
Setiap pertemuan menyimpan rahasia semesta di baliknya
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
Kenari cokelat tua milik Ghai tak terlepas dari sepasang manusia dengan tinggi yang cukup jauh berbeda. Di sana ada satu yang secara terus menerus melantangkan sebaris frasa indah milik gadis manis di sampingnya. Pun satunya yang tengah sibuk memandangi Ghai dengan segala tatapan yang tak pernah bisa dibaca artinya. Pandangannya tertuju pada Ghai, sementara ini Ghai bisa menyiratkan ada rasa rindu di balik tatapannya.
Detik kian berlalu hingga saat di mana Nea berlalu mengambil kantung ajaibnya, pun Ghai yang masih terfokus pada seseorang yang kini tengah bertukar pandang dengannya. Nea berdecak kesal begitu dirnya selesai mengambil semua barang bawaan miliknya yang ia taruh di lantai.
"Ghai, sorry kayaknya hari ini gue pulang lebih cepet deh. Semoga besok gak ada gangguan ya! Pokoknya lo harus inget, lo ngutang jawaban ke gue," ujar Nea.
Kenari cokelat tua itu lantas beralih menatap Nea. Ia ikut berdiri setelah melihat Nea siap beranjak pergi dari tempat itu. Sebelum bayang Nea menghilang di telan dinding pemisah, Ghai sempat bertanya.
"Kenapa kamu penasaran tentang hal itu?" tanya Ghai.
Nea membalikan badannya, tepat sebelum akhirnya ia membuka pintu itu. Ia tersenyum, dan di detik itu pula Ghai berani berucap sumpah, bahwa mungkin hatinya baru saja menemukan pelabuhannya. Pelabuhan yang sempat ia cap sebagai pelabuhan terburuk dan termustahil untuk ia jadikan tempat berpulang.
"Biar gue semakin nyaman setiap ketemu sama lo."
Tepat setelah mengucapkannya Nea pergi. Pundak Ghai melemas, entah dari mana datangnya rasa itu. Rasa takut jikalau tiba-tiba gadis itu memilih pergi setelah mengetahui faktanya. Di sampingnya, seorang anak kecil berdiri lalu berucap "Gak apa, dia bakal balik lagi kok. Percaya sama gue."
Yaza membelalakan matanya secara sempurna. Itu benar mereka, 'kan? Sepasang sosok yang ia rindukan selama ini. Apa yang Balqis katakan tempo hari itu benar-benar terjadi? Lalu jika iya, di mana si mahluk cilik jahat itu? Seharusnya dia sudah ada di sana, menertawakan kegelisahan yang menyelimuti Yaza kala kelabu rindu menghalangi pandangannya.
Nea kini berdiri secara angkuh di depan dirinya juga Arka. Yaza buru-buru memutar tubuhnya untuk berlalu pergi dari tempat itu secepatnya. Ia masih belum bisa menerima fakta bahwa lonjakan mengerikan itu akan terjadi lagi dalam waktu dekat, setidaknya untuk saat ini.
"Apaan sih Ka?!! Gue lagi sibuk bincang-bincang sama rekan gue lo malah datang!" protes Nea.
"Udah ikut gue cepet!" ujar Arka sembari menarik tangan Nea untuk menjauh dari tempat itu secepatnya.
Fakta bahwa Arka menyeret Nea ke sebuah tempat makan bukanlah suatu hal yang patut disyukuri. Terlebih Yaza kini ikutan ada di sana bersama mereka.
"Apa-apaan sih lo?! Gue lagi ada urusan penting malah lo seret ke sini," protes Nea.
"Yaza kenal anak jurusan seni musik yang bisa lo ajak kolaborasi bareng," ujar Arka.
"Gak butuh Ka! Gue udah dapet rekan. Lo juga kenapa ikut-ikutan ke sini lagi?" ujar Nea sembari menatap Yaza sinis.
Yaza yang tengah bergelut dengan pikirannya, tak sadar kala tanya Nea menjadi sesuatu yang abai. Hingga akhirnya Arka menepuk pundak Yaza pelan, sekedar membangunkannya dari ruang pikir yang sempat menenggelamkannya.
"O-oh! Ya gue ke sini karena gue mau kenalin lo sama anaknya," jawab Yaza.
"Gak usah Za, gue udah dapet rekan kolaborasi kok," ujar Nea.
