
"Ya kalau lo semua mau minta maaf tinggal jelasin semuanya ke gue. Gampangkan?" tanya Nea dengan tatapan penuh amarah.
"Kamu bawa foto di album kamu?" tanya Balqis.
Nea kemudian membuka tasnya. Ia memberi selembar foto berisikan 8 anak di dalamnya. Nea kemudian mendekat begitu Balqis dengan lembutnya mengelus lembar foto itu.
"Mau jelasin apa gak?" tanya Nea sekali lagi.
Tiba-tiba saja Balqis mengambil posisi duduk. Langkah yang diambilnya ini juga diikuti oleh Yaza dan Derren. Nea kemudian mengambil posisi berjongkok.
"Ini kamu, Arka, Fai, Yaza, Derren, aku, Ghai dan Renren." Balqis menunjuk satu persatu anak yang berada di dalam foto.
"Kita sahabat Ya, cuma karena kesalahan itu kita kepecah. Cuma gue sama Balqis yang bisa ingat karena kita berdua sama-sama bisa lihat mereka yang beda dimensi sama kita. Gak, mungkin aja alasannya lebih dari itu? Gue juga gak tau," ujar Yaza.
"Maafin aku Nea. Semuanya karena aku yang terlalu banyak ikut campur," ujar Derren.
"Gak masuk akal. Kenapa cuma karena kalian berdua bisa lihat mereka jadi kalian gak lupa? Kalau gitu gimana dengan penjelasan mengenai orangtua kita yang kelihatannya sama-sama gak pernah sadar kita sahabatan?" tanya Nea begitu mengingat pernah bertemu mamanya Balqis yang terlihat tidak mengenalnya sama sekali.
Balqis beserta Yaza dan Derren terbungkam. Mereka menatap Nea dengan tatapan penyesalan. Faktanya mereka sebenarnya jauh lebih tersiksa daripada Nea, Arka, dan Fai yang lupa mengenai semua hal ini.
"Oke fine, berarti ini yang harus gue pecahin?" tanya Nea yang kemudian mendapatkan balasan berupa anggukan dari ke-3 nya.
"Semua jawaban ada dan selalu dekat sama lo. Cari tau, waktu lo gak banyak," ujar Yaza.
"Sejak kapan?" tanya Nea.
"Kejadiannya hampir 8 bulan lalu. Kamu harus bisa pecahin semua ini sebelum bulan April. Jadi, akan lebih baik kalau semuanya disatukan kembali lagi," ujar Balqis.
"Sebentar, 4 bulan? Lo semua kasih gue waktu cuma 4 bulan?" tanya Nea histeris.
Balqis menggenggam tangan Nea. Yaza kemudian menjawab pertanyaan Nea yang masih terkejut mengingat harus memecahkan misteri mengenai kehidupannya hanya dalam kurun waktu 4 bulan.
"Itu tebakan Derren, karena polanya sama seperti yang sebelumnya harus Ghai pecahin. Satu tahun sampai semua berakhir jadi kayak gini," terang Yaza.
"Terakhir, biarin gue tanya satu hal ini. Ini udah yang ke berapa kalinya?" tanya Nea ragu.
"Ke-3, dan aku korban pertamanya," jawab Derren.
"Arka, lo tau Nea pasti punya alasannya sendirikan?" tanya Fai.
"Gue tau Fai, tapi gak gini caranya. Kenapa seolah-olah kita gak ada aja?" tanya Arka.
"Gue juga kecewa kok, tapi gak gini caranya. Pasti di balik ini Nea sebenarnya lebih tertekan daripada kita berdua, iyakan?" tanya Fai, Arka tidak menjawab.
"Waktu itu, yang Nea bicarain tentang Ghai pertama kalinya. Pertama kalinya Nea kasih tau nama Ghai ke kita. Nea mungkin pengen cerita waktu itu tapi gak jadi," ujar Fai.
Penuturan Fai membuat Arka terdiam. Arka kemudian mengusap wajahnya kasar kemudian berdiri.
"Gini nih keselnya gue. Kenapa gue gak bisa marah lama-lama sama kalian sih?!" ujar Arka frustasi.
Fai kemudian tersenyum lalu memeluk Arka. Arka membalas pelukan Fai lalu menaruh dagunya di atas kepala Fai.
"Awas aja kalau lo juga main rahasia-rahasiaan," ancam Arka.
"Siap bosku!" jawab Fai yang kemudian mempererat pelukannya.
"Udah lepas, malu. Publik ini," ujar Arka yang mood-nya perlahan membaik. Fai melepas pelukannya kemudian menatap Arka.
"Ya udah ayo sekarang ke Nea, kita maafan," ujar Fai.
"Gak, nanti aja," jawab Arka.
"Kenapa?" tanya Fai.
"Biar Nea yang dateng ke gue dan minta maaf duluan," ujar Arka.
"Arka..." ujar Fai penuh penekanan.
