
"Sejauh apa yang lo inget?" tanya Nea.
"Gak banyak. Nama, cahaya, teriakan anak cowo sama banyak orang, suara dari rem mobil?" jawab Ghai.
Nea segera berspekulasi, menurutnya Ghai mungkin saja mengalami kecelakaan mobil. Tak lama kemudian Nea segera membuka ponselnya lalu mencari kasus kecelakaan mobil, siapa tahu Ghai adalah salah satu topik dari berita itu, walau Nea berharap tidak ada nama Ghai tercantum di sana.
"Ada apa? Ketemu gak?" tanya Derren.
"Gak, bentar dulu kali." ujar Nea.
Layar pencarian menampakkan banyak berita mengenai kecelakaan lalu lintas bertema tabrak lari. Nyatanya Nea merasa takut untuk membuka satu persatu web yang ada di daring pencariannya. Nea beberapa kali merasa ragu namun tetap membuka semuanya satu persatu.
"Bentar deh Gha, nama panjang lo siapa? Lupa gue," ujar Nea.
"Parah lo Ya, masa lupa nama panjang Ghai? Ghai aja hapal nama panjang lo," ujar Derren.
"Masa sih? Nama panjang gue apaan emang Gha?" tanya Nea,
"*Lah*situ lupa?" tanya Ghai.
"Kan mau ngetes," jawab Nea dengan kekehan.
"Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya," jawab Ghai dengan senyuman diakhir.
Entah mengapa Nea tersipu, mungkin sudah saatnya Nea tak lagi membohongi hati. Akan diakui olehnya mulai saat ini bahwa dirinya telah terjatuh untuk