Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Kisah Sepasang Kupu-kupu


__ADS_3

Melalui harap mereka melepas rindu


° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °


"Jahat banget Gha. Tak ku sangka dirimu bisa sekejam itu sama Nea."


"Kamu gak usah jadi kompor Der, itu bentuk reaksi spontan aku karena kaget bisa dipegang manusia. Daripada itu, aku mau nanya. Apa sebelumnya aku sama dia saling kenal?" tanya Ghai.


"Hah? Ke-kenapa tanya itu ke aku?"


"Tadi, ingetan aku balik. Ada suara seseorang yang mirip sama suara Nea," ujar Ghai. Diamnya lawan bicara Ghai berhasil membawa Ghai kembali terdiam kemudian merenung.



"Dasar manusia sampah yang gak tau diuntung! Udah tau gue bakal ketinggalan bus. Mana kata-kata si bapak Gajek terus mengiang di kepala gue." Nea masih sibuk dalam urusan mengutuk Ghai.


Tak lama kemudian teleponnya bergetar, menunjukan beberapa notifikasi. Salah satunya dari Arka yang menanyakan keberadaan Nea, namun berakhir terabaikan.


**Manusia Absurd: **Woi lo di mana? Bunda Esha nanya ke gue tuh. Katanya nomor lo gak bisa dihubungin.


Salah satunya lagi sebuah pesan dari seseorang bernama Yaza. Nea kemudian menghela napasnya sebelum membuka dan membaca pesan dari Yaza.


Manusia Kerdil: Oii, traktiran. Gue lupa nagih lo tadi.


Nea menyesal telah membaca isi pesan dari Yaza. Nea kemudian membalas pesannya sembari menggerutu.


"Yang satu ditraktir gak mau, yang satu lagi minta traktiran. Laki-laki emang aneh."


Nea: Kagak ada traktir-traktiran. Titik gak pake koma.


Nea kemudian menatap kantung kresek berisi makanan yang sudah ia pesan sebelumnya. Tak berselang lama, Nea segera melangkahkan kakinya untuk kembali ke gedung seni musik.


"Bodo amat! Gue udah beli ini. Mubadzir namanya kalau gue buang."


Nea kemudian membuka aplikasi Whatsapp untuk mengabarkan ibunya perihal ketelatannya untuk pulang hari ini. Terdapat beberapa pesan dari ibunya yang menanyakan keberadaan Nea di atasnya.


Nea: Mamski, Nea pulang malam ya. Nugas di kampus, banyak kerjaan belum beres.


Kanjeng Ratu: Kamu dari tadi mama WA gak dijawab-jawab. Sama siapa di sana?


Nea: Hehehe, sorry Mamskuy ku tercinta. Sama anak seni musik, Nea udah dapat rekan kolaborasi buat tugas akhir.


Kanjeng Ratu: Cewek apa cowok?


Nea: Bersyukurlah mamah, karena akhirnya Nea menemukan lelaki. Nyebelin tapinya.


Kanjeng Ratu: Alhamdulillah nak. Mamah bangga.


Nea: Bilangin papah ya.


Kanjeng Ratu: Awas jangan macem-macem! Pulpen udah mamah taro di sebelah KK, Kartu Keluarga kalau kurang jelas.


Nea: Ya Allah mamah. Gak, Nea gak akan macam-macam. Janji.


Kanjeng Ratu: Awas ya! Pulang jangan malam-malam dek. Terus jangan lupa kasih tau mamah cowoknya gimana.


Nea: Siap!!


Nea kemudian melangkah pergi. Menghampiri Ghai dengan kantung kresek berisi 2 ayam geprek paket komplit dengan 2 minuman lemon tea sebagai penghilang dahaga.



7/12/2018


18.45


"Ghai. Ssst, Ghai."


Suara Nea menggema, Nea berjalan dengan hati-hati karena merasa takut. Terpikir oleh Nea untuk menyalakan senter dari handphonenya agar dirinya mampu melihat lebih jelas lagi. Karena tak kunjung didengarnya jawaban dari Ghai, Nea sempat berpikiran bahwa Ghai sudah pulang.


"Ghai, lo belum pulangkan? Ghai?"


Tak lama kemudian Nea merasakan sebuah kehadiran sesosok mahluk. Dirasakannya kehadiran itu dari belakang Nea. Nea perlahan memutar tubuhnya untuk mengetahui siapa yang ada di belakangnya saat ini.


"Oi." Ghai menyapa dengan tangan terangkat satu sembari memiringkan kepalanya.


