
Semua orang kemudian terdiam, semua tatapan mata tertuju pada Derren. Derren yang juga baru tersadar, ia kemudian mulai melihat Ghai. Sama halnya dengan Ghai, dirinya mulai memandang ke-2 jemarinya. Tak lama kemudian Derren melangkah maju.
"Soal peraturan Ghai yang baru, dia gak pernah nyebutin kemunculan Ghai lebih awal juga ikut diadain, sama halnya dengan nyatanya sentuhan Ghai" ujar Derren.
"Kalau dipikir-pikir Ghai juga udah keliatan sama kita dari siangan gak sih?" ujar Fai.
"Di makam Renren waktu hilang juga, Ghai tiba-tiba ditemuin juga udah keliatan" jawab Nea.
"Lebih awal ya?" tanya Arka.
"Ya jelaslah! Lo nanya yang gak penting Ka!" ujar Yaza sembari mendorong Arka pelan.
"Santai anj*r!" umpat Arka sembari mendorong pelan Yaza.
"Make sense sih, April. Jangan lupa" ujar Derren.
Ghai menatap Derren. Nea kemudian mulai menatap Ghai sendu, sama hal-nya dengan yang lain. Kini pandangan semuanya mulai tertuju pada lantai villa milik Nea.
"Lah, ngapa pada sedih gitu? Gue kan masih di sini."
Ghai mencoba menetralkan suasana, padahal jauh di dalam lubuk hatinya, Ghai pun merasa gugup akan eksistensinya di dunia ini. Perihal dirinya yang mampu untuk kembali menemukan memorinya saja masih begitu rancu untuk dikatakan. Lama berada dalam situasi hening, Ghai menghela napasnya berat. Semua orang mulai curi-curi pandang ke arah Ghai.
"Ck! Ayolah, gak asyik nih jadinya. Makannya bantuin gue. Ayo ah, sekarang masak! Gara-gara lo nih Za! Kita jadi harus masak!" ujar Ghai.
Ghai kemudian berjalan ke arah dapur. Semua orang masih terdiam di posisinya masing-masing dengan kepala yang tertunduk dan air muka kusut.
"Gak ada yang niat bantuin gue nih? Ya udah gue sendiri aja masaknya, bisa kok! Bodo amat ya kalau misalnya ni dapur hancur, makanannya kalau gak enak juga gak usah ngeluh ke gue, kan gue masak sendiri, alias gak ada yang bantu" ujar Ghai kemudian.
Derren mulai menatap sekeliling. Tak lama kemudian Derren mulai membantu Ghai mencairkan suasana.
"Iya, iya. Bawel amat sih lo. Eh, emangnya kita kalah? Ck! Lo sih Za! Ayo bantuin si Ghai. Udah marah berabe urusannya" ajak Derren.
Satu persatu laki-laki akhirnya mulai berdiri dan menghampiri Ghai, untuk membantunya memasak. Dimulai dari Derren disusul Yaza dan Arka.
"Gak ada sedih-sedihan gue mohon. Di sini niat kita seneng-seneng, percuma kalau ujung-ujungnya kayak gini. Ayo dong semuanya jangan ditekuk mukanya, makin bikin gue sedih tau!" ujar Ghai.
Balqis yang mendengar perkataan Ghai mulai mengangkat wajahnya, ia kemudian menatap Ghai lalu setelahnya tersenyum manis. Ghai yang melihat senyuman Balqis segera membalas senyumannya.
"Nah gitu kek, kan cantik!" ujar Ghai.
"Apa lo bilang?!!" ujar Nea.
"Cantik" jawab Ghai dengan muka polosnya.
Fai kemudian turut mengangkat wajahnya. Menatap Ghai dengan kepolosannya yang berhasil membuat Fai terbahak karena tak kuasa menahan tawa.
"Lo polos apa beg* sih?" tanya Fai.
"Lah kenapa?" tanya Ghai.
"Jangan lupa beg* sama polos beda tipis" ujar Yaza.
"Apaan sih?! Gue gak ngerti sumpah!" ujar Ghai.
"Bodo amat!" sahut Nea dengan nada terdengar ketus.
"Dih, ngambek" ujar Ghai.
"Situ ngaca sono! Berefleksi diri" ujar Nea.
"Galak amat" ujar Arka.
"Nea mode garangnya lagi on" ujar Yaza sembari terkekeh.
"Awas senggol dikit bacok nanti!" ujar Arka diiringi tawa.
"Emang temen-temen bangs*t lo semua tuh" umpat Nea sembari mengambil ponselnya.
"Ih, mulutnya minta gue gunting tau gak!?" ujar Ghai dengan nada gemas.
"Ketidak pekaan lo minta gue tusuk deh!" ujar Arka.
"Lah kenapa ditusuk?" tanya Ghai.
