
Menggambar sebuah kenangan kelam yang menakutkan, terasa menyeramkan namun dibutuhkan
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
Nea terdiam kala gertakan Ghai menyapa telinganya begitu dingin. Entah mengapa, rasanya Ghai terlalu misterius bagi Nea, mungkin ia satu-satunya lelaki yang mampu membuat Nea tak mampu berkutik kala dihadapkan dengan gertakan. Sepasang kenari cokelat tua milik Nea lantas bergerak mendapati punggung Ghai yang bergetar.
"Sorry... Mungkin emang gue udah keterlaluan. Kalau gitu kita lanjut aja yuk, cari jalan keluar. Gue janji gue bakal diem," ujar Nea yang mencoba mengembalikan suasana.
Ghai kemudian mengambil langkah maju tanpa banyak bicara. Nea yang sebelumnya berjalan beriringan bersama Ghai, memilih untuk memperlambat pengambilan langkahnya agar cukup tertinggal di belakang. Ghai yang menyadari hal itu lantas menoleh sembari bertanya.
"Kenapa? Bukannya tadi takut jalan di belakang? Sini."
Nea menegakkan tubuh yang sebelumnya ia tekuk selama berjalan pun kepalanya yang kembali ia tegakan untuk memandang lurus ke depan. Dengan hati yang terasa cukup 'senang'? Nea berlari kecil untuk kembali menyeimbangi langkah dirinya dengan Ghai. Hingga tak terasa keduanya kini telah bertemu dengan jalan pintas yang Ghai maksud. Ternyata tempat itu adalah lorong yang sebelumnya pernah menjadi saksi atas air mata Nea yang terjatuh, akibat aksi tersesatnya kala pertama kali mengejar sosok Ghai.
"Oh, jadi di sini toh pintu terobosnya?" monolog Nea.
"Jalan terus ke lorong depan, nanti mentok kamu bakal ketemu sama toilet. Di tempat yang paling ujung ada pintu yang gak pernah ke kunci, lewat tempat itu kamu bisa langsung nerobos ke Cafetaria," ujar Ghai.
"Oh, oke. Ayo," ajak Nea sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
"Silahkan. Aku masih mau di sini," ujar Ghai.
"Loh, gak mau pulang bareng aja? Mau diantar gak sama gue?" tanya Nea.
"Gak, terima kasih," jawab Ghai.
"Eh, seriusan? Mumpung gue lagi baik nih. Mau gak?" tanya Nea sekali lagi.
"Gak. Rumah aku di sini."
Nea mengerutkan keningnya kala suara setengah berbisik milik Ghai seolah mau tak mau menghampiri telinga Nea. Sejujurnya di detik itu pula Nea ingin kembali bertanya, namun merasa tadi saja ia sudah mengusik Ghai, ia memilih membungkam mulutnya. Mungkin saja jika ia bertanya perihal apa yang diucapkan Ghai, ia akan kehilangan kesempatan kerjasama-nya bukan?
"Okedeh kalau gitu, gue duluan ya. Bye, sekali lagi makasih ya Ghai," ujar Nea.
"Iya," jawab Ghai dengan singkat.
Begitu keluar Nea segera disambut oleh harum makanan yang menghampiri indra penciumannya. Nea bersyukur karena area ini masih terhitung ramai dari tempat sebelumnya. Nea kemudian mengambil langkah maju untuk semakin memasuki area cafetaria.
"Hayoloh! Ngapain ngendap-ngendap kayak gitu. Mirip maling tau gak?" Sebuah tepukan yang ditemani oleh suara dari seseorang yang Nea benci di hidupnya terdengar memekakan telinga. Sudah pasti dia orangnya.
"Yaza?!! Ngapain lo di sini?" tanya Nea yang tampak terkejut.
"Justru gue yang harusnya nanya, ngapain lo di situ?" tanya Yaza sembari menunjuk tempat Nea muncul sebelumnya.
"Sst! Sial banget sih gue ketemu sama lo lagi," ujar Nea sembari menaruh jari telunjuk di depan bibir mungilnya yang terhitung tipis.
"Hehehe, kan gue emang selalu ada di manapun lo berada," ujar Yaza. Nea yang mendengarnya segera membulatkan mata lalu memandang Yaza dengan tatapan jijik.
"Idih. Emangnya lo jin tomang gue?" tanya Nea.
"Iya. Hahaha," jawab Yaza ditemani suara tawanya yang nyaring.
"Ngapain lo dari sana. Habis nyusup gedung jurusan seni musik ya?" tanya Yaza dengan senyuman jahil yang tak luput dari wajahnya.
"Bukan urusan lo," jawab Nea sembari berjalan melangkahi Yaza.
"Oh jelas urusan gue dong," ujar Yaza.
"Heh, lo tuh kayaknya suka banget ikut campur sama urusan orang ya Za?" tanya Nea yang terus berjalan tanpa menoleh menatap lawan bicaranya.
