
Denganmu melalui pilu yang lagi-lagi menyiksa, rasanya selalu menyenangkan
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
Nea segera menghapus air matanya yang baru saja terjatuh tadi. Begitu lelaki tersebut menghentikan pertunjukan mininya, Nea segera bersuara. Di gedung seni musik yang sepi dan hanya tersisa mereka berdua Nea berteriak, menghasilkan gema yang terdengar di telinga.
"Hoi! Lo! Iya, lo!" Nea segera menunjuk lelaki yang tengah terkejut sembari menunjuk dirinya sendiri.
"Namanya siapa?! Kenalan yuk!" Nea segera mengulurkan tangannya tanpa raas ragu sedikitpun. Tak kunjung mendapatkan jawaban, Nea berjalan dengan tangan yang masih terulur. Wajahnya berseri begitu ia merasa tugas animasinya akan berubah spektakuler begitu ia bekerjasama dengan lelaki ini. Permainannya, laksamana gula yang melengkapi pahitnya kopi hitam yang menjadi teman keseharian ayahnya.
Anehnya, dengan cepat lelaki itu berdiri dan menghindari Nea. Melalui ekspresinya Nea bisa mengetahui betapa terkejutnya lelaki itu melihat sosok Nea yang mungkin asing di otaknya. Ia kemudian berlari, mencoba bersembunyi dari Nea. Merasa tak mau kehilangan kesempatan emas ini, Nea segera mengejar lelaki tersebut. Menelusuri gedung jurusan seni musik yang tak pernah ia masuki sebelumnya.
"Woi! Tunggu! Aduh, gue udah gak kuat. Udahan dong ah!" Nea berhenti sejenak, tetapi tekadnya terlalu kuat. Nea kembali mengejar lelaki tersebut. Hingga tidak disadari satu persatu lampu mati, pertanda gedung akan ditutup.
"Udahan woi! Mau dikunci lo di gedung ini?!" Nea masih saja berteriak di tengah-tengah lorong yang kini telah ditemukan ujungnya.
Gelap dan sunyi. Ia tidak dapat menemukan di mana sosok yang ia kejar sedari tadi. Seharusnya Nea merasa takut, mengingat Nea adalah seorang perempuan. Pasalnya tempat gelap juga sepi merupakan sebuah pelancar aksi kriminalitas tetapi, Nea tak mengenal rasa takut begitu dirinya dihadapkan dengan tugas-tugas yang ia miliki.
"Duh, gelap banget. Woi! Gue tau lo di sanakan? Jawab gue dong! Lo kenapa kabur sih? Gue-kan cuma mau ngajak kenalan. Gue sebenernya lagi butuh seseorang buat diajak kolaborasi nyusun tugas," terang Nea.
Tak kunjung didapatkan jawaban, Nea memberanikan diri melangkah maju secara perlahan. Ah, benar juga. Flash HP. Kenapa tidak terpikirkan sedari tadi? Nea segera mengambil ponselnya lalu buru-buru mengaktifkan fitur senter yang berasal dari flash kamera ponsel miliknya. Anehnya, Nea tidak melihat seorangpun di ujung lorong sana. Nea kemudian mulai takut.
Ketika jantungnya tengah berdegup dengan kencang seperti saat ini, Nea benci untuk menengok ke belakang. Akhirnya Nea berjalan mundur, masih dengan senter ponselnya yang setia menemani dirinya. Hingga akhirnya sebuah suara muncul.
"Woi!"
Nea merasa terkejut setengah mati. Baru saja ia berpikir untuk menelpon Arka, menyuruhnya untuk menjemput Nea namun, suara itu menghentikan niat Nea. Rasa takut yang sebelumnya ada seolah-olah meluap dengan bebas entah kemana, setidaknya yang ia lihat tadi bukanlah sesosok mahluk yang tidak-tidak.
"Kamu bisa liat aku?" Pertanyaan dari sesosok yang Nea yakini adalah lelaki pemain piano tadi, kembali menimbulkan berbagai prasangka buruk di otaknya yang sudah hilang beberapa saat lalu. Apakah yang ia lihat tadi benar-benar mahluk halus?
