
"Iya, ini Ghai."
Nea beralih menatap Derren. Air matanya jatuh begitu melihat sosok Derren, sahabatnya yang telah lama pergi namun kembali secara ajaib ke sampingnya. Nea segera mengubah posisinya dari tertidur jadi duduk, entah kenapa tapi, tiba-tiba saja Derren bisa disentuh Nea. Tubuhnya terhuyung jatuh ke dalam pelukan Nea.
"Maaf. Maaf karena diem aja waktu itu," ujar Nea terisak.
Arka yang mendengar tangisan Nea segera menyibak tirai yang menutupi ranjang Nea di rumah sakit itu. Begitu sadar apa yang tengah dilakukan Nea, Arka kembali menutup tirainya. Arka mencoba menghilangkan segala praduga dan pandangan publik pada Nea, ia kemudian membawa orang yang baru saja ia ancam akan dibawa ke ranah hukum kalau Nea tidak membuka matanya hingga besok hari.
"Ada apa Nea? Jangan gini, aku jadi bingung," ujar Derren.
"Sebentar aja, sebentar sampai gue bisa ilangin sesek di dada gue," ujar Nea.
Ghai tersenyum sendu, entah kenapa. Ingatan yang baru saja didapat Nea tiba-tiba ikut muncul menjadi ingatan baru bagi Ghai. Rasanya seperti berbagi ingatan tanpa Ghai harus merasakan sakit seperti sebelum-sebelumnya.
"Mau aku suruh Arka panggil dokter buat ilangin sesek kamu?" tanya Derren.
"Gak perlu. Gue gak perlu apa-apa karena obatnya ada di depan mata gue saat ini," jawab Nea.
Deru langkah terdengar, Fai beserta Balqis-lah pelakunya. Fai membuka tirai dengan cepat lalu segera memeluk Nea begitu melihatnya. Alhasil kini Derren terhimpit oleh Nea dan Fai. Balqis-lah yang bertugas menutup kembali tirai rumah sakit umum itu.
"Nea! Lo gak kenapa-napa?" tanya Fai.
"Iya gue gak apa-apa."
"Terus kenapa lo nangis gitu?" tanya Fai sekali lagi.
"Gue kangen. Gue kangen sahabat gue, Ambrosius Derren Ryker," jawab Nea.
Derren yang sebelumnya sibuk menghindar dan melepaskan pelukan ke-2 orang yang kini tengah menghimpitnya, tiba-tiba diam dan menerima pelukan itu. Tubuhnya ia lemaskan, membiarkan rasa hangat dari Nea maupun Fai turut menjalar ke tubuhnya.
"Kamu udah inget? Ingatan apa yang datang tadi ke kepala kamu?" tanya Derren.
Nea diam, tidak ada niat menjawab. Ghai yang melihatnya berniat mengelus kepala Nea, namun urung mengingat tubuhnya yang tak tersentuh. Balqis memperhatikan, ia melihat gerak-gerik Ghai.
"Udah dong pelukannya, kasian Derren pengap di peluk lo terus. Itu Ghai juga mau lo anggurin?" tanya Balqis.
Nea akhirnya melepas pelukannya untuk Derren, begitu pula Fai. Tiba-tiba tirai kembali dibuka, kini orangtua Nea yang muncul.
"Kamu gak apa-apa?" tanya ayah Nea.
"Iya, gak apa-apa pah," jawab Nea.
Berbeda dengan Esha--Mama Nea--yang lebih memilih memukul lengan anaknya dengan keras ketika mendengar kabar dari Arka bahwa putrinya tengah berada di rumah sakit. Mengingat penjelasan Yaza mengenai bagaimana caranya Nea bisa sampai sinilah yang membuatnya naik pitam.
"Ngaco! Kamu ngapain sih jongkok-jongkok di tengah jalan?! Syukur Arka cepet nyelamatin kamu!" ujar Esha.
__ADS_1
"Aw! Sakit ma! Bisa-bisa Nea dirawat di sini karena pukulan mama," ujar Nea.
"Kamu yang ngaco! Gak sayang apa sama jantung mamanya?!" tanya Esha.
"Lagian gak apa-apa kok! Cuman pingsan doang. Kenapa sih? Arka doang yang lebay sampai harus bawa ke rumah sakit segala," ujar Nea.
"Sst! Gak boleh gitu," bisik Ghai.
Lagi, Balqis memperhatikan Ghai. Ia tertawa melihat aksi romantis ke-2 sahabatnya itu. Nea yang mendengarnya segera menutup mulut, mengganti ocehan selanjutnya dengan sebuah delikan mata.
"Matanya kayak gitu sama gue sih gak apa-apa tapi, kalau lo gitu lagi sama tante Esha dan om Fajar, mata lo gue tusuk loh!" peringat Ghai.
Balqis semakin terbahak mendengarnya, sama halnya dengan Fai. Esha yang melihat Fai dan Balqis tertawa mulai menggaruk kepala bagian belakang.
"Kenapa? Tante galak ya?" tanya Esha.
"Gak kok tan! Lucu aja liatnya haha," jawab Fai.
"Eh ini Balqis ya? Yang kemarin izin ikut liburan ke villa Nea?" tanya Esha.
"Iya tante, salam kenal," ujar Balqis.
"Iya, salam kenal juga," balas Esha.
Tirai kembali dibuka, kini Yaza yang datang. Sorot matanya terlihat lelah, entah apa alasannya.
"Ya, gak kenapa-napa kok. Kenapa semua orang kayak yang gue hampir mati aja sih?!" tanya Nea.
