
Kala sebaris frasa indah berhasil meluluh lantahkan hati seseorang
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
Nea beserta Fai tengah duduk di kursi favoritnya warteg ini. Nea sudah siap menyantap makanannya bersama Fai ketika langit berubah kelabu secara mendadak. Nea kemudian melihat ke arah tangan kirinya lalu berdecak begitu menyadari bahwa dirinya lupa mengenakan jam tangan.
"Ck! Gue lupa pake jam tangan dong," keluh Nea yang mampu menarik perhatian Fai.
"Kenapa lagi princess?" tanya Fai.
"Liat." Nea memasang ekspresi cemberut sembari memperlihatkan tangan kirinya ke arah Fai yang memasang wajah datar.
"Ya udah sih."
"Lo-kan tau, kalau gue gak pake jam tangan artinya gue bakal dapet sial hari ini," protes Nea.
"Heh, percaya sama begituan. Dosa loh Ya," Fai memperingatkan.
"Ya habisnya." Nea menundukkan kepalanya.
"Btw, lo bener-bener narget cowok itu Ya? Gimana kalau cari anak cewek aja? Contohnya anak-anak tadi yang lagi duduk di bawah pohon."
"Gak ah, cewek tuh suka ribet. Di komen dikit nanti sakit hati, kan susah kalau kayak gitu. Misalnya nih ya, gue gak sreg sama lagunya, gue gak bisa komen secara blak-blakan. Bisa-bisa nanti gue yang mati dihajar tuh cewek."
"Iya juga sih, tapikan gak semua cewek kek gitu Ya. Cuma tetep terserah lo sih ujung-ujungnya. Lagian bener juga, kalau sama cowok mah bebas mau komentar apa aja. Cuma, ya saran gue sih mending sama cewek kalau susah mah."
"Iya, makasih Fai atas sarannya. Emang deh lo tuh pemberi saran terbaik, sayang deh gue sama lo. Btw Fai, ganteng loh."
"Mana??" Fai segera mencari sosok lelaki di sekitarnya.
"Ih, maksud gue cowok waktu itu. Cowok yang gue bilang anak jurusan musik yang misterius itu."
"Gue kira ada cogan sekarang. Ya ampun Nea... Nea." Fai menggelengkan kepalanya.
"Dia manis, lucu juga. Cuma sayang gak setingkat. Eh, atau setingkat? Mukanya asing. Gak tau-lah, kalau di bilang tipe gue. Ya bisa jadi," ujar Nea.
"Dasar. Seganteng apa sih?" tanya Fai sembari asyik memakan makanannya.
"Liat aja nanti. Gue bakal berhasil kerjasama sama dia kok." Nea mengepalkan tangannya lalu mengangguk yakin.
"Iyain aja deh, gue mah dukung doa aja ya. Semoga aja lo ketemu lagi sama dia," Fai kemudian menepuk pelan punggung Nea.
"Aamiin. Udah 2 hari juga gak ketemu, semoga hari ini ketemu. Btw sekarang jam berapa?" Nea kemudian menyalakan ponselnya.
"Lah, tumben nanyain jam. Sekarang jam 12 btw," jawab Fai yang masih sibuk dengan makanannya.
"Kan gue udah bilang jam gue ketinggalan Fai. Ya ampun." Nea menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh iya. Hehe." Fai tersenyum sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Seenggaknya ini gak ketinggalan." Nea menggenggam kalung berbentuk kunci yang entah sejak kapan ia kenakan.
"Kita temenan dari orok tapi, sampai sekarang dari siapa kalung itu gue masih gak tau jawabannya," ujar Fai.
"Gue juga gak tau. Papah sama mamah juga gak inget pernah kasih ini ke gue tapi, dia kalung keberuntungan gue," ujar Nea sembari menggenggam kalung itu.
"Emang kalau gak bawa sial?" tanya Fai sembari mengangkat ke-dua alisnya.
"Gak bawa jam sial tuh," ujar Nea.
"Masa sih? Buktinya?" tanya Fai.
"Banyak. Tadi di cuekin sama cewe cantik dari jurusan seni musik, terus bukti terjelas dan terbenar gue udah gak ketemu cowok itu 2 hari," ujar Nea sembari menghitung kesialannya hari ini menggunakan jari-jarinya.
"Ya ampun Nea, kemarin-kan lo pake jam tangan keberuntungan lo itu. Udah tunggu aja. Nanti juga ketemu kok," ujar Fai menenangkan.
"Hari ini masih ada kelas?" tanya Nea.
__ADS_1
"Masih. Kelasnya Bu Sugiarti. Lo lupa?" Fai kemudian menggelengkan kepalanya.
