh cowok agak tempramental," saran Fai.
"Gak usah dikhawatirin Fai, lo-kan tau, kebiasaan Nea itu melebih-lebihkan sesuatu yang sederhana," ujar Arka.
"Heh. Kampret bener temen gue satu ini," ujar Nea sembari melemparkan cup kopi yang baru saja habis diminumnya.
Sejenak, hening menghampiri, bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja Fai menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tak lama kemudian matanya kembali menatap ke-dua sahabatnya berapi-api.
"Ssst. Ribut mulu. Mending dengerin aku, aku punya hot news. Gosip yang baru aku denger, walau sebenernya mungkin udah lama? Tau gak tentang apa?" tanya Fai.
"Apaan?" tanya Arka yang kini mulai memfokuskan diri pada Fai.
"Gak nanyain nih? Gak penasaran?" tanya Fai terhadap Nea yang terlihat acuh.
"Apaan?" tanya Nea.
"Tentang alasan jurusan musik tutup di jam 4 sore. Akhirnya gue tau dong alasannya!" ujar Fai.
Nea kemudian mulai tertarik, pandangan yang sebelumnya terfokus pada ponsel teralih pada Fai. Fai kemudian tersenyum miring begitu melihat Nea yang mulai tertarik.
"Jadi katanya, di jurusan seni musik itu pernah ada anak yang meninggal di sana. Tepat di jam 4, terus katanya hantu dia itu masih keliaran di sana. Rumornya sih bilang, ada 2 anak didik yang meninggal di sana. Gila gak tuh?! Katanya korban ke-dua meninggal di jam yang sama juga dalam kurun waktu 2 bulanan," ujar Fai.
"Apaan sih?" tanya Nea yang mulai merasa merinding.
"Eh beneran. Katanya meninggal dengan kondisi 11-12 sama korban sebelumnya. Konon katanya, setelah kasus kematian 2 orang mahasiswa di sana setiap jam 4 sore selalu ada gangguan ke anak-anak di sana. Mulai dari tangisan sampe ke penampakan. Terus tau gak?! Setelah ditelusuri lebih lanjut, dua anak itu sama-sama punya kasus depresi dong!" ujar Fai.
Arka lantas menoleh menatap Nea. Ia tahu betul apa yang dikatakan Fai kepada sahabatnya yang satu itu pasti berhasil membuat Nea takut. Fai yang merasa puas telah menceritakannya segera menggebrak meja, membuat seisi ruangan terkejut akibat aksinya.
"Jadi, dari situlah asal usul aturan jam 4 sore muncul," ujar Fai.
"E-emangnya itu cerita kapan?" tanya Arka.
"Katanya sih gak lama. Angkatan kamu loh!" ujar Fai.
"Ngarang lo?" tanya Nea.
"Lah, kenapa ngarang?" tanya Fai.
"Harusnya hebohlah. Pertama, jaman sekarang kasus penjual bakso tikus aja udah heboh, apalagi kasus kematian coy! Udah pasti masuk berita, tapi apa? Kita gak dapet kabar apa-apa tuh dari TV mengenai kampus kita. Ke-dua, selama kita di sini, lo pernah gak lihat kejadian itu secara langsung? Kita gak bisa mempercayai sebuah rumor yang gak jelas. Ke-tiga, kalau mendiang salah satu teman seangkatan, pastinya kita kenal siapa orangnya tapi, buktinya korbannya siapa aja gak taukan?" ujar Nea.
"Gimana kalau misalnya kasus itu disembunyiin? Bisa aja Nea. Terus gimana kalau misalnya si korban gak kita kenal, emangnya lo kenal anak satu angkatan? Yang satu jurusan aja pasti gak-kan? Jujur aja sama gue," ujar Arka dalam usaha membela Fai.
__ADS_1
"Nah! Bener tuh kata si Arka," ujar Fai.
"Gak bisa. Gimanapun mereka sembunyiin itu, pasti akhirnya bakal bocor jugakan?" tanya Nea.
"Makannya itu. Mungkin, ini saat di mana rahasia itu terbongkar. Lagian rahasia tuh gak pernah bertahan lama," ujar Arka.
"Gak mungkin," ujar Nea sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Mungkin," ujar Fai.