"Gue kan udah maafin, cuma tinggal tunggu Nea yang dateng lebih dulu ke gue," ujar Arka yang kemudian pergi meninggalkan Fai di belakang.
"Mau kemana?!" tanya Fai.
__ADS_1
"Memperbaiki mood," jawab Arka.
"Kemana?" tanya Fai.
"Ketinggalan di belakang kencannya gak jadi!" ujar Arka.
14/12/2018
15.54
"GHAI!"
Derren sungguh terkejut melihat tubuh Ghai yang kejang-kejang di marmer putih nan dingin itu. Derren berlari menghampiri Ghai yang kini mulai sadar secara perlahan.
"Lo gak apa-apa?" tanya Derren.
Tak kunjung mendapatkan sebuah balasan dari Ghai membuat Derren mulai berspekulasi mengenai banyak hal. Derren kemudian mengguncangkan tubuh Ghai cukup keras.
"LO JADI BISU?!! SUMPAH SETAN KECIL ITU!!" ujar Derren penuh amarah.
Derren kemudian berdiri. Ketika sudah siap mencari sosok yang akan Derren pukuli hingga mati tangan Ghai menahan Derren. Derren kemudian kembali berjongkok di hadapan Ghai.
"Apa hubungan aku sama kamu sebelumnya?" tanya Ghai.
Derren jatuh terduduk. Memandang kosong Ghai untuk beberapa saat ketika menyadari tangan Ghai yang terasa nyata. Pasalnya selama ini Ghai selalu menghindari kontak fisik dengan siapapun termasuk Derren.
"Lo udah pingsan berapa lama?" tanya Derren.
"Aku udah tau kalau kamu sama Nea sahabat aku dari kecil. Orang-orang yang namanya Yaza, Arka, Fai, Balqis dan Renren juga ada di memori aku saat aku pingsan. Jawab aku Derren, apa hubungan kita sebelumnya? Kenapa kamu diam aja selama ini kalau sebenarnya kita saling kenal sebelumnya? Terus siapa suara itu?" tanya Ghai.
"Maaf Ghai, tapi aku gak bisa ikut campur. Aku ingin bisa jawab semua pertanyaan itu, tapi cuma satu yang bisa aku jawab. Kita sahabat sebelumnya Ghai dan maaf gak bisa bilang dari awal tentang hal ini," jawab Derren.
"Kenapa?" tanya Ghai.
"Aku gak mau bahayain kamu. Gak lagi,"
17/12/2018
'Ke-3, dan aku korban pertamanya.'
Kalimat Derren terus mengiang di kepala Nea selama 3 hari terakhir ini. Derren korban pertamanya? Kalau gitu siapa korban ke-2 nya? Apa artinya Ghai korban ke-3? Ketika tengah tenggelam di dalam pikirannya ponsel Nea berbunyi, ia kemudian membuka ponselnya. Sibuk memainkan benda berbentuk persegi panjang itu di kursi, tiba-tiba Arka masuk bersamaan dengan Fai, ke-duanya berjalan sembari berbincang kecil. Nea kemudian melirik Arka dan Fai yang ternyata sama-sama tengah melirik Nea diam-diam. Nea baru ingat, sudah 3 hari pula Nea melupakan status pertemanan di antara dirinya dengan Arka juga Fai akibat kejadian waktu itu.
"Ayo, janjinya kemarin apa?" ujar Fai kepada Arka.
Arka menghela napasnya kemudian berjalan menghampiri kursi Nea. Arka mengeluarkan sebotol yoghurt kesukaan Nea lalu menyodorkan minuman itu ke arah-nya. Setelahnya, Arka berjalan dan mengambil posisi duduk di kursi depan Nea. Fai yang masih berdiri menatap Nea kemudian menggaruk kepalanya. Nea yang merasa hangat akhirnya tersenyum, hal ini mampu membuat Fai mengikutinya.
"Maaf kalian," ujar Nea yang kemudian secara spontan memeluk Arka dari belakang. Arka tersentak lalu mencoba melepaskan pelukan Nea.
"Gue udah punya pacar!" ujar Arka yang kemudian langsung menoleh ke arah Nea.
"Gue gak keberatan kalau Nea yang peluk Arka. Kalau cewek lain liat aja besok," ujar Fai.
Arka memutar bola matanya malas. Di sisi lain Fai akhirnya mengambil posisi duduk di samping Arka.
"Pantat gue udah pw di kursi ini," ujar Arka.
Nea terkekeh menatap aksi Arka, ia kemudian berlari kecil dan duduk di samping Fai. Tak lama kemudian pembelajaran yang harusnya diserap oleh Nea, Fai, dan Arka tergantikan dengan penjelasan mengenai teka-teki kehidupan mereka dari Nea kepada Arka dan Fai.
"Jadi? Maksud lo kita sahabatan sama Balqis cewek jutek waktu itu?" tanya Arka yang masih tidak percaya.
"Terus hantu kecil itu, Derren? Dan kita sebenernya juga udah kenal lama sama Ghai?" tanya Fai.