"Sampe jam?" tanya Nea.
"Emang sahabat gue yang satu ini kalau gak bawa jam jadi pelupa. Sampe jam 4," canda Fai.
"Oke deh. Btw Fai, lo kepikiran gak sih? Kenapa kampus kita ngebatasin kegiatan di jam 4 sore?"
"Gak," jawab Fai.
"Kenapa ya kira-kira?" tanya Nea.
"Bukannya enak ya? Pulang jam 4 gak kayak kampus lain. Emangnya lo mau pulang jam 9 malam?" tanya Fai.
"Gak," jawab Nea singkat, padat, dan jelas.
"Nah, ya udah. Artinya gak usah didebatin lagi." Pernyataan dari Nea sekaligus jawaban dari Fai menutup obrolan ke-duanya.
6/12/2018
15.46
Kelas Bu Sugiarti ternyata lebih cepat selesai dari biasanya. Langit yang sedari tadi terlihat tengah siap menurunkan air matanya memberikan rasa dingin pada seisi Bandung. Di sisi lain, Nea yang baru saja keluar dari gedungnya berdiri mematung. Fai juga Arka pulang lebih dulu, katanya ingin bertemu pun bersilaturahmi pada ibu Arka. Nea yang kini tengah bermain dengan dunia khayal meneenggelamkan separuh dari lehernya ke dalam kerah jaketnya yang memang terhitung cukup tinggi.
"Selamat bergabung di Di*ney Cooperation!" Suara tepuk tangan saling bersahutan dari kanan dan kiri gendang telinga gadis itu.
"Thank you, Thank you!" Nea yang tengah tenggelam dalam rasa senangnya melambaikan tangan dengan antusias. Hingga tiba-tiba.
'PLAK' Seseorang tampaknya baru saja melayangkan jurus andalan miliknya terhadap Nea. Aksi yang didasari atas kejahilan luar biasa, mampu mengubah mood gadis itu berubah seketika.
Tepukan yang lepas landas dan mendarat secara cukup keras di lengan atas Nea, berhasil membangunkannya dari fatamorgana milik gadis itu seorang, dan kini membuat amarahnya sempurna memuncak. Sedangkan si pelaku, seorang lelaki berperawakan pendek dengan kulit putih pun senyuman manis nan jahil yang dikenal tampan bagi mayoritas kalangan wanita di kampus tempat Nea mengemban ilmu, dengan nama lengkap Rasendriya Zaidan Mahardika itu, hanya sibuk tertawa menyaksikan reaksi mantan sahabatnya, Nea.
"Nea~~ daripada melamun di sini, mending traktir gue makan. Lebih faedah loh!"
"Hei, gue gak mukul sorry. Nepuk karena ada nyamuk lagi makan darah lo," ucap Yaza sembari mengeluarkan kalimat pembelaan.
"Ck! Jadi bete-kan gue!" ujar Nea.
"Galak ih. Pantesan aja temen lo itu lagi, itu lagi," ledek Yaza.
"Sialan lo!" Nea memutar bola matanya malas.
"Hehe." Yaza terkekeh mendengar umpatan yang dikeluarkan Nea, baginya menjahili Nea adalah asupan gizinya setiap hari, terlebih lagi menurutnya hal itu merupakan aksi yang menyenangkan. Sayang Nea dan dirinya tidak ditempatkan dalam fakultas yang sama.
"Udah ah! Hush! Gak usah deket-deket. Kemunculan lo tuh selalu berhasil bikin gue bete tau gak?!" ujar Nea.
"Jahat amat sih. Ya udah, maaf deh. Gue salah tapi, jangan lupa sesekali traktir gue boleh tuh," ujar Yaza.
"Gimana nanti!" ujar Nea.
Nea kemudian melangkah pergi menjauh. Tak lama setelah Nea mengambil langkah untuk pergi menjauh hujan turun menyambut. Nea terlihat semakin kesal.
"Bawa payung gak lo?!" tanya Yaza setengah teriak.
"Bawa!" jawab Nea dengan nada yang terdengar marah.
6/12/2018
15.59
Bohong. Pasalnya Nea tidak membawa payung, ia hanya menghindar dari Yaza, seorang mahluk yang wajib dihindari bagi Nea menurut Undang-Undang Nea nomor 1 pasal 2. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah meneduh LAGI di depan gedung jurusan seni musik, untuk menunggu langit berhenti dengan aktifitasnya.
Seperti biasanya, gedung jurusan seni musik memang selalu sepi di jam-jam seperti ini. Menambah kesan horor yang Nea benci, pasalnya ia sendirian di depan sana. Berniat membuka line untuk menghentikan rasa parnonya, aksi Nea malah terhenti di lockscreen begitu melihat hanya butuh beberapa detik lagi jam menunjukkan pukul 4 sore.
