
Kunci diary itu terbuka, Nea dengan perasaan gugup perlahan membuka lembaran buku diary itu. Ketika masuk ke halaman pertama, Nea dapat melihat tulisan tangannya sewaktu kecil dengan bacaan berisi identitas umum miliknya seperti, nama, umur, dan alamat rumahnya.
Entah kenapa, Nea bisa segugup itu untuk membaca sebuah buku harian milik seorang gadis kecil pada masanya. Seolah-olah sesuatu yang berada di dalamnya bisa saja mengubah kehidupannya. Nea ragu, tapi rasa penasaran miliknya terlalu besar. Akhirnya Nea membuka halaman selanjutnya dengan mata yang ditutup sebelumnya. Apapun itu semoga sesuatu petunjuk bisa Nea temukan nantinya.
Nea perlahan membuka matanya. Sebuah tinta berwarna merah tergoreskan di atas kertas dengan corak Hello Kitty. Tulisannya cukup unik dan Nea menikmati itu.
Dear Diary,
Halo! Ini Nea, pemilik kamu. Aku kasih kamu nama Melodi ya! Jangan tanya kenapa, soalnya aku sebenarnya minta mama sama papa beliinnya buku diary Melodi bukan kamu. Tapi gak apa-apa sih, aku juga suka kamu kok. Jangan sedih. Udah dulu ya! Aku mau main sama Derren, dah!
Nea terhibur, sangat terhibur. Tulisannya benar-benar melihatkan Nea pada sosok-nya waktu kecil. Nea menyadari satu hal ketika membacanya, Derren bukan orang asing bagi dirinya ketika ia masih kecil, tapi kenapa Nea bisa selupa itu dengan kehadiran Derren jikalau memang mereka sedekat itu di masa lalu?
Nea kemudian membaca halaman selanjutnya, di sana tulisannya ditorehkan dengan tinta berwarna biru.
Dear Diary,
Tau gak??? Hari ini aku senang banget. Aku dapat hadiah kalung, cantik banget warnanya. Aku suka banget deh! Kamu harus liat bentuknya kayak gimana.
Nea bisa melihat gambaran tangannya yang berusaha melukis sebuah kalung yang bisa Nea tebak adalah kalung keberuntungannya selama ini. Nea kemudian menoleh ke arah kalungnya sejenak lalu kembali membaca buku diary-nya.
Kata mama, kalungnya harus dipakai buat ngehargain yang kasih. Oh, iya ngomong-ngomong aku dapat kalung ini dari sahabatku loh! Namanya ...
"Sialan!!! Kenapa tintanya buram di sini?! Justru ini bagian terpentingnya! Kalau dipikir-pikir, bener juga ya? Ini kalung dari siapa? Seinget gue udah gue pake sedari kecil mula. Ternyata ada yang ngasih toh? Ah!! Kalau bukan karena tetesan air hujan kayaknya gue bisa tau siapa orangnya," umpat Nea.
Lembaran kertas itu memang terlihat seperti kertas yang pernah dibasahi atau mungkin terciprat air hujan. Nea kesal bukan main, dirinya kemudian mencoba membaca halaman selanjutnya. Sialnya, catatan itu berakhir dengan pemberitahuan bahwa Nea mendapatkan kalung dari seorang anak yang bahkan namanya saja masih menjadi sebuah misteri.
"Lah terus lu ngapain beli diari kalau ujungnya kagak dipake Bambang!!!" tanpa Nea sadari ia sebenarnya kini tengah mengutuk dirinya sendiri.
Mood Nea tiba-tiba saja berubah. Dirinya kesal bukan main kepada Nea masa kecil. Nea masih tidak menyerah, dirinya mencoba mencari tahu lebih banyak perihal memori masa lalunya yang hilang entah kemana.
Kotak itu kembali dibuka oleh Nea. Tidak ada barang penting di dalamnya, hanya beberapa kelereng, ditambah dengan kertas-kertas usang yang bahkan tulisannya sama samarnya dengan tulisan di buku diary miliknya tadi, tak lupa dengan burung kertas lipat dan sepotong kain usang yang entah darimana asalnya.
