
"Pasien baru saja mengalami cardiac arrest, istilah umumnya henti jantung. Faktornya sendiri ada macam-macam tapi, dalam kondisi nak Ghai ada kemungkinan penyebabnya adalah gangguan elektrolit atau shock secara tiba-tiba."
Penuturan dari dokter tersebut berbuah sebuah tangisan dari seorang wanita berumur. Pasangannya terlihat menenengkan sang istri.
"Kemungkinan untuk itu terjadi lagi berapa persen dok?" tanya sang suami.
"Hal ini bisa terjadi kapan saja, mengingat nak Ghai yang sudah terbaring di sana hampir 1 tahun hal ini cukup wajar terjadi" jawab dokter tersebut.
"Ghai bisa bangun lagi dok?" tanya sang istri.
"Mari kita berdoa yang sebaik-baiknya untuk nak Ghai ya pak, bu" jawab sang dokter.
Ghai yang mendengar penuturan pun dialog sang dokter dengan sepasang suami istri itu menundukan kepalanya dalam-dalam. Ghai yakin, sepasang suami-istri itu adalah orangtuanya.
"Udah sayang, jangan nangis. Ghai kuat kok, dia bisa" ujar si suami sembari mengelus pundak istrinya lembut.
Baru saja mau melangkah mendekat, tubuh Ghai terasa sakit. Seperti mau mendapat memori baru tapi, tak kunjung dibawa pergi ke momen barunya. Ghai jatuh terduduk, matanya mulai berair hingga tiba-tiba,
"GHAI!" Nea berlari menghampiri Ghai yang kembali terlihat di tempat semula.
"Lo tadi kemana?!"
Semua histeris, takut Ghai kenapa-napa. Ghai yang ditanya hanya terdiam, pikirannya tengah berkecamuk di antara memberi tahu tadi dirinya dari mana atau diam saja seolah tidak ada apa-apa.
"Ghai?" tanya Nea sekali lagi.
Ghai yang dipanggil akhirnya tersenyum, selang beberapa detik kemudian ia menatap ke-2 tangannya yang tidak lagi terlihat transparan. Ghai pikir, ia tidak mau merusak momen akhir tahun itu. Jadi, ia pikir hal ini bisa ditunda dan diberitahu nanti olehnya.
"Ish! Gue dah panik setengah mati tau!" ujar Derren yang mendekat.
"Ya maaf, tadi gue juga gak tau kenapa tiba-tiba kayak gitu" ujar Ghai.
"Ya udah, udahan yuk! Ghai-nya juga udah gak kenapa-napa" ujar Arka yang sebenarnya masih sama-sama gugup, jangan salahkan Arka yang terlihat tidak peduli. Ia hanya teringat perkataan Ghai semalam.
"Za, lo bawa kameranya kan?" tanya Arka.
"Ha-hah?" tanya Yaza.
"Kamera" ujar Arka sembari mengerjapkan matanya untuk memberi sinyal jangan terlihat gugup pada Yaza.
"O-oh! Bawa-bawa. Nih." Yaza memberikan kameranya pada Arka.
"Yuk foto-foto! Bagus nih tempatnya!" ujar Arka.
Ghai kemudian berdiri, berjalan menghampiri Arka. Langkahnya diikuti Nea beserta yang lainnya.
"Lo tuh cocok tau jadi kameramen Ka! Nanti kalau lo udah sukses, jadiin kamera kerjaan sampingan lo aja! Lagian gue perhatiin dari dulu lo kayaknya tertarik banget sama fotografi, videografi, dan sinematografi" ujar Ghai.
"Lah, lo tau dari mana gue tertarik sama begituan?!" tanya Arka antusias.
"Insting gue mengatakan begitu" jawab Ghai.
"Gak salah kok! Gue emang suka bro!" ujar Arka bangga.
"Ya lanjutin-lah. Lumayan bisa ngehasilin duit dari sana" ujar Ghai.
"Entarlah, gue kembangin dulu. Hasil tangkepan gue juga belum sebegitu bagus" ujar Arka.
"Merendah untuk meroket apa begimana?!" Yaza menyahut.
"Hehehe."
Puas mengambil momen di sana, akhirnya mereka memutuskan kembali ke villa. Lagipula bulan mulai menunjukkan dirinya.
***
Banyak yang terjadi di beberapa hari ke belakang ini. Tujuan mereka untuk menghabiskan waktu bersama benar-benar membuat sebuah kenangan tersendiri. Hari ini merupakan malam tahun baru, semuanya sudah berkumpul di halaman belakang milik Nea. Masing-masing dari mereka membawa kembang api di tangannya.