"Maksud lo?" tanya Nea ragu-ragu.
"Maksud aku, emang kamu bisa liat aku dengan nyorot cahaya senter kemana aja kayak gitu? Di sini gelapkan?" ujar lelaki itu.
Sekali lagi, Nea menghembuskan napas lega, ia segera membalikkan badannya. Sayangnya, Nea tindakan Nea tak membuahkan hasil. Ah, Nea benci kegelapan. Di saat seperti inilah, berbagai pertanyaan retoris di pikiran Nea akan membludak. Kenapa sih lampu setiap gedung yang tak lagi ramai selalu dimatikan? Ya, mungkin untuk usaha menghemat, tapi bukankah keterlaluan jika tidak menyisakan pencahayaan sedikitpun? Setidaknya jenset? Ayolah, Nea tahu kampusnya ini tidak miskin.
"Lo di mana? Kok gue gak bisa nemuin lo?!" tanya Nea.
"Tiga langkah di depan kamu."
Nea kembali melangkahkan kakinya dalam usaha mendekat, senter ponselnya yang disorot ke arah lantai perlahan berhasil memantulkan cahayanya untuk dapat memasuki retina milik Nea. Sepasang kaki berbalut sepatu pasaran produksi Amerika berwarna hitam tertangkap oleh Nea. Ia kemudian mulai menyorot cahaya yang dipegangnya ke arah tubuh lelaki tersebut hingga berhenti tepat di area wajahnya.
Begitu dilihat dari dekat, lelaki itu ternyata tampan, pikir Nea. Hidungnya yang mancung, manik matanya yang bulat berwarna hazel, tubuhnya yang tinggi, rambutnya yang hitam legam lurus agak ikal, juga kulitnya yang lebih mulus ketimbang Nea, mampu membius gadis berumur 20 tahun itu untuk beberapa saat.
"Silau. Niat buat aku buta ya?" tanya lelaki itu.
Nea segera mengambil 1 langkah mundur lalu menurunkan senter ponselnya. Sepertinya mata Nea mulai beradaptasi melalui gelapnya ruangan ini, jadi Nea rasa sepertinya ia tidak lagi butuh senter dari ponselnya. Setelah mematikan senter ponselnya, Nea segera mencari sosok lelaki yang ada di depannya, memastikan lelaki tersebut masih di sana.
"Anak jurusan musik?" tanya lelaki itu sembari memiringkan kepalanya.
"Ah, bukan. Kalau lo anak jurusan musikkan?" tanya Nea.
"Anak jurusan apa?" Bukannya menjawab, lelaki itu malah kembali bertanya.
"Ah, gue jurusan DKV," jawab Nea dengan senyuman.
"Ngapain tadi ngejar aku? Ada urusan?" tanya lelaki itu lagi.
"Oh, iya! Barangkali lo belum denger. Salam kenal! Nama gue Ladira Raina Anuhea Zu--," belum sempat membereskan perkenalannya lelaki tersebut memotong kalimat Nea.
"Gak usah nama panjang, singkat aja. Panggilan kamu siapa?" tanya lelaki itu dengan nada yang terdengar menyebalkan.
"Dengerin dulu kali?! Nama tuh-kan doa! Gue ulang ya." Lelaki lelaki itu memandang langit-langit gedung sembari memutar bola matanya malas, kedua tangannya ia taruh di saku jaket. Mau tau hal lucunya? Nea merasa familiar dengan tatapan pun jaket milik lelaki itu.
"Nama gue Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya, lo bisa panggil gue dengan sebutan Nea. Seperti yang tadi udah gue bilang, gue anak DKV. Salam kenal!" Nea mengulurkan tangannya, tapi sayangnya tangan itu hanya bercengkrama dengan semilir angin yang sesekali terasa menggelitik sela-sela jarinya.
"Jadi?" tanya lelaki itu.
"Maksudnya?" Nea kembali bertanya. Tak didapatkan jawaban Nea merasa mengerti apa yang lelaki itu mau.