"Gak ada yang penting lagi gitu?! Kalau gini caranya gimana gue bisa inget masa lalu gue?" monolog Nea dengan nada frustasi.
Nea kemudian beranjak pergi dari rumah pohonnya. Gimana besok, pikirnya. Nea lelah, ingin tidur setelah melakukan aksi permainan puzzle yang masih random bentuknya. Dengan rasa gusar, Nea terlelap dalam tidurnya.
"Hahaha! Itu ikannya bagus ya?!"
"Iya Nea! Bagus banget. Derren, sini!"
Sepasang anak kecil tengah asyik menonton ikan-ikan yang berenang di air sungai kala itu. Derren, si bocah blesteran, datang menghampiri. Dirinya membawa sebatang kayu tipis di tangannya, bersamaan dengan ke-3 anak kecil lainnya yang ikut menghampiri.
"Nea, jangan dekat-dekat. Kalau gigit gimana?"
"Arka bodoh ya? Ikan itu gak gigit manusia, mereka omnivora yang gak makan daging manusia."
"Yaza ngomong apa sih? Fai gak ngerti?"
Ke-tiga anak kecil itu tengah berdebat kusir, mempermasalahkan jenis makanan yang ikan makan. Di sisi lain Nea beserta Derren dan anak lelaki satunya lagi tengah sibuk bermain dengan ikan. Tiba-tiba datang seorang anak perempuan manis dengan rambut keriting yang mulai memainkan air dan membasahi baju ke-6 anak di sana.
"Aduh! Jadi basah semua ini. Balqis berhenti!!!" teriak Arka kecil dengan nada keluhan.
"Renren, kenapa diam aja di situ? Ayo sini ikut kita main air!" ajak Balqis kecil.
Tiba-tiba seorang anak kecil dengan kulit putih pucat dan wajah manis itu datang mendekat. Renren? Siapa dia? Lalu, Balqis? Sudah cukup dengan semua teka-teki ini. Jadi, mereka semua sebenarnya mengenal Nea waktu kecil?
"Nanti mama marah kalau tau Renren main air," jawab Renren.
"Nanti aku bela kalau Tante Tyas marah. Sini main sama kami," anak lelaki kecil yang masih samar mukanya itu melambaikan tangan dengan isyarat mengajak gadis kecil manis bernama Renren itu ikut bermain air di sana.
"Ghai janji ya?"
"Iya."
Tiba-tiba saja,
TING!
Sebuah serangan notifikasi bertubi-tubi memasuki ponsel Nea. Nea geram mendengarnya, siapa lagi kalau bukan Arka pelakunya. Manusia ter-absurd yang pernah ada di muka bumi. Nea membuka pesan dari Arka dan segera bangkit setelah membaca isinya.
Manusia Absurd
Bangun anjir! Heh kebo!
Bangun!
Nea?!
P
P
P
06.54
__ADS_1
Woy, bangun gak lo?!
07.00
Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya!
Ada yang penting!
SOS!
07.05
***** ni orang bener-bener!
Lo harus tau, inget Balqis anak songong jurusan musik itu?
Dia ngechat gue tiba-tiba
Fai juga di chat! Katanya suruh bilangin ke lo
Baca pesan dari dia, penting
Kalau udah bangun lo harus klarifikasi ada apaan ya!
Jangan lupa!
07.07
Demi apapun, Nea kini tengah sibuk mengutuk Arka, sahabat yang memberi ponselnya 17 pesan secara bertubi-tubi. Nea dengan kesadarannya yang masih lima watt kemudian mengambil posisi duduk di atas ranjangnya. Tak lama kemudian Nea membalas pesan Arka.
Nea
Udah bangun gue *****! Kagak usah spam napa?
Bentar gue juga belum baca pesan si Balqis, emang kita deket ya sama dia?
07.08
Nea tiba-tiba saja teringat akan mimpinya tadi. Ada Balqis disana, jika benar mereka adalah dua orang yang sama, kemungkinan Balqis memiliki kunci penting mengenai memori masa lalu milik Nea. Pasalnya baik Arka maupun Fai mengaku bahwa mereka juga sama-sama tidak mengingat siapa anak-anak di foto itu dan siapa Derren bahkan Ghai, mungkin saja mereka tidak mengenalnya. Garis bawahi! Mungkin.