"Ghai! Alhamdulillah lo belum pulang. Lo ngapain sih miringin kepala kek gitu?" tanya Nea.


"Ngapain kamu masih di sini? Bukannya tadi udah aku suruh pulang? Pamali loh cewek pulang malam-malam," ujar Ghai sekaligus bertanya.


"Udah, diem aja lo. Lo juga belum pulangkan, jadi gak usah bilang pamali segala. Lagian gue di sini buat ngerjain tugas kok. Lo sehatkan? Temenin gue di sini ya. Hehehehe," ujar Nea.


"Beda itu namanya Nea. Aku cowok, pulang malam juga gak apa-apa. Kamu-kan cewek, masa mau pulang malam? Gak pantes tau."


"Udah biasa pulang malam kok," ujar Nea.


"Bohong."


"Serius! Lagian lo gak ngerasa bersalah gitu sama gue? Tau gak gue ketinggalan bus! Maka dari itu gue balik sini lagi aja."


"Ya, maaf untuk itu. Makannya gak usah pegang-pegang. Lagian di sini mah banyak yang aneh-aneh, mending kamu kerjain tugasnya di gedung kamu sendiri daripada di sini. Kamu tau-kan rumor gedung jurusan aku?" tanya Ghai.


"Kenapa? Lo ngusir gue? Lagi?? Ghai biarin gue kerjain tugas di sini bareng lo ya! Please. Lagian kalau gue kerjain di gedung gue pasti anak-anak juga udah pada pulang, jadi sama aja."


"Nah, yang lain aja udah pada pulang. Kenapa kamu gak, coba? Semakin malam semakin bahaya buat cewek pulang sendiri," ujar Ghai.


"Cie perhatian sama gue. Suka deh jadinya," goda Nea dalam usaha mengalihkan perhatian Ghai.


"Ck! Dikasih tau juga. Susah ya. Lagian kamu gak marah gitu sama aku?" tanya Ghai begitu mengingat bagimana tadi dirinya membentak Nea.


"Gak akan marah lagi kalau lo ngebolehin gue ngerjain TA di sini."


"Ya udahlah terserah kamu," ujar Ghai sembari melangkah pergi.


"Yeay, baik deh. Lagian gue tuh merasa gedung ini nyaman juga buat nugas. Penuh dengan ketenangan," ujar Nea.


"Jelas tenang, karena kamu manusia yang gak punya indra ke-6. Coba kalau punya, banyak yang ganggu tau," ujar Ghai.

__ADS_1


Nea yang mendengarnya segera bergidik ngeri. Dengan cepat Nea berlari ke arah Ghai untuk meredakan rasa takut yang menghampirinya saat ini.


"Ghai. Gak lucu ah," ujar Nea dengan tatapan memelas.


"Eh, serius. Hahaha, tuh contohnya yang di belakang kamu," ujar Ghai dengan nada jahil.


"Ghai!" Nea melompat memegang tangan Ghai, Ghai dengan cepat menepisnya.


"Weits. Aku-kan udah bilang jangan sentuh-sentuh. Aku gak suka," ujar Ghai.


"Habisnya lo jahil sih, jadi aja gue jahilin balik," ujar Nea.


"Aku ini untouchable. Gak usah pegang-pegang rasanya geli tau. Gak enak rasanya kalau disentuh sama manusia," ujar Ghai.


"Lah, emang lo bukan manusia? Suka ngaco deh," ujar Nea.


"Bukan," jawab Ghai. Nea kemudian memperhatikan Ghai dari atas sampai ke bawah.


"Lah ngelawak lo? Mulai deh, candaan lo gak lucu tau. Hahaha," ujar Nea.


"Tapi ketawa tuh," ujar Ghai.


"Gue menghargai lawakan lo yang garing. Kasian kalau gak ada yang ketawa," ujar Nea.


"Ada tuh," ujar Ghai sembari menunjuk ke arah lorong kosong di belakang Nea.


"Siapa?" tanya Nea sembari menengok ke belakang.


"Kamu," ujar Ghai.


"Iyain. Udah ah buru. Gue minta 9 lagu loh," ujar Nea.


"Hah? 9 lagu? Aku aja cuma diminta bikin 5 sebelumnya," protes Ghai.


Ghai kini merasa terheran-heran, pasalnya ingatannya kembali muncul. Anehnya lagi, Ghai tidak merasakan sakit kala ingatannya kembali. Padahal sebelumnya setiap kunci ingatannya terbuka,  tubuhnya terasa terbakar.


