
"Tadi... Itu beneran Renren?" tanya Arka ragu.
"Gak tau, gak ada yang sadar. Renren datang dan perginya selalu gak disadari." Yaza menyahut pertanyaan Arka.
"Jadi sekarang gimana?" tanya Arka.
"Apanya yang gimana? Ya kita cari tau lagi-lah. Alasan kenapa Renren nyimpulin kita ngejauh dari dia," jawab Yaza.
Derren dan Ghai sedari tadi terlihat pias, ke-duanya terbungkam setelah kejadian sejam yang lalu. Nea yang sedari tadi belum bangun menambah suasana semakin terasa suram.
"Gue kaget. Jujur," ujar Balqis.
"Semua orang di sini gak ada yang gak kaget," ujar Fai.
"Besok lagi diobrolinnya. Lagian ini udah lewat tengah malam, sekarang tidur dulu aja. Cewek-cewek nyatu sama Nea, kita tidur sama Arka di kamar. Lo berdua gimana?" tanya Yaza.
Derren sudah bangkit bersiap mau mengikuti Yaza yang mulai beranjak pergi ke kamar Arka sebagai tujuan. Ghai masih duduk terdiam di sana hingga akhirnya bersuara.
"Deluan aja, aku mau cari angin dulu."
Angin malam berhembus menembus setiap inci tubuh Ghai, langit tampak indah diiringi temaram cahaya bulan beserta hamparan bintang-bintang di kanvas berlatar biru gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 lewat ketika Ghai beserta kegundahannya berjalan luntang lantung tanpa arah dan tujuan.
Langkahnya terhenti begitu menyadari dirinya kini tengah berada di sebuah taman kota. Jalanan sepi, sekedar 1 hingga 2 mobil saja yang lewat. Ghai memang merasa tidak terlalu terikat dengan aturan baru yang diberikan padanya. Derren bilang kini Ghai diperbolehkan berkeliaran di luar gedung, sama hal-nya dengan Derren, mengenai peraturan lemahnya ketika terkena cahaya matahari, itu sudah hilang, tetapi walau mampu berkeliaran secara bebas seperti ini Ghai tetap tidak bisa menghilangkan rasa sesak yang sedari tadi hadir menghantui dadanya.
"Ghai!"
Ghai menoleh, mencari sumber suara. Taman kota memang memiliki banyak penghuni, Ghai yang identitasnya sebagai pendatang sudah pasti akan diganggu oleh sebangsanya. Tiba-tiba sesosok hantu wanita muncul, entah dari mana datangnya, yang jelas hantu itu adalah salah satu penghuni gedung jurusan seni musik.
"Lagi apa di sini? Tumben bisa keluar dari gedung."
Ghai tak berniat menjawab, ia kemudian berpaling, kembali menatap jalanan sepi itu. Sosok hantu wanita yang menemani Ghai kesal tak digubris.
"Jangan lama-lama di luar. Apalagi kalau sebangsa aku tau kamu itu punya wadah yang bisa diisi sama mereka, bisa-bisa badan kamu diincar loh!" peringatnya.
Ghai menoleh kala mendengar kalimat terakhir yang diucapkan hantu wanita itu. Baru saja berniat meminta penjelasan dari kalimat yang dilontarkan hantu wanita tadi, Ghai terlambat karena, hantu wanita itu sudah keburu pergi dan menghilang dari pandangan Ghai. Ketika hendak beranjak dari tempatnya, lagi-lagi sebuah suara terdengar memanggil namanya.
"Ghai!"
Kini hanya suaranya saja yang terdengar, yang berbicara tidak menampakan sosoknya. Itu suara dari seorang anak lelaki yang terdengar akrab di telinga Ghai. Ghai kemudian menoleh, kembali mencari sumber suara.
"Sudah ingat aku?" tanya suara itu lagi.
"Siapa?" tanya Ghai.
"Teman lamamu."
"Siapa?" tanya Ghai sekali lagi.
"Maafkan aku. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya, jadi jangan pergi menjauh. Hingga nanti semua ini beres, aku mohon tunggu aku. Aku akan muncul di hadapanmu, memberikan permohonan maaf yang sepantasnya."
"Apa maksudnya?" tanya Ghai.