Adiba Balqis Firdaus
Hantu itu, Ghai-kan?
Kalau aku benar, tolong segera kabari aku. Ada sesuatu yang perlu kita bicarakan.
21.59
Nea
Lo di mana? Bisa ketemu hari ini gak?
07.09
Sebuah notifikasi pesan baru masuk, Balqis-lah penyebabnya. Tak berlama-lama Nea segera membuka lalu membaca pesan baru dari Balqis.
Adiba Balqis Firdaus
Cafe Petrichor, ayo ketemu di sana jam 8.
Gak masalahkan?
Nea
Oke, aku siap-siap sekarang
14/12/2018
08.30
Cafe Petrichor
"Ni orang kemana sih? Janjian jam 8 dia yang ngaret," keluh Nea yang sudah duduk di sana sekitar 20 menitan.
"Gue udah panik tadi telat sepuluh menit, nah dia telat setengah jam." lagi, Nea mengeluh.
Tak lama kemudian pintu cafe terbuka, menampakkan sosok Balqis yang beridiri di sana. Balqis dengan rambut panjang yang lurus sedikit bergelombang, tampilannya dengan mimpi yang tadi malam terlihat jauh berbeda dengan yang sekarang. Jika benar gadis kecil di mimpinya itu memang Adiba Balqis Firdaus.
"Maaf, tadi ojol-ku bermasalah," ujar Balqis yang segera mengambil posisi duduk di hadapan Nea.
Rasa amarah Nea tiba-tiba saja menguap dan hilang tersapu angin, tergantikan dengan beribu, bahkan jutaan pertanyaan di benaknya saat ini.
"Gak apa. Pertama, gue mau nanya. Lo, bisa lihat Ghai?" tanya Nea.
"To the point banget mbaknya, masih sama aja kayak dulu," ujar Balqis terkekeh pelan.
__ADS_1
"Tujuan kita ketemu memang inikan? Lagian maksud dari perkataan lo tentang 'masih aja sama kayak dulu' apaan? Kita pernah kenal sebelum ini?" tanya Nea.
"Aku akan jawab dulu pertanyaan pertama kamu. Iya, aku bisa lihat Ghai dan aku mengenalnya. Lalu jawaban ke-2 dari pertanyaan kamu, pernah, sayangnya kamu lupa semua itu," jawab Balqis.
"Maksud lo apa? Jadi beneran gue amnesia?!" tanya Nea histeris.
"Bukan. Kamu gak amnesia, ini semua berawal dari Derren. Of course you know who Derren is right? Maaf, tapi aku gak diperkenankan untuk terjun lebih dalam. Bisa bahaya kalau aku gegabah kayak gini. Gak mau kejadian yang lalu ke ulang lagi," jawab Balqis.
"Maksud lo apaan? Gue gak ngerti. Ah! Apaan sih, semua manusia yang deket sama gue emang lagi pada suka main teka-teki apa *begimana*sih?!" tanya Nea frustasi.
"Satu-satunya yang bisa selametin Ghai yaitu kamu, aku, Ya--"
"BALQIS!" tiba-tiba teriakan Yaza terdengar. Hal ini berhasil memotong ucapan Balqis dan menarik perhatian seisi cafe. Tak lama kemudian Yaza melangkah untuk mendekat, setelahnya ia menarik Balqis keluar.
"Woy! Za! Lo apa-apaan sih?! Balqis lagi ngomong sama gue, bicara baik-baik jangan gini caranya!" ujar Nea dengan nada marah.
Aksi ke-3 nya berhasil menarik perhatian publik. Ada yang berusaha melerai dan melepaskan genggaman Yaza dari Balqis, ada juga beberapa dari mereka yang hanya sibuk menonton dan menikmati adegan yang tidak Nea mengerti sama sekali.
"Gue udah bilang ini berbahaya! Kenapa lo masih ikut campur?!" bentak Yaza pada Balqis.
"Nea gak akan bisa pecahin misterinya sendiri Yaza!" balas Balqis.