"Ya gak mau tau. Lo-kan udah sepakat kolaborasi bareng gue," ujar Nea sembari menengadahkan kedua telapak tangannya, namun Ghai tak menyahut perkataan Nea.


"Woi, bengong mulu kerjaannya. Nanti kesambet tau rasa lo," ujar Nea.


"Heh ratu dari lautan segitiga bermuda. Kalau aku lagi bengong itu artinya aku lagi mikir, dan satu-satunya hal yang harus kamu lakuin kalau aku lagi bengong tuh diem aja. Gak usah banyak ngomong dan malah bikin pikiran aku jadi kabur. Lagian gak sopan tau, kan aku udah bilang syaratnya apa," ujar Ghai yang berhasil membuat Nea tercengang.


"Ya maaf deh Kang, Mas. Gue salah," ujar Nea.


"Tau gak ya? Aku tuh kalau nemenin kamu nugas malah jadi kesel bawaannya. Kayak tekanan darah aku naik terus, tau gak? Mending pulang kalau kayak gini," ujar Ghai.


"Eh! Jangan dong. Kan gue udah minta maaf," ujar Nea.


"Perbaikin tuh sikap kamu yang jeleknya naujubilah," ujar Ghai.


"Iya, iya. Gue akan berusaha memperbaiki sifat gue yang jelek," ujar Nea.


"Nah gitu kek," ujar Ghai.


"Maaf ya, Mas Ghai yang paling ganteng sejagat raya," ujar Nea.


Ghai tak membalasnya, lebih memilih bungkam lalu mengerjakan kerjaannya. Tak lama setelah memakan pesanan Nea tadi, mereka terlarut dalam fokusnya masing-masing. Hingga keheningan terpecahkan akibat Nea yang berbicara kepada Ghai.


"Gini nih sebenarnya, bahkan aku sendiri masih gak tau tuh ceritanya apa. Jadi, gimana aku bisa bawa perasaan aku masuk ke dalam lagunya coba? Terlebih lagi bukannya kamu bilang project kamu itu MV ya? Kenapa tiba-tiba jadi butuh 9 lagu sih?" tanya Ghai.


"Hah, gue belum kasih tau lo?" tanya Nea.


"Belumlah. Lagian kamu mau bikin animasi dengan durasi sepanjang apa? Kok sampai butuh 9 soundtrack sih?" tanya Ghai.


"Oh, itu bercanda. Hehehehe, gue cuma mau bikin lo shock aja. Jawaban untuk yang masalah MV jadi dosen gue tiba-tiba secara khusus ngomong ke gue dengan kata-kata 'Kayaknya Nea lebih bagus kalau buat animasi pendek, kamu juga jago ngarang ceritakan?' gitu deh, makannya gue pindah project dari buat music video ke ya, semacam film kartun pendek durasi 10 menitan-lah kira-kira," ujar Nea sembari tertawa jahat.


"Oh, jadi gak semua harus animasi?" tanya Ghai.


"Ya gak-lah Gha," jawab Nea.


"Ngaco kamu. Jadi butuh berapa?" tanya Ghai.


"Hm, sebenarnya 3 juga kebanyakan gak sih?" tanya Nea.


"Tergantung durasi animasi kamu," ujar Ghai.


"Kan tadi gue udah bilang, paling 10 menit-an. Makannya kalau orang lagi ngomong simak baik-baik! Gimana sih?! Itu durasi paling lama ya! Bisa mati gue kalau bikin lebih dari 10 menit," ujar Nea.


"Cukuplah. Aku bikin 3, 1 dari 3 itu bisa di jadiin cadangan sama kamu," ujar Ghai.


"Hm, masuk akal. Okedeh, mohon bantuannya wahai kawanku," ujar Nea.


"Jadi, ceritanya gimana?" tanya Ghai.


"Oh iya. Lupa kan gue." Nea kemudian menepuk tangannya antusias.


"Sok cerita, aku nyimak," ujar Ghai.


"Nah, jadi gini. Sebenernya, gue mau buat cerita dengan amanat melepas itu berat tapi perlu. Lo tau kan kupu-kupu itu cuma punya waktu 3 hari untuk hidup setelah berubah indah?" tanya Nea.


"Iya," jawab Ghai.


"Nah, jadi karakter utama di cerita gue tuh ya kupu-kupu. Cuma nanti gue bikin kek gemes gitulah bentukannya. Di cerita gue ini mereka sepasang, cewek cowok," ujar Nea.


"Oke, terus?" tanya Ghai.