"Aku gak butuh apa-apa lagi selain kamu, aku juga gak akan lagi nuntut kamu untuk selalu ada di sisi aku kayak dulu. Aku cuma minta satu hal, tolong jangan lupakan aku. Aku janji aku akan memperbaiki semuanya," ujarnya sekali lagi.
"Siapa kamu?" tanya Ghai.
"Ghai!" Sebuah suara lagi-lagi terdengar memanggil Ghai. Sosok Yaza terlihat muncul di depan Ghai. Suara itu tidak lagi terdengar menghilang entah kemana.
Ghai kemudian menatap Yaza, matanya beralih menatap kaki Yaza yang hanya beralaskan sendal jepit beda warna. Tak membutuhkan waktu lama bagi Ghai untuk memberikan senyuman manisnya pada Yaza.
"Gue cariin lo," ujar Yaza.
"Ada apa?" tanya Ghai.
Yaza yang ditanya alasan dari apa yang dilakukannya malah kebingungan untuk menjawab. Ghai kemudian terkekeh, berjalan mendekat ke arah Yaza.
"Kamu gak tidur bareng yang lain?" tanya Ghai.
"Gak ngantuk dan gak mau," jawab Yaza enteng.
"Capek gak?" tanya Ghai.
"Kok tiba-tiba?" pertanyaan Ghai malah dibalas dengan pertanyaan lainnya oleh Yaza.
"Kalau capek kita duduk sini aja, kalau masih bisa jalan mending cari tempat lain. Jangan di sini, gak nyaman," jawab Ghai yang dibalas oleh Yaza dengan anggukan dan mulut yang dibentuk bulat.
"Masih bisa jalan kok. Pergi aja dari sini, gue juga gak begitu nyaman," ujar Yaza.
__ADS_1
Angin malam tak lagi terasa dingin akibat kehangatan yang tepancar dari sepasang sahabat yang lama terpisah. Ke-duanya kini tengah duduk-duduk di balkon kost-an Arka. Memilih kembali ketimbang bingung mencari tempat dan menjawab beribu pertanyaan yang nantinya hadir jika mereka kembali ke kamar Arka.
"Udah lama rasanya gak gini bareng lo," ujar Yaza yang dibalas senyuman oleh Ghai.
"Lo inget gak dulu kita sering *karaoke*an bareng kalau misalnya lagi galau?" tanya Yaza.
"Sorry, ingetan aku belum balik semuanya," jawab Ghai.
"Gak apa, malah gue yang minta maaf karena lo yang harus nanggung semua ini," ujar Yaza.
Ghai menatap Yaza lekat-lekat, raut muka Yaza terlihat sendu menatap seisi Kota Bandung dengan temaram lampu yang jatuhnya terlihat seperti bintang di daratan dari atas sana. Yaza kembali berucap dengan suara yang terdengar serak.
"Kira-kira, gimana ya kalau misalnya pertemuan lo sama dia waktu itu gak pernah terjadi? Setahun ke belakang ini gue banyak berandai Gha," ujar Yaza pada Ghai yang masih setia menjadi pendengar yang baik di samping Yaza.
"Gimana seandainya kalau ini, gimana seandainya kalau itu. Banyak, sampai gue sendiri malah jadi tenggelam sama harapan yang jelas gak akan terwujud," ujar Yaza.
"Semua itu nuntun gue ke sebuah kesimpulan bahwa, banyak hal yang harus gue lakuin untuk bisa dimaafin sama lo. Itupun gue gak yakin, apa lo akan maafin gue sepenuhnya," ujar Yaza yang kini matanya mulai basah.
"Aku gak tau dengan lengkapnya kenapa kamu bisa nyimpulin hal kayak gitu, tapi aku tau dengan baik bahwa kamu satu-satunya orang yang aku andelin Za. Aku memang terluka di sini, bohong kalau aku bilang gak. Banyak juga pertanyaan yang muncul, bukan dari satu sisi aja. Cuma aku tau, ya apa lagi yang mau disesali? Ini udah kejadian, kenyataannya waktu gak bisa diputar dan kamu tau itu," ujar Ghai. Yaza memandang Ghai kemudian mengelap air matanya. Ghai kemudian tersenyum.