Bersamaan dengan itu Arka dan Fai datang. Perintah Arka mengenai Nea yang harus menceritakan apa yang terjadi dengan Balqis membuat Arka dan Fai ada di sini saat itu. Mereka dengan marah melerai Yaza dan Balqis. Arka mendorong Yaza cukup keras.
"Lo apa-apaan *sih*bro?! Gak lucu, kasar ke cewek. Sampah lo!" teriak Arka.
"Yang Balqis lakuin itu salah! Dia terlalu gegabah. Gimana kalau kejadian waktu itu ke ulang lagi?!" teriak Yaza frustasi.
"Maksud lo apaan sih?! Makannya jelasin ke kita! Gak gini cara mainnya!" teriak Arka membalas perkataan Yaza.
"Lo yang gak tau apa-apa diem aja!" perkataan dari Yaza berhasil membuat kepalan tangan Arka melayang ke pipinya.
"Wow! Mas, mbak, kalau ribut jangan di sini. Udah ya? Ini tempat umum." Salah satu penjaga kasir melerai Arka dan Yaza yang mulai melakukan aksi baku hantam di tempat umum itu.
"Apaan sih bangst! Sok misterius lo! Kemana Yaza yang dulu hah*?!!" tanya Arka dengan nada penuh amarah.
Di belakangnya Fai dan Nea terkejut setengah mati. Fai mencoba menahan Arka, sedangkan Nea menahan Yaza. Di sisi lain Balqis tiba-tiba berteriak,
"BOCAH LO BERDUA! Kekanakannya masih dipelihara! Udahan! Ikut gue, di sini terlalu rame. Maaf ya mbak, mas kita bakal keluar kok." Balqis menyeret Yaza dan Arka keluar.
"Udahan? Maafan dulu cepet!" perintah Balqis.
"Apaan sih?" tanya Arka sinis.
"Arka..." suara Fai terdengar, membuat Arka mengulurkan tangannya.
"Za, itu tangan Arka mau dianggurin begitu aja?" tanya Nea.
Yaza kemudian menyahut tangan Arka, tak lama kemudian Yaza meringis. Ternyata Arka-lah penyebabnya, jabatan tangan darinya tak semata-mata hanya untuk bermaafan saja.
"Arka! Tangan Yaza jangan diremas begitu!" kini Nea yang memarahi Arka.
Arka melepas tangannya lalu segera menatap Nea sinis. Nea mengangkat ke-dua bahunya seraya berkata,
"Kenapa? Mau baku hantam juga sama gue?"
"Udah, mending kalian cepet jelasin situasi tadi," ujar Arka.
Balqis menatap Yaza, Yaza membalas pandangan Balqis dengan sebuah gelengan. Nea yang melihatnya merasa kesal juga lama-lama.
"Lo janji mau kasih tau sesuatu Qis, jangan bilang mau lo ingkari?" tanya Nea.
"Aku gak tau apa kita berhak ikut campur masuk ke dalam permasalahan kali ini. Takutnya kejadian waktu itu terulang lagi," ujar Balqis.
"Kejadian apa? Jelasin dulu deh ke kita," tanya Fai.
"Semua tentang memori kalian yang terhapus," jawab Balqis.
Yaza kemudian menggenggam pergelangan tangan Balqis erat. Menandakan Balqis harus berheti bicara di saat itu juga. Arka yang melihatnya segera memukul pergelangan tangan Yaza.
"Gak usah main ancem! Banci lo!" Yaza menatap Arka nyalang, sedangkan Arka membalasnya dengan tatapan yang sama-sama nyalang.
"Diem lo Ka." emosi Arka kembali terpacu, ketika sudah siap melakukan aksi baku hantam yang sebelumnya berhasil dihentikan, tiba-tiba saja sosok Derren muncul.
"Berhenti. Biar aku yang ceritain semuanya."
"Lo?" Fai menatap Derren dengan tatapan berusaha mengingat sesuatu.
"Anak kecil di album foto Nea! Lo, muncul darimana?" tanya Arka yang bergidik ngeri.
"Hai kalian, lama gak jumpa. Ini aku, Derren."
__ADS_1
©AksamalpaAksara