"Siapa namanya?" tanya Yaza to the point.
"Bukan urusan lo," jawab Nea sinis.
Arka memutar bola matanya. Entahlah, menurutnya Nea itu aneh dan keras kepala. Masalahnya Arka sudah gedeg mendengar semua keluhan Nea mengenai rekan kolaborasinya yang baru saja bertemu tidak lebih dari seminggu itu. Bukankah artinya teman kolaborasi Nea bukan orang yang baik?
"Udahlah, lo ganti aja teman kolaborasi lo," ujar Arka.
"Apaan sih Ka! Gak suka ya gue kalau lo ikut campur sama urusan gue," ujar Nea.
"Lo tuh batu banget sih dibilangin!" protes Arka.
"Ini lo berdua kalau nyatu dari dulu kagak pernah akur. Kenapa sih?! Diem dulu coba." Yaza kesal mendengar adu mulut yang dilakukan oleh Arka dan Nea.
"Udahlah, intinya gue gak mau ganti teman kolaborasi. Jadi, siapapun itu orangnya gak usah ribet-ribet lo kenalin ke gue," ujar Nea.
Yaza terdiam, matanya menatap layar ponsel yang menyala dan menunjukan sebuah notifikasi dari seorang gadis bernama Balqis. Arka mengusap wajahnya kasar. Frustasi menghadapi sikap Nea yang keras kepala adalah kegiatan kesehariannya.
"Oke, gue gak akan kenalin sama lo. Jangan nyesel ya? Lo tau sendiri anak-anak jurusan seni musik kalau mau diajak kolaborasi itu susahnya minta ampun. Gue sampai mohon-mohon ke temen gue yang inipun masih gak jelas dia mau apa gak. Jadi, jangan nyesel ya kalau lo gak gue kenalin ke temen gue yang satu ini," ujar Yaza.
Nea segera teringat dengan perkataan Ghai mengenai batalnya kolaborasi yang bisa kapan saja datang. Ia menatap Yaza ragu, di sisi lain Arka tersenyum penuh kemenangan. Memang Yaza itu orang paling pintar dalam urusan membungkam pun memberi ombak pasang yang mampu menenggelamkan lawan debatnya dalam pemikiran masing-masing.
"Oke. Kenalin gue sama orangnya nanti, kalau gue minta lo kenalin gue ke anaknya. Untuk saat ini gak usah dulu karena gue masih punya teman kolaborasi." Akhirnya Nea setuju.
"Kenapa gak lo lepas aja teman kolaborasi lo yang sekarang? Gue liat tadi juga orangnya agak songong ya?" tanya Arka.
"Gak bisa Ka, dia terlalu berharga buat gue lepas. Bakatnya gak main-main," ujar Nea.
"Oke. Nanti lo bilang ke gue kalau lo butuh teman kolaborasi baru. Siapa tau anaknya mau nunggu kabar gak jelas dari lo. Iya deh demi lo apa sih yang gak gue lakoni. Nanti gue coba juga dah bicara lagi ke temen gue kalau lo butuh," ujar Yaza.
Nea tersenyum, pikirnya Yaza dan Arka sebenarnya manis juga. Di balik rasa kesalnya, Nea tau mereka hanya ingin mengenalkan Nea pada seseorang yang lebih baik, terlebih alasannya karena Nea selalu saja menceritakan sisi buruk Ghai selama ini pada Arka. Nea yakin Arka pasti khawatir, makannya ia meminta bantuan Yaza dan mungkin menceritakan permasalahan yang dialami Nea pada Yaza.
Memang benar bahwa Nea, Arka, Yaza, dan Fai adalah teman masa kecil yang bertahan hingga saat ini. Namun, berbeda dengan Yaza secara tiba-tiba berubah dan pergi dari lingkar pertemanan mereka, tanpa alasan yang jelas. Maka dari itu, melihat Arka yang menghubungi Yaza terlebih dahulu walau hubungan keduanya sudah terhitung cukup renggang patut Nea hargai.
__ADS_1
"Makasih ya! Gue tau lo berdua khawatir sama gue," ujar Nea.
"Dih! Kepedean," ujar Arka.
"Gitu di depannya, padahal kemarin cerita ke gue mukanya panik," ujar Yaza berbuah pukulan cukup keras dari Arka.
"Fai gak ikut?" tanya Nea.
