
Perjalanan untuk liburan sebenarnya dimulai. Di mobil sama seperti sebelumnya, semua tertawa penuh canda tawa ditemani suara Arka, Fai, dan Nea yang menemani perjalanan. Diam-diam Nea memperhatikan Ghai yang masih terlihat sedikit lelah. Beberapa kali Nea menggoda Ghai, mencoba mengembalikan staminanya yang mungkin saja hilang akibat aksi pingsannya tadi.
Tak lupa dengan Derren, yang sama-sama masih terlihat memaksakan senyumannya ketimbang memberikan lekungan manis di wajah dengan tulus. Bukan, Nea yakin bukan karena Derren tidak senang dengan perjalanan ini jawabannya. Nea yakin itu karena rindu.
"Hei wahai lelaki yang sedang duduk di kursi belakang! Mana suaranya?!" ujar Nea sembari menggunakan mic, jari telunjuknya menunjuk sosok Ghai yang sedari tadi tertawa manis tapi dengan ekspresi lelah.
"Woohoo!" sahut Ghai sembari mengngkat ke-dua tangannya ke udara dan menggoyangkannya ke arah kanan dan kiri silih bergantian.
"Cuma segitu suaranya? Hei kamu yang di sebelah, mana suaranya?!" kini Nea menunjuk sosok Derren yang tengah melamun, mendengar seruan Nea, Derren segera menoleh.
"Hah? Oh! Yuuhuu!" sahut Derren yang mulai mengikuti gerakan Ghai.
"Ayo nyanyi bersama!" Ujar Arka penuh semangat.
Diputarnya lagu Disco Lazy Time oleh Nidji. Arka dengan gaya ala-alanya mulai berjalan pelan-pelan ke arah Ghai dan Derren, sikapnya mengundang tawa seisi mobil.
"Lo bawanya hati-hati ya! Gue sampe jatuh nyungsep, mati lo sama gue!" ujar Arka memperingatkan Yaza yang kini duduk sendiri di depan, ya, tampak seperti supir.
Kini giliran Nea yang mengeluarkan suaranya. Nea berjalan perlahan ke arah Balqis mengajaknya untuk berdiri.
Nothing is forever...
Nothing is for real... aaa aaa aaa
Do you have to leave me...
Why don't you just kill me... aaa aaa aaa
Balqis menyahut uluran tangan Nea kemudian ikut berdiri. Sudah seperti di bus saja, mereka mulai menari perlahan di dalam mobil. Derren dan Ghai yang terus menerus digoda oleh Arka akhirnya mulai ikut berdiri dan menari.
"Heh! Lo-lo pada jangan kurang ajar! Jangan lupa ini mobil bukan bus!" ujar Yaza sembari sesekali menatap kaca spion di dalam mobil untuk menoleh ke belakang.
"Udah lo pak supir kagak usah ngiri!" Nea menyahut sembari terus menari ala-ala, Yaza berdecak mendengarnya namun kemudian tersenyum.
"One, two, Three!" Fai mulai semangat menuju reff, tangannya diacung-acungkan ke atas sembari membuat jemarinya membentuk angka 1 dilanjut dengan 2 dan 3.
This is disco laziest time
(I want you, I need you)
This is disco laziest time
(I want you, I need you)
Semua orang di mobil ikut menyanyi, tak terkecuali Yaza yang mulai mengacungkan tangannya ke atas, entah untuk apa, mungkin menari dalam kondisi badan terduduk. Ya, jangan salahkan jiwa muda mereka yang terlihat ricuh di saat lagu favoritnya diputar. Apalagi dalam momen perjalanan menuju liburan seperti ini.
***
26/12/2018
15.45
Sudah sampai tujuan, dengan jalan memutar akibat mengunjungi makan Renren, mereka terhitung cepat sampai. Yaza mulai mengeluarkan satu persatu tas dari dalam bagasi dibantu Arka, akibat dari kalahnya mereka berdua dalam adu suit ke-5 manusia di sana.
"Untung bukan gue yang kena!" ujar Nea sembari menghela napas.
"Untung gue juga ga kena Ne!" ujar Fai sembari tertawa.
Begitu keluar Balqis segera mengukir garis manis di wajahnya. Ia berjalan sembari menatap villa milik Nea lekat-lekat yang dikelilingi pohon pinus di halaman belakangnya.