"Satu hal yang harus kamu tau, apapun yang terjadi sama aku, harusnya gak jadi penyesalan panjang buat kamu, karena apapun alasannya aku tau itu bukan berawal dari kamu dan kalau misalnyapun jawabannya iya, aku cuma mau bilang. Hei aku gak kenapa-napa, jangan salahin diri kamu lebih banyak dari ini. Kalaupun akhirnya aku memutuskan untuk pergi, aku cuma mau bilang itu bukan karena kamu. Itu sepenuhnya keputusan aku. Jadi berhenti merasa bersalah, karena sejak awal tanpa perlu kamu tau, aku udah maafin kamu," ujar Ghai.
Yaza terdiam menatap Ghai, sesak di dada beserta penyesalannya terasa terangkat sedikit karena Ghai. Yaza kemudian tersenyum menatap lelaki dengan sejuta keindahan miliknya yang kini tengah memandang lurus menatap bintang semu di daratan.
"******* lo, tapi makasih bro," ujar Yaza.
"Gak kamu, gak Nea, semuanya ngomong kasar. Gak ngerti aku," ujar Ghai sembari menggelengkan kepalanya.
"Belum tau aja itu mulut lo dulu sumber segala kebun binatang di dunia ini," ujar Yaza.
"Gak mungkin, gak percaya tuh," ujar Ghai.
"Bentar lagi juga kebiasaan lo pasti balik. Tunggu aja saat di mana lo mulai gak sadar pake gue-lo," goda Yaza sembari tertawa mengejek.
"Sialan lo!" ujar Ghai tiba-tiba.
Tawa Yaza semakin menjadi ketika ucapan-nya menjadi kenyataan hanya dalam hitungan detik. Di sisi lain kini Ghai tengah mengutuk dirinya karena secara tidak sadar berucap kasar.
"Emang kagak ada akhlak dari awal lo tuh," ujar Yaza.
"Bener-bener emang," ujar Ghai diselingi tawa.
08.00
"Woi, platipus! Bangun, kebo banget sih!" ujar Arka sembari menepuk pipi Nea berulang kali.
Nea yang merasa terganggu kemudian mulai menggeliat. Arka beralih pada Fai ketika menyadari usaha membangunkan Nea membuahkan hasil.
"Sayang, bangun yuk. Ngampus," ujar Arka dengan lembut mengelus pipi Fai.
Fai yang merasa terusik melayangkan tinju ke muka Arka yang dibalas oleh Arka dengan umpatan. Yaza yang menontonnya hanya asyik menertawakan.
"Bangsul, untung sayang!" umpat Arka.
"Sok romantis sih lo!" ujar Yaza.
Balqis keluar dengan tampilan rapih, dirinya yang paling pertama bangun. Berbeda dengan Yaza yang masih memakai boxer ditemani muka bantalnya, pasalnya Yaza juga baru saja terbangun dari mimpinya. Kemarin setelah berhasil mengobrol panjang dengan Ghai, Yaza hanya bisa tertidur selama 3 jam.
"Ghai di mana?" tanya Nea begitu nyawanya sudah terkumpul.
"Di sini," jawab Ghai yang suaranya terdengar persis di samping telinga Nea. Nea terlonjak kaget dibuatnya.
"Kaget gue Gha! Kalau mau ngomong pake aba-aba dulu gitu bisa gak sih?!" protes Nea dengan kepala menghadap samping.
"Ghainya udah gak di situ. Sekarang ada di sebelah gue nih," ujar Yaza.
"Dasar hantu usil!" protes Nea yang kini memutar kepalanya menghadap Yaza.
"Kenapa? Gak suka?" tanya Ghai diselingi tawanya.
Ghai berbeda, setelah kembali dari obrolan panjangnya bersama Yaza, rasanya Ghai jadi semakin usil. Balqis bilang Ghai yang dulu sudah mulai kembali.
"Suka-suka aja kali Nea mah di gituin sama kamu," ujar Balqis dengan maksud meledek.
"Kemarin gue ketiduran ya?" tanya Nea.
Semua orang terbungkam, tak ada niatan membalas ataupun menjawab pertanyaan Nea. Balqis sudah memperingatkan soal ini pada mereka sebelumnya, Nea tidak perlu tahu perihal kejadian semalam, takutnya Nea malah histeris dan berujung dengan kesalah pahaman lainnya.
"Heh! Cepet mandi! Ngampus loh kita jam 9!" peringat Arka mencoba mengalihkan.
__ADS_1
"Oh iya, gue lupa masa!" ujar Nea.