"Mama Beti bilang ada undangan pernikahan saudara si Fai," ujar Arka. Nea mengangguk paham. FYI Mama Beti adalah mamanya Fai.
"Nah, bayaran dari ucapan terima kasih dan usaha gue mohon-mohon ke temen gue. Makan hari ini, lo yang traktir ya?!!" tanya Yaza antusias. Nea segera menatap Yaza tajam, bola matanya memutar malas.
"Kenapa sih lo terobsesi banget sama traktiran dari gue?!" tanya Nea.
"Karena semua hal yang ditraktir apalagi sama lo rasanya nikmat, iya gak Ka?" tanya Yaza.
"Jangan lupa lo hutang traktir gue pizza satu box," ujar Arka.
Senja hari itu berakhir dengan menipisnya dompet Nea. Terlebih kedua sahabatnya ini sama-sama memiliki perut karet.
9/12/2018
16.10
Nea semangat sekali pergi ke kampus. Hari ini hujan, sudah pasti Ghai akan berada di sanakan? Mengingat dirinya akan memandang wajah manis super jutek itu saja sudah membuatnya bersemangat.
Sayangnya begitu sampai di sana, Ghai terlihat tetap sama. Ralat, ada sedikit nuansa aneh yang Ghai pancarkan hari ini. Ghai memang manusia kutub yang fajarnya entah hilang entah lenyap, tetapi di detik ini tatapan yang dipancarkannya seolah menyiratkan, ia tidak ingin hari ini datang.
Ghai terus berjalan kala langkah Nea di belakangnya terus dituntun ke arah lorong yang selalu Ghai pandang tiap kali perubahan emosi miliknya ia pancarkan dari segala sisi. Nea takut, tentu saja. Sudah sekitar 10 langkah yang mereka ambil dengan segala keheningan yang merengkuh, sebelum secara tiba-tiba Nea bertanya untuk menghilangkan rasa penasarannya yang lain.
"Ghai, lo punya masalah psikologis? Um, maaf kalau gak sopan. Bipolar?" tanya Nea.
"Kenapa tiba-tiba?" tanya Ghai sembari menengok ke arah ke belakang begitu mendengar pertanyaan Nea.
"Habisnya lo suka tiba-tiba marah sama gue, selain itu tiba-tiba baik banget sama gue," ujar Nea.
"Emang kenapa kalau aku kayak gitu sama kamu? Jangan bilang aku bikin kamu baper? Hahaha," tanya Ghai.
Nea diam-diam bersyukur karena artinya jalan yang tengah ia ambil dengan arahan Ghai bukanlah sesuatu yang menakutkan. Alih-alih memberikan tatapan datar yang dibuatnya kala gombalan Yaza menyahut telinga, Nea malah membuang mukanya yang kini mulai memerah layaknya udang rebus kala mendengar ucapan Ghai. Jangan tanya bagaimana keadaan lelaki itu sekarang, pasalnya Ghai terlihat acuh tak acuh lalu kembali melihat lurus ke depan.
Nea lagi-lagi tersipu. Apa artinya selama ini Ghai nyaman ketika berada di dekatnya? Dengan amukan dan sikap menyebalkan yang ia beri, apa itu mungkin? Di balik pertanyaan itu, tipis-tipis Nea juga mulai mempertanyakan apa yang Ghai ucapkan. Mengapa ia tidak pernah memikirkan hal itu? Benar juga kata Ghai, Nea tidak pernah bisa berbicara sesantai ini dengan orang yang baru dikenalnya selama kurang dari seminggu.
Sepertinya mereka telah sampai di tujuan. Ghai menghentikan langkahnya di sebuah lorong buntu dengan 3 pintu di setiap sisinya. Setiap pintu memiliki satu jendela buram berbentuk kotak di atasnya, sepantar dengan wajah.
"Udah sampai."
"Tempat apa ini?" tanya Nea.
"Ruang latihan piano yang ditutup. Tempat di mana pertanyaan kamu waktu itu bisa menjawab rasa penasaran aku," ujar Ghai.
"Ditutup? Lagian kenapa malah jawab rasa penasaran lo?" tanya Nea.
"Ayo masuk." Alih-alih menjawab Ghai memilih melangkah untuk membuka pintu, tempat itu lebih gelap daripada tempat di mana Nea dan Ghai sering menghabiskan waktu bersama.
