Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Rencana Minggu Depan


__ADS_3

"Jadi, untuk bisa membuat kartun kalian---"


"Psst! Serius amat neng."


Nea menoleh kanan kiri, mencari suara yang terdengar memanggilnya. Di sisi lain Arka menghela napasnya, sedangkan Fai hanya tersenyum manis. Siapa lagi kalau bukan Ghai pelakunya. Lelaki yang kini tengah berdiri tepat di samping Nea.


"Di samping kamu," ujar Ghai dengan senyuman manisnya.


Nea kemudian menoleh ke samping kanannya. Untung mereka mengambil posisi kursi paling belakang, jadi tingkah Nea yang kini tengah menatap Ghai tidak terlihat terlalu aneh di mata semua orang.


"Ngapain lo di sini?" tanya Nea dengan suara berbisik.


"Belum denger dari Derren emangnya?" tanya Ghai.


"Apaan?" tanya Nea.


"Aku bebas keliaran. Lupa?" tanya Ghai sekali lagi.


"Ya gue tau lo bebas keliaran sekarang, tapi gak di sini juga! Gue jadi gak fokus tau!" protes Nea.


"Jadi ceritanya ngusir?" tanya Ghai.


"Bukan gitu. Cuma kalau ketauan si ibu gimana coba? ****** gue kalau misalnya tiba-tiba disuruh ngereview materi yang baru dijelasin," jawab Nea panjang kali lebar.


"Hehehe, kan emang niatnya mau ganggu kamu," ujar Ghai dengan enteng ditemani muka usilnya yang jelas-jelas tidak bisa Nea lihat.


"Terserahlah," ujar Nea yang mulai mengembalikan fokusnya ke depan.


Entah Balqis benar atau salah, tapi kalau ternyata perkataannya mengenai Ghai yang mulai kembali seperti dulu itu benar, berarti kepribadian Ghai itu 11 12 dengan Yaza. Usilnya sekarang hampir menyamai usilnya Yaza. Buktinya saat ini dengan randomnya Ghai tengah memainkan pensil yang Nea taruh di meja dengan sudut 45 derajat itu. Nea jengah, akhirnya ia menangkap pensil itu lalu memegangnya di tangan.


"Dih, gue-kan bosen Nea!" protes Ghai.


Ke-dua manik Nea membulat secara sempurna, terkejut mendengar Ghai yang tiba-tiba menyebut dirinya dengan sebutan gue alih-alih aku. Nea spontan menoleh ke samping kanan-nya.


"Dih! Gue sekarang ngomongnya, siapa yang ajarin?" goda Nea setengah tidak ikhlas mengenai keistimewaan diri Ghai yang menyebut dirinya dengan sebutan aku mulai menghilang.


Dosen pengajar menoleh menatap ke arah bangku paling belakang. Arka dan Fai terperanjat kaget. Spontan Arka akting terbatuk-batuk.


"UHUK UHUK! ADUH BUTUH MINUM SAYA!" ujar Arka sembari menepuk-nepuk dada-nya.


Nea menoleh menatap Arka yang kini tengah memberi kode kepada Nea dengan isyarat 'Lo beg apa gimana sih? Si ibu ngeliat ke arah kita nih*!'. Nea segera ikut berakting setelah menatap Arka dengan segala bentuk tindakan palsunya.


"Waduh, minum punya gue Ka!" ujar Nea setengah teriak.


"UHUK UHUK! GAK GUE BUTUH MINUMAN DI KANTIN," ujar Arka.


"Saya tau kamu keselek, tapi jangan berisik dong Arka. Itu minum dulu minuman punya Nea," ujar dosen berumur setengah abad itu.


Arka kemudian mengangguk lalu mengambil minuman Nea. Fai yang melihatnya berusaha keras menahan tawa sembari terus mengelus punggung Arka untuk memaksimalkan akting dadakan mereka siang itu. Di sisi lain Ghai kini menjadi orang yang tertawa paling nikmat di antara mereka bertiga.


"Udah keseleknya? Masih butuh minum? Saya bawa kalau kamu mau," ujar dosen itu setelah melihat Arka selesai meneguk minumannya.


"Gak bu makasih, ini udah gak keselek hehe," ujar Arka dengan senyuman semanis mungkin sembari mencubit tangan Nea pelan.


"Aw!" ringis Nea.


"Ya, saya lanjut ya." Setelah itu dosen pengajar kembali meneruskan pembelajaran.


"Gila lo berdua!" umpat Arka setengah berbisik, Fai kemudian tertawa dalam diam.

__ADS_1



18/12/18


16.10


"Gila lo Ka! Hampir aja tadi siang gue kena marah, untung Arka pinter akting," ujar Nea menatap Ghai yang kini tengah tertawa mengingat kejadian tadi siang.


"Emang akting gue tuh *jawara! Kayaknya gue harus ikutan perekrutan artis FTV?" tanya Arka.


*jawara = juara


"Gak!" jawab Fai singkat, padat, dan jelas.


"Kenapa emangnya sayang?" tanya Arka.


"Pokoknya gak boleh," jawab Fai.


