
"Za!"
Suara Nea terdengar oleh Yaza yang tengah sibuk memainkan ponselnya sembari duduk di kursi dekat kaca. Nea segera berlari menghampiri Yaza.
"Lo kenapa?" tanya Nea.
"Pesen minum dulu, bakal panjang," jawab Yaza.
Nea menurut, ia pergi ke kasir lalu membayar minumannya. Tak lama kemudian ia kembali ke hadapan Yaza lalu memasang ponselnya dalam airplane mode.
"Gue gak tau omongan dia tentang ini bener atau gak tapi, apa lo udah inget alasan dibalik kematian Renren?" tanya Yaza.
Nea segera menegakkan tubuhnya begitu mendengar pertanyaan Yaza. Tatapan mata Yaza masih terlihat letih seperti sebelumnya. Nea mencoba memutar kepalanya, mengingat hal yang mungkin sudah menjadi ingatan barunya. Yaza yang melihat diamnya Nea menyimpulkan, ingatan miliknya belum dibagi pada Nea. Akhirnya Yaza membuka suara.
"Ini berawal dari hari kejadian lo hampir ketabrak."
***
20/1/2019
10.00
Yaza tengah mengerjakan tugasnya hari itu. Di hadapan layar laptop yang menampilkan music video dari lagu dengan judul 'Jodoh Pasti Bertemu' oleh Afgan, Yaza terlarut dalam keseriusan. Ketika mencari penghapus untuk tulisannya, sebuah suara terdengar.
"Yaza."
Yaza menoleh. Renren ada di sana, berdiri di belakangnya dengan jarak 1 meter dari Yaza. Yaza terkejut, ia langsung berdiri dari posisinya.
"Renren?"
"Za, apa kabar?"
Yaza yang ditanya menjawabnya dengan diam, Matanya beralih menatap sebuah surat yang ia tempel di kaca lemarinya.
"Yaza masih benci sama Renren? Ghai juga?"
Mendengarnya, Yaza dengan cepat kembali melihat ke arah Renren. Tiba-tiba perasaan aneh itu terasa di benaknya.
"Yaza kenapa benci Renren? Kenapa semuanya salahin Renren? Padahal Renren gak pernah nyalahin Ghai dan yang lain saat Renren tenggelam waktu itu," ujar Renren.
"Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Yaza.
"Yaza bahkan gak peduli kalau Renren juga pantas diselamatkan! Yaza sama Ghai cuma peduli sama Nea!"
Yaza menundukkan kepalanya. Renren mengambil langkah mendekat, menepis jarak di antara dirinya dengan Yaza. Renren tiba-tiba tertawa.
"Yaza. Mau tau sesuatu?" tanya Renren.
Yaza masih dalam posisinya hanya terdiam tanpa membalas pertanyaan Renren. Selang beberapa detik, Renren mengambil posisi berjongkok.
"Yaza gak tau semuanya. Apa Yaza yakin semuanya karena Arsa?"
Yaza akhirnya menoleh. Tak berlama-lama, Yaza akhirnya ikut memasang posisi jongkok di hadapan Renren.
"Maksudnya apa?" tanya Yaza.
"Ada ingatan Yaza yang juga dicuri sama Arsa. Atau mungkin bisa Renren bilang sama Ghai?"
"Maksudnya apa Renren?" tanya Yaza sekali lagi.
"Yaza memang datang pas lagi butuh aja sama Renren. Yang lain juga gak ada bedanya," jawab Renren.
Renren menatap Yaza, pandangan ke-2nya saling bertautan. Renren mengangkat jari telunjuknya.
"Tau gak? Mulai saat ini, kalau salah satu dari kalian mendapat ingatan baru, berarti yang lainnya bakal dapet ingatan yang baru aja kalian dapetin. Ingatan baru itu kalau kamu bagi ke yang lain, gak akan berbahaya."