Di ruangan itu, Nea tidak mampu melihat apapun. Tidak ada jenset yang meneranginya, pun cahaya yang masuk untuk sekedar memberi bayang lewat jendela yang tertutupi lakban berwarna hijau itu.
"Gila, gelap banget!" Nea segera meraih apapun yang ada di depannya. Mencoba menggenggam baju Ghai, hingga tiba-tiba Nea merasa dirinya telah berpegangan pada sesuatu.
"Jangan jauh-jauh dari gue Gha!" peringat Nea.
"NE-NEA MEGANG GUE JUGA GHA!" ujar seorang lelaki yang suaranya masih terdengar seperti suara anak kecil.
"Iya, 'kan? Aku juga kaget begitu dia megang aku beberapa kali," ujar Ghai.
Nea dengan cepat melepas genggaman tangannya. Badannya bergidik ngeri, bulu kuduknya berdiri, Nea lagi-lagi terdiam membatu. Ghai kemudian berjalan mendekat ke arah Nea.
"Udah mulai bisa lihat?" tanya Ghai.
Netra Nea mulai beradaptasi melalui kegelapan yang menyelimutinya. Nea sudah siap berteriak kala dirinya mampu melihat sepasang kaki berbalut pantofel coklat tua yang kini berdiri di hadapannya. Dirinya kemudian merasa lemas, serasa mau pingsan karena takut setengah mati.
"Eh, jangan tumbang dong. Ini Derren, kenalin," ujar Ghai.
"Bentar gue lemes," ujar Nea.
"Nea! Akhirnya kita ketemu lagi," ujar Derren.
"Orangnya apaan?" tanya Nea.
"Oh iya, halo! Kenalin lagi, nama aku Derren. Hantu anak Belanda yang nyasar ke tempat ini dan berakhir ketemu Ghai di sini. Eits, tapi jangan salah. Walau wajah aku masih kayak anak kecil, kita sebenernya sepantaran kalau misalnya aku masih hidup sampai saat ini. Oh iya, Ghai dan aku itu sama-sama hantu," ujar Derren.
__ADS_1
"Sebentar, aku masih harus ngecerna semua ini," ujar Nea sembari mengangkat tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya mulai memijat pelipisnya.
"Aku?! Woah! Selamat Nea!! Akhirnya selama berapa hari ini kamu menunjukkan sebuah perkembangan. Jadi lebih enakkan didengarnya," ujar Ghai dengan ke-dua tangannya yang terlipat di dada sembari tersenyum bangga.
"SoPaN? Lo malah masalahin itu sekarang?!! Ghai!! Gue bingung nih sampai mau pingsan rasanya! Jelasin ke gue napa?!" ujar Nea dengan nada yang meninggi di setiap kata yang ia ucapkan. Nea tak habis pikir, ke mana ekspresi juga rasa yang tadi sempat Ghai ekspresikan sebelum sampai di sini.
"Hahaha, siapa yang mau jelasin Der? Aku atau kamu?" tanya Ghai.
"Lah, 'kan kamu yang kenal sama dia lebih dulu. Lebih baik kamu yang jelasin, karena kalau aku yang cerita udah pasti gak didengar," ujar Derren.
"Ya udah aku jelasin aja kali ya? Lagian dia udah tau spoilernya dari temen dia," ujar Ghai.
"Sebentar. Gimana caranya?!" tanya Derren.
"Untuk kalangan remaja kayak gini udah pasti lewat rumor dan gosip, 'kan?" tanya Ghai.
"Tapi gak mungkin bisa sampe ada rumor kayak gitu. Kita berdua mati bukan karena hal yang dirumorin," ujar Derren.
"Kenapa gak mungkin? Kan sampai saat ini kematian aku masih abu-abu. Apa penyebabnya dan kenapa bisa terjadi?" tanya Ghai.
"Karena....--"
Di kala Ghai dan Derren sibuk berbicara, Nea di sana dengan napas beratnya. Nea benci ini, sebenarnya Nea juga tidak tahu alasan yang paling tepat untuk menjawab perasaan gelisah pun rindu itu. Satu hal yang Nea yakini, bertemu dengan hantu yang nyata, adalah sesuatu yang menyeramkan. Terlebih menonton perdebatan ke-duanya secara terang-terangan.