"Itu tuh supaya lo gak kena hujat orang-orang setelah nonton drama lo Ka," ujar Ghai.


"Ih! Memang sayangku itu yang terbaik!" ujar Arka sembari memainkan pipi Fai, dengan Fai yang kini tengah mencoba tersenyum diantara apitan tangan Arka di kedua pipi-nya.


"Jail banget lo Gha! Tadi harusnya gue ikutan di sana," ujar Derren yang menyesal tidak ikut menganggu Nea di kampusnya.


"Tau nih! Ngeselin banget! Mana sekarang ngomongnya kadang ikutan gue-lo," ujar Nea.


"Lah, bukannya kamu yang dulu bilang aku kuno masih ngomong pake aku-kamu?" tanya Ghai yang tak habis pikir.


"Ya emang sih," ujar Nea sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Tiba-tiba Balqis dan Yaza datang bersamaan ke gedung seni musik. Menyapa dari luar kemudian mulai masuk ke dalam.


"Hai guys" sapa Yaza kalem.


"Eh, kalian ujian kapan? Gue lusa udah mulai ujian masa?!" ujar Yaza.


"Lah? Gak mulai mingdep?" tanya Arka.


"Gak tau, katanya ngejar liburan tahun baru juga. Lagian yang natalan gimana kabarnya coba," ujar Yaza.


"Sejak kapan kampus kita ngasih liburan tahun baru dari seminggu sebelumnya," ujar Balqis.


"Bener juga sih," ujar Yaza sembari menganggukan kepalanya.


"Gue mingdep ujian," ujar Nea.


"Semangat kawan-kawan ku sekalian," ujar Derren.


"Ngomong-ngomong kamu kapan Qis ujiannya?" tanya Ghai.


"Mingdep juga kok Gha, kenapa?" tanya Balqis dengan bibir yang dimajukan.


"Gak apa sih, tapi bukannya kata kamu anak seni musik harusnya lagi liburan?" tanya Ghai.


"Udah masuk kali dari minggu ini," jawab Balqis.


"Oh iya? Kok gue gak pernah papasan sama anak-anak seni musik ya?" tanya Nea.


"Karena anak seni musik semua pada nurut sama aturan kampus. Gak ada yang berani ngelanggar Ne," jawab Balqis.

__ADS_1


"Gitu ya," ujar Nea sembari mengangguk-anggukan kepalanya.


"Emang kalau dipikir-pikir tuh di kampus kita anak seni musik yang paling santai gak sih?" tanya Fai.


"Kenapa emangnya?" tanya Balqis.


"Soalnya kalian pulang mentok-mentok jam setengah 4, udah kayak anak SD aja," jawab Derren.


"Bener juga ya," ujar Ghai sembari mangut-mangut.


"Eh ngomong-ngomong ujiankan serentak beres di tanggal 26 Desember. Kita liburan bareng yuk!" ajak Balqis.


"Ayo!" jawab Nea antusias.


"Kemana?" tanya Yaza.


"Ke vila Nea aja yang di Lembang. Udah lama juga gak ke sana kita," ujar Balqis.


"Boleh tuh! Destinasi ke-dua kita ke vila gue!" ajak Arka.


"Lah mau liburan berapa lama?" tanya Fai.


"Selama mungkin bareng kalian," jawab Arka santai.


Senyuman manis Derren tiba-tiba memudar, mengingat seseorang yang tidak hadir saat ini di samping mereka. Ghai yang melihat Derren kemudian bertanya pada Derren setengah berbisik.


"Kenapa?"


"Gak, gak kenapa-napa," jawab Derren yang kembali tersenyum.


"Bilang aja, seenggaknya sama aku," ujar Ghai. Derren awalnya terlihat ragu, namun akhirnya Derren menjawab pertanyaan Ghai.


"Renren, dulu kita juga suka main sama Renren," ujar Derren, Ghai mengangguk mendengarnya.


"Gimana kalau misalnya awal liburan kalian berlangsung kita ngunjungin Renren dulu?" tanya Ghai. Semua orang mulai menoleh menatap Ghai, hening sejenak hingga akhirnya.


"Oke, gue mau kok!" jawab Nea dengan senyuman. Jawaban Nea mengundang jawaban-jawaban lainnya dari keempat orang di sana.


"Kenapa gak? Gue sih mau, udah lama juga jadi kangen," ujar Balqis.


"Ayo, gue masih inget kok di mana makam Renren," ujar Yaza.


"Gue ikut-lah pasti!" ujar Arka.


"Pasti," Fai ikut menyahut.


Mata Derren berkabut, entah kenapa rasanya sesak. Tak lama kemudian air mata turun dari mata Derren mengalir melalui pipi mulusnya sebelum akhirnya menyentuh daratan.


"Makasih kalian!" ujar Derren.


"Kenapa harus makasih? Renren juga sahabat kita-kan?" ujar Nea.


"Iya!" jawab Derren sembari menghapus air matanya.


"Oke! Minggu depan kita pergi!!"


 


 

__ADS_1


 


©AksamalpaAksara


__ADS_2