Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Garis Start!


__ADS_3

13/12/2018


12.30


"Kelamaan Za sampai tempatnya, kalau lo sampe telat masuk kelas bukan salah gue ya," ujar Nea.


"Iya-iya, udah dimakan dulu aja. Tuh makanan keburu dingin loh," ujar Yaza.


Nea segera menggulung lengan baju-nya, disamping itu Yaza tengah sibuk membuat kedua telapak tangannya saling bergosokan. Mata ke-duanya kini tertuju pada pesanan masing-masing, tak lama kemudian ke-duanya segera menyantap makanannya.


"Makasih Yaza atas traktirannya. Gue makan ya! Next time, janji gue yang traktir," ujar Nea antusias.


"Janji ya?!" ujar Yaza.


Nea terkekeh lalu berucap dengan manisnya "Ya."


Ke-duanya pun terlarut dalam nikmatnya santapan yang mereka pesan. Hingga tak terasa sudah habis saja makanan mereka, tak mau berlama-lama karena ternyata jam telah menunjukkan pukul 12.50 mereka segera kembali berangkat ke kampus.


"Lo mau balik lagi ke kampus Ya?" tanya Yaza.


"Iya, anter balik ke kampus aja," jawab Nea.


"Gak mau diantar ke rumah? Kalau mau gue turunin lo di sana," ujar Yaza.


"Gak usah Za, nanti lo makin telat," ujar Nea.


"Gak apa-apa kali, nyantuy sama gue mah. Lagian dah lama gak sapa Mama Esha," ujar Yaza.


"Gak usah. Antar ke kampus aja, gue maksa. Lagian juga gue masih ada urusan di kampus. Kalau mau kapan-kapan main ke rumah gue aja makannya," ujar Nea.


"Boleh?" tanya Yaza.


"Lah, dulu aja biasanya suka main. Lo-nya aja yang ke sini-sini makin kurang ajar jadi jarang main," ujar Nea.


"Hehe. Ya udah kita ke kampus ya," ujar Yaza.


"Iya," jawab Nea.



13/12/2018


13.00


"Gak keluar lo? Udah lama gak ketemukan?!"


Teriakan Derren terdengar nyaring mengisi seluk beluk setiap ruang di gedung jurusan seni musik. Ghai yang mendengarnya segera terbangun lalu berjalan ke arah Derren. Tiap kali Derren seperti itu para penunggu di gedung ini pasti akan segera pergi dari lingkungan gedung.


Lagi, Derren menggunakan sosok dirinya yang lain. Mungkin karena Derren merupakan arwah yang kuat jadi dia mampu bermain dengan bentuk tubuhnya. Derren mampu merubah tubuhnya menjadi seorang anak kecil atau seorang mahasiswa berumur 21 tahun. Tentunya ke-2 sosok itu merupakan sosok asli Derren, namun dengan umur yang berbeda.


"Ada apa Der?" tanya Ghai.


"Ayo, kita tanya ke dia. Apa maksudnya kali ini," ujar Derren.


"Hah?" tanya Ghai.


Tiba-tiba saja hembusan angin terasa lebih kencang dari yang sebelumnya. Angin itu mampu membuat Derren juga Ghai menyipitkan matanya.


"Ada apa? Tumben manggil untuk datang, biasanya suka gak mau lihat aku."


Suara yang terdengar berat tiba-tiba saja menyapa kala hembusan angin kencang itu terhenti. Ghai terkesiap kala mendengarnya. Ternyata sosok misterius itu yang Derren panggil, sesosok yang menyapanya kala ia baru saja terbangun.


"Mau apa lagi? Kenapa dia ada di sini? Terlebih lagi sama dia?!" tanya Derren dengan nada yang meninggi.


"Hohoho~ Apa nih maksudnya?"


"Mau main peran?! Jawab yang bener," kecam Derren.


"Ayolah, jangan tanyakan itu padaku. Coba kamu pikirkan sekali lagi, siapa yang memperumit semua ini? Apa ini salahku? Lagi pula aku hanya penjaga di sini. Alurnya bukan karena aku, kamu tau itu."

__ADS_1


"Ada apa Derren? Aku gak ngerti," ujar Ghai.


"Entahlah, Derren selalu menggila. Benarkan Ghai? Hei, jangan diam saja Derren. Bisakah kau jelaskan perihal situasi ini pada Ghai?"


Derren terdiam sejenak sebelum tiba-tiba terkekeh. Ghai yang melihat Derren segera mencari sosok bersuara berat itu, namun hasilnya nihil.