Sejujurnya Nea masih dengan lantang menolak percaya bahwa Ghai dan anak lelaki di hadapannya ini adalah hantu. Di antara rasa takut itu terselip sebuah rasa jengkel, mungkinkah ini yang dirasakan Fai ketika dirinya diharuskan mendengar semua perdebatan dalam suatu debat kusir di antara dua sahabatnya, Nea dan Arka.
"K-kalian berdua cukup." Masih sibuk dalam perdebatan, akhirnya Nea kembali berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.
"CUKUP," teriak Nea yang mengisi setiap sudut ruangan itu kali ini.
"E-eh, maaf kita malah kelupaan ada kamu di sini. Hehehehe," ujar Derren sembari menggaruk kepala dengan tangan kecilnya.
"Jadi? Jelasin dong, dari tadi gue diem di sini buat nunggu penjelasan dari kalian berdua. Seenggaknya hargain gue yang dari tadi udah susah payah nahan kaki buat kuat berdiri, padahal udah gemetar dari tadi. Selain itu gue ini orangnya penakut loh! Bisa dapet guinness world record kalau gini caranya," ujar Nea.
"Kenapa bisa dapat?" tanya Derren.
"Karena orang penakut kayak gue masih sanggup untuk gak kabur setelah dengar semua pernyataan kalian yang gak masuk akal. Berapa kalipun gue pikir," ujar Nea.
Ghai kemudian terkekeh pelan. Dirinya segera mengambil posisi duduk di kursi yang tertutupi kain putih. Nea yang melihatnya segera memejamkan matanya dan memegang lehernya yang terasa kaku. Derren turut mengambil posisi duduk, tetapi dirinya lebih memilih untuk duduk di lantai.
"Itu, kotor loh," ujar Nea.
"Tau, tapikan gak bisa ngaruh apa-apa ke kita," ujar Ghai.
"Ini bukan bercanda? Gak mungkinkan? Toh lo masih bisa duduk di kursi gitu dan gak nembus. Oh! Dan yang tadi, lo juga bisa buka pintu, kalau lo hantu kenapa gak nembus aja?" tanya Nea.
"Oh, soal pintu karena aku juga masih ngerasa geli setiap ngerasain sensasi nembus bidang kayak gitu. Terus perihal duduk di sini, gampangnya sama kayak kita yang gak nyungsep ke tanah saat nginjak tanah. Kita juga bisa duduk kayak gini," ujar Ghai.
"Gue masih gak bisa percaya," ujar Nea.
"Oke, aku bakal ceritain semuanya. Semua ini berawal dari. Entahlah, kejadiannya udah cukup lama. Pertama kalinya aku terbangun di tempat itu dan semuanya berujung dengan pertemuan aku sama Derren juga suara yang nyapa aku saat bangun," ujar Ghai.
Derren kemudian tersenyum dengan senyuman manis yang mampu meredakan sedikit rasa takut yang dirasakan Nea. Ghai menarik napas panjang.
"Mungkin akan sedikit menakutkan dan terdengar menyedihkan, tapi aku mohon kerja sama kamu dan yang lain untuk Ghai ya," ujar Derren. Jujur, Nea tak paham dengan ucapan Derren sedikitpun. Apa maksud dari 'dan yang lain'? Sungguh Nea ingin kabur saja rasanya. Namun, entah kenapa rasa takut Nea perlahan tergantikan dengan rasa penasaran.
"Akan jadi cerita yang panjang, kalau kamu pulang malam gak kenapa-napa?" tanya Ghai memastikan.
"Iya, gak kenapa-napa," jawab Nea.
"Kamu yakin gak akan nyesel setelah dengar ini?" tanya Ghai.
"Iya," jawab Nea dengan mantap. Nea tidak lagi merasa ragu begitu dirinya menatap lukisan manis karya Tuhan Yang Maha Esa di hadapannya itu.
"Sekali lagi, bukan pertanyaan tapi aku mau sebuah janji. Bisakah kamu berjanji, setelah semua penjelasan dari aku kamu gak akan pergi menjauh?" tanya Ghai dengan tatapan pilu yang menusuk.
"G-gue janji," jawab Nea.
Keadaan hening untuk sesaat, Ghai memejamkan matanya kemudian memberikan senyuman yang selalu Nea tunggu secara diam-diam. Jangan lupakan fakta bahwa Nea masihlah seorang pengagum senyuman manis seorang Ghai.
"Kalau begitu, ceritanya dimulai."
©AksamalpaAksara
__ADS_1