"Udah lama banget gue gak ke sini" ujar Balqis sembari tersenyum hangat.
"Gue juga" sahut Derren yang kini tengah berkacak pinggang.
Villa milik Nea memiliki bentuk bangunan semi industrial yang dipadu padan dengan material natural. Villa milik Nea juga memiliki banyak bukaan, maksudnya kaca yang membuat sinar matahari masuk dengan sangat baik ke dalam villa miliknya. Di halaman belakangnya terdapat gazebo kecil ditemani kolam renang berukuran sedang dan alat-alat barbeque.
"Ayo masuk!" ajak Nea.
Pintu villa miliknya dibuka lebar, mempersilahkan orang-orang di luar untuk segera masuk. Tidak perlu lampu, bahkan di sore hari seperti ini. Nea berjalan masuk. Tepat di dekat pintu ke halaman belakang terdapat grand piano berwarna hitam milik mama-nya.
"Eh sumpah! Masih sama kayak dulu tataannya" ujar Yaza.
Nea kemudian tersenyum. Mengingat tempat ini adalah tempat untuk berkumpul dan liburan bersama, papa bilang akan lebih baik kalau tataannya tetap sama. Lagi pula papa dan mama katanya terlalu malas mengganti-ganti tempat perabotannya bersinggah.
"Yoi!" Nea menyahut sembari menaik-turunkan ke-2 alisnya.
"Ciwi-ciwi sama gua kamarnya di bawah, lo cowok-cowok kamarnya di atas aja ya!" ujar Nea sembari menunjuk ke berbagai arah.
"Siap" jawab Yaza sembari membawa tas-tas milik para lelaki ke atas.
"Yuk kalian ikut gue ke sini" ujar Nea sembari mengajak yang gadis-gadis mengikuti Nea ke arah kamar untuk menyimpan tas mereka.
Sesampainya di kamar, Fai segera membantingkan tubuhnya ke atas ranjang. Aksinya diikuti Balqis dan disusul Nea.
"Anj*r capek gue!" ujar Fai.
"Iyalah, lo keliatan paling semangat nyanyi-nya tadi" ujar Balqis.
"Eh, jangan tidur! Kita harus quality time bareng dong!" ujar Nea.
"Ya ampun Nea, masih ada 5 hari lagi gitu beb" ujar Fai.
__ADS_1
"Ya walaupun 5 hari lagi harus rame-lah! Iya gak Qis?" tanya Nea sembari menatap langit-langit kamarnya.
"Yoi" jawab Balqis yang kemudian mulai bangkit.
Balqis melepas jaketnya, ia kemudian berjalan ke arah kaca kamar yang ditaruh dalam posisi berdiri. Ia kemudian berjalan membuka ranselnya.
"Ganti baju jangan?" tanya Balqis.
"Kagak usah! Masih wangi dan cantik kayak gitu. Belum keringetan kan lo? Lo mau ganti?" tanya Nea.
"Ya udah deh gak usah ganti" ujar Balqis yang kemudian malah mengambil charger HP miliknya.
"Gue ikut nge-cas ya Nea!" ujar Balqis.
"He eh, sok aja pake" ujar Nea.
***
26/12/2018
17.00
"An*ir, gue ketiduran" ujar Nea.
Nea terbangun. Ia segera melihat jam tangan pink kesayangannya yang melingkar di pergelangan tangannya. Nea kemudian mulai menoleh samping kanan kiri mencoba mencari keberadaan Balqis dan Fai yang kini entah ada di mana.
Nea akhirnya memutuskan untuk keluar kamar. Semua orang ternyata tengah berkumpul di tengah villa. Nea kemudian menghampiri kerumunan itu lalu mengambil posisi duduk di samping Balqis.
"Bisa ya lo nyuruh gue gak tidur, padahal sendirinya ketiduran" protes Fai.
"Hehe."
"Karena ada Nea, kita ulang permainannya!" ujar Arka yang terlihat antusias.
"Gak bisa gitu! Licik lo, gara-gara mau kalah langsung pake alesan Nea buat ngulang permainan" protes Yaza.
"Main apa sih?" tanya Nea kepada Balqis yang tidak ikut bermain.
"Poker" jawab Balqis.
"Astagfirullah" ujar Nea sembari geleng-geleng.