"Terus rumor itu bisa kesebar dari mana?" tanya Nea.
"Kan tadi aku udah bilang, banyak yang dijahilin di sekitar jam 4 sore. Oh! Katanya, salah satu korbannya cowok. Jago banget main pianonya. Katanya, tugas kolaborasi ini penghubung kita sama sosok itu loh! Terus Nea, tau gak kamu?! Katanya, pintu utama gedung jurusan seni musik akan selalu terbuka untuk orang yang terpilih di atas jam 4 sekalipun," ujar Fai.
"A-apaan sih?" tanya Nea yang kini mulai merasa tak nyaman.
"Kok, se-serem sih?" tanya Arka dengan suara yang terdengar gugup sembari perlahan menoleh ke arah Nea.
"Kok ngomong lo aneh? Gak biasanya pake aku, kamu. Kayak orang yang gue kenal aja," ujar Nea.
Sejenak Fai menegakkan tubuhnya, matanya mengerjap beberapa kali. Tak lama setelahnya, Fai kembali berbicara.
"Hah? Tadi kita ngomongin apa?"
8/12/2018
16.08
Nea berdiri di depan gedung jurusan seni musik dengan perasaan waswas. Perlahan tapi pasti, Nea mendekat ke arah pintu. Ah, Nea benci situasi ini, situasi kala udara pun turut mengambil andil dalam suasana horor yang tercipta melalui ruang spekulasi Nea. Entah karena rumor yang diucapkan Fai atau memang Nea yang terlalu penakut, yang jelas ke-dua hal itu sama-sama membuat Nea ragu untuk memasuki gedung jurusan seni musik.
Di kala runyam menyelimuti, sebuah suara terdengar menyapa Nea. Dengan sosok yang terlihat melalui jendela besar gedung tersebut, Ghai berhasil membuat gadis itu, lagi-lagi, terkejut setengah mati.
"Gak masuk? Dingin loh."
"Kan aku udah janji, setiap hujan turun di jam 4 sore," ujar Ghai.
"O-oh, iya. Lo beneran Ghai-kan?" tanya Nea.
"Apaan sih? Ayo cepet masuk," ajak Ghai.
"Gue parno tau!" ujar Nea.
"Kenapa? Takut aku salah satu bentuk nyata hantu yang berkeliaran?" tanya Ghai acuh tak acuh.
Tepat. Pertanyaan Ghai seolah berhasil menembak target tepat di jantung. Nea yang mendengarnya membawa tawa canggung.
"Ha-ha, b-bukan. Soalnya gue baru aja dengar rumor tentang jurusan lo," ujar Nea.
Ghai menarik salah satu sisi dari bibir manisnya yang sejenak berhasil melelehkan rasa takut Nea. Ya Tuhan, sungguh kini Nea mempertanyakan bagaimana bisa Tuhan begitu tidak adil kepada kaum lelaki. Pasalnya, lelaki di hadapannya ini merupakan paket komplit manusia termanis di dunia yang pernah Nea kenal.
"Udah, masuk dulu baru cerita. Dingin, kamu gak pakai jaketkan?" tanya Ghai.
Aneh, Nea tersipu karenanya. Rasa takut itu kini benar-benar pergi berlalu meninggalkan Nea dengan sejuta bunga yang bertebaran di sekitarnya. Mampu tak lagi menjadi kata temu di antara sangkal yang ia utarakan sedari awal pertemuan Nea dengan Ghai, bahwa hatinya telah menemukan tempat berlabuh di pelabuhan berlabel Ghai.
"Ngapain? Gak mau masuk?" tanya Ghai.
Nea tersadar dari lamunan singkat sore harinya. Ia kemudian melangkah memasuki gedung jurusan seni musik dengan cepat, karena memang benar kata Ghai, bahwa udara terasa dingin kala itu.
Fakta unik lainnya, hati Nea memiliki ruang yang cukup besar untuk memaafkan pun melupakan sebuah masalah. Buktinya sudah banyak, salah satunya sikap Ghai yang kemarin hari mampu mengalahkan emosi wanita PMS, hari inipun Nea memutuskan untuk tidak peduli. Ini hari baru, cerita baru, baginya tidak perlu mempermasalahkan apa yang sudah terjadi di masa lalu.
"Ghai. Gue mau nanya sesuatu ke lo," ujar Nea.