"Biar meletus terus langsung mengeluarkan kepekaan yang terpendam di dalam diri lo" jawab Arka.
__ADS_1
"Gue gak peka darimananya?" tanya Ghai sembari menatap Nea.
"Apa lo!?" ujar Nea yang kini mulai terfokus pada layar ponselnya.
"Eits! Tadi siapa yang bilang jangan tenggelam sama dunia sendiri? HP lo gue sita" ujar Fai yang kemudian menarik ponsel Nea lalu menyembunyikan benda tersebut dibalik pantatnya.
"Fai! Apaan sih?! Nanti LCD gue kena itu!" ujar Nea.
"Tenang, pantat gue kan seringan kertas" ujar Fai diiringi kekehan.
"Seringan kertas ndas mu! Awas!!" ujar Nea.
Di sisi lain, cowok-cowok mulai mempersiapkan bahan-bahan, Ghai di sana berdiri di depan wastafel. Yaza beserta Arka yang sibuk mondar-mandir mengambil bahan. Walau Ghai tidak bisa memegang manusia sebelumnya, Ghai masih bisa memegang barang, Ghai bisa menyentuhnya bahkan mengangkat dan memindahkannya.
"Gue asisten chef lo, silahkan pergunakan saya sebaik mungkin mastah!" ujar Yaza.
"Lah, emang gue jago masak?" tanya Ghai.
"Di antara kita ber-4 lo yang paling jago Gha" ujar Yaza.
"Hmm, oke gue coba" ujar Ghai.
Arka terkekeh sembari membawa segala macam bahan ke atas meja dapur. Derren yang melihatnya mulai memisah-misah sayuran di sisi kanan dan berbagai macam daging di sisi kiri.
"Lain kali jangan terlalu polos Gha, kasian Nea" ujar Arka.
"Emang kenapa sih? Gue kan cuma bilang cantik elah" ujar Ghai.
"Gak apa bagus Gha! Gua suka liat Nea marah-marah, hahaha" ujar Yaza.
"Iyakan? Nea kalau marah tuh lucu jatohnya, bukan serem" ujar Ghai sembari tertawa.
"Awas nanti malah lo yang nangis Za" peringat Arka.
"Lah emang kenapa?" tanya Yaza.
"Kebiasaan akting lo tuh emang kelas atas banget Za, gue akui. Masuk nominasi Baeksang Award menang kali lo!" ujar Arka.
"Apaan sih?" ujar Yaza yang tertawa kikuk.
"Udah gila emang lo semua" ujar Yaza.
"Tapi emang bener deh, ekspresi Nea kalau marah tuh gemes banget gak sih?" tanya Ghai, para lelaki kemudian menggelengkan kepalanya sembari memejamkan mata.
"Atau emang gue aja?" Ghai bermonolog.
"Dasar temen bangsul. Kasian si Nea disukain 2 cowok super nyebelin kek gitu" ujar Derren pada Arka.
"Gagal paham gua juga Der" ujar Arka sembari tertawa.
***
Hidangan memang siap, bahkan tampilannya bukan main. Benar kata Yaza, Ghai memang pandai masak. Jangan lupakan Ghai sebagai main chef-nya di sana. Sisanya? Derren ujung-ujungnya hanya menonton, Arka hanya mericuhkan dapur, dan Yaza hanya mampu memotong bawang daun dan tomat.
Hidangan ditata di meja makan, sedemikian rupa. Derren yang bertugas memanggil ciwi-ciwi ke meja makan. Betapa terkejutnya Nea ketika melihat dapur seberantakan itu, sudah seperti kapal pecah saja.
"ASTAGA! Ini dapur gue kena bom atom apa gimana?! Kok berantakan banget sih?!" protes Nea sembari menunjuk dapurnya histeris.
"Bukan salah gue" ujar Derren sembari mengangkat tangan.
"Bukan gue juga" ujar Ghai.
"Bukan, serius bukan gue!" ujar Yaza.
Kini pandangan mata Nea tertuju pada Arka yang sudah mulai mengendus hidangan di meja makan. Nea menatap nyalang Arka.
"Gak mau tau pokoknya lo yang beresin" ujar Nea.
"Apaan?" tanya Arka.
"Dapur gue!" ujar Nea gemas.
Fai tertawa menatap kebodohan pacarnya yang kini membela diri dan mengeluh di saat yang bersamaan. Nea adu mulut dengan Arka hingga akhirnya dipisahkan oleh Balqis.
"Nanti aku bantu kok sayang" ujar Fai pada Arka.
__ADS_1
"Makasih my future wife!" Arka memberikan flying kiss pada Fai.
"Udah, udah. Ayo makan dulu" ajak Balqis.
Akhirnya merekapun memakan hidangan yang sudah disiapkan. Acara makan malam berlangsung dengan penuh canda tawa hingga akhirnya malam pun tiba.
