Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Lompatan


__ADS_3

"Ghai, Yaza, Derren, sama Arka! Itu dipanggil mama" suara Renren terdengar memanggil.


"Mama siapa?" tanya Arka kecil.


"Mama Arka" jawab Renren kecil.


"Itu Renren?" tanya Arka pada Ghai.


"Iya. Itu Renren" jawab Ghai.


"Ingat ya! Mulai sekarang lindungin Renren!" ujar Yaza kecil.


"Siap" jawab Derren kecil.


"Ghai, kamu harus bisa buat dia menjauh. Ngertikan?" tanya Yaza kecil yang dibalas dengan anggukan dari Ghai kecil.


Tak lama kemudian ke-4 anak laki-laki itu berlari memasuki rumah. Tersisa Ghai dan Renren kecil yang ada di luar sana.


"Ghai? Gak ikut masuk? Nanti mamanya Arka nyariin loh!" tanya Renren kecil.


"Renren duluan aja, Ghai masih mau di sini sebentar" balas Ghai kecil.


"Ya udah Renren juga di sini dulu temenin Ghai" ujar Renren kecil yang mulai mengambil posisi duduk.


"Jangan. Ghai ada urusan dulu sama temen Ghai yang lain" ujar Ghai.


"Siapa? Ghai punya temen selain kita?" tanya Renren kecil.


"Ada deh!" jawab Ghai kecil diiringi tawa jahilnya.


Baik Nea, Arka, Ghai, dan Fai dapat melihat Ghai kecil yang memandang ke suatu arah. Terlihat menyembunyikan ketakutannya dengan senyuman manis.


"Ternyata kebiasaan lama itu emang gak bisa hilang ya? Gak bisa salahin lo yang emang dari dulu begitu ternyata" ujar Nea sembari menatap Ghai.


"Apa? Apa yang begitu?" tanya Ghai.


"Gak, gak penting" jawab Nea.


Tak lama setelahnya, lagi-lagi mereka ditarik ke ingatan lainnya. Ghai dan Arka sudah terlihat mampu mengatasi sakit yang datang besertaan dengan ingatan barunya. Berbeda dengan Nea dan Fai yang masih merasa kesakitan, walau sebenarnya kadar rasa sakit yang mereka rasakan turut berkurang.


Kini Ghai, Arka, Nea, dan Fai di bawa ke sebuah ingatan lainnya. Hari itu mereka ber-8 tengah berada di sebuah tempat berenang. Terlihat sepi dan hanya ada mereka ber-8 lengkap dengan orangtua masing-masing.


"Renren!" teriak seorang wanita berumur.


Ghai, Arka, Nea, dan Fai mengenal wajah wanita berumur itu. Tak lain dan tak bukan adalah mamanya Renren. Wanita itu terlihat sangat panik ketika melihat anaknya hampir tenggelam.


"Ghai! Kamu apakan Renren?!" teriak mama Renren.


"Bukan Ghai tante. Yaza bisa jamin itu bukan Ghai" jawab Yaza kecil.


"Iya, Nea juga lihat. Itu bukan Ghai" ujar Nea kecil.


Di sisi lain, Ghai kecil tengah berdiri menatap tubuh Renren sembari bergetar. Mama Ghai datang menghampiri.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya mama Ghai.


"Renren hampir tenggelam karena anak kamu!" ujar mama Renren.


Mama Ghai menatap Ghai kecil hampir tidak percaya. Ia kemudian menghampiri Ghai kecil lalu berjongkok tepat di hadapan Ghai.


"Ghai, benar kamu yang dorong Renren ke area yang dalam?" tanya mama Ghai dengan lembut.


"Gak ma, Ghai gak akan lakuin itu ke Renren" ujar Ghai kecil yang kini mulai menangis.


"Bohong! Ghai bohong, ini semua gak akan terjadi kalau bukan karena Ghai!" ujar Derren kecil.


"Gak! Ghai gak bohong" ujar Nea kecil. Mama Nea turut datang ke area lalu mulai menggendeong Nea kecil di tangan kanannya.


Arka menatap Ghai tidak percaya, sama halnya dengan Fai. Hanya Nea yang masih berkutat mencoba memecahkan misteri itu di sana.


"Maksud ini semua apa?! Lo coba bunuh Renren Gha?" tanya Arka.


"Lo yang nyebabin ini semua?" tanya Fai.


Ghai yang merasa tersudutkan tidak bisa menjawab, ia hanya terdiam. Pasalnya ia sendiri masih tidak yakin dengan jawaban miliknya. Tidak sampai ingatannya kembali utuh.


"Lo lihat pergerakan mata Yaza gak sih?" tanya Nea.


"Maksud lo apa?" tanya Fai.


"Dari tadi, kita selalu dituntun ke sebuah ingatan dimana semuanya berujung seolah-olah mereka semua diintai seseorang. Mungkin aja pelakunya emang bukan Ghai" ujar Nea.


"Kita pindah ke Belanda minggu depan. Tolong jangan cari kita lagi" ujar mama Renren.


Mama Arka datang mendekat sembari menggendong Arka di sebelah tangannya. Ia menghampiri mama Ghai.


"Ada apa? Lisa kenapa tiba-tiba begitu? Selama aku nyuapin Arka makan ada masalah?" tanya mama Arka.


"Katanya Ghai dorong Renren, aku juga gak tahu kejadiannya gimana tadi" jawab mamanya Ghai.


"Bukan ma! Bukan Ghai yang dorong!" ujar Nea sembari menatap mamanya.