Yaza terdiam sembari mendengarkan. Renren kemudian mendekat ke arah Yaza.
"Apa Yaza siap dapetin ingatan baru yang mungkin bakal buat semuanya jadi lebih renggang?" tanya Renren Yaza menatap Renren sebagai balasan.
"Biar Renren kasih Yaza satu hadiah kecil."
***
Yaza ditarik ke sebuah ingatan baru. Entah bagaimana caranya, kini Yaza tengah berada di tahun 2016, tahun di mana Renren meninggal. Tempat itu adalah rumah Arka, Yaza tau. Tepat di saat itu hanya ada Yaza dan Ghai di sana.
"Besok kita main bareng yuk!" ajak Arka.
"Kemana? Gue pinjem mobil bokap deh kalau gitu," balas Yaza.
"Ayo kita pergi ke gunung! Tapi, gak ada yang bawa kendaraan. Kita harus banget numpang mobil atau mungkin bus-lah,"ujar Arka.
"Gila ya lo?" tanya Ghai.
"Lah kenapa? Kan asik juga. Sekalian cari pengalaman baru gitu! Masa lo mau sih punya memori main bareng yang gitu-gitu aja?" tanya Arka.
"Di jaman sekarang mana ada orang asing yang mau kasih tumpangan kayak dulu?" sahut Yaza.
"Justru adrenalinnya di situ!" jawab Arka.
"Adrenalin, adrenalin. Ya tapi, gue ikut deh," ujar Ghai.
"Lo juga Za?" tanya Arka.
"Ya udah, gue juga ikut kalau gitu," jawab Yaza.
__ADS_1
"Cewek-cewek juga ajak supaya rame! Udah lama juga kita gak main bareng," ujar Arka.
"Oke," jawab Yaza.
Suasana hening sejenak, Arka yang sedari tadi menyiapkan hati menerima ekspresi teman-temannya mengenai perkataan yang akan diucapkannya tak lama lagi, tengah menundukkan kepalanya. Cukup lama terdiam, akhirnya Arka memutuskan untuk berbicara.
"Sama Renren ya?" tanya Arka.
Baik Ghai dan Yaza, menghentikan aktivitasnya sejenak. Mereka berdua akhirnya menoleh, sama-sama menatap Arka, sedangkan yang ditatap hanya memberikan tawanya sembari menggaruk kepala.
"Udah lama bro. Kesempatan mumpung Renren ada di sini," ujar Arka.
Ghai membuang mukanya, sedangkan Yaza memutuskan untuk berbicara. Tak ada yang sadar kecuali Yaza dari tahun 2019, bahwa tangan Arka saat itu bergetar karena gugup.
"Gua gak ikut," ujar Yaza.
"Mau sampe kapan Za? Lo yang paling tau tentang kematian Derren itu salah siapakan? Gue emang gak punya kelebihan spesial kayak lo berdua tapi, gue tau dengan pasti sore itu bukan Renren pelakunya," ujar Arka.
Yaza menatap Ghai yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Arka berdiri mengambil sebuah surat, tak lama kemudian ia kembali.
"Tau ini dari siapa?" tanya Arka. Di sisi lain, Ghai dan Yaza hanya diam.
"Ini Renren. Lo sadar gak sih? Itu Renren, temen kita! Apa gak cukup waktu 11 tahun yang kalian lalui dengan ngejauh dari Renren? Di sini Renren juga tersiksa. Guys c'mon, 11 tahun ini kalian udah bersikap seperti bukan diri kalian," ujar Arka.
Ghai akhirnya mengangkat kepala. Ia berdiri kemudian mengambil tas miliknya.
"Oke gue ikut. Lo juga harus pastiin Renren ikut," pamit Ghai sebelum akhirnya pergi pulang.
Yaza terdiam lalu menatap Arka yang senyumannya mulai mengembang. Ia kemudian mengusap wajahnya kasar.
"Terserahlah. Gue balik dulu," pamit Yaza.