"Kagak pake taruhan, tenang ae" ujar Ghai sembari mengangkat tangannya.
"Ckckck!" Nea berdecak sembari menatap tajam Ghai dengan matanya.
"Nape lo?" tanya Derren.
"Kagak pake taruhan, astaga!!" ujar Fai.
"Parah gak ngajak gue!" ujar Nea.
Semua orang menatap Nea dengan tatapan malas. Bisa dilihat semua orang mulai berdecak, suara mereka bersatu padu dan membuatnya terdengar seperti tengah ada cicak di sana. Nea dengan polosnya tersenyum manis.
"Udah ulang aja! Benerkan kata gue!" ujar Arka.
"Ini udah permainan ke-3 dan lo masih kalah Ka, bosen ya?" goda Ghai.
"Emang sialan lo. Gak gitu juga" ujar Arka dengan dengusan.
"Ya udah ulang, daripada satu orang yang di sini ngambek gak jelas. Males gue" ujar Yaza yang kemudian melempar kartunya ke tengah. Arka terkekeh senang.
"Gantinya lo yang kocok kartunya, eh tapi lo gak apa Qis?" ujar Yaza.
"Siap bos!" ujar Arka.
"Gak bosen liat kita main doang dan lo-nya gak? Udah ngerti kan cara mainnya? Yuk main bareng" ajak Yaza.
Semua orang mulai menatap Balqis. Benar juga, mendengar perkataan Ghai mengenai permainan ke-3 berarti selama ini Balqis hanya menonton pertandingan yang mungkin saja membosankan itu.
"Gak apa, rame kok ngeliatin kalian main juga" jawab Balqis.
Semua mengangguk kemudian Arka mulai mengocok kartu. Setelah selesai mengocok Arka melambaikan tangannya ke arah Nea.
"Sini Nea, lo deket-deket gue" ujar Arka.
"Ngapa?" tanya Nea.
"Lo jago" jawab Arka.
"Emang bangsul lo."
***
Jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh malam. Semua orang kini kelaparan. Masih berkumpul di ruangan yang sama, Nea memulai sebuah permainan.
"Guys, guys! Sini, gue punya permainan" ujar Nea.
"Apaan? Gak jelas gue tendang" ujar Arka.
"Ck! Gak usah semua ikutan kok" ujar Nea.
__ADS_1
"Ya permainannya apaan?" tanya Arka.
"Sekarang pilih dulu, cewe mau diwakilin siapa dan cowo diwakilin siapa?" ujar Nea.
"Lo aja Za. Lo yang paling jago main game di antara kita cowok-cowok" ujar Derren.
Nea kemudian terkekeh, alisnya terangkat sembari menatap Derren. Ya, Nea merencanakannya bersama Derren. Sebenarnya sekalian bertaruh untuk suatu hal.
"Ya udah yang cewek sama Balqis" ujar Nea sembari mendorong Balqis ke depan.
"Eh?" ujar Balqis yang kemudian tersenyum.
"Nah, game-nya gampang kok! Balqis sama Yaza harus berdiri berhadapan. Peraturannya kaki lo berdua kagak boleh gerak, tapi lo berdua harus mencoba membuat satu sama lain oleng" ujar Nea panjang lebar.
"Iya, kayak yang di konser kpop itu loh Qis" ujar Fai.
"Lah gua mana tau!" protes Yaza.
"Pantesan tadi lo ngajak gue nonton konser kpop di kamar" ujar Balqis.
"Kayak gini nih! Gue contohin sama Fai" ujar Nea.
Kemudian, Nea dan Fai mulai berdiri berhadapan. Ke-2 nya mencoba menjatuhkan satu sama lain dengan cara mendorong, tapi bukan ke tubuh. Nea berhasil membuat Fai oleng dan tubuhnya bergerak. Nea menang.
"Oke, gue ngerti" ujar Yaza.
"Nah, dengerin ini peraturan terakhirnya" ujar Derren.
"Eh, sebentar. Kok jadi lo yang ngomong?" tanya Yaza.
"Ck! Udah ikutin aja! Pokoknya yang kalah harus masakin makanan buat yang menang. Kalau Yaza kalah, berarti cowok-cowok yang masak. Kalau Balqis yang kalah, berarti cewek-cewek yang masak" ujar Derren.