"Iya sayang, mama juga tau. Gak mungkin Ghai" ujar mamanya Nea.


"Yaza sini! Coba ceritain mama tadi kenapa?" ujar mamanya Yaza.


Yaza kecil menyahut panggilan mamanya lalu pergi berlari menghampiri. Derren kecil juga sama, ia berlari mengikuti Yaza.


"Ghai punya temen baru yang berbahaya mah" ujar Yaza kecil.


"Siapa?" tanya mamanya Yaza.


Lagi-lagi secara mendadak mereka dibawa ke ingatan lainnya. Ghai sebenarnya takut, ia sudah terlalu banyak loncat ke ingatannya kali ini, lalu jika diingat-ingat terakhir kali dirinya loncat ke banyak ingatan, dirinya berakhir hampir kehabisan napas.


"Derren!!! Ghai tarik tangannya lebih keras!" teriak Yaza kecil.


"Iya, ini udah aku tarik paling keras! Renren, bantu kita!" ujar Ghai kecil.

__ADS_1


Fai terjatuh ketika melihat Ghai dan Yaza kecil yang tengah berusaha menyelamatkan Derren kecil agar tidak hanyut. Nea segera berlari mencoba meraih tangan Derren, namun nihil, usahanya tidak membuahkan hasil. Di sisi lain, Renren kecil hanya menatap sembari tersenyum.


"Ghai, lepas aja tangan Derren. Derren berusaha misahin kita berulang kali, sekarang biar aku yang misahin Derren dari kita" ujar Renren kecil.


"Apa ini maksudnya?!!!" teriak Nea.


Kepala Ghai berdengung, spontan dirinya segera memegang kepalanya yang terasa sakit. Di sisi lain Arka dan Nea masih berusaha memegang tangan Derren mencoba menyelamatkannya, walau hasilnya masih sama, tidak berpengaruh apa-apa.


"Renren! Sadar, ini Derren. Derren teman kita!" ujar Ghai kecil.


"TOLONG! TOLONG!!" teriak Yaza kecil sekuat tenaga.


"Ghai ini aku, bukan Renren. Ghai udah mulai lupa sama aku?" tanya Renren kecil.


"ARSA!!!!"


***


Teriakan Yaza kecil menyadarkan ke-4nya dari keadaan pingsan. Ghai, Arka, Fai, dan Nea sama-sama dibaringkan di ruang tamu. Begitu terbangun semuanya berkeringat. Ghai yang hanya terlihat oleh Derren, Balqis, dan Yaza juga sama-sama dibanjiri keringat.


Arka, Fai, dan Nea yang terbangun hanya merasakan pusing dan segera membaik ketika diberikan air oleh Balqis. Berbeda dengan Ghai yang mulai berguling-guling di lantai menahan teriakannya agar tidak terdengar. Derren yang terlihat panik segera dicengkram tangannya, memberikan isyarat untuk terlihat biasa saja. Derren yang mengerti segera menatap Yaza memberikan isyarat yang sama untuk tidak terlihat panik. Terlebih lagi Yaza memang bisa terlihat oleh yang lain, tentu saja sikapnya pasti akan menimbulkan rasa khawatir pada yang lain, berbeda dengan Derren yang bisa memilih untuk tidak terlihat.


Ghai meminta tolong pada Balqis untuk segera membawa Nea, Arka, dan Fai menjauh dari tempatnya berada. Yaza masih di sana bersedia menemani Ghai yang terlihat tersiksa setiap detiknya. Derren tidak tau harus melakukan apa, ia hanya terus menerus memandu pernapasan Ghai kembali menjadi lancar. Jika waktu itu tubuhnya kembali normal dalam waktu 3 menit, kini membutuhkan waktu sekitar 13 menit agar tubuhnya membaik.


Tak ingin berlama-lama membiarkan tubuh Ghai tertidur di lantai yang hanya beralaskan karpet, Derren menggendongnya ke kamar atas lalu membaringkannya di atas kasur. Tubuh Ghai, Yaza selimuti agar tidak kedinginan.


"Ini aneh, Ghai hantu tapi, kenapa dia bisa kena demam?" tanya Derren pada Yaza.


Pandangan mata ke-duanya tertuju pada Ghai yang tertidur. Kakinya terlihat banyak bergerak karena perasaan tidak nyamannya.


"Satu-satunya jawaban yang bisa kita dapat, berarti Ghai bukan hantu sepenuhnya. Bukannya lo harusnya tahu hal ini dari awal?" tanya Yaza.


"Aku emang tau Ghai terlalu lemah untuk dikatakan hantu dan terlalu lemah untuk dikatakan hidup tapi, apa maksud dia kita emang bener-bener bisa nyelamatin Ghai untuk bisa kembali hidup itu benar?" tanya Derren.


"Mungkin aja bener?" jawab Yaza.


"Tapi kenapa?" tanya Derren.


"Karena dari dulu dia paling sayang Ghai-kan?" tanya Yaza.


"Bukannya alasan itu lebih masuk akal kalau jawaban akhirnya dia bawa Ghai pergi?" jawab Derren yang berhasil membungkam ke-duanya di pagi itu.


***


"Ghai kemana? Dia gak apa kan?" tanya Nea.


"Yaza sama Derren sama Ghai lagi ngobrol di luar. Udah kalian istirahat aja di sini" ujar Balqis.


"Derren. Kita lihat Derren" ujar Fai.


"Simpan ceritanya sampai kalian udah lebih baik" ujar Balqis.


"Qis, gue mau tanya. Siapa Arsa?"

__ADS_1


__ADS_2