"Tinggal hitung mundur sih ini!" ujar Yaza.
"Iya, btw masih ada yang harus dibantu lagi gak Qis?" tanya Fai kepada Balqis yang sedari tadi masih sibuk membakar daging beserta pelengkapnya.
"Udahan dulu Qis! Sini ikutan itung mundur tahun baru!" ujar Nea antusias.
Balqis tersenyum, ia kemudian menghentikan aktivitasnya dan berjalan menghampiri Nea. Nea menatap lekat-lekat jam tangan berwarna pink kesayangannya itu.
"3, 2, 1, SELAMAT TAHUN BARU!!!"
Dengan sermangat 45, Yaza menyalakan kembang api paling besar yang berada di tangannya lalu mengarahkan benda itu ke atas langit. Semuanya tertawa, malam yang dingin itu terlewati dengan kehangatan yang tercipta melalui kebersamaan ke-7 orang di sana.
__ADS_1
Melupakan sejenak rasa sesak yang menghantui mereka akhir-akhir ini, ternyata tidak seburuk itu. Bahkan, rasanya Sang Bayupun mengizinkan malam mereka terasa sejuk. Cahaya yang tercipta baik dari kembang api maupun lampu taman di malam itu, benar-benar terasa menyenangkan pun menenangkan.
"Wohoo!!"
Nea bahagia, Ghai bahagia, Derren bahagia, semuanya bahagia. Dapat melalui kembali momen kebersamaan seperti ini membuat mereka bersyukur pada yang ada di atas sana. Biarlah kesenangan ini datang sejenak. Jangan, janagan sejenak, kalau bisa hingga akhir waktu yang tercatat di sejarah kehidupan mereka, mereka harap kebahagiaan ini akan selalu tertulis abadi di sana. Baik dari dimulainya kisah kehidupan mereka, hingga penutup dari kisahnya.
Mereka harap, waktu terhenti, Mereka harap, ini bukan mimpi. Mereka harap, ini akan berlangsung selamanya. Mereka harap, ke-2 orang yang ada di sana benar-benar masih hidup.
"Selamat datang 2019! Mulai tahun ini, gue mau buat janji untuk diri gue sendiri. Wahai Nea di tahun 2019, ayo berusaha lebih keras lagi dari sebelumnya, berhenti sakit hati, dan gue harap, apapun yang terjadi ke depannya, baik buruk atau baik, gue mau lo bisa menerima semua itu dengan senang hati" ujar Nea sembari menatap Ghai dengan senyuman.
"Janji untuk diri gue di tahun ini, gue harap Arka ke depannya bisa jadi orang yang gak takut untuk maju ke depan, gue harap ke depannya Arka ini bisa menjadi orang yang diandalkan, dan gue harap Arka ke depannya bisa memaafkan diri sendiri" ujar Arka.
"Gak banyak, gue harap Yaza ke depannya bisa jadi orang yang bisa melepaskan masa lalu dan gak bersikap egois lagi" ujar Yaza.
"Untuk Fai di masa ini dan ke depannya, gue harap lo bisa jadi pribadi yang lebih kuat dan berhenti menyalahkan orang lain atas kegagalan lo" ujar Fai.
"Untuk Balqis ke depannya, gue harap lo bisa menghapus kesalahan lo di masa lalu, ngebayar itu semua, dan gue harap, gue gak akan kecewa lagi sama pilihan gue. Gue harap lo bisa nyelamatin semuanya kali ini" ujar Balqis.
Pandangan mata kini tertuju ke Derren dan Ghai. Derren tersenyum, matanya menatap semua orang yang di sana bergiliran.
"Lo deluan Gha" ujar Derren.
"Hmmm, untuk diri gue. Gue harap lo bisa berjuang ngelawan semuanya, gue harap lo gak menyerah di tengah jalan, gue harap lo bisa menang di akhir cerita dan balik lagi sama kalian" ujar Ghai dengan senyuman sembari menatap Derren.
"Untuk gue, gue harap di saat tiba waktunya untuk gue pergi, lo semua bisa ikhlas. Gue harap, di saat tiba waktunya untuk gue menghilang dari sisi kalian, gue harap gue tetap terukir secara abadi di buku cerita kehidupan lo semua."
Situasi menjadi hening sejenak. Derren tersenyum ia kemudian menatap kembali satu persatu sahabatnya.