***
3/4/2016
08.00
Di sinilah Yaza berdiri. Ia berada tepat di samping Ghai, akhirnya ia memutuskan untuk ikut pergi berlibur bersama. Di sana mereka tinggal menunggu Renren. Nea, Balqis, dan Fai setuju dengan ide Arka untuk mengajak Renren ikut pergi bermain bersama mereka. Ya, walau cukup sulit meyakinkan Nea yang terlihat gelisah karena, sejujurnya Nea masih mengingat dengan jelas kejadian waktu itu. Terlebih lagi, Arka mengajak mereka pergi bermain mendekati tanggal kepergian Derren.
Hujan kerap kali menjadi simbol sial bagi Nea. Setelah kepergian Derren, Nea menjadi penderita Ombrophobia. Semenjak saat itu, Nea sering sekali memeriksa ramalan cuaca. Hal ini pula yang menjadi salah satu keraguan Nea dalam pergi liburannya saat itu. Menurut ramalan cuaca, hari itu di tanggal 3, 4, dan 5 hujan akan turun. Khususnya di daerah yang akan mereka kunjungi.
*Ombrophobia : ketakutan pada hujan, meliputi gangguan kecemasan umum.
"Arka!"
Suara Renren terdengar, ia berlari menghampiri Arka beserta yang lain. Renren tersenyum lebar hari itu, baginya keajaiban seolah datang padanya. Lama putus kontak dengan sahabatnya dan hanya terhubung melalui Arka membuat Renren lebih nempel dengan Arka ketimbang yang lain. Padahal, dulu seseorang yang menjadi panutan Renren mengenai kemana hingga apa yang dilakukan sahabatnya adalah Ghai.
"Udah datang lo? Akhirnya," ujar Arka.
Ghai berjalan mendekat kearah Arka. Ia kemudian menarik Arka ke belakang, lalu dirinya berbisik.
"Kenapa berangkat tanggal segini? Lo gila ya?" tanya Ghai.
"Justru karena gue pengen ngobatin phobia Nea, Yaza, Renren, dan lo tentang tanggal 4 April ini. Udah lo tenang aja Gha, gak akan terjadi apa-apa kok," jawab Arka sembari menepuk pundak Ghai berulang kali.
Renren memperhatikan Ghai sedari tadi. Ghai yang akhirnya menyadari tatapan mata Renren kemudian tersenyum. Merasa hubungannya dengan Ghai sudah cukup membaik, akhirnya Renren berjalan menghampiri Ghai.
"Ghai. Renren mau min--" ucapan Renren dipotong oleh Ghai.
"Gak usah dibahas. Gue tau kok itu bukan salah lo. Maafin gue juga karena menjauh dari lo ya Ren," ujar Ghai sembari mengelus kepala Renren lembut.
Senyum Renren semakin mengembang. Sedari dulu, kebiasaan Ghai yang selalu Renren rindukan dan sukai adalah elusan tangan Ghai di kepala miliknya.
"Udah yuk, hari ini tujuan kita seneng-seneng. Jadi lebih baik buat memori baru daripada terjebak di memori lama," ujar Ghai yang kemudian mengulurkan tangannya pada Renren.
Renren menyahut uluran tangan itu dengan senyuman lebar menghiasi mukanya yang manis. Ghai akui, Renren adalah sosok sahabat yang sudah seperti adiknya sendiri. Menurut Ghai, Renren itu adalah seseorang yang harus dijaga, mengingat tubuh Renren yang lemah sedari dulu membuat Ghai melindunginya semenjak pertemuan ke-2 mereka dan mungkin untuk saat ini, sudah menjadi kebiasaan baginya.
Di sisi lain Nea cemburu, ia menatap Ghai dengan air muka ditekuk. Yaza menghampirinya lalu menyenggol tubuh Nea dengan pundak miliknya.
"Cie yang lagi cemburu," ledek Yaza.