__ADS_1
Perhatian Nea yang pada dasarnya suka menghitung mundur waktu kemudian mulai teralihkan. Menghentakan kaki layaknya seseorang yang tengah tenggelam dalam alunan musik. Tak lupa dengan jemarinya yang kini turut bermain mengetuk ponselnya mengikuti hentakan detik yang mengisi pikirannya.
"5.. 4.. 3.. 2.."
Tepat sebelum ia mengucapkan angka 1 dari mulutnya, sebuah dentingan piano terdengar. Nea tersentak, segera menoleh ke belakang. Menatap sesosok lelaki yang ia cari sedari kemarin hari, lewat dinding kaca yang membatasinya. Tudung jaket Nea dilepas.
Lagi. Ia tenggelam dalam suasana yang diciptakan lelaki itu. Nea kemudian mengambil satu langkah ke depan setelah memutar tubuhnya secara sempurna menghadap ke dinding kaca itu, tangannya tak lagi fokus memegang ponsel. Nea mengambil langkah untuk masuk ke gedung tanpa bersuara. Menatap punggung sosok itu yang terlihat kurus.
'Pintunya gak dikunci?' Nea membatin.
Tak berniat mengganggu, Nea menunggu lelaki itu menyelesaikan permainan lagunya. Tak lama kemudian, lelaki itu selesai dengan permainannya. Entah apa yang mengisi pikiran lelaki itu, tetapi melalui punggungnya Nea mampu melihat berbagai emosi menyedihkan lelaki itu, ia terlihat sedih, putus asa, dan tersesat?
Tak lama setelah itu, lelaki tersebut menundukkan kepalanya dalam-dalam. Alih-alih berbicara seperti pertama kalinya mereka dipertemukan, Nea memberanikan diri melangkah lebih dekat.
"U-udah selesai?" tanya Nea ragu.
Lelaki itu tersentak, dengan segera ia menoleh ke belakang. Melalui matanya, Nea mampu memberikan sebuah terkaan bahwa lelaki itu amat sangat terkejut melihat kehadiran Nea, ditambah lagi entah apa ini hanya perasaan Nea saja atau benar adanya, lelaki itu terlihat cukup senang bertemu lagi dengan Nea.
"Kamu, datang lagi?" Setelah mengucapkan sebaris kalimat tersebut, ia berdiri, terlihat seperti mengambil ancang-ancang untuk lari menjauh. Namun, di saat ini, yang menghampiri pikiran Nea hanya satu. Lelaki ini selain tampan, dia juga tinggi.
"Tunggu! Jangan lagi, gue cape. Lo kenapa masih ada di sini?" cegah Nea.
"Bukan urusan kamu."
"Oke, oke. Boleh kenalan? Please, jangan lari lagi," ujar Nea.
"Apa mau kamu sebenernya?" tanya lelaki itu.
"Gak aneh-aneh kok. Cuma mau ajak kerjasama. Collab buat tugas," jawab Nea. Lelaki itu memiringkan kepalanya terlihat bingung mendengar jawaban Nea.
"Oke. Walau udah pernah tapi, kenalin lagi. Gue Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya, anak jurusan DKV yang lagi nyusun tugas akhir. Sekarang giliran lo," ujar Nea.
"Sebenernya aku bingung. Kenapa kamu segigih itu ngejar-ngejar aku buat collab, padahal bisa sama anak lain," ujar lelaki itu.
"Karena cuma lo yang sempurna," jawab Nea spontan, membuat manik berwarna hazel milik laki-laki itu membulat dengan sempurna.
"Maksudnya?" tanya lelaki itu ragu.
"Cuma lo yang sempurna dan cocok buat mainin OST animasi gue. Please, gue butuh lo," ujar Nea.
'Dia butuh aku..? Apa ini orangnya? Apa dia yang di maksud?' Bola mata lelaki itu bergetar, kemudian dengan cepat ia menoleh ke arah Nea. Terlihat berpikir sejenak sebelum mengatakan,
"Oke. Kalau gitu, nama aku Abhiyoga Ghaitsa Mahawira. Panggil aku Ghai, anak jurusan seni musik."
6/12/2018
15.00
Balqis : Za, kayaknya udah dimulai lagi.
Yaza : Maksud lo?
Balqis : Tadi Nea datengin gue dan nanya soal dia.
Yaza menaruh ponselnya. Menatap langit senja melalui jendela sembari bertanya pada diri sendiri. Kali ini, langkah apa yang harus ia ambil?
©AksamalpaAksara
__ADS_1