"Gue harap, lo semua bisa maafin gue, dan gak menangis terlalu lama untuk gue."
Mata Nea mulai berkabut, ia berjalan mendekat ke arah Derren. Tangannya tergerak menghapus air mata yang turun menyusuri pipinya. Derren menatap Nea yang kini berdiri tepat di depannya sembari mengulurkan jari kelingklingnya.
"Gue janji gue gak akan lupain lo."
Entah kenapa, air mata Derren turut jatuh. Padahal, Derren sudah berjanji ia tidak akan menangis malam ini. Derren akhirnya menyahut jari kelingking Nea dengan jari kelingking miliknya. Walau tidak terpegang baik Nea dan Derren sama-sama mengukir janji itu di hati masing-masing. Nea kemudian berjalan semakin dekat lalu memeluk Derren yang tidak tersentuh. Derren membalas pelukan Nea.
Ghai yang pertama mengikuti langkah Nea lalu memeluk Derren, dilanjut dengan Yaza, Balqis, Arka, dan Fai. Semuanya saling berpelukan. Bintang di malam tahun baru itu menjadi saksi hangatnya persahabatan mereka.
"Renren juga gak akan lupa sama kalian semua."
Sebuah suara seorang gadis terdengar tepat di belakang Derren. Semuanya mulai mencari sosok yang baru saja bersuara tadi.
Seorang gadis dengan kaos lengan panjang dibalut cardigan rajut berwarna cream dan rok sepanjang lutut itu berdiri tepat di belakang Derren. Wajahnya tersenyum manis. Rambutnya ia biarkan tergerai secara manis.
"Iya Nea, ini Renren" jawabnya.
"Renren, gue kangen lo" ujar Balqis diiringi tangisan.
"Renren tau. Maafin Renren, Renren gagal jadi teman kalian" ujarnya.
"Lo kemana aja?" tanya Yaza.
"Renren jahat. Renren mau nyelakaiin Ghai padahal Renren sendiri sebenarnya gak mau. Renren gak tau kenapa Renren kayak gini. Ghai maafin Renren ya?" ujarnya sekali lagi.
Ghai menatap Renren. Gadis itu menangis, namun tiba-tiba selang beberapa detik setelah mengucapkannya senyuman manis di wajah Renren menghilang tergantikan dengan raut muka marah yang tergambar jelas.
"Ghai jahat! Nea jahat! Arka jahat! Fai jahat! Yaza jahat! Balqis jahat! Derren juga! Semuanya jahat sama Renren! Renren takut! Ghai jahat! Ghai benci sama Renren kan?!" ujarnya sembari menangis.
"Gak Ren, gue gak benci lo" jawab Ghai.
"Ghai bohong! Ghai benci Renren! Ghai jahat sama Renren!" ujar Renren histeris.
Derren masih terdiam di posisinya, shock melihat Renren yang tiba-tiba hadir di sana. Derren tau Renren bukanlah penyebab kematiannya, bahkan, Derren tidak membenci Renren, ia malah merasa bersalah. Di sisi lain, Yaza berjalan perlahan mendekat ke arah Renren.
"Ren tenang, Ghai gak maksud begitu. Semuanya sayang Renren, gak ada yang benci Renren" ujar Yaza.
Arka terdiam, baik dirinya maupun Fai masih merasa kebingungan dengan semua ucapan Renren. Sama halnya dengan Nea. Tiba-tiba saja dada Ghai terasa sesak, Ghai memegang dadanya. Ia kesulitan bernapas, matanya mulai berair. Ghai terjatuh, tubuhnya mulai meringkuk.
Nea yang melihatnya mencoba menghampiri Ghai, namun tidak sempat karena tiba-tiba ia-pun mulai merasakan sakit yang sama seperti Ghai. Berbeda dengan Arka dan Fai yang kini mulai merasakan sakit di kepalanya. Balqis terlihat kewalahan, ia bingung harus menolong siapa terlebih dahulu, sedangkan Yaza masih mencoba menghentikan teriakan Renren yang seperti hilang kendali. Jangan tanya Derren yang terlihat seperti jiwanya entah pergi kemana.
Hingga tiba-tiba, pandangan Ghai, Nea, Arka, dan Fai sama-sama mengabur dan berubah menjadi layar hitam tak bergambar. Selang beberapa detik kemudian, mereka berempat terbangun di sebuah tempat yang terlihat asing namun terasa akrab.
***
"Uhuk! Uhuk!" Ghai terbatuk begitu matanya terbuka, sama halnya dengan Arka.