"Nah, jadi ceritanya tuh gini. Ada seekor ulat yang ketemu sama ulat lainnya setelah menetas. Mereka berteman, saling jatuh cinta, mengukir kenangan bersama. Ya intinya mah mereka teh deket pisan," ujar Nea.


"Terus?" tanya Ghai.


"Nah, ceritanya karena tumbuh bersama, mimpi merekapun sama, kelak tiba saatnya mereka bisa terbang tinggi di angkasa, mereka mau menembus atmosfer bumi buat liat bintang yang sesungguhnya. Tau kenapa?" tanya Nea.


Ghai diam tak berniat menjawab, hanya menunggu hingga akhirnya Nea kembali membuka suara. Nea mengerti, iapun melanjutkan kisah mengenai animasinya.


"Karena, mereka sama-sama jatuh cinta pada bintang. Suatu malam, datang satu peri yang kesepian. Dia peri yang terasingkan dari kalangannya, dibenci juga dicaci. Peri itu dalam pelarian dan gak sengaja bertemu sama satu-satunya mahluk yang bisa liat dan menghargai keberadaan dia, mahluk itu adalah si ulat cowok. Entahlah gue mau buat karakter ulat bentuknya kek gimana, yang jelas mau gue buat selucu mungkin karena gue juga jijik sama ulat, atau mungkin ujung-ujungnya gue cuma pake konsep kupu-kupu dan karakter gue gak akan berwujud sama dengan yang asli? Gak tau-lah. Oke lanjut, karena si peri ini kesepian, setelah bertemu sama si ulat cowok ini dia jadi punya harapan sekaligus obsesi." Nea menghentikan kalimatnya sejenak untuk mengalihkan pandangannya ke arah Ghai.


"Ghai, lo percaya gak obsesi itu indah tapi menyakitkan?" tanya Nea.

__ADS_1


"Kenapa bisa indah?" tanya Ghai.


"Indah karena, obsesi itu rasa yang muncul ketika lo sangat takut untuk kehilangan seseorang, indah karena rasa itu muncul ketika lo akhirnya merasa punya sesuatu yang ingin lo lindungin, sesuatu yang membuat lo mengenal kata cinta, dan mohon digaris bawahi, cinta tidak selalu mengenai bagaimana cara kita memandang dan mengekspresikan rasa itu selama ini, tidak selalu tentang cewek dan cowok yang berakhir bahagia, cinta bisa timbul karena persahabatan atau rasa saling percaya. Intinya, cinta itu gak selalu tentang apa yang dijadikan definisi publik tentang itu, dan karena itulah rasa cinta indah," ujar Nea.


"Terus menyakitkan karena apa?" tanya Ghai.


"Menyakitkan karena melalui obsesi itu sendiri, orang yang sangat berharga di hidup kita bisa menjadi orang yang paling pintar dalam hal menyakiti," jawab Nea.


Ghai masih tertegun menatap Nea dengan segala pesonanya di bawah sinar rembulan. Lengkap dihias senyuman sendu miliknya, mungkin di detik itulah Ghai kembali mencintai seseorang.


"Karena obsesi ingin memiliki si ulat cowok sepenuhnya, si peri melanggar hukum alam. Mengutuk si ulat cowok untuk hidup lebih sebentar ketimbang yang lainnya," ujar Nea.


"Loh kenapa lebih sebentar?" tanya Ghai.


"Karena peri itu mau si ulat cowok berada di samping si peri. Mau tahu kenapa lagi? Karena kupu-kupu yang mati akan berubah menjadi peri," ujar Nea, lagi Nea menghentikan kalimatnya sejenak.


"Tapi, tau gak apa yang didapat sama si peri setelah ngutuk si ulat cowok?" tanya Nea.


"Dia mendapatkan makna kesendirian dan kesepian yang hakiki. Obsesi yang salah menuntun dia untuk melukai orang yang ingin dia jaga hingga akhir hayatnya, melalui hal itu dia akhirnya dapat menyimpulkan bahwa rasa cinta yang dia miliki buat si ulat cowok itu salah. Bukan, mungkin bukan rasa cintanya yang salah tapi, bagaimana cara dia mengekspresikannya yang salah. Mau tahu apa kelanjutannya? Si peri mencoba memperbaiki dan menghilangkan kutukannya tapi, ternyata kutukan itu hanya bisa hilang ketika kita bisa merelakan, sedangkan jauh di lubuk hati si peri, dia masih sulit untuk melepas si ulat cowok, akhirnya dia malah tenggelam dalam rasa bersalah," ujar Nea.


