
Sandiwara merupakan panggung terbaik yang diciptakan semesta untuk menghadirkan pelik pada penghujung acara
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
"Sebentar, jadi kalian berdua nyuruh gue untuk percaya sama cerita itu?" tanya Nea dengan ekspresi setengah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
Ini tidak wajar, bukan, malah ini gila. Nea masih tidak percaya mendengar kisah Ghai dan Derren tadi. Pasalnya bagaimana bisa Nea berkomunikasi dengan mahluk tak kasat mata seperti mereka. Lalu, bagaimana dengan hatinya; bagaimana dengan hati Nea yang terlanjur jatuh untuk lelaki yang tak jelas hidup dan matinya.
"Bukan harus percaya, tapi memang itu faktanya," ujar Ghai.
Nea terdiam, pusing tiba-tiba saja menghampiri Nea. Derren menatap Nea lekat-lekat, mencoba meyakinkan dirinya sendiri juga Nea. Di sisi lain Ghai tengah sibuk memikirkan cara untuk menangkap tubuh Nea jika terjatuh nantinya. Nea yang mulai terhuyung segera menggelengkan kepalanya.
"Emang susah buat dipercaya Nea, tapi kita ini memang hantu." Kalimat Derren berbuah tatap Nea yang bergetar.
"Kenapa cerita Ghai masih gak bisa gue ngerti. Lo bilang Ghai terlalu lemah untuk dikatakan mati, tapi juga benar-benar lemah untuk dikatakan hidup. Jadi, Ghai ini sebenarnya kenapa?" tanya Nea.
"Sekarang kamu ngertikan kenapa pertanyaan kamu tentang kehidupan aku selalu menjadi hal yang sensitif. Bukan artinya aku Bipolar dan Haphephobia Nea," ujar Ghai.
Di tengah ketegangan yang mengisi, tiba-tiba saja ponsel Nea berdering. Nea yang memang sebelumnya tengah merasa tegang segera dibuat terkejut oleh suara dari ponselnya juga getaran yang terasa dari saku celananya. Nea kemudian mulai merogoh saku celananya untuk mengambil ponselnya.
"Sebentar."
Dilihatnya layar ponsel yang kini tengah memaparkan sebaris rangkaian kata mengenai nama seorang manusia dengan julukan khusunya, Manusia Kerdil, alias Rasendriya Zaidan Mahadirka. Tangan Nea bergetar ketika memegang ponselnya.
"Kenapa gak diangkat? Siapa tau penting," ujar Ghai.
Nea tidak menjawabnya, bungkam menjadi satu-satunya pilihan Nea. Sembari menelan salivanya untuk menghilangkan rasa gugup juga takut dari dalam dirinya, Nea kalut dalam pikirannya. Apakah dirinya harus tetap berada di sini dan mencoba menggali lebih dalam mengenai Ghai, atau haruskah dirinya pergi dari tempat itu untuk menghilangkan rasa takutnya.
"Yah, keburu matikan sambungannya," ujar Derren kala suara telepon dari ponsel Nea berhenti bersuara.
"Kalau emang ada urusan pergi aja, aku gak berniat membelenggu kamu di sini," ujar Ghai tiba-tiba.
Terbesit rasa iba kala frekuensi suara Ghai rasanya seolah menghantarkan sembilu di dalamnya. Entah apa rahasia yang dimiliki Ghai, tapi menurut Nea suara Ghai selalu mampu membolak-balikan perasaan di hatinya, terasa hangat juga menenangkan.
"Jangan kasih tatapan kayak gitu ke aku. Aku gak butuh perasaan iba seseorang, lagian tatapan mata itu gak enak dipandang. Telepon lagi orang yang tadi nelpon kamu, siapa tau itu darurat," ujar Ghai.
Nea tak banyak bicara. Entah kini apa rasa yang tengah menghimpit dadanya. Sebelumnya takut, lalu iba, dan kini kesal. Maksudnya, siapa yang tidak kesal mendengar ucapan Ghai.
Derren tidak lagi bersuara, suaranya tergantikan oleh tatapan sendu yang diberikan olehnya kepada Ghai secara cuma-cuma. Derren membuang muka kala Nea mulai menoleh menatap dirinya.
"Gak apa, pergi aja Nea. Aku cuma mau kamu tau, aku masih nunggu kamu di sini besok," ujar Derren yang terhentikan oleh helaan napas berat yang terdengar mengisi ruangan.
"Kita gak apa-apa kok, silahkan tenangkan dulu diri kamu. Kita tau kamu pasti terkejut," lanjut Derren dengan senyuman kali ini.
Nea kemudian menyalakan layar ponselnya, membuka room chat bersama sesosok manusia yang baru saja menelponnya tadi. Sosok manusia yang entah kenapa kali ini terasa sangat menyelamatkan.