"Hah!" Nea dan Fai sama-sama menarik napas yang terasa terhenti sementara waktu tadi.
Ghai yang pertama bangkit dari posisinya, diikuti Arka. Ghai kemudian membantu Nea berdiri, sedangkan Arka membantu Fai berdiri.
__ADS_1
"Ini dimana?" tanya Arka.
"Gak tau tapi, ini ke-2 kalinya gue bangun di tempat ini" jawab Ghai.
Nea menatap ke sekeliling yang tertutupi ilalang tinggi. Fai memijat pelipisnya pelan.
"Sumpah lo Gha! Setiap lo ilang, lo ngerasain sakit kayak tadi?!" tanya Fai setengah tidak percaya, sedangkan yang ditanya hanya memberikan senyumannya sebagai jawaban.
"Itu, gue kan?" tanya Nea.
"Mana?" tanya Arka.
"Itu."
Nea menunjuk seorang gadis kecil yang tengah berlari ke suatu arah. Nea otomatis mengikutinya dari belakang disusul Ghai, Arka dan Fai.
"Ghai! Lagi apa di sini?" tanya Nea kecil.
"Nea? Kok di sini? Ini pertemuan khusus anak laki-laki, Nea sana dulu, main sama Balqis sama Fai sama Renren" suruh Ghai kecil pada Nea.
"Kalau gak salah itu Derren kan?" tanya Arka yang dibalas anggukan kecil oleh Ghai.
"Kalian ini ngerahasiain apaan sih? Diperhatiin dari kemarin kok jadi sering main gak ngajak aku, Balqis, Fai sama Renren" ujar Nea.
"Ini penting Nea, jadi tolong pergi dulu sebentar. Yaza janji nanti kita main sama kalian lagi kok!" ujar Yaza kecil.
"Ish! Ya udah Nea pergi nih!" Nea kecil kemudian pergi meninggalkan area itu.
Nea, Ghai, Arka, dan Fai masih berdiri di sana mencoba menguping pembicaraan ke-4 anak lelaki di sana. Derren melangkah maju.
"Ini gak bisa dibiarin. Makin lama, dia bakal makin jahat Ghai!" ujar Derren kecil.
"Kenapa?" tanya Ghai kecil.
"Karena dia butuh wadah. Wadah itu tentunya harus didapat dari salah satu di antara kita" ujar Yaza kecil.
"Ini lagi ngomongin temen Ghai yang baru-kan?" tanya Arka kecil.
"Iya Ka. Arka percaya sama kita kan?" tanya Yaza kecil.
"Iya, Arka percaya" jawabnya.
"Biar aku kasih tau tugas penting kita sekarang. Kalau diperhatiin lebih lanjut, wadah paling sempurna itu Nea. Jadi, tugas kita adalah jaga keselamatan Nea. Oke?" tanya Yaza kecil.
"Kenapa gue?" tanya Nea pada Ghai, Arka, dan Fai.
"Gak tau gue juga" jawab Fai.
"Kenapa Nea?" tanya Derren kecil.
"Karena badan dia yang paling gendut! Jadi pasti dia wadah yang kuat" jawab Yaza.
Ingin rasanya Nea memukul kepala Yaza dengan sendal yang dipakainya saat itu. Ghai dan Arka menahan tawa mendengarnya.
"Dipikir-pikir lo emang bongsor sih Ne" ujar Arka.
"Bangsul lo!" balas Nea.
"Ghai?!" tiba-tiba suara seorang anak lelaki yang terdengar asing menyapa di telinga.
"Dia datang! Bersikap natural!" peringat Derren kecil.
Tiba-tiba, dada Nea, Ghai, Arka, dan Fai kembali terasa sesak. Mereka berempat ditarik ke sebuah tempat lainnya.
"Hah! Sebentar, gue masih belum terbiasa" ujar Arka sembari bertumpu pada lututnya.
"Gue juga sama" ujar Fai.
Mereka sampai di villa milik Arka. Tepatnya mereka berada di dekat balong milik keluarga Arka.
"Kita salah besar. Targetnya bukan Nea, tapi Renren" ujar Yaza kecil.
"Renren?" Fai kemudian saling bertatapan dengan ke-3 orang yang ada bersamanya di saat itu.
"Gak mungkin Renren" sahut Arka.
"Kenapa?" tanya Fai.
"Karena Derren korban pertamanya." Ghai menjawab sembari menatap Derren kecil yang kini tengah terlihat gelisah setengah mati.
__ADS_1