"Nyali kamu masih kecil rupanya? Keluar! Jangan sembunyi terus, lagian Ghai juga udah gak asing."


"Hei, dia tidak akan datang setelah mendengar teriakanmu yang heboh seperti itu."


"Makannya kenapa malah kamu yang datang?! Yang aku panggil dia, bukan kamu!" ujar Derren.


"Aku itu transparan. Ketika mendengar kehebohanmu aku takut kamu kembali memperburuk semuanya sekali lagi. Kamu selalu menggila Derren."


Derren membisu, balasan yang di lontarkan si tokoh bersuara berat baru saja mengingatkannya pada kesalahan yang dahulu ia perbuat. Di sisi lain sosok bersuara berat itu tampaknya menikmati tontonan ini.


"Mau dibongkar aja?" tanya Derren dengan nada sarkas.


"Eii, kamu mau buat dia menderita? Lagian kita sudah membuat kesepakatan. Ayolah Derren, dewasa sedikit. Sekitar 3 menit yang lalu dia masih disibukan dengan urusannya."


"Boleh aku tanya satu hal?" tanya Ghai.


"Silahkan tanyakan."


Derren terdiam, menghargai Ghai yang mencoba bertanya. Di sisi lain Si Suara Berat kini tengah memasang telinganya dengan baik.


"Apa Nea orangnya? Aku cukup yakin aku sudah bertemu orang yang tepat. Tapi, bukannya dia harusnya gak bisa liat Derren juga?"


"Kamu tanya padaku siapa Nea? Hahaha, leluconmu cukup bagus. Hei biar aku tanya sesuatu, sejak kapan aku bilang orang yang dia maksud gak bisa liat hantu lain? Lalu sejak kapan aku bilang orang yang dia maksud bisa liat hantu lain? Aku rasa dia gak pernah bilang kalau orang itu bisa atau gak bisa lihat mahluk sejenis kita, lagipula yang paling tau siapa dia itu kamu sendiri.


Jika kamu merasa sesuatu yang hilang darimu seolah kembali lagi padamu bukannya berarti dia itu orang yang tepat? Lagipula baik aku dan dia tidak mengatur siapa orangnya dan bagaimana caramu menyelesaikannya."


Ghai terdiam sembari menundukkan kepalanya, tangan kanannya yang mengepal digunakan untuk menopang dagu. Di tengah-tengah ruangan sepi yang hanya memiliki satu pencahayaan dari terangnya matahari siang itu, ia kembali merenung dan mencoba memikirkan apa yang harus dilakukannya.


"Dia bilang cukup pecahkan teka-tekinya bukan? Aku tahu dia tidak menyuruhmu untuk terluka lagi, dia juga tidak menyuruhmu untuk bersedih lagi, bahkan dia tidak menyuruhmu kembali menggali apa yang membuatmu berada di ambang kematian. Namun, jika menurutmu itu cara penyelesaiannya apa aku berhak melarangnya? Tentu saja tidak bukan? Sekali lagi aku katakan bahwa pilihan ada di tanganmu Ghai."


Sekali lagi Ghai merenung, pikirannya kini terfokus pada Nea yang sudah cukup lama bersamanya. Apa benar dia yang dimaksud? Apa benar dia orang yang selama ini menjadi titik penyesalannya? Atau mungkin dia hanya jembatan antara penyesalannya? Sebuah penyesalan yang mampu menghentikan langkahnya untuk pergi ke atas sana lebih cepat.


Sosok itu terkekeh pelan ketika melihat ekspresi Derren yang terlihat cukup gelisah. Ghai dengan segala praduga-nya masih terlarut dalam pemikiran-nya sendiri.


"Satu lagi, ini untukmu Ghai. Cobalah sedikit lebih santai saat bersama Nea, hatimu selalu berdegup kencang dan ekspresimu jadi mati."


Ghai tersentak, dirinya segera menatap ke arah Derren yang kini tengah berjongkok sembari menundukkan kepalanya. Entah mengapa pipi Ghai tiba-tiba saja memerah.


"Dia akan kembali. Jadi, jangan khawatir. Pilihan ceroboh dan beresiko yang kalian ambil cukup aku apresiasi." Itulah kalimat terakhir yang sosok itu ucapkan sebelum akhirnya benar-benar menghilang.



13/12/2018


13.10


"Makasih, gue turun sini aja. Sana cepet, nanti makin telat," ujar Nea.


"Oke, gue duluan ya Ya," ujar Yaza.