***
Nea belum mengantuk, pasalnya tadi ia tertidur di sore hari. Terbongkar lagi salah satu rahasia Nea, mengenai jam tidurnya yang akan terganggu jika dirinya tidur siang atau tidur sore. Di sisi lain, Balqis dan Fai sudah tertidur dengan lelap di atas kasur. Bosan memainkan ponselnya, ia memilih keluar dari kamar.
Niat Nea mengambil minum urung akibat sosok Ghai yang terlihat tengah terduduk di halaman belakang sembari menatap luasnya langit malam bertabur bintang. Nea mengambil langkah mendekati Ghai secara diam-diam dengan maksud mengejutkannya.
"Ghai!"
Niat Nea berhasil, Ghai terkejut sembari menatap Nea tidak percaya. Waktu sudah menunjukan pukul 2 malam, dan di sinilah ke-2nya berada.
"Belum tidur?" tanya Ghai.
"Iya, gak ngantuk soalnya. Lo sendiri ngapain di sini dan gak tidur? Apa hantu gak ngerasa ngantuk?" jawab sekaligus tanya Nea.
"Gak gitu juga, kita juga ngantuk tau" jawab Ghai.
"Terus kenapa gak tidur?" tanya Nea.
"Ya suk--, sebentar. Lo banyak tanya amat sih dipikir-pikir!" protes Ghai begitu dirinya menyadari bahwa ia telah menjawab pertanyaan Nea dengan maksud yang sama sedari tadi.
"Ya suka-suka gue dong! Lagian lo juga jawab terus, hahaha" jawab Nea sembari tertawa.
Tiba-tiba Ghai maju mendekat ke arah Nea sembari mengacungkan telunjuknya tepat di hadapan ke-2 manik berwarna hazel milik Nea. Hal itu berhasil membuat mata Nea terfokus pada telunjuk Ghai.
"Sst! Berisik amat sih! Nanti anak-anak pada kebangun loh!" ujar Ghai.
Nea mendelik sebal, ia kemudian mencoba menyingkirkan jemari Ghai yang berada di hadapan matanya. Namun, usahanya tidak membuahkan hasil, karena Ghai tidak tersentuh oleh Nea.
"Ck! Lo mah, santai aja kali!" ujar Nea sembari setengah berbisik.
Setelahnya baik Nea maupun Ghai terdiam, tidak ada yang berniat membuka suara ketika ke-2nya sibuk tenggelam dalam hangatnya malam saat itu. Nea pun Ghai menatap langit malam yang terlukis indah di bumi tempatnya berpijak. Hingga akhirnya Nea bersuara.
"Emang paling enak melamun tengah malem sambil natep langit."
"Enak sih enak, ke sambet baru tau rasa" ujar Ghai.
"Ih lo mah! Nuansa-nuansa puitisnya jadi ilang aja kan!" protes Nea.
"Haha tapi, emang enak sih. Gak bisa gue pungkiri gue juga suka ngelakuin itu, mungkin semasa hidup gue hobinya melamun kali ya?" tanya Ghai.
"Mana gue tau" jawab Nea.
"Mau tau sesuatu gak Ne?" tanya Ghai.
"Apaan?" tanya Nea.
"Kalau ada sesuatu di dunia ini yang namanya reinkarnasi, gua mau ngulang ini semua" ujar Ghai.
"Hah? Apaan sih lo? Gue sih gak mau" ujar Nea.
"Gue mau" ujar Ghai.
"Apa alasannya?" tanya Nea sembari menatap Ghai dengan tatapan mengejek.
"Hmm, mungkin lo gak tau. Tapi gue rasa kayaknya gue hantu paling bahagia di dunia ini" ujar Ghai.
"Dih, apaan sih? Hahaha, dasar. Jangan jadi hantu paling bahagia, percuma Gha. Lo tuh harusnya jadi manusia paling bahagia! Nah, itu baru bagus!" ujar Nea.
Ghai terkekeh mendengarnya. Ia kemudian kembali menatap langit diikuti Nea.
"Gue mau ngulang ini semua dengan satu syarat" ujar Ghai.
"Apa?" tanya Nea. Baik Ghai dan Nea, ke-2nya sama-sama tidak melepaskan pandangannya dari langit di malam itu.
"Dipertemukan lagi sama lo."
Nea membelalakan matanya, ia segera menoleh ke arah Ghai yang masih terfokus pada langit. Ghai tersenyum lalu mulai menoleh menatap Nea.
"Iya, gue rela ngulang ini semua asal gue dipertemukan lagi sama lo" ujar Ghai sekali lagi yang berhasil membuat jantung seseorang di sana berdegup kencang dan satu orang lainnya yang sama-sama mendengar perkataan Ghai merasa terjatuh ke palung terdalam tapi, tahu betul hal itu akan terjadi.
__ADS_1