
"Arsa?" tanya Balqis.
"Iya. Siapa Arsa? Nama itu yang buat kita berempat bangun" ujar Arka.
Balqis terdiam sejenak, sedangkan Arka, Fai, dan Nea menanti jawaban Balqis. Balqis kemudian mengangguk menatap mereka ke-3 sahabatnya.
"Kalau ini Arsa di 13 tahun yang lalu, gue gak bisa jawab" ujar Balqis.
Arka mengacak rambutnya frustasi. Ia jengah dengan segala macam teka-teki ini. Fai menatap Balqis kemudian mulai bercerita mengenai apa saja yang baru dilihat olehnya dan yang lain.
"Jadi dia udah mulai nampakin dirinya?" ujar Balqis.
"Apa ini ada hubungannya dengan kemunculan Renren?" tanya Fai.
"Mungkin" jawab Balqis.
"Kalau dihitung ini juga udah yang ke-2 kalinya Renren muncul" ujar Arka.
"Ke-2? Kok gue ngerasa baru pertama kali tadi" ujar Nea.
Arka mengutuk dirinya yang dengan ceroboh mengatakan hal itu di depan Nea. Fai dan Balqis hanya menghela napasnya.
"Yang pertama kalinya dia masuk ke lo Nea. Maaf gue yang suruh semuanya diem dan gak cerita ke lo" ujar Balqis.
"Kenapa gak kasih tau gue?" tanya Nea.
"Gue takut itu salah satu langkah yang bisa memperpendek jangka waktu Ghai kalau gue kasih tau lo" ujar Balqis.
Nea menghela napasnya berat. Alasan itu membuat dirinya tidak bisa protes maupun berkutik.
"Apa yang Renren katain waktu itu lewat gue?" tanya Nea.
"Gak banyak" jawab Balqis.
"Renren bilang...
***
1/1/2019
12.04
"Demam Ghai gak turun-turun. Bisa gawat kalau Balqis gak bisa nahan mereka di kamar lagi" ujar Derren.
"Gue tau, ngeliat kejadian kemarin dimana Ghai muncul lebih awal. Ada kemungkinan sekitar 3 jam lagi Ghai terlihat" ujar Yaza.
"Tau darimana lo?" tanya Derren.
"Waktunya selalu dipercepat dalam bentuk segitiga pascal, kalau dilihat-lihat polanya juga bisa dibilang sama kayak bentuk bilangan bertingkat" ujar Yaza.
"Lo masih pinter aja Za" ujar Derren.
"Apaan sih lo?" tanya Yaza.
***
"Kita pulang hari ini kan?" tanya Nea.
"Iya Ne, makannya gue packing barang-barang. Lo semua juga mulai beresin barang-barang gih supaya nanti tinggal cabut. Kita tunggu Yaza yang ngajak balik" ujar Balqis.
Disuruh beres-beres barang bawaan mereka sebelum kemari, Arka malah sibuk menatap pemandangan di luar yang tergambar jelas dari balik jendela kamar bawah yang luas. Fai yang memperhatikan Arka, menghampirinya.
"Pohon pinus. Di sana juga ada tapi, tempatnya bukan di sini" monolog Arka.
"Kenapa Ka?" tanya Fai.
"Kira-kira tempat kita main dulu, selain villa gue sama Nea, di mana lagi ya?" tanya Arka pada Balqis.
Balqis menghentikan aktivitasnya lalu menatap Arka. Memang begini, ketika Arka berubah menjadi serius sikapnya ikutan berubah 180 derajat. Rasanya seperti berbicara dengan orang lain.
"Kenapa tiba-tiba lo tanya itu?" tanya Balqis.
__ADS_1
"Gue mau ke sana" jawab Arka.
"Ngapain?" tanya Balqis.
"Ya lo pikir ngapain lagi kalau bukan nyari ingetan gue yang ilang?" jawab Arka jengah.
"Gak akan bisa lo kunjungin" jawab Balqis.
"Apaan? Tempat apa yang gak bisa kita kunjungin?" tanya Fai.
"Tempat yang sekarang ada di pikiran Arka" jawab Balqis.
"Kenapa?" tanya Nea.
"Karena untuk bisa ke sana kita harus kenal mama Ghai" jawab Balqis.
***
"Ghai, bangun yuk. Udah bisa bangun belum?" tanya Yaza.
Ghai yang sedari tadi tertidur mulai membuka matanya setelah mendengar ucapan Yaza. Ghai bukan tipe orang yang sulit dibangunkan. Derren segera menghampiri Ghai begitu melihat mata Ghai terbuka.
"Udah bangun?" tanya Derren.
"Jam?" tanya Ghai.
"Jam setengah 3, perkiraan Yaza lo bakal terlihat sama yang lain setengah jam lagi" jawab Derren.
"Gue tidur berapa lama?" tanya Ghai.
"Gak tau. Untung demam lo udah turun, kita pulang jam 4 lo bisa?" tanya Yaza.
"Gue bilang ke anak-anak lo tidur siang" ujar Derren.
"Bisa. Kita pulang jam 4 aja, gak usah diundur karena gue" ujar Ghai.
"Ya udah ayo turun, yang lain pada di bawah soalnya" ujar Derren.
"Lo lupa?" tanya Ghai sembari menatap tangan Yaza.