"Gak adil dong?" tanya Ghai.


"Kenapa gak adil?" tanya Nea.


"Peri itu terlalu dibuat terpuruk. Kamu sengaja buat peri ini jadi karakter jahat yang gak bisa dibenci ya? Lagian sepasang ulat itu hidup cuma sebentar dan tau waktu mereka akan habis sebentar lagi. Bukannya artinya mimpi mereka untuk melihat bintang yang sesungguhnya itu mustahil?" ujar Ghai.


"Hehe, emang. Lagian siapa sih mahluk Tuhan di dunia ini yang betah berteman dengan rasa sepi? Nah, untuk waktu mereka yang sebentar. Justru karena mereka tau waktu mereka sedikit, mereka jadi menghargai waktu. Mereka belajar cara memanfaatkan waktu yang terbatas sebagai peluang mengukir kenangan indah sebanyak mungkin. Justru karena tahu hidup mereka gak lama, mereka jadi tau emosi negatif di dunia itu gak berguna. Lagian lo jangan lupa, mereka ujung-ujungnya juga berubah jadi peri setelah meninggal," ujar Nea.


"Terus akhir ceritanya gimana?" tanya Ghai.


"Kutukan atau mungkin bisa juga di bilang kesempatan untuk mengusir rasa egois yang diberikan si peri gak pernah disesali ataupun dibenci si ulat cowok. Tahu kenapa? Karena dia tahu makna kesepian itu seperti apa, dia tidak menyalahkan si peri yang sama-sama sempat terluka di masanya. Jadi, dalam waktu 1 setengah hari sepasang ulat yang berubah jadi kupu-kupu ini menghabiskan waktu secara indah bersama-sama. Saling berjanji tidak akan menyesali apapun yang sudah terjadi, saling berjanji tidak akan pernah menyalahkan siapapun atas takdir yang diberikan oleh-Nya."


Nea mengalihkan pandangannya menatap rembulan melalui balik kaca gedung jurusan seni musik. Selang beberapa detik kemudian ia melanjutkan kalimatnya.


"Ulat cowok yang bertransformasi jadi kupu-kupu cowok itu, memang pergi lebih dulu dari si kupu-kupu cewek, nah ter--." Kata-kata Nea terpotong oleh pertanyaan Ghai.


"Si kupu-kupu cewek emang gak banyak diceritain?" tanya Ghai.


"Lo pake mutus cerita gue sih! Nah, di sini peran si kupu-kupu cewek berlangsung, disisa 1 setengah hari yang dia punya, dia pergi nepatin janji mereka berdua untuk pergi melintasi atmosfer bumi untuk melihat bintang yang sesungguhnya. Bukan waktu yang sebentar, tepat di menit-menit terakhir dia baru sampai di sana. Di dalam kesendirian melintasi perjalanan jauh itu, dia belajar cara melepas. Sebenarnya kalau lo tau, sosok peri si ulat cowok itu selalu ada di sampingnya, cuma si ulat cewek gak bisa liat.


Nah, sesampainya dia di tempat tujuan, dia melihat bintang sambil mengenang sosok si kupu-kupu cowok. Memang benar selama di perjalan melintasi atmosfer bumi, dia merasakan pilu dan sakit yang dalam tapi, seiring dengan berjalannya waktu dia tau selama ini dia cuma memberatkan kepergian si kupu-kupu cowok. Alhasil, dia membuang segala rasa sedih dan pilunya, mengganti emosi itu dengan rasa rindu yang sangat berharga. Di satu sisi si ulat cowok hanya bisa menatap kepergian si ulat cewek tanpa bisa terlihat oleh si ulat cewek itu sendiri. Hingga akhirnya baik kupu-kupu aka si ulat cewek dan si peri, mereka mendapatkan sebuah pesan kehidupan bahwa melepas itu berat tapi perlu. Udah deh tamat!" ujar Nea sembari menghapus air mata yang turun karena rasa bangga.


Di sisi lain, Ghai terdiam untuk merenung. Matanya berubah sayu seketika kala mendengar akhir cerita dari kisah yang diceritakan Nea.


"Gimana, gimana?!! Baguskan?? Sedihkan?" tanya Nea.


"Kenapa endingnya kayak gitu? Itu mah namanya penghabisan karakter," ujar Ghai.


"Ya suka-suka gue dong!!" ujar Nea.