"Tanya apaan?" tanya Ghai.
__ADS_1
"Lo manusiakan?" tanya Nea to the point untuk menghilangkan rasa ragunya.
"Maksudnya?" tanya Ghai.
"Cepet ih jawab!" ujar Nea.
"Oh, pasti soal rumor yang kamu dengar tadi?" tanya Ghai.
"Udah jawab aja dulu Gha," ujar Nea.
"Gak tau ah," balas Ghai.
"Ih, kok gak tau sih?" tanya Nea.
"Gak tau karena gak mau jawab," ujar Ghai.
"Kenapa gak mau jawab?" tanya Nea. Berbagai pikiran buruk kembali menghampiri Nea. Seketika bulu kuduknya berdiri.
"Karena aku gak tau rumornya apa," ujar Ghai.
Nea segera menghembuskan napas lega. Nea tidak paham, ia tidak pernah menemui seseorang seperti Ghai yang mampu membolak-balikan rasa tegang pun takut miliknya jadi perasaan tenang juga nyaman seperti saat ini.
"Hm, salah gue sih. Jadi gini Gha, gue denger katanya alasan jurusan ini ngeluarin aturan jam 4 sore karena, ada 2 korban mahasiswa yang meninggal di sini. Terus katanya salah satu arwah di sini bener-bener punya bakat sama yang namanya piano dan siapapun orang yang bisa masuk ke jurusan ini dari pintu utama di jam 4 atau lebih, berarti orang itu orang terpilih," ujar Nea.
Air muka Nea berubah pucat begitu menceritakan rumor yang ia dengar dari Fai tadi pagi. Ghai terdiam sesaat sebelum banjir tawa miliknya menenggelamkan Nea dalam rasa bingung.
"HAHAHAHAHA. Jadi alasan kamu takut pas liat aku tadi, karena kamu mikir aku itu salah satu arwah yang kamu sebut tadi? Rumor apaan itu?! Kamu percaya? Ya tuhan, gak seaneh itu ceritanya. Lagian kok aku baru denger ya rumor itu?" tanya Ghai diselingi tawa sesekali.
"Dih, itukan jurusan lo sendiri. Masa gue lebih up to date sih dari lo?" tanya Nea.
"Bukan up to date itu namanya, tapi tukang gosip," ujar Ghai.
"Bukan tukang gosip. Orang gue juga tau dari temen gue, Fai namanya. Kenal gak lo?" tanya Nea. Ada sedikit perasaan asing yang menusuk kala Ghai mendengar nama Fai disebut.
"Gak," ujar Ghai.
"Serius?! Fai tuh populer di angkatan kita loh," ujar Nea.
"Gak kenal dan gak peduli juga," ujar Ghai.
"Eh parah lo! Biar beloon kek gitu Fai cantik sekaligus temen gue tau!" ujar Nea.
"Ya udah, sorry," ujar Ghai.
"Ya! Nah, udah taukan rumornya apaan. Sekarang jawab gue, lo manusiakan?" tanya Nea yang langsung teringat topik apa yang tadinya ia angkat.
"Lah, gak lupa," balas Ghai.
"Jawab hei," ujar Nea.
"Emang kamu bakal berani kalau aku kasih tau?" tanya Ghai.
Nea tak mampu berbicara, dirinya terdiam membatu di tempat. Rasa takut yang sempat hilang tadi lagi-lagi kembali menghampiri.
"Kamu udah tau jawabannya gak perlu aku jelasin lagi," ujar Ghai.
"M-maksud lo?" tanya Nea beserta ragu yang mengiringi.
"Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya! Lo didalam sanakan?! Jawab gue!"
Tiba-tiba suara seseorang yang terdengar sangat khas di telinga Nea terdengar menyapa dari luar. Berhubung pintu depan jurusan ini adalah kaca, Nea bisa melihat dengan jelas siapa sosok yang baru saja meneriakan namanya dengan lantang. Nea bisa paham dengan kedatangan si manusia sok tau teman berantamnya setiap hari, tapi tidak dengan satu orang yang kini ikut-ikutan berdiri di sampingnya.
"Ugh! Arka!! Ngapain sampai Yaza juga ke sini??!"
__ADS_1
©AksamalpaAksara