Nea menjawab pertanyaan ke-2 sahabatnya itu dengan sebuah anggukan kecil. Teori spekulasi Nea kemudian hampir di otaknya.
"Kalau kalian terhubung sama misteri ini. Berarti Ghai bisa kalian lihat juga dong?!" ujar Nea tiba-tiba.
"Mungkin?" jawab Fai.
"Sore ini kita ketemu Ghai," ujar Nea.
__ADS_1
17/12/2018
15.57
"Sebentar! Gue deg-degan," ujar Arka yang kini tengah menahan langkah Nea yang selanjutnya dengan genggaman tangannya.
"Arka! Fai juga jadi deg-degan lagi ah.." keluh Fai kepada Arka.
"Maaf sayangku... Oke, gue siap," ujar Arka sekali lagi.
"Berdoa semoga hujan turun hari ini," ujar Nea.
"Ramalan cuaca bilang hari ini hujan akan turun," ujar Fai.
Benar saja, tak lama kemudian rintik hujan mulai membasahi seisi bumi. Perlahan-lahan semakin deras hingga membuat Nea, Fai, juga Arka semakin maju mendekat ke arah pintu aula utama gedung seni musik.
"Gue yakin Ghai udah nunggu di dalam," ujar Nea yang kemudian perlahan mulai membuka pintu itu.
Perlahan sosok Ghai terlihat. Punggungnya yang dibalut dengan kemeja putih itu tampak memunggungi ke-3 orang yang baru saja hadir di sana. Nea kemudian jalan perlahan, ada Derren di sana yang kemudian terlihat terkejut setengah mati ketika menyadari ada Fai juga Arka hari itu.
"Udah datang Nea?!" tanya Ghai yang terdengar antusias.
Ketika tubuhnya berbalik menatap Nea, raut wajahnya berubah serius ketika mendapati sosok Arka dan Fai di sana. Derren kemudian berjalan perlahan ke arah Nea.
"Kenapa lo bawa mereka ke sini Nea?" tanya Derren panik.
"Yaza bilang mereka berdua sama-sama pemegang kunci penting untuk semua ini. Maka dari itu gue bawa mereka, seharusnya mereka bisa liat Ghai-kan?" tanya Nea.
Nea kemudian menoleh menatap Arka dan Fai. Betapa terkejutnya Nea ketika melihat ke-dua manik berwarna hazel milik Arka yang tiba-tiba saja berkabut dan mulai menurunkan bulir bening itu ke pipi Arka. Ya, Arka menangis kawan-kawan, sama halnya dengan Fai.
"Lo berdua kenapa?" tanya Nea.
"G-gue gak tau, rasanya sesak," jawab Arka yang kemudian semakin terisak lalu memukul dadanya.
Ghai, yang menjadi objek tatapan ke-dua orang yang tengah menangis hanya menatap bingung Nea, Arka, dan Fai silih bergantian. Derren kemudian menghampiri Arka dan Fai lalu memeluk mereka walau tak terasa.
"Dia Ghai?" tanya Fai dengan suara yang diselingi isakan.
Nea mengangguk lalu berdiri di samping Ghai. Ghai kemudian menatap Nea heran, dirinya butuh penjelasan saat ini.
"Mereka siapa?" tanya Ghai.
"Teman masa kecil lo," jawab Nea.
"Teman masa kecil? Sama kayak aku dan kamu?" tanya Ghai sekali lagi yang dijawab anggukan oleh Nea.
"Tunggu, kamu udah tau kita teman masa kecil?!" tanya Ghai histeris.
"Karena ini," jawab Nea yang kemudian menyodorkan selembar foto yang kini menjadi benda wajib Nea yang harus dibawa kemana-mana dirinya pergi.
"Mereka Arka sama Fai. Orang yang ada di foto ini, itu lo sama gue dan yang lain-kan?" tanya Nea.
"Arka dan Fai?" tanya Ghai lagi.
"Iya," jawab Nea dengan senyuman.
Memori di dalam mimpi Ghai kemudian terlintas di benaknya. Arka dan Fai memang hadir disana, tapi belum melihat rupa sosok kecil mereka seperti apa.
"Karena udah lama gak ketemu... Halo, aku Ghai," ujar Ghai, Arka dan Fai mengangguk bersamaan mendengarnya.
"Kita berdua udah tau siapa lo. Gue Arka," ujar Arka sembari mengulurkan tangan kanannya yang baru saja ia gunakan untuk menghapus air matanya tadi.
"Gue Fai," ujar Fai yang sama-sama mengulurkan tangan kanannya.
"Maaf, tapi percuma aku genggam tangan kalian, gak akan kepegang. Jadi tolong jangan marah karena aku gak nyambut tangan kalian," jawab Ghai. Arka dan Fai menarik tangannya lalu mengangguk.
"Ayo duduk dulu aja semuanya. Kita mulai riset ke-2 kita sekarang,"
__ADS_1
©AksamalpaAksara