"Ish! Yaza!"
Nea mengejar Yaza lalu memukul punggungnya keras. Yaza dari tahun 2019 tertawa melihatnya, kalau dipikir-pikir menjahili Nea adalah kebiasaan dirinya sedari dulu. Nea kemudian mengalungkan lengannya di leher Yaza, membuat Yaza harus menunduk dan mencoba melepaskan diri dari tangan Nea.
"Jadi seneng apa kesel liat Renren di sini?" tanya Yaza dengan nada menggoda.
"Ya senenglah! Emang lo gak?" balas Nea.
Yaza terdiam, ia kemudian berhasil melepaskan lehernya dari tangan Nea. Yaza menatap Renren beberapa saat, tak lama setelahnya mendorong Nea.
"Yakin lo seneng liat cowok yang lo suka gandengan tangan gitu sama Renren?" tanya Yaza.
"Yaza!!!"
***
4/4/2016
15.48
Yaza ditarik lagi ke sebuah momen lainnya. Kali ini hanya ada Yaza dan Renren, mereka berdua tengah berdiri di samping tebing.
"Yaza, Renren boleh tanya sesuatu?" tanya Renren.
__ADS_1
"Hmm," jawab Yaza sembari memainkan ranting kayu yang terjatuh tepat di samping kakinya.
"Yaza masih benci Renren?"
Pertanyaan yang dilontarkan Renren membuat Yaza membatu di sana. Baik Yaza dari tahun 2019 dan Yaza di tahun itu, tidak mengetahui jawaban pastinya.
"Gak apa, Yaza berhak benci Renren untuk Derren. Cuma untuk yang satu ini, Yaza harus kasih jawaban Yaza untuk Renren."
Yaza menatap Renren. Tak lama kemudian Renren mengambil langkah mundur mendekat ke arah jurang. Yaza yang melihatnya segera mengambil langkah untuk mengurangi jaraknya dengan Renren. Sama halnya dengan Yaza dari tahun 2019 yang berusaha menyelamatkan Renren di detik itu.
"Stop! Yaza jangan maju lagi. Renren mau tanya, apa selama ini Derren menyalahkan Renren atas kepergiannya?" tanya Renren.
Yaza menatap sekeliling. Ia berusaha mencari bantuan.
"Renren jangan macem-macem! Sini tanyanya deket-deket aja sama Yaza," ajak Yaza.
"Yaza jawab dulu. Renren tahu Yaza bisa lihat Derren. Apa selama ini Derren nyalahin Renren atas kematiannya?" tanya Renren.
"Gak! Yaza gak pernah liat Derren selama ini. Derren gak tau di mana tapi, yang pasti Derren gak akan nyalahin Renren atas kematiannya," jawab Yaza.
Renren tersenyum, air matanya meluncur dengan bebas mengalir melalui pipinya. Yaza mengambil langkah perlahan mencoba menyelamatkan Renren yang mungkin akan melompat kapan saja.
"Derren kenapa gak nyalahin Renren aja? Justru karena itu Renren makin ngerasa bersalah."
Yaza semakin dekat dengan Renren. Ketika sudah berada di jangkauan Renren, Yaza segera menarik Renren ke pelukannya. Ia memeluk Renren lalu mengelus kepalanya lembut.
"Ini salah Yaza. Maaf Ren, masih sulit ngehapus kenangan itu. Maaf. Renren jangan gini lagi ya, berhenti salahin diri sendiri. Ini bukan salah Renren," ujar Yaza menenangkan.
Setelah sekian lama tidak menampakan wujudnya, Arsa kembali terlihat. Yaza yang melihat Arsa segera melepas pelukannya dari Renren. Ia menarik tangan Renren, membuat posisi Renren tepat berada di belakang Yaza.
"Lo lagi?!" tanya Yaza.
Arsa hanya tersenyum melihat Yaza. Beberapa detik kemudian Arsa tiba-tiba berada tepat di hadapan Yaza.