Manusia Kerdil: Nea, punya waktu sebentar? Ada keadaan genting.
Iris coklat tua milik Nea menatap sebentar ke-dua sosok yang kini tengah menaruh fokus pada Nea dengan tatapan yang memiliki arti tersendiri pun belum menjadi mampu bagi Nea untuk menerjemahkan maksud di baliknya. Nea kemudian memutar tubuhnya, melangkah pergi secara tergesa-gesa. Ada sedikit rasa kecewa dari diri Nea yang terasa kala mendengar kisah Ghai, begitu pula mengenai rasa sedih yang entah darimana datangnya.
Anehnya Nea merasa seolah-olah mampu memasuki sedikit ruang gelap milik Ghai, walau bisa dikatakan, masih jauh langkah Nea untuk mampu menyelam lebih dalam ke sana. Nea sendiri tidak tahu perihal kapan ia kembali diberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh, siapa itu Ghai. Nea masih tak mengerti sedalam apa ruang yang tercipta di dalam diri pemuda misterius dengan senyuman manisnya itu. Satu-satunya yang mampu Nea pastikan, ruang itu terasa sepi pun menakutkan, bahkan bagi seorang Nea.
Selama melangkahkan kakinya pergi menjauh dari gedung itu, selama itu pula Nea berpikir perihal apa langkah selanjutnya yang perlu ia ambil. Haruskah pergi menjauh dan menutup kisahnya bersama Ghai yang baru saja akan dimulai; haruskah dirinya kembali ke sana esok hari dan membantu Ghai memecahkan misteri mengenai dirinya? Jujur saja, Nea merasa tersesat. Aneh, bisa di bilang iya. Jika dinilai secara objektif, Nea dan Ghai baru saja berkenalan kemarin hari. Namun, bisa Nea akui bahwa dirinya tak pernah sekalipun merasa senyaman itu dengan orang lain selain sahabat dan keluarganya, setidaknya selama ia hidup 20 tahun ini.
Nea berhenti di depan halte bis, dirinya terduduk di sana. Entah mengapa, kelabu menjadi temu antara pandang tak bernyawa milik Nea hari itu. Rasa iba, itulah alasan utama yang Nea coba tanamkan di dalam dirinya. Pada kenyataannya, Nea tidak mau mengakui perihal fakta Ghai yang kini bukan lagi seorang manusia. Tak lama, Nea mengeluarkan ponselnya, mencoba menelpon kembali Yaza, mengingat perkataan Ghai juga Derren kepadanya tadi.
"Gila? Ini dunia mau berakhir apa gimana? Lo seriusan nelpon gue deluan?! Ada apa Nea??" tanya Yaza melalui ponsel Nea.
"Lo serius nanya gue? Harusnya gue yang tanya ada apa. Situasi genting apaan?" tanya Nea.
"Oh, i-itu? Tadi, perut gue bunyi terus," ujar Yaza.
"Lo gak ada kerjaan ya? Gue kira ada apaan," ujar Nea dengan suara yang terdengar seperti habis menangis.
"E-eh, bercanda itu. Gue mau tanya soal animasi, lo bisa bantu gue gak?" tanya Yaza.
"Bantu apaan?" tanya Nea.
"Sebentar-sebentar, lo lagi nangis?" tanya Yaza.
"Apa urusannya sama lo?" tanya Nea.
"Dih, sinis amat sama gue. Lo lagi nangis? Oh, atau lo lagi bindeng?" tanya Yaza.
"Za please. Gue lagi gak mau bercanda," ujar Nea.
"Lo sekarang lagi di mana?" tanya Yaza.
__ADS_1
"Bukan urusan lo. Udah jawab aja, gue bantu lo lewat telpon," jawab Nea.
"Astaga. Jawab aja kenapa sih? Lo di mana cengos?" tanya Yaza.
"Ck! Di depan halte kampus."
"Ya udah jangan kemana-mana, tunggu di situ bentar," ujar Yaza yang tiba-tiba memutuskan sambungan teleponnya bersama Nea.
Nea kemudian terdiam menatap layar ponselnya. Selang beberapa detik matanya terpejam. Rasanya seakan penat akan menjadi teman kesehariannya mulai hari ini. Lama terdiam dalam posisi itu, entah kenapa bayang Ghai hadir di sana.
Jika dipikir-pikir lagi, punggung Ghai memang terasa selalu berat. Seolah-olah dirinya tengah memikul berton-ton beban di balik punggungnya. Pertama kali Nea melihat Ghai juga begitu, aura di sekitarnya selalu memancarkan kesedihan.
Nea mengelap air matanya, menatap langit yang masih setia menurunkan rintik sendunya ke atas pijakan manusia-manusia di bumi. Nea terdiam lalu menghela napasnya berat.