"Pikir sendiri," jawab Derren.
"Kata dokter lo udah boleh pulang," ujar Yaza.
"Terimakasih ya Yaza, dari tadi kamu sama Arka yang mondar mandir ngurusin Nea," ujar Esha.
Nea yang mendengarnya segera menatap Yaza. Apakah alasan dari rasa lelahnya hari ini adalah Nea? Ah, sial. Nea jadi merasa bersalah dan berhutang lagi pada Yaza.
"Sama Nea ini kok tan, santai aja," balas Yaza.
"Ya udah. Yuk siap-siap pulang. Kalian mau ikut main ke rumah Nea dulu?" tanya Esha.
"Gak usah tante. Kita pulang aja, Nea mungkin butuh istirahat," jawab Balqis.
Arka akhirnya datang. Ia segera berdiri di samping Yaza sembari memegang beberapa lembar kertas.
"Terimakasih banyak ya Arka sayangku. Kalau gak ada kamu, Nea mungkin udah kemana," ujar Esha.
__ADS_1
Arka menatap ke arah Ghai yang sedari tadi menundukkan kepalanya. Pada kenyataannya ia tidak sendiri dalam urusan membantu Nea, ada Ghai yang sama-sama membantu Nea hari ini. Contohnya saat bernegosiasi, mendinginkan kepala Arka, menjaga Nea, dan membantu Arka dalam berkonsultasi dengan dokter.
Yaza juga tidak kalah berpartisipasi hari ini untuk Nea. Orang pertama yang langsung berangkat ke rumah sakit saat diberikan kabar tentang Nea adalah Yaza. Memang tidak selama Arka yang menemani sedari awal mula, Yaza datang di sana kira-kira setelah Arka selesai dengan urusan administrasi dan konsultasi. Yaza datang dalam kondisi yang terlihat cukup buruk, lagi-lagi, tidak ada yang tahu alasannya.
Nea dibawa pulang ke rumah. Meninggalkan ke-6 temannya yang berakhir pulang masing-masing, kecuali Arka dan Fai.
***
"Yaza sok banget sih. Tumben tuh anak balesnya lama," keluh Nea.
Nea tengah berbaring di kasurnya. Melihat isi pesan terakhirnya dengan Yaza yang berakhir dengan status terbaca tanpa dibalas, entah kenapa terasa mengesalkan. Apa ini yang dirasakan Yaza ketika Nea memilih mengabaikan pesannya? Oke, Nea berjanji mulai saat ini ia tidak akan berlama-lama perihal membalas pesan dari orang lain.
Nea akhirnya bangkit dari kasur, mengambil selembar kertas dengan warna kecoklatan. Ia berakhir di meja belajar miliknya. Bersama dengan pena miliknya, Nea memulai catatan barunya.
Catatan Tanpa Judul pt.2
Mengetahui kenyataan yang pahit itu memang menyakitkan. Derren sudah lama pergi tapi, kenapa rasanya begitu berat? Apa mungkin aku akan kuat menerima kenyataan baru lainnya? Yang mungkin akan datang gak lama lagi?
Menyadari bahwa diri kita semakin dekat pada kebenaran yang tersembunyi, kenapa terasa menakutkan? Apa karena diri ini yang masih belum siap menerima kenyataannya? Atau karena diri ini yang takut pada diri sendiri?
Apa mungkin meminta waktu untuk diputar kembali? Terlalu banyak pertanyaan hari ini yang membuat rasa kepercayaan diri luntur perlahan. Apa boleh barangkali menyalahkan seseorang atas kejadian ini? Jika iya, tolong tuntun aku pada kebenaran yang tersembunyi, biar aku bisa menyalahkan siapa yang paling pantas disalahkan. Kalau kenyataan memang semengerikan itu, tolong buat aku hilang rasa dan emosi. Biar aku bisa dengan tega menghilangkan rasa kepercayaan padanya.
20/1/2019
Dari dia yang tengah hilang arah
***
Pagi ini Nea terbangun tanpa semangat. Entah kenapa, rasa ragu terlalu membebaninya belakangan ini. Semua karena ingatan mengenai kematian Derren yang menuntunnya pada tokoh baru bernama Arsa. Jika diperhatikan, Arsa ini terlalu lekat ikatannya pada Ghai. Apa mungkin penyebab dari segalanya adalah Ghai? Entahlah, Nea tidak mau memikirkan kenyataan yang seperti itu.
Di satu sisi Nea juga sempat meragukan banyak hal mengenai Renren. Satu-satunya kenangan yang belum sepenuhnya utuh adalah siapa Renren dan apa alasan di balik surat yang sempat ia temukan di kost-an Arka. Nea jengah, ia ingin meminta kebenaran yang sebenarnya pada mereka yang tahu.
Hal aneh lainnya, Yaza terlihat menjauh secara perlahan. Semuanya terasa menambah kegugupan Nea atas misteri ini. Ditambah jika diingat-ingat lagi, Nea sudah dekat pada akhir Januari, di mana artinya waktu yang tersisa untuk memecahkan semua ini tinggal 3 bulan lagi. Apa Nea sanggup memecahkan semuanya dalam waktu 3 bulan?
Di sela-sela lamunannya hari ini, tiba-tiba sebuah pesan masuk. Itu Yaza, seseorang yang Nea cari keberadaannya sekita 1 minggu belakangan ini. Dengan cepat Nea membuka ponselnya lalu membalas pesan Yaza.
__ADS_1