Nea berjalan mendekati gedung jurusan seni musik lalu berdiri di depannya untuk beberapa saat. Dirinya menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya memantapkan niat dan memegang gagang pintu. Nea kemudian mendorong pelan pintu itu, ternyata benar pintunya tak pernah terkunci. Apa memang hanya berlaku pada Nea? Atau mungkin karena Nea berniat membantu?


"Derren. Derren," panggil Nea berulang kali sembari mencari sosok Derren.


Begitu terkejutnya Nea kala melihat sesosok lelaki tinggi dengan kulitnya yang berwarna putih pucat. Wajahnya merupakan hasil perpaduan antara Indonesia dengan Belanda. Apakah itu Derren, atau seseorang yang lain, Nea tak tau.


"Nea?! Lo kok udah ke sini aja?" tanya Derren.


"Lo Derren?" tanya Nea memastikan.


"Oh, gue lupa. Pasti karena tubuh gue yang tiba-tiba jadi kayak seumuran kalian, jadi bikin lo lupa ya. Iya, ini Derren," ujar Derren.


"Wow, lo udah gede ganteng juga Der," ujar Nea.

__ADS_1


Derren menggaruk kepalanya sembari tersenyum lebar. Dirinya segera melihat ke arah bawah, tak lagi menatap Nea karena malu.


"Ah kamu, aku jadi malukan," ujar Derren.


"Loh, kok tiba-tiba aku kamu?" tanya Nea. Tiba-tiba terdengar sebuah suara, suara yang Nea kenal. Nea segera mencari sosoknya ketika mendengar suara itu.


"Itu karena Derren grogi. Biasa terjadi kok, tiba-tiba aku kamu lo gue nyampur kalau dia lagi gugup," ujar Ghai.


"Ih, apaan sih!" protes Derren.


"Ghai?! Lo di mana?" tanya Nea.


"Depan kamu," ujar Ghai.


"Oh, hehe maaf," ujar Nea.


"Kenapa minta maaf? Haha justru aku yang minta maaf," ujar Ghai.


"Kenapa?" tanya Nea.


"Karena ngerepotin kamu. Makasih juga ya," ujar Ghai.


"Kok tiba-tiba makasih?" tanya Nea.


"Karena kembali," jawab Ghai.


"Ah, bukan apa-apa. Itu sih gak usah ucapin makasih," ujar Nea.


"Ngomong-ngomong ngapain kamu ke sini?" tanya Ghai.


"Karena gue males pulang. Lo gak tau ya? Tempat ini udah gue jadiin basecamp gue," ujar Nea.


"Haha, terserah kamu. Selama kamu gak keberatan bicara sama aku yang gak keliatan, aku sih oke-oke aja," ujar Ghai.


"Mu-mulai saat ini gue akan mencoba menganggap ini normal, jadi gak masalah kok," ujar Nea.


"Oke," jawab Ghai.


"Jadi sekarang mau apa?" tanya Derren.


"Sekarang mau apa? Aku juga gak tau," jawab Ghai.


"Gue mau bilang kalau gue mau bantuin kalian. Gue gak bisa dong terus-terusan cuma enaknya minta bantuan sama lo berdua, jadi balas jasa dari gue bilang aja ke gue apa yang bisa gue bantu buat mecahin masalah lo berdua," ujar Nea.


"Bagus dong kalau kayak gitu! Oh, gue baru inget mau nanya sesuatu. Lo keberatan gak kalau gue sering-sering pake wujud ini?" tanya Derren.


"Gak kok, gue malah jadi ngerasa bisa lebih santai sama lo," ujar Nea.


"Oke deh kalau gitu. Gue bakal lebih sering pake wujud dewasa gue ya," ujar Derren.


"Oke," jawab Nea dengan senyuman di wajahnya.


Ghai yang memperhatikan gerak gerik Nea tersenyum manis. Dirinya yang tak terlihat Nea tidak menjamin kerahasiaan senyumannya yang muncul, karena masih ada Derren di sana.


"Loh, tumben senyumnya lebar gitu Gha," ujar Derren dengan nada meledek.


"Ghai senyum?! Pelit amat lo Gha, ke gue gak jarang nunjukin senyuman. Giliran gak keliatan senyum mulu lo kayaknya," ujar Nea.


"Gak kok. Aku gak senyum," ujar Ghai sembari memberikan kepalan tangan pada Derren.


"Hahaha. Oh iya, mending sekarang kita mulai coba pecahin masalah lo satu-satu," jawab Nea.


"Gimana caranya?" tanya Derren.


"Gue punya banyak relasi. Ayo kita mulai!"


 


 

__ADS_1


 


©AksamalpaAksara


__ADS_2