"Kenapa gak dibikin tiba-tiba si kupu-kupu cowok muncul lagi dalam sosok peri. Mengulurkan tangannya, terus membawa si kupu-kupu cewek pergi bersama dia?" tanya Ghai masih dengan tatapan sayu.


"Kan emang si kupu-kupu cowok selalu ada di sampingnya cuma gak keliatan aja," ujar Nea.


"Tapi gak bisa gitu dong, katanya kupu-kupu yang udah mati berubah jadi peri?!" ujar Ghai.


"Lo dapet maksud gue gak sih?? Kenapa akhirnya kayak gitu karena gue mau buat pesan melepas itu berat tapi perlu. Lagian yang bisa liat peri itu cuma kupu-kupu dengan bakat spesial," ujar Nea.


"Tapikan, dengan akhir yang indah juga penonton bisa dapet pesan itu lewat si peri kali! Buat aja si peri mikir dan ngelihat bahwa dengan obsesi dia, dia malah buat si ulat cowok mendapatkan kesedihan, terus dia jadi sadar juga bahwa, rasa sepi milik dia itu bisa hilang ketika melihat si ulat cowok bahagia," ujar Ghai.


"He em, emang gitukan! Ketauan banget lo gak nyimak ah! Tapi gak, gue lebih suka alur cerita buatan gue. Akhir kayak gitu udah paling pas," ujar Nea.


"Gak adil itu namanya. Gak rame, kisahnya gak seru," ujar Ghai.


"Ih, nyebelin ya!" ujar Nea.


"Nih, kalau misalnya kamu ada di posisi si kupu-kupu cewek. Apa yang bakal kamu lakuin? Mau punya akhir cerita kayak gitu? Dih, aku sih gak mau ya," ujar Ghai.


"Lah kenapa lo yang sewot?!" ujar Nea.


"Emang yakin setelah ngelepas si anak cowok kayak gitu, dia jadi bahagia?" tanya Ghai.


Nea kini tengah berada dalam posisi skakmat. Dirinya tak lagi mampu menyanggah kata-kata dari Ghai. Ghai kemudian kembali melemparkan pertanyaannya.


"Berarti anak cowok itu dong yang bodoh?" tanya Ghai.


"Kenapa?" tanya Nea.


"Karena dia berusaha berteman dengan luka, mencoba memaafkan walau dia sebenarnya yang paling terluka karena menjadi korban atas rasa cinta dari si dua karakter, ulat cewek sama si peri. Karakter paling menyedihkan ya?" ujar Ghai dengan tatapan sendu.


"Lah emang ngapa dia jadi korban rasa cinta mereka berdua?" tanya Nea.


"Ya udah mah hidup dia jadi sebentar karena si peri, terus karena gak mau meninggalkan si ulat cewek sendirian dia jadi terluka dengan terus mengikuti ulat cewek tanpa bisa dilihat," ujar Nea.


"Ya karena itu gue bilang melepas itu berat tapi perlu. Coba kalau dia bisa melepas si ulat cewek, mungkin dia gak akan berlama-lama terpuruk. Lagian! Kalau cinta, kenapa dia merasa terpuruk mendampingi si ulat cewek tanpa terlihat?" protes Nea.


"Ya kamu pikir aja sendiri. Berada di satu tempat dengan perasaan jadi salp laut yang gak kelihatan tapi ingin diakui keberadaannya tuh gak enak," jawab Ghai dengan nada ketus.


"Hah? Salp laut?" tanya Nea.


"Cari sana di internet. Lo manusiakan?!" jawab Ghai masih dengan nada ketus.


Nea terdiam. Tak ingin lama-lama memusingkan hal ini akhirnya Nea membuka suara.


"Lagian itu terlalu mustahil terjadi. Ya kalau lo tanya gue mau punya akhir cerita kayak gitu, ya jawabannya gak-lah! Mending gue menghindar sebelum terlanjur jatuh terlalu dalam ke ceritanya. Lagian ya! Itukan khayalan gue, udahlah gak usah di ributin lagi," ujar Nea.


"Lagi," ujar Ghai tiba-tiba.


"Lagi apaan?" tanya Nea.


"Lagi, udah ke berapa kalinya kamu gak sopan sama aku. Untuk hari ini udah cukup. Silahkan pulang," ujar Ghai yang kemudian berjalan meninggalkan Nea dan hilang ditelan kegelapan.


"Ghai! Ghai!! WOOY! ANJIR GUE DITINGGAL! DASAR COWOK SOK MISTERIUUUUSSS!!!!"


 


 

__ADS_1


 


©AksamalpaAksara


__ADS_2