
"Nea! Fai! Arka! Yaza!! Ayo masuk ke rumah nak. Ini sup buntutnya udah jadi," teriak Mama Esha dari pintu yang membatasi area rumah dengan taman belakang.
"Iya tan! Sebentar ini mau ke sana," teriak Fai membalas panggilan mama.
"Udahan dulu, ayo makan laper nih gue," Yaza tiba-tiba mengambil album foto berukuran B5 dari tangan Nea yang sedari tadi masih mencari jawaban dari keberadaan sosok Derren di sana.
"Ih! Lo apaan sih Za? Gue lagi liat juga, main ambil ih!" protes Nea pada Yaza yang kini tengah terlihat kalut.
"Dipanggil Tante Esha itu, cepetan jangan lama-lama. Nanti rezeki juga lama dapatnya loh!" tegur Yaza.
"Hilih, kakek Yaza ini tinggal di mana? Petuahnya bagus amat," ledek Arka dengan raut muka ditekuk.
"Apaan sih lo? Udah yuk buruan," ajak Yaza.
"Iya hayu. Masalah nostalgia bisa ditunda nanti lagi kan Nea? Daripada kehabisan sup buntut, mending berhenti liatin tuh album foto sampai jamuran," tegur Fai.
"Iya-iya, hayu gue turun nih," ujar Nea dengan raut muka kesal, sembari sempat-sempatnya melemparkan tatapan tajam pada Yaza.
Sesampainya di meja makan yang diatur papa sedemikian rupa, Nea langsung mengambil posisi duduk yang langsung berhadapan dengan mangkuk berisikan sup buntut kesukaannya. Masakan mama memang paling terbaik di menu itu.
"Gimana kabar tugas akhir? Kata Fai, Nea belum dapat teman kolaborasi? Perlu tante bantu?" tanya Tante Beti, mamanya Fai.
"Oh, udah dapat kok tante. Gak usah gak apa-apa, Nea udah ngerasa klop juga sama temen kolaborasi Nea," ujar Nea.
"Iya, kemarin juga Yaza bilang mau kenalin temennya ke kamu," ujar Tante Gita, mamanya Yaza.
"Ah, Yaza mah suka gitu tan. Sok tau," balas Nea yang segera mengundang tawa seisi ruangan.
"Oh, syukur dong kalau gitu. Progress tugas kalian udah sampai mana? Kalau Fai kerjaannya leha-leha terus di rumah, gak pernah tante liat Fai ngerjain tugas akhir," balas Tante Beti.
"Alhamdulillah, penyusunan storyline sampe artlinenya sih sedikit lagi beres. Nea tinggal tunggu hasil rekaman dari temen kolaborasi Nea," ujar Nea.
"Mama nih kerjaan kalau ketemu sama anak-anak bahasnya tugas lagi, tugas lagi. Gak ada topik lain apa ma?" tanya Fai dengan nada keluhan.
"Kan biasa ibu-ibu Fai, kayak gak kenal mama-mu aja," ledek mama Esha.
"Haduh, ini semua anak-anak kalian pada masuk jurusan di bidang seni nerusin kita-kita. Cuma Yaza doang yang milih nekunin bidang Arsitek," keluh Tante Gita.
"Arsitek juga sama ada designnya kok. Gak apa-apa kali Yaza jadi arsitek, toh membantu juga kerjaannya. Ih, ini ayo dimakan, kenapa malah jadi asyik ngobrol gini?" tanya mama Esha.
"Iya, lihat tuh dari tadi anakmu matanya udah kayak serigala di depan mangsanya," ledek Tante Hani, mamanya Arka.
Memang mamanya Arka adalah orang tua di sini yang paling peka dengan raungan lapar yang dikeluarkan dari perut Nea. Nea yang melihatnya hanya terkekeh lalu segera menyantap sup buntut setelah dipersilahkan makan. Kemudian acara makan-makan berlanjut dengan khidmad.
