
"Nea, ini aku Ghai."
Bersamaan dengan ucapan itu, sosok Ghai mulai terlihat. Dirinya tengah berdiri di hadapan Nea dengan senyuman manis miliknya. Derren yang melihatnya segera menutup mulutnya.
"Gawat," ujar Derren.
Nea dengan segera menatap jam yang terdapat di pergelangan tangannya. Waktu menunjukkan pukul setengah 4 sore, dimana artinya Ghai muncul 30 menit lebih awal dari biasanya.
"Maksud lo apa?" tanya Nea.
"Bener kata Derren, cari tahu sesuatu tentang masa lalu kamu. Kita terhubung," ujar Ghai.
Dasar Nea, dikatakan hal seperti itu bukannya dianggap serius. Dirinya malah tersipu malu dan kini tengah mencoba menghindari tatapan Ghai. Wajahnya seperti udang rebus saat ini.
'Lagian siapa yang suruh lo senyum sih?! Jantung gue jadi gak karuankan!' monolog Nea.
"Lo, tadi apa yang muncul?" tanya Derren.
"Nea masih kecil dan orangtua kita berdua?" jawab Ghai. Derren menatap Nea sebagai balasan.
"Sekarang jam berapa?" tanya Derren.
"Setengah 4 sore. Ada apa?" tanya Nea yang masih berusaha menyembunyikan pipi merahnya.
Derren mengangguk-angguk ketika mendapat jawaban. Di sisi lain Ghai terlihat berbeda dari biasanya, seolah-olah aura misterius darinya perlahan menghilang. Faktanya tidak bertemu Ghai 3 hari sudah semakin ekspresif dan lebih banyak bicara saja dia sekarang.
"Kenapa kamu sembunyiin muka kamu terus?" tanya Ghai.
"Hah? Gak kok," balas Nea yang kini tengah berusaha keras menghindari tatapan Ghai yang terlihat manis. Ah, bahkan tatapannya saja bisa membuat Nea mengalami diabetes jika terus dipandang. Ghai itu tampan dan manis overload!
"Terus kenapa ngehindar dari tatapan aku? Hahaha," ujar Ghai dengan intonasi jahil.
"Lo kenapa sih Gha? Kok tiba-tiba jadi jahil?" tanya Derren yang menatap jijik ke-dua orang yang membuat hatinya iri setengah mati saat ini.
"Gak kenapa-napa kok. Cuma asyik aja ngejahilin orang," ujar Ghai.
"Oke, tapi gue gak terbiasa lihatnya. Jadi jijik tau gak sih?" ujar Derren dengan memutar bola matanya.
"Kenapa jadi jijik? Sirik ya kamu? Hahaha," ujar Ghai lagi-lagi yang keluar dari pribadi biasanya yang terkesan pendiam dan susah didekati.
"Kagak ada sirik-sirikan bagi gua," ujar Derren.
Nea merasa tak bisa lagi berdiam lama-lama di tempat itu. Nea kemudian segera mencari alasan untuk pulang lebih dulu. Ghai yang melihatnya merasa gemas terhadap Nea.
"Gue pulang dulu. Lanjutin kerjaan lo ya!" ujar Nea gelagapan.
"Siap Nea, hati-hati di jalan!" teriak Ghai seiring tubuh Nea yang melesat pergi dari tempat itu secara cepat.
"Fyuh, hampir aja gue kena serangan jantung. Ghai kenapa? 3 hari gak ketemu kok tiba-tiba jadi..."
Nea kemudian memutar ulang adegan yang baru saja terjadi di otaknya. Dirinya kemudian tersenyum malu, sembari memegang pipi dengan ke-dua tangannya, Nea loncat-loncat. Ah, beginilah Nea jika negara salah tingkah menyerang.
"Kamu, ngapain di sini?" tanya seorang gadis seumurannya. Nea ingat, setelah pertemuan pertamanya yang memiliki kesan kurang baik. Nea senang sekali membicarakan gadis itu, Balqis namanya.