Arka yang mendengarnya segera menepuk tangannya keras. Ia kemudian menghampiri Yaza untuk berdiri berhadapan dengan Yaza dan kemudian mengguncangkan tubuhnya.
"Denger! Gue percaya sama lo! Lo bisa, jangan nyerah! Martabat cowok ada di tangan lo!" ujar Arka sembari menunjuk dada Yaza dan kemudian membuat ke-2 dahi mereka bertautan.
Kini Ghai yang maju ke-depan Yaza. Berdiri berhadapan kemudian menatapnya lekat-lekat.
"Gue tau lo bisa bro! Lo harus yakin, jiwa harimau lo bisa keluar! Lo harus menang, demi dapet masakan yang enak!" ujar Ghai. Kini giliran Derren.
"Gue yakin lo menang, sahabat" ujar Derren dengan senyuman bangga dan menaruh penuh kepercayaan pada Yaza.
Fai dan Nea tidak mau kalah, tentu saja. Ke-2nya kini mulai menghampiri Balqis satu persatu. Nea yang pertama, berdiri berhadapan lalu menepuk ke-2 pipi Balqis, lengkap sisi kanan dan kirinya.
"Lo cantik! Lo anggun, paling anggun di antara kita ber-2. Gue akui. Lo bisa jadi Miss Indonesia, maka dari itu gue pilih lo! Lo harus yakin lo akan seimbang apapun situasinya! Oke?!" tanya Nea penuh semangat.
"Oke!" jawab Balqis dengan kekehan. Fai kini berjalan menghampiri Balqis.
"Gak banyak cuma, jangan kecewakan para gadis!" ujar Fai yang kemudian mengambil langkah mundur.
Nea dan Derren jadi juri sekaligus wasit. Derren berjalan menengahi ke-2nya kemudian menatap pemain silih bergantian.
"Siap?" tanya Derren.
"Siap!" ujar Yaza penuh semangat sembari menganggukan kepalanya.
"Siap?" tanya Derren yang kemudian menatap Balqis.
"Siap!" jawab Balqis dengan tangan yang diangkat ke atas.
"Permainan dimulai!" ujar Derren yang kemudian mengambil langkah mundur.
Yaza yang meluncurkan serangan pertama, disahut dengan tangan Balqis. Pertarungan berlangsung sengit. Kini giliran Balqis yang mengambil serangan, ,mencoba mendorong Yaza dan berhasil membuat tubuh Yaza sedikit oleng.
"Serang Qis! Serang!" ujar Nea.
"Jangan kalah Za!" ujar Ghai.
Berhasil menjaga keseimbangan tubuhnya Yaza mencoba mendorong, namun Balqis tidak menangkis serangannya dan membuat tubuh Yaza terdorong ke depan siap jatuh. Balqis yang melihatnya menutup mata. Yaza menabrak tubuh Balqis dan ke-2nya terjatuh. Semua terdiam, kaget melihat Yaza dan Balqis yang terjatuh dengan posisi Yaza di atas Balqis. Hingga tiba-tiba,
"Awww!!!!! So sweet!" semua orang mulai meledek baik Yaza maupun Balqis yang tengah berada dalam posisi paling canggung sedunia.
Yaza segera menyingkir lalu berdiri. Pipi ke-2nya bersemu.
"Yaza! Bantuin dong itu Balqisnya!" goda Ghai yang mencoba memukul Yaza genit.
"Aw! Sakit an*ir!" umpat Yaza yang terkena pukulan Ghai, kemudian mulai mengulurkan tangannya pada Balqis. Balqis menyahut uluran tangan Yaza kemudian mulai bangkit.
"Eh! Sebentar!" ujar Nea tiba-tiba dan berhasil membuat semua orang di sana terperanjat kaget.
"Kenapa sih ah! Kaget gue!" ujar Arka.
"Sakit Za?" tanya Nea.
"Sakitlah! Sorry ya Qis" ujar Yaza.
"Ih! Bukan itu maksud gue! Sakit dipukul Ghai?" tanya Nea.
Ghai yang baru sadar segera menatap ke-2 tangannya. Derren yang ada di sampingnya juga segera menatap Ghai. Benar juga, harusnya Ghai tidak bisa menyentuh manusia, bukan barang.
"Sakitlah anir! Double combo *gue jadinya!" umpat Yaza.
__ADS_1
"Der, sekarang maksudnya apa?"