"Kenapa gue nangis ya? Gue sama Ghai, 'kan gak terikat hubungan sespesial itu yang sampe harus bikin gue nangis kayak tadi. Lagian sedih darimana-nya sih, Nea? Bukannya lo bantu, malah kabur. Apa dia jadi hantu karena dia orang baik dulunya? Atau mungkin aja Ghai yang dulu ternyata baong makannya sekarang jadi hantu. Iyakan?! Fiks, ini semua karena Ghai dulu nakal. Udah itu paling masuk akal, jadi jangan nangis lagi Nea!" monolog Nea sembari menepuk kedua pipinya keras dalam usaha menyadarkan dirinya.
Tiba-tiba saja saat Nea mulai berdiri, Yaza muncul bersama Asuna, motor ninja yang selalu Yaza banggakan. Yaza membuka kaca helmnya kemudian menyapa Nea.
"Lah, beneran nangis ni bocah. Lo nangis gara-gara apa lagi Nea?" tanya Yaza.
"Gak penting ah, gak usah dibahas," ujar Nea.
"Mau pulang?" tanya Yaza, Nea menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.
"Terus sekarang lo mau ke mana?" tanya Yaza.
"Gak tau, gue juga bingung," ujar Nea.
Tiba-tiba saja Yaza turun dari motornya, menenteng helm berwarna pink yang Nea ingat dengan baik, sudah Nea ikrarkan kepemilikannya. Iya, itu helm yang secara khusus Yaza beli untuk Nea di masa putih abu-abu. Nea tak menyangka bahwa Yaza masih menyimpannya.
Yaza semakin memperpendek jaraknya dengan Nea. Dipasangnya helm tersebut ke kepala Nea secara hati-hati, setelah terpasang dengan baik, Yaza kemudian memukul helm Nea dengan kepalan tangannya pelan.
"Aw!" ringis Nea.
"Ayo naik, gue bawa bocah satu ini keliling Bandung," ujar Yaza.
"Lah, ngapain? Gak ada kerjaan banget," ujar Nea.
"Lo bilang gak mau pulang, 'kan?" Yaza kemudian kembali menaiki motornya. Nea terdiam menatap Yaza bingung.
"Ngapain diem di situ? Ayo naik." Yaza mengulum senyum. Nea hampir lupa bahwa manusia di hadapannya ini akan menjadi manusia dengan senyuman termanis pertama, jika saja kehadiran Ghai tidak mengganggunya.
"Aduh, lo cantik-cantik kalo naik motor heboh ya?!" sarkas Yaza.
"Ayo. Kita keliling Bandung," ujar Nea.
9/12/2018
19.20
Nea dan Yaza memberhentikan aksi motor-motorannya di Braga. Yaza memarkirkan motornya di sisi jalan kemudian mulai berjalan mendekati Nea yang sedari tadi berdiri di trotar menunggu Yaza selama memarkirkan motornya.
"Mau ke mana?" tanya Nea.
"Bebas, hari ini tujuannya untuk menghilangkan beban di hati masing-masing," ujar Yaza.
"Lah, jadi gak ada tujuan?" tanya Nea.
"Kenapa? Lo belum pernah coba, 'kan? Main tanpa tujuan tuh asik tau. Yuk jalan, jangan berdiam di satu tempat dong," ujar Yaza.
Nea kemudian diajak Yaza menyusuri Braga dengan pemandangan malam hari ditemani temaram lampu jalan yang menurut Nea menambah kesan romantis mengenai Braga yang secara elok menampilkan sisi klasiknya. Nea lantas tersenyum menatap bangunan-bangunan yang masih menyimpan garis Belanda di sana.
"Gue gak pernah sadar ternyata Braga bisa seromantis ini saat malam," ujar Nea.
"Nah, makannya main dong lo. Kerjaan di rumah mulu sih," ujar Yaza.
"Enak aja!" ujar Nea.
"Masih banyak tempat bagus di Bandung. Kalo lo mau main tanpa tujuan lagi kayak gini, telpon aja gue. Lumayan jalan sama bocah kayak lo bisa hilangin penat tugas akhir," ujar Yaza.
"Wuidi, boleh juga lo," ujar Nea.
Yaza menatap Nea lekat-lekat, diam-diam menaruh senyum di balik rasa tersembunyi relung hatinya. Nea yang masih sibuk menatap penuhnya jalan Braga pada malam hari kala itu, terus berjalan mencoba melepas beban pikiran mengenai apa yang harus dilakukannya esok hari. Perihal jawaban atas pilihan menjauh atau kembali.
"Za," ujar Nea tiba-tiba, Yaza yang tengah menatap Nea lantas terkejut. Sejenak terlihat kalut kala biasa kembali ia coba untuk menghadirkan kesan natural seperti biasanya.
__ADS_1
"Hmm? Ada apa?" tanya Yaza.
"Kalau lo ketemu orang baru dan ngerasa ada yang spesial dari orang itu, artinya apa?" tanya Nea.