"Ah iya! Gue tadi ngejar-ngejar lo bukan maksud buruk kok. Gue mau ngajak lo kolaborasi, mungkin lo udah denger hal ini dari temen-temen lo yang lain. Jadi, gue gak mau basa-basi. Lo mau gak jadi pengisi soundtrack gue?" ujar Nea.
__ADS_1
"Kamu tersesatkan?" Seolah mengalihkan pertanyaan Nea, lelaki itu segera melangkah melewati Nea.
"Kalau mau bisa keluar ikutin aku," ujar lelaki itu lagi.
"Ih! Jawab dulu pertanyaan gue, lo maukan kolaborasi sama gue? FYI, gue ini anak kesayangan Bu Berta loh! Dosen paling killer dan terkenal pelit kasih abjad A di lembar KHS anak-anak DKV. Terus, kabar-kabarnya beliau ini istri Pak Efran yang mungkin jadi salah satu dosen lo." ujar Nea dengan nada berbisik di akhir kalimatnya.
"Aku balik ke sini buat nganterin kamu balik keluar gedung, bukan buat kolaborasi dan sebagainya. Lagipula aku gak peduli siapa itu Pak Efran dan Bu Berta." jawab lelaki itu.
"Ya ampun! Lo ribet banget ya? Jawab dong! Gue maunya kata iya yang terdengar di telinga gue," ujar Nea.
Maksa banget, keras kepala lagi pikir lelaki itu. Dilihatnya Nea dari atas hingga bawah dengan mata menerawang. Lantas, ia mengulik beberapa berkas yang tersimpan di dalam laci dengan kunci yang hilang di dalam pikirannya. Barangkali ia melupakan kapan dan di mana ia pernah bertemu dengan gadis di hadapannya ini. Segera ia mengalihkan pandangannya ketika manik matanya bertemu dengan manik milik si gadis.
"Ayo, aku anterin ke tempat pertama kamu masuk ke gedung ini," ajak lelaki itu.
"Jawab elah! Lagian apaan banget si lo?! Masih jaman ya ngomong pake aku kamu segala?" tanya Nea.
"Ya terserah aku dong, yang jelas aku udah nawarin buat dianterin balik, yang nolak kamu bukan aku. Jadi, selamat tersesat di laksya tak berujung." Lelaki itu berbalik badan lalu berjalan meninggalkan Nea di belakang.
"Tinggalin aja! Gue gak takut kok! Gue baru mau balik ke aula setelah lo bilang iya untuk pertanyaan gue," ujar Nea.
Sekali lagi lelaki itu dibuat Nea kesal. Terlalu berisik juga memaksakan kehendak, pikirnya. Tak mau berlama-lama mengurusi kehidupan gadis tidak jelas itu, akhirnya ia memilih pergi.
"Terserah, toh yang rugi kamu ini." Lelaki itupun menghilang ditelan pekat pun sunyinya lorong.
Nea pikir gertakannya mampu menahan sepasang kaki berselimut converse tersebut untuk terus melangkah, tetapi ternyata pikirannya salah. Lelaki itu malah meninggalkan Nea sendirian di sana dan tidak kembali lagi.
"Gila ya lo?!!"
Entah tepatnya sudah berapa menit Nea terduduk di sana sembari menangis meminta Arka untuk menjemputnya. Pasalnya ia benar-benar tersesat saat ini. Nea tak ada hentinya menelpon seseorang yang tengah menuju ke gedung seni musik saat ini. Seseorang yang sialnya menjadi objek pelampiasan rasa amarah Nea karena tersesat juga gagal mendapatkan rekan kolaborasi.
Sekitar 10 menit kemudian, Arka datang bersama seorang satpam di sampingnya yang tengah membawa senter. Begitu Nea mendapati sosok Arka, tangisannya semakin menjadi.
"Nah loh neng, makannya kalau ada peraturan itu diikuti. Di situ jelas-jelas sudah tertera, fasilitas gedung ini selalu dihentikan setiap jam 4. Eneng ngapain coba ke sini? Jadi aja-kan," ujar satpam yang menjemputnya bersama Arka.