"Oh, Balqis ya?" tanya Nea.
"Udah berhasil ketemu sama anak waktu itu?" tanya Balqis.
"Lo..." Nea tampaknya sudah siap menghujat gadis itu secara terang-terangan di depannya. Tetapi niatnya urung, tak akan Nea biarkan siapapun merusak moodnya hari ini.
__ADS_1
"Udahlah lupain, gue balik deluan ya. Makasih loh sarannya waktu itu" ujar Nea yang kemudian pergi dengan langkah penuh aura bahagia.
"Pulang ajakah? Habisnya Arka, Fai juga kayaknya ada di rumah masing-masing" monolog Nea.
Tak lama setelah dirinya berbicara sendiri memikirkan tujuan berikutnya setelah melarikan diri dari sosok Ghai, ponselnya berdering. Mama menelpon, sebuah pertanda bahwa Nea harus segera pulang.
"Ya Mam? Kenapa?"
"Dek, pulang ih. Udah jam berapa ini?" tanya Mama.
"Jam 4 lebih 15. Kenapa emang?" tanya Nea.
"Pulang kalau gak mau kehabisan sop buntut," ancam Mama dari sambungan teleponnya.
"Siap ibunda!"
Nea segera mencari ojol untuk mengantarnya pulang. Tak membutuhkan waktu yang lama, ojol miliknya muncul. Selama perjalanan Nea secara terus menerus dibuat malu dengan sikap Ghai hari ini. Ah, jadi menyesal memilih melarikan diri.
"Assalamu'alaikum. Nea pulang!" suara Nea menggelegar.
"Bacot Ne, masuk aja langsung napa sih?" tanya Arka dengan tatapan sinis.
"Nea!!" Fai berteriak menyambut kedatangan Nea.
"Loh, kok pada di sini?" tanya Nea terkejut.
"Yo!" sosok Yaza juga muncul dari balik tembok pemisah ruang tamu dengan ruang utama di rumahnya.
"Kok sampe ada Yaza juga? Ada apaan nih?" tanya Nea.
"Biasa ibunya Arka," ujar Yaza.
"Owh, gitu toh. Kalian napa pada ikutan ke rumah gue?" tanya Nea.
"Oh, jadi lo ngusir gue? Oke Ya, hubungan persahabatan kita cukup sampai di sini," ujar Arka tiba-tiba.
"Apaan sih lo gak nyambung *****," ujar Yaza seraya melemparkan bantal kursi kepada Arka.
"Sumpahan emang si Arka orangnya gak jelas. Daripada gabung sama orangtua-orangtua penuh gosip, lo pada ke basecamp aja yuk!" ajak Nea.
Rumah Nea memang terhitung cukup besar, di halaman belakangnya Nea memiliki rumah pohon yang dibangun ayahnya sebagai tempat bermain dan ruang privasi Nea. Nea yang menuntun jalannya ke-tiga orang yang mengekor di belakang.
"Udah lama gue gak ke sini," ujar Yaza.
"Salah sendiri," balas Nea.
Sesampainya di rumah pohon, Nea segera membongkar kotak kayu berwarna merah yang berada di pojok ruangan. Hal itu berhasil menyita perhatian ke-3 sahabatnya.
"Kenapa lo bongkar-bongkar kotak itu lagi?" tanya Fai.
"Ada yang buat gue penasaran," jawab Nea.
"Apaan?" tanya Yaza.
"Ini," jawab Nea yang kini tengah mengenggam album foto semasa kecilnya.
"Ya ampun, dah lama banget ini. Lo mau nostalgia Ya?" tanya Arka yang langsung menyambar album foto itu.
"Ish, gue yang mau liat juga. Kok lo yang ngambil?" tanya Nea dengan nada sinis.