"Mau aku panggilin Derren?" tanya Arsa.
"Mau lo apa muncul lagi setelah sekian lama?!" tanya Yaza.
"Aku gak pernah kemana-mana kok. Selama ini juga selalu ada di sebelah Ghai, cuma kalian aja yang gak sadar," ujar Arsa.
"Gue tanya mau lo apa?!" tanya Yaza.
"Gak ada kok, cuma mau sapa temen Ghai yang lain aja."
"Gak usah sok deket lo sama kita. Bukannya Ghai udah ngusir lo? Mau apa lo sekarang muncul lagi? Maksud lo apaan?!" tanya Yaza. Renren yang tidak mengerti akhirnya bertanya.
"Yaza, ada apa?" tanya Renren.
"Halo Renren! Ini Arsa! Mau ketemu lagi sama Derren?" tanya Arsa.
Suara Arsa terdengar di telinga Renren. Hanya saja wujud Arsa tidak tampak.
"Itu siapa? Kenapa dia kenal Derren?" tanya Renren.
"Renren cepet balik deluan ke hotel. Yaza mau ngobrol dulu sama dia," ujar Yaza.
"Ada apa Za?" tanya Renren sekali lagi.
"Kenapa? Kamu takut aku celakain Renren? Makannya kamu usir Renren?" tanya Arsa.
"Cepet Renren!" teriak Yaza.
Renren akhirnya mengambil langkah pergi menjauh dari Yaza. Kini hanya ada Yaza dan Arsa di tempat itu.
"Kamu gak takut gitu aku celakain kamu?" tanya Arsa.
"Mau lo apa sekarang?! Gak puas bawa Derren pergi?" tanya Yaza dengan sentakan.
"Derren yang jahat sama Arsa. Kenapa di sini Arsa malah kelihatan jahat? Arsakan cuma mau menyingkirkan orang-orang yang bersifat parasit. Kata papa orang-orang yang berpotensi merugikan untuk kita harus disingkirkan, jadi salah Arsa apa?" tanya Arsa.
Yaza geram, dirinya melangkah mendekat ke arah Arsa yang terus mengambil langkah mundur. Di sisi lain, Renren datang bersama Ghai ke sana.
"Gue peringatin buat lo. Pergi jauh-jauh sebelum lo mati," ujar Yaza.
"Arsa udah mati, gimana bisa mati lagi? Gimana kalau sekarang Yaza yang ikut sama Arsa? Biar Yaza tau gimana rasanya jadi Arsa."
"ARSA!" teriak Ghai.
Baik Yaza pun Arsa sama-sama menoleh menatap Ghai dan Renren yang ada di sana. Ghai berlari ke arah Yaza, lalu tepat sebelum Ghai mampu meraih tangan Yaza. Arsa membisikan sesuatu pada Yaza.
"Sekarang giliran Yaza."
Waktu terasa diperlambat, kerah baju Yaza ditarik Arsa. Tubuh Yaza ditarik jatuh ke jurang yang di bawahnya terdapat sungai dengan arus cukup deras.
"YAZA!!"
Tangan Ghai selisih 5cm dari baju Yaza. Di sisi lain, Arsa tiba-tiba menghilang setelah berucap,
"Ghai, jangan benci Arsa. Arsa cuma mau ilangin parasit di antara kita."
Tepat setelah melihat Yaza terjatuh, Renren terkena serangan jantung. Nea berlari setelah mendengar teriakan Ghai, ia melihat Renren yang pingsan karena jantungnya yang lemah. Ghai menangis. Arka dengan tubuh gemetarnya menelpon polisi dan ambulance.
"BRENGS*K!"
Tepat setelah umpatan yang dilontarkan Ghai, hujan turun. Langit yang mulai memberikan warna kelabunya mulai menjatuhkan satu persatu tangisan miliknya, membasahi bumi beserta seisinya.
__ADS_1