Arka dan Fai lebih memilih menonton film di kamar Nea, katanya mereka belum nonton Film Mortal Engines. Berbeda dengan Nea yang meminta izin kepada sahabatnya untuk kembali ke rumah pohon dan membongkar rahasia masa lalunya yang hilang entah kemana.
Lucunya, Nea menemukan buku harian miliknya semasa kecil. Warnanya pink dengan gambar Hello Kitty menghias covernya. Buku harian itu ternyata memiliki kunci besi kecil dan kini aktivitas Nea adalah mencari kuncinya.
__ADS_1
"Aduh, kemana ini kuncinya? Banyak gaya banget sih lo Nea, beli diary modelan begini. Kayak ada yang kepo sama cerita sehari-hari kamu aja," monolog Nea yang diucapkannya secara terang-terangan.
"Lagi nyari apaan lo?"
Nea terkejut bukan main, dirinya bahkan hampir terjungkal karena ulah Yaza yang masuk tanpa suara dan tiba-tiba saja berbicara tanpa aba-aba. Yaza yang melihatnya tertawa terbahak-bahak.
"Hayo loh, lagi apa lo? Kepergok nonton yang begituan ya? Makannya panik," ujar Yaza diselingi kekehan menyebalkannya.
Aksi dan perkataan Yaza berbuah sebuah timpukan dari Nea. Nea baru saja melayangkan buku diary miliknya ke arah Yaza.
"Sialan lo! Kaget gue!" protes Nea.
"Lagi ngapain ***** sendirian di sini?" tanya Yaza.
"Gue masih penasaran sama anak di foto itu," jawab Nea yang kemudian tengah memungut kembali buku diary miliknya yang terjatuh di ambang pintu rumah pohon.
"Ngapain lo cari tahu tentang mereka? Itukan anak pembantu di vila lo dulu," jawab Yaza dengan tatapan resah.
"Yakin lo? Bohong ah!"
"Seriusan," ujar Yaza masih dengan gelagat anehnya.
"Kalau seriusan kenapa lo kayak keliatan gelisah gitu? Lo tau sesuatu ya? Apaan, cepetan kasih tau gue! Apa yang lo sembunyiin?!" tanya Nea yang semakin mendekat dan memojokkan Yaza ke tembok kayu rumah pohon.
"Gak kok, gak ada yang gue sembunyiin dari lo," elak Yaza.
"Jujur sama gue. Kalau bohong lo mati," ancam Nea.
"Kasih tau gue cepetan! Lagian lo mungkin gak sadar, tapi lo itu orang yang paling gampang ketauan kalau ngebohong," ujar Nea yang semakin mendekat lalu loncat-loncat di depan Yaza karena gemas tak kunjung mendapatkan jawaban jujur dari Yaza.
"Udah gue kasih tau itu, mereka bertiga anaknya tukang kebun vila lo," jawab Yaza.
"Tuhkan!" ujar Nea spontan.
"Apa?" tanya Yaza yang terkejut.
"Katanya pembantu sekarang tukang kebun! Jadi yang bener yang mana. Udah lo jujur aja sama gue, ada yang lo sembunyiinkan dari gue?"
"Gak ada sumpahan!"
Nea semakin mengurangi jaraknya dengan Yaza. Oke, Yaza akui jantungnya akan melompat keluar bila Nea mendekat lagi lebih dari ini. Yaza mulai salah tingkah, sedangkan Nea dengan pendiriannya yang kuat terus menginterogasi Yaza yang menurutnya mencurigakan.
"G-gue gak tau!!" spontan Yaza mendorong Nea hingga tubuhnya terjungkal ke atas kasur kecil di rumah pohon itu, kepala Nea terbentur tembok kayu di sana cukup keras.
"Aw!!"
Yaza yang melihatnya segera menghampiri Nea dan mengangkat tubuh kecilnya untuk segera bangkit. Yaza kemudian mengelus-elus kepala Nea yang terbentur cukup keras tadi. Tiba-tiba saja Nea menangkis tangan Yaza dan terdiam seribu basa.