__ADS_1
"Lo berdua berantem mulu da ih!" keluh Fai yang sudah mulai kesal dengan pertengkaran tidak jelas dari ke-dua sahabatnya. Di sisi lain Yaza hanya sibuk menertawakan aksi ke-3 orang yang berada di hadapannya.
"Mau liat elah! Pelit amat sih," protes Arka.
"Ya udah tinggal duduk di belakang gue. Beres," ujar Nea.
Kini semua orang mengambil posisi di belakang Nea untuk melihat foto mereka kala masih kecil. Foto pertama di isi dengan foto Nea dan Fai yang saling menggantungkan salah satu lengannya di pundak sahabatnya masing-masing.
"Ya Allah, gue dari kecil aja udah secantik ini?" tanya Fai.
"Baru sadar lo?" tanya Arka.
Tatapan Yaza dan Nea langsung mengarah pada ke-duanya. Pasalnya walau sama-sama saling suka, Arka dan Fai sangat jarang memuji satu sama lain, di mana artinya sangat jarang muncul momen dimana ke-duanya saling memperlihatkan rasa sukanya satu sama lain.
"Weiiittss, ketinggalan berita apa nih gue?!" tanya Yaza.
"Eh, sumpah ya lo berdua. Jadian kagak bilang-bilang," ujar Nea sembari menunjuk Arka dan Fai silih bergantian dengan jari telunjuknya.
"Gak kok!" ujar Fai yang kini pipinya merah.
"Udahlah, mau sampai kapan kita menghindari PJ Fai? Oke, kita jadian guys. Sekian," ujar Arka.
"Woi! Seriusan?!" ujar Nea kaget
"Woah, parah nih mainnya kabur dari pajak," protes Yaza.
"Maaf guys, kita lagi bangkrut karena tugas akhir," klarifikasi Arka membuat Nea dan Yaza tertawa semangat dan melakukan hi-five.
"Traktirannya ditunggu ya kakak-kakak," ujar Yaza.
"Iya, nanti Arka yang bayarin traktiran lo-lo pada," ujar Fai.
"Apa-apaan, harus berdua dong! Katanya susah senang ditanggung bersama," protes Arka dengan nada keluhan dibumbui aegyo yang tengah viral di kalangan kpopers dan masyarakat belakangan ini.
"Apaan sih Ka?! artis Korea sih cocok begitu. Nah elu?" protes Yaza yang melihat Arka geli.
Nea melanjutkan aktivitas sebelumnya, yaitu mencari tahu masa lalunya. Barangkali ada yang Nea lupakan?
"Ini.. siapa?" tanya Nea yang menghentikan candaan ke-3 orang yang juga berada di sana.
"Ini? Gue," jawab Arka.
"Astaga, muka kecil lo aja gak inget. Ini lo Ka," ujar Fai yang menunjuk sosok anak lelaki lainnya yang juga tengah berpose di foto itu. Nea menatap Yaza yang sedari tadi terdiam.
"Lo inget dia siapa?" tanya Nea. Entah kenapa matanya langsung tertuju pada Yaza, seolah-olah Nea meminta jawaban dari Yaza seorang.
"Hm? Kalian semua lupa?" tanya Yaza.
Nea membelalakan matanya begitu menyadari sosok Derren berada di dalam foto itu. Kenapa bisa ada Derren di sana? Apa mungkin dulu Nea mengenal Derren? Jika iya mengapa Derren bertingkah asing dengan Nea waktu pertama kali bertemu?
"Bentar, gue kagak inget nih anak muka Belanda. Seinget gue kita gak pernah punya temen blesteran kan?" ujar Arka.
"Anak ini juga asing mukanya. Seinget gue mereka ber-3 gak ada di foto sebelumnya," ujar Fai.
"Terus siapa dong mereka?"
"Akhirnya dimulai juga. Selamat telah berhasil menemukan clue ke-2 dari laksya tak berujung ini. Mulai sekarang permainannya benar-benar dimulai."
__ADS_1
©AksamalpaAksara