"Spesial dalam artian apa dulu?" tanya Yaza yang kemudian berjalan sembari menatap langit malam.
"Gak tau, tapi yang jelas lo ngerasa nyaman saat sama orang itu," ujar Nea.
"Hmm.. Bukannya itu artinya ada rasa suka? Di saat lo ketemu sama orang yang bisa buat lo nyaman, artinya lo udah naruh hati sama orang itu," ujar Yaza.
"Suka? Masa sih? Gak mungkin kali," ujar Nea.
"Makannya gue nanya, spesial dalam artian apa. Lo kasih pertanyaan dengan kalimat yang rancu kayak gitu ya, gimana gue bisa jawab dengan benar," protes Yaza.
"Ck! Lo ngerasa nyaman, dengar suaranya bisa bikin lo anget tiba-tiba, gak ada rasa canggung sama sekali kalau sama orang itu. Seolah-olah lo bisa lari dari beban hidup lo sebentar saat sama dia," ujar Nea.
Yaza kemudian menghentikan langkahnya sejenak, sekedar menoleh untuk menatap Nea yang berada di sampingnya saat itu. Nea yang melihat Yaza berhenti ikut menghentikan langkahnya, kemudian ia turut menatap Yaza.
"Apa orang itu yang buat lo kayak gini?" tanya Yaza.
"Hah? Apaan sih. Bukan, gue cuma tanya doang kok. Lagian orang itu siapa?" tanya Nea.
Yaza menghela napasnya lalu memejamkan matanya sesaat. Ia kemudian tersenyum lalu mengacak rambut Nea sembari terkekeh pelan.
"Masih terlalu cepat buat bocah kayak lo jatuh cinta, tapi gak apa-apa selama orangnya tepat. Abang-abangan lo yang satu ini akan berusaha mendukung. Cie, ada yang jatuh cinta nih," ujar Yaza.
"Ih! Apaan sih? 'Kan udah aku bilang cuma tanya aja," ujar Nea.
"Lo tanya, tapi gak bisa sembunyiin apa yang hati lo bilang Nea. Lo bodoh soal berbohong. Bocah, bocah. Hahaha, gue kaget, ternyata anak kecil kayak lo bisa jatuh cinta juga," ujar Yaza.
"Sok tau lo!" ujar Nea.
"Bukan sok tau, karena emang gue tau semua tentang lo. Gue mengenal lo dengan baik, sorry-sorry aja ya," ujar Yaza yang kemudian melangkah mendahului Nea, membuat Nea tertinggal di belakang.
"Apaan sih?! Udah gue duga, nanya ke lo gak akan bener akhirannya," monolog Nea, Nea kemudian mencoba mengejar Yaza yang jauh di depan.
"Tunggu dong! Gue ketinggalan, 'kan!" ujar Nea.
"Makannya jalannya cepet," ujar Yaza.
"Iya-iyaaa!"
"Lo tau, 'kan? Mungkin Nea gak akan balik lagi ke sini," ujar Derren tiba-tiba.
"Kamu ini sebenernya maunya ngomong apa? Kemarin bilang Nea pasti bakal balik lagi. Terus sekarang bilang ada kemungkinan Nea bakal menjauh," protes Ghai.
"Cie yang takut kehilangan. Iya, iya Nea pasti balik lagi ke sini kok! Percaya sama gue."
"Gak aneh juga sih, kalau dia milih menjauh. Lagian aku tau dia takut banget mahluk yang udah gak hidup." Derren tersentak akibatnya. Tak lama ia kemudian tersenyum.
"Yakin lo?"
"Yakin apaan?" tanya Ghai.
"Lo udah mati 100%. Bisa aja lo masih hidup."
"Apaan sih Der? Gak mungkin kali. Udahlah, aku juga biasa aja tuh," ujar Ghai.
"Lo selalu jelek dalam urusan bohong. Gue tau lo juga takut buat hilang, 'kan?" tanya Derren yang kemudian mengambil ancang untuk pergi.
"Aku tau dan sangat mengerti soal itu, jadi berhenti mengingatkan aku sama hal-hal yang berbau hilang. Itu sensitif bagi aku ok?" ujar Ghai.
"Oke kalau itu mau lo, tapi untuk kali ini tolong jawab jujur pertanyaan gue," ujar Derren. Ghai diam, menunggu pertanyaan Derren.
"Oke, kalau emang iya lo gak ngerasa apa-apa setelah aksi Nea yang berpaling pergi secara tergesa-gesa kayak tadi. Apa arti dari tatapan mata itu saat lo lihat Nea yang menjauh?" tanya Derren.
"Soal itu." Ghai terdiam sesaat.
"Aku sendiri juga gak bisa menjawabnya," ujar Ghai.
__ADS_1
©AksamalpaAksara