"A-ada apa Nea? Lo gak apa-apakan?" tanya Yaza khawatir.
__ADS_1
"Gue inget! GUE INGET!! Gue pernah kecelakaan dan keserempet motor-kan waktu itu? Nah abis itu kepala gue kebentur dan gue lupa ingetan. Lo menjaga rahasia itu karena mungkin aja tiga anak di foto itu penyebab gue lupa ingetan. Iya-kan?!" tanya Nea antusias.
Yaza terdiam sejenak lalu tak lama kemudian dirinya tertawa hingga air matanya pun turut turun. Nea yang melihatnya kesal bukan main. Teori miliknya mungkin saja benar, tapi Yaza menghancurkannya dalam hitungan detik.
"Lo abis nonton sinetron baru mana?!! Mana ada ***** kisah kayak gitu!! Hahahaha, lo tuh imajinasinya jangan ketinggian Nea. Jatuh-jatuh sakit *loh*entar," ujar Yaza masih dengan gelak tawanya yang tak kunjung berhenti. Lagi, Yaza mendapatkan pukulan dari Nea setelah puas menertawakannya.
"Gue gak bercanda ****! Seriusan ini! Terus mereka siapa dong kalau gitu?" tanya Nea.
"Lo sebegitu gak percayanya sama gue? Udah ah capek gue ngomong sama lo," ujar Yaza yang kemudian meninggalkan Nea sendirian di rumah pohon itu.
Nea yang melihat Yaza pergi meninggalkannya dengan segera mengambil foto yang baru saja memunculkan banyak teori konspirasi di dalam dirinya. Jangan lupakan identitas Nea sebagai pengkhayal tingkat Mythic! Dirinya selalu saja memikirkan sesuatu hal di luar nalar manusia. Setelah diambil fotonya, Nea segera berlari menyusul Yaza.
Arka, Fai juga Yaza sudah pulang karena hari semakin larut. Kini tersisa Nea dengan pemikiran fantasinya yang sedari tadi menghantui. Nea menatap dalam-dalam foto Derren dan seorang anak lelaki satunya lagi yang berada di dalam rangkulan tangan kanan Nea.
"Kenapa bisa ada Derren di sini? Besok gue tanya Derren deh. Seandainya aja ada gue rajin nulis buku--."
Nea terdiam lalu baru ingat tujuan sebelumnya mengenai penemuan kunci diary Hello Kitty-nya. Nea berdecak kesal mengingat Yaza yang tiba-tiba muncul dan menghancurkan rencananya.
"Yaza kayak nyembunyiin sesuatu banget. Apaan ya kira-kira?" monolog Nea.
Nea akhirnya memutuskan untuk kembali ke rumah pohonnya. Bila dihitung-hitung lagi, Nea sudah bolak-balik ke rumah pohonnya itu sekitar 3x. Usut punya usut, sebenarnya Nea sama seperti Yaza, ia tidak pernah mengunjunginya sesering ini setelah ia beranjak dewasa. Sesampainya di sana Nea melanjutkan pencarian kunci diary miliknya yang hilang entah kemana.
Tiba-tiba saja, ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi masuk ke ponsel milik Nea. Bersamaan dengan itu, Nea berhasil menemukan kunci diary-nya.
TING!
1 unread message
Nea kegirangan ketika berhasil menemukan kunci itu, dengan cepat Nea mengambil buku diary pink-nya itu. Lalu Nea mengambil posisi duduk di atas kasur. Perlahan tapi pasti Nea membuka buku diary itu. Bersamaan dengan itu, notifikasi layar Nea berubah menjadi sebuah preview dari pesan yang masuk
Adiba Balqis Firdaus
Hantu itu, Ghai-kan?
TING!
2 unread message
Adiba Balqis Firdaus
Kalau aku benar, tolong segera kabari aku. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.
__ADS_1
©AksamalpaAksara