"Mohon maklum pak. Temen saya yang satu ini emang rada-rada. Maaf ya pak jadi ganggu bapak. Makasih loh pak," ujar Arka.
Kepala Arka menjadi korban atas jitakan yang Nea keluarkan sepenuh tenaga. Tak berhenti di situ, lengan Arka turut menjadi saksi bisu atas pukulan keras dari Nea.
"Lo nyebelin Ka!!" teriak Nea.
"Udah neng, kasian pacarnya dipukulin begitu," ujar pak satpam tersebut.
"BUKAN PACAR!" ujar keduanya spontan secara bersamaan.
"Ogah pak saya harus pacaran sama cewek barbar kayak dia! Wuuiidiii, bisa-bisa saya mati kalau harus hidup bareng dia di atap yang sama," ujar Arka.
"Lagian pak, orang yang dia suka itu bukan saya. Gue juga gak mau kali sama lo! Pede amat lo," ujar Nea.
"Ya sudah ayo kembali keluar. Kalau lama-lama di sini konon bakal dapet sial," ujar pak satpam.
Nea dan Arka bertatapan untuk beberapa detik, kemudian keduanya melangkah pergi untuk meninggalkan gedung ini. Setelah keluar pak satpam undur diri. Tersisalah Nea dan Arka saat ini.
"Nih pake!" Arka melempar kemeja flanelnya pada kepala Nea.
"Apaan nih? Bukannya lo bilang gue gak boleh nyentuh ini? Ini kan bekas dicuci sama Fai," ujar Nea.
"Heh Onta! Jangan kege-eran. Gue juga sebenernya gak ikhlas kasih itu ke lo! Cuma lo harus tau, baju lo basah. Gak enak dipandang sama yang lain. Lagian gue gak mau ya! Gue kena marah sama Bunda Esha," ujar Arka.
"Heh! Ibu gue baik ya ke lo! Udah buru mana laptop gue?" tanya Nea.
"Masih ada di gedung-lah sama Fai," jawab Arka.
"Lah!"
"FAI!! TOLONGIN GUE!!"
Teriakan Arka terdengar mengisi selasar cafetaria dekat gedung jurusannya. Aksi Arka berhasil menarik perhatian teman-teman sejurusannya yang masih betah berlama-lama di sana. Hingga tak lama kemudian Nea datang.
__ADS_1
"SINI LO!" ujar Nea.
Begitu mengetahui alasan di balik Arka yang lari kelabakan adalah Nea, mereka hanya mampu menggelengkan kepala. Pun setelahnya menertawakan Arka yang berlari dengan air muka penuh kecemasan.
"FAI! GUE MAU DIBUNUH!!"
Arka segera berlari ke belakang Fai, bersembunyi di balik tubuh mungil yang tertutupi jaket denim milik Arka. Iya, Arka adalah tipe manusia-manusia yang terjebak dengan etalase bernama ke-estetikaan mahluk jaman now. Menurutnya, mengenakan pun membawa 2 jaket kemanapun terlihat keren. Berhubung alasan terkuatnya adalah gadis yang kini tengah ia jadikan tameng menyukai style seperti itu. Detik berlalu, Fai yang merasa terusik kemudian terbangun.
Kepala yang sebelumnya menunduk, segera terangkat. Dengan rambut yang acak-acakan dan mata yang masih belum bisa terbuka sepenuhnya Fai menatap kedua sahabatnya kebingungan.
Arka menghindar dari Nea, menjadikan tubuh Fai sebagai tameng. Fai yang mulai merasa jengah segera berteriak.
"UDAH WOI!"
Tampaknya teriakan Fai mampu menghentikan aksi keduanya. Nea berdiri tepat di depan Fai sembari berkacak pinggang, sedangkan Arka berdiri tepat di belakang Fai sembari menyilangkan kedua lengannya di depan dada.
"Lo nyebelin Ka!" ujar Nea.
"Heh Onta! Emang lo gak nyebelin?! Syukur-syukur gue masih mau jemput lo!" ujar Arka. Fai yang berada di antara ke-duanya segera memiringkan kepalanya sembari menutup ke-dua telinganya.