"Cepet mandi!" sekali lagi Arka menyuruh Nea dan hanya dibalas dengan decakan.
"Di mana kamar mandinya?" tanya Nea.
"Lo kayak yang gak tau kamar kost-an gue aja Nea! Nyusahin banget sih!" protes Arka yang kemudian berdiri menunjukan jalannya ke kamar mandi yang terletak di dalam kamar Arka.
Jangan takut, seperti yang sudah di bilang, kamar kost-an Arka terlihat seperti apartemen. Kamarnya terpisah dari ruang tamu kecil di sana. Ketika yang perempuan masuk ke kamarnya, sudah dapat dipastikan pintu kamar Arka akan terkunci rapat, mencegah yang laki-laki masuk ke sana. Lagi pula mereka teman semasa kecil, bagi Arka, Yaza, Ghai, dan Derren mereka adalah saudaranya sendiri, ya walau ada beberapa dari mereka yang saling menaruh rasa.
"Lo gak ada kelas Za?" tanya Arka.
"Ada tapi agak siangan, jam 1 kalau gak salah?" jawab Yaza.
"Oh gitu." Arka mengangguk sebagai jawaban.
"Si Derren mana? Kagak kedenger suaranya dari tadi," ujar Arka.
"Nyimak gue, kenapa? Kangen lo sama gue?" tanya Derren yang hanya terdengar suaranya saja.
"Dari tadi si Derren duduk sebelah lo kok, ngeledekin lo yang sok romantis sama Fai. Jijik gue liatnya serius dah!" ujar Yaza.
"Nape? Sirik lo?! Makannya balikan sono sama Cindy! Cewek baik-baik kayak gitu cuma lo jadiin pelarian aja. Jahat ya lo," ujar Arka.
"Dih, apaan sih Ka? Tiba-tiba bahas si Cindy!" protes Yaza.
"Emang dasar manusia gak peka," ujar Derren tiba-tiba.
"Hah? Apaan maksudnya?" tanya Yaza.
"Tau ah! Gue mah nyerah aja ngurusin percintaan lo-lo pada," ujar Derren.
Para gadis di sana sudah selesai mandi, ke-3 nya keluar dengan dandanan yang rapih dan wangi. Nea, Fai, dan Arka sudah siap berangkat ngampus.
"Lo berempat masih mau di sini?" tanya Arka.
"Gue balik selesai mandi deh," jawab Yaza.
"Gue sama Yaza aja, baliknya entaran ke gedung," jawab Derren.
"Aku juga sama," jawab Ghai.
"Lo gimana Qis? Ada kelas?" tanya Arka.
"Ada tapi nanti siang. Kayaknya balik ke rumah dulu deh aku, soalnya mama juga nyariin," jawab Balqis.
"Lah, lo gak minta ijin dulu main ke kost-an gue?" tanya Arka.
"Ya gitu deh," jawab Balqis seadanya.
"Dasar lo Qis, lain kali izin dulu-lah," ujar Nea.
"Ya sorry gue nya terlalu excited sih akhirnya bisa ngumpul lagi sama kalian," ujar Balqis.
"Udah sono! Nanti telat loh, udah jam 9 kurang 10 menit. Balqis entar gue aja yang anter. Bentaran ya Qis, gue mandi dulu," ujar Yaza.
"***** bener juga! *Yuk ah *guys! Nanti telat. Kunci kamar gue pas kalian balik ya!" ujar Arka.
"Oke," jawab Yaza singkat.
Nea, Arka, dan Fai pun akhirnya beranjak pergi meninggalkan Yaza, Balqis, Ghai, dan Derren di kostan. Yaza kemudian mengambil posisi duduk berhadapan dengan Balqis.
"Lo gak apakan nunggu bentaran? Atau lagi keburu-buru?" tanya Yaza.
"Santai aja Za, mama gak akan bisa marah kalau aku balik sama temen," jawab Balqis.
"Ya udah, tunggu bentar. Gue mandi secepat kilat, supaya lo gak nunggu kelamaan," ujar Yaza yang kemudian beranjak pergi ke kamar mandi.
"Udah lo buat nunggu lebih dari 10 tahun kali," ujar Derren kepada Ghai dengan suara setengah berbisik yang dibalas oleh tawa.
"Apaan sih kalian?!" protes Balqis
©AksamalpaAksara
__ADS_1