Derren melangkah maju, tak lama kemudian ia mengulurkan tangannya kepada Ghai. Ghai menyambut tangan Derren lalu berdiri.
"Kuat jalan sendiri?" tanya Derren.
"Kuatlah! Masa gak, gue udah fit ini" jawab Ghai yang kemudian melepaskan tangan Derren.
"Ayo turun" ajak Ghai.
Ghai jalan lebih dulu, sedangkan Yaza dan Derren berjalan di belakang Ghai. Sesampainya di bawah mereka ber-3 disambut oleh Nea yang membawa spatula.
"Ghai mana?" tanya Nea.
"Itu sebelah lo" jawab Yaza.
"Pada laperkan? Tunggu ya! Gue sama Balqis sama Fai lagi masakin" ujar Nea.
"Lah, Arka mana?" tanya Ghai.
"Udah dari sejam yang lalu di luar tuh" ujar Nea sembari menunjuk Arka dengan kepalanya.
Ghai menatap Yaza kemudian pergi menyusul Arka begitu mendapatkan sebuah anggukan dari Yaza. Derren kemudian berjalan mendekat ke arah Fai dan Balqis.
"Kemana aja lo? Gak keliatan dari tadi" ujar Fai.
"Sembunyi dari lo" jawab Derren.
"Dih!"
***
"Arka" seru Ghai.
__ADS_1
Arka yang merasa terpanggil mulai menoleh kanan kiri mencari Ghai yang terdengar suaranya. Tak mau membuat Arka berlama-lama bingung, Ghai berbisik tepat di samping kanan telinga Arka.
"Gue di sini" ujar Ghai.
"Lo ngapain di sini? Udah selesai molornya?" tanya Arka.
"Udah" jawab Ghai.
"Lo yakin lo gak kenapa-napa?" tanya Arka.
"Kenapa emang?" tanya Ghai.
"Tipikal manusia yang nyebelin nih. Ditanya malah dibales pertanyaan" ujar Arka.
"Hehehe, gak apa kok. Lagi ngapain lo di sini?" tanya Ghai.
"Lagi mikir caranya bisa ke orangtua lo" jawab Arka.
"Lah, mau ngelamar gue lo?" tanya Ghai.
"Oke, gue yakin lo gak kenapa-napa sekarang. Ya pikir-lah sama lo bege!" ujar Arka.
"Ya kenapa?" tanya Ghai.
"Petunjuk selanjutnya ada di villa orangtua lo Gha" jawab Arka.
"Kalau gitu kita tinggal ke sana sama kayak ngunjungin makam Renren-kan?" tanya Ghai.
"Gak semudah itu. Keluarga lo hilang entah kemana. Kata Balqis semenjak kejadian setahun yang lalu keluarga lo pindah" jawab Arka.
Ghai terbungkam, tiba-tiba saja kejadian ketika dirinya ditarik dapat melihat tubuhnya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit terngiang kembali. Arka menatap Ghai, tak lama kemudian ia mengambil ranting pohon pinus yang tergeletak begitu saja di atas tanah.
"Terlebih lagi, villa punya lo itu khusus buat villa keluarga. Gak buat sewa kayak villa pada umumnya" ujar Arka.
Ghai menatap gerak-gerik Arka yang mulai menulis-nulis di atas tanah menggunakan ranting yang baru saja ia ambil beberapa detik yang lalu. Ghai ikut berjongkok di samping Arka.
"Ka, inget waktu gue ilang sebentar di tempat air terjun waktu itu gak?" tanya Ghai.
"Inget. Kenapa?" tanya Arka.
"Lo tau gue kemana?" tanya Ghai.
"Lah, mana gue tau. Lo yang ngilang, gue yang ditanya" jawab Arka.
"Hehe sorry sorry" ujar Ghai.
"Kenapa emang? Lo kemana?" tanya Arka.
"Lo janji jangan bilang dulu ke yang lain sampai gue yang kasih tau sendiri?" tanya Ghai.
"Ck! Lama ah! Jadi mau kasih tau apa gak nih?" tanya Arka.
"Ya kasih tau-lah. Waktu itu gue pergi liat orangtua gue" jawab Ghai.
Aktivitas Arka terhenti sejenak dengan pandangan yang masih terfokus pada tanah yang ia gambar. Perlahan tubuh Ghai mulai terlihat.
"Gue liat diri gue yang tidur di atas ranjang rumah sakit."
Manik cokelat tua milik Arka membulat. Ranting yang tengah dipegang olehnya terjatuh.
"Kayaknya gue koma. Lokasi rumah sakit itu. Gue gak tau di mana tepatnya tapi yang jelas, itu rumah sakit di daerah kota" ujar Ghai.
Tubuh Ghai sudah terlihat secara sempurna. Arka menoleh menatap Ghai.
"Kenapa minta dirahasiain? Mending kasih tau yang lain juga gak sih?" tanya Arka.
"Nanti. Nanti pas keadaan udah biasa lagi. Kasian yang lain masih shock dibawa loncat ke kenangan berulang kali" jawab Ghai.
"Oh jadi lo gak kasian sama gue?" protes Arka.
"Gak gitu bro. Hahaha, sensitif amat sih lo hari ini" ujar Ghai yang dibalas kekehan khas milik Arka.
__ADS_1
"Karena gue percaya sama lo" ujar Ghai ditemani senyuman tipis miliknya.