"Bilang aja lo ngejemput gue terpaksakan?!" tuduh Nea.
"Gak! Gue gak terpaksa tuh!" ujar Arka.
"Lagian, lo tuh! Udah tau gue pinjemin laptop, bukannya sekalian dibawain. Mending kalau dipake buat nugas! Lo? dipake buat bucin. Kan gua jadi gak bisa lanjutin tugas gua! Lo juga punya laptopkan Ka!" ujar Nea.
"Heh, Nenek Curut! Pikun amat sih! Oma kesayangan gue aja ingetannya lebih bagus dari lo! Laptop gue di service, Nea! Sekarang giliran gue yang nanya. Lo ngapain masuk ke sana? Gak jelas banget sih, jadi aja tersesat terus ngerepotin gue," ujar Arka dengan nada yang terdengar menyebalkan.
"Tuhkan! Lo emang gak ikhlas jemput gue! Lagian masuk kemana sih?!" tanya Nea.
"Ya kemana lagi? Oh iya, gue lupa. Seorang Nea kan orangnya emang gak jelas dari awal nongol ke dunia," ujar Arka.
"ARKA!" teriak Nea.
"SSSTT!! Berisik ih, meuni gak ada berentinya kalian teh. Arka, lo gak mau kalah banget sih dari Nea. Nea, lo juga! Kasian tau Bunda Esha kalau tau anaknya macem gini di luar rumah. Gue buka kedoknya baru tau rasa lo!" ujar Fai.
Arka pun Nea terdiam. Fai kemudian berdiri, memegang tangan keduanya. Lalu disatukannya kedua tangan itu untuk saling bermaafan.
"Udah. Sekarang ikutin gue! Nea, gue minta maaf soalnya udah bikin lo kesel," ujar Fai.
"Eh bentar-bentar! Kok gue deluan??" protes Arka. Fai segera meremas tangan Arka kuat-kuat, membuat si pemilik tangan meringis.
"Mau mati lo?" tanya Fai.
"Ya udah! Nea, maafin gue."
"Nea ikutin kata-kata gue. Iya sama, Nea juga minta maaf. Cepet," ujar Fai.
"Ya. Gue minta maaf juga," ujar Nea setengah ikhlas setengah tidak.
"Udah?" tanya Fai yang berbuah anggukan dari keduanya. Fai kemudian merangkul ke-dua sahabatnya.
"Nah, gini dong."
Selalu begini keseharian mereka. Seorang Nea yang kelewat emosian, seorang Arka yang kelewat jahil pun tak mau kalah, juga seorang Fai yang selalu menjadi penengah terbaik di antara mega mendung dengan mentari fajar yang hangat, setidaknya bagi Fai.
Baik Arka pun Fai sama-sama menyimpan rasa. Entah dari mana asalnya, tetapi Nea bersumpah siapapun pencetus slogan bahwa putus ketika menjalin hubungan atas dasar cinta di antara sepasang sahabat tak akan mengembalikan ikatan persahabatannya yang lalu sebelum datang panah asmara tak kasat mata, akan Nea bunuh. Pasalnya slogan tersebut tertanam secara baik di otak kedua sahabatnya itu.
Entahlah, Nea sudah bosan berperan sebagai mak comblang mereka berdua. Pikirnya, Nea terlalu sibuk mengurusi kisah kasih seseorang padahal, Nea sendiri masih bingung mau menaruh hati pada siapa.
Ini kisah Nea, seseorang yang mungkin mulai membuka relung hatinya. Membiarkan dirinya terjatuh untuk seseorang yang masih dipertanyakan sampai saat ini keberadaannya.
Ini kisah Nea, seseorang yang bertemu dengan lelaki berparas tampan yang memiliki segudang bakat pun hal-hal manis yang hanya dimiliki oleh lelaki itu seorang. Seorang lelaki yang mampu mengubah diri Nea secara perlahan menjadi lebih baik.
Akhir kata, selamat menikmati kisah kasih Nea yang penuh misteri.
__ADS_1
©AksamalpaAksara