"Gak kok, gue cuma suka ikut campur sama urusan lo doang. Habisnya asik ikut campur sama urusan lo. Secara lo orangnya ribet, beda gak kayak cewek lain," ujar Yaza.
"Apa lo bilang?!" ujar Nea yang kini mulai mencengkram kerah baju lelaki yang memiliki gelar lelaki terpendek namun, lebih tinggi 11cm darinya.
__ADS_1
"Apa?" tanya Yaza dengan nada usil sembari menengadahkan ke-dua telapak tangannya.
"Udah ah, males ribut sama lo. Kenapa gak kayak Yaza yang biasanya aja sih? Bukannya lo udah lama ngejauhin gue, Arka, sama Fai? Kenapa sekarang sok pengen masuk lagi ke lingkar pertemanan gue lagi?" sarkas Nea yang kemudian mulai melepas cengkraman tangannya. Yaza hanya tersenyum, sebelum akhirnya memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
"Pulang naik apa lo?" tanya Yaza.
"Bus-lah, apa lagi coba?" tanya Nea sembari menyalakan layar ponselnya dengan niatan melihat waktu saat ini.
"HAH?!! UDAH JAM SEGINI?!! GILAA, BISA KETINGGALAN BUS GUE."
Nea lantas berlari, meninggalkan sosok Yaza di belakangnya yang sibuk memanggil dirinya. Layaknya senja yang berganti malam, pertemuan singkat ke-duanya sangat Yaza syukuri. Menatap punggung gadis itu yang semakin menjauh dengan cepat, menurutnya sama seperti menikmati senja yang indah namun hanya hadir sesaat.
6/12/2018
18.28
"Kan, gue ketinggalan!" ujar Nea sembari menghentakkan kakinya.
"Aduh, mana males banget naik *Ge*rab. Ojek pangkalan masih rada bermasalah lagi. Terus gue pulang pake apa?" monolog Nea sembari mengangkat ke dua tangannya.
'TIN TIN'
Sebuah suara klakson menyadarkan Nea dari lamunannya. Nea kemudian segera menatap pemilik motor tersebut. Nea hapal betul siapa yang mengendarai motor ninja berwarna hitam dengan stiker jurusan arsitektur kampusnya yang terpampang bebas di body sang motor dengan kaki yang pas-pasan menyentuh aspal. Yaza-lah orangnya.
"Oi wanita dari Mars, mau diantar gak?" tanya Yaza.
"Yaza? Kok lo di sini?" tanya Nea.
"Lo gimana sih? Jelas-jelas kalau gue lewat sini, jawabannya gak jauh-jauh. Berarti jalan pulang gue lewat sini ogeb. Lagian masa lo lupa rumah gue? Buru, mau ikut gak? Gue itung sampai 3 kalau gak ada jawaban gue tinggalin," ujar Yaza.
"1.."
'Aduh, gue sebenernya males,' batin Nea.
'Tapi mau gimana lagi? Masa harus jalan kaki.' Lagi, Nea bermonolog.
"3, oke waktu habis. Bye," ujar Yaza yang terlihat mulai bersiap menancap gas motornya.
"Eh Yaza! Tunggu-tunggu. Iya gue mau," ujar Nea.
Nea kemudian mulai menaiki motor Yaza. Yaza memperhatikan Nea melalui kaca spionnya kemudian tertawa begitu melihat ekspresi kesusahan Nea. Begitu berhasil menaiki motor Yaza, Nea segera merisleting jaketnya.
"Pegangan, gue mau ngebut," ujar Yaza.
"Jangan dijadiin ladang modus ya. Lagian ini jalan raya, lo mau ngebunuh gue?" tanya Nea.
"Ya itu pilihan lo," jawab Yaza.
Jangan pertanyakan bagaimana kondisi jantung Nea selama menaiki motor Yaza. Rasanya 11-12 dengan menaiki roller coaster, tidak, mungkin jauh lebih buruk. Nea bahkan mengeluarkan air mata saking takutnya, tak lupa merapalkan doa sepanjang jalan berharap dirinya masih diijinkan untuk hidup esok hari. Lalu, Yaza? Tentunya ia tenggelam dalam tawa melihat ekspresi Nea juga sensasi gemetarnya tangan Nea kala memegang jaket Yaza dengan erat.
"Udah sampai. Gimana? Rame gak wahananya?" Pertanyaan yang Yaza lontarkan berbuah pukulan keras dari Nea yang mendarat di helm yang masih Yaza kenakan hingga detik itu.
"Gak mau lagi gue diantar pulang sama lo," ujar Nea.
"Hahaha, harusnya gue foto ekspresi lo selama naik motor gue. Ngakak banget sumpah Ya," ledek Yaza.
"Sialan lo. Udah sana pulang. Gue mau masuk," ujar Nea.
"Gak ditawarin minum dulu?" tanya Yaza.
"Oh mau? Kebetulan ada nyokap, bokap gue di rumah. Mau mencoba sekalian jurus tapak es gue? Menu spesial tuh," tanya Nea.
"Waduh, kalau gitu masalah minum nanti aja deh. Gue tunggu traktirannya aja. Hehe," ujar Yaza.
__ADS_1
Nea kemudian tersenyum miring. Tak lama ia kembali memukul Yaza, namun untuk yang kali ini tempat landasannya di tangan Yaza pun dengan tenaga yang lebih pelan daripada sebelumnya.
"Udah sana pulang. Kemaleman nanti," ujar Nea.
"Siap. Nah gitu dong, alus dikit kek cewek lain. Kan jadi cakep dikit lo," ujar Yaza.
"Kampret emang. Udah gue masuk. Bye, oh iya btw makasih," ujar Nea yang kemudian memutar langkahnya untuk memasuki rumahnya, meninggalkan Yaza dengan degupan jantungnya yang terus mempercepat setiap detiknya.
"Untung lo udah masuk rumah, bisa mati gue kalau lo liat gue versi udang rebus," monolog Yaza.
7/12/2018
16.18
'CKIIIT!'
Suara gesekan ban bersama aspal memekakan telinga semua orang yang kini tengah sibuk berteriak melihat sebuah kejadian yang mungkin akan menjadi akhir riwayat hidup seseorang. Di samping itu, seorang remaja dengan lembar partitur yang dibawanya diam terpaku untuk sesaat.
"GHA AWAS!!!"
Tampaknya lelaki itu sedikit beruntung karena berhasil menghindar dengan cepat begitu ia menyadari kondisinya saat ini. Ia segera menoleh ke arah sahabatnya dengan senyuman yang menghias wajah, semata-mata untuk meyakinkan bahwa ia baik-baik saja.
"Tenang aku ga---"
'BRAK!'
"GHAI!!!"
Suara langkah kaki terdengar mendekat. Lelaki yang terbaring lemah di atas hamparan bitumen itu tengah menunggu bantuan datang untuk menyelamatkan nyawanya. Kepalanya terasa perih juga berdengung, penglihatannya pun turut mengabur.
"JANGAN KABUR LO BANGSAT!"
"Ada apa ini rame-ra-- HAH?!" Sesosok gadis yang sedari tadi bertanya-tanya segera menutup mulutnya ketika bayang lelaki itu terlihat kontras dengan darah di sekitarnya.
"BERENGSEK LO!"
"Dek gak kenapa-napa? Jangan pingsan dek. Pertahanin kesadarannya."
Bersamaan dengan detik yang terus melaju, lelaki itu semakin hanyut dalam rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Di sela-sela sempitnya udara yang mampu memasuki ruang napas lelaki itu, ia menatap kosong pada sesosok lelaki dengan tubuh kecil yang tengah menahan tangan seorang wanita dengan rambut teruntun manis.
"Dek.. Dek.. Dek..?"
Tubuhnya digoncangkan cukup kuat oleh seseorang yang terus memanggil dirinya dengan sebutan 'Dek'. Tepat di detik selanjutnya, kesadaran Ghai perlahan terambil pun jua penglihatannya yang berubah gelap seiring waktu. Hingga, "AAARRGGH!!"
Kepalanya serasa ingin pecah, ia menjambak rambutnya. Ditemani dengungan yang terdengar di ke-dua telinganya, lagi-lagi rasa sakitnya bertambah di area dada. Lelaki itu lantas terjatuh dari kursi piano, tempatnya tenggelam dalam mimpi buruk yang menghampirinya. Tubuhnya meringkuk di lantai dengan mata yang mulai berair akibat aksinya menahan rasa sakit yang seolah-olah menikam dari segala arah.
"AAAAHH!! LO KENAPA? YA ALLAH!! BENTAR-BENTAR GUE PANIK."
Ghai menatap ke arah lorong, menangkap sosok anak kecil yang terlihat tengah menenangkannya. Ia menyuruh Ghai untuk mulai mengambil napas secara teratur. Anak kecil itu kemudian mulai melakukan sebuah gerakan yang entah untuk apa pastinya, namun yang jelas Ghai semakin membaik.
Di sisi lain, Nea yang tampak terkejut setengah mati melihat Ghai seolah akan mati karena serangan jantung, segera memegang ponselnya. Berniat menelpon ambulance, namun gagal akibat gemetar hebat yang dirasa melalui tangannya. Nea selalu benci pemandangan ini, ketika seseorang di hadapannya terlihat tengah meregang nyawa. Kini ia bahkan berhasil membuat retakan di layar juga kematian ponselnya. Dengan cepat Nea berlari ke arah Ghai yang kini mulai terlihat membaik, hanya saja napasnya masih terdengar memburu.
"Ghai! Lo gak apa-apa?!!"
Dengan suara yang terdengar bergetar pun jantung yang berdegup kencang, Nea bertanya. Matanya mulai menciptakan kabut-kabut yang mulai mengganggu pandangannya pun terlihat siap menurunkan airnya kapan saja.
"Nea?"
__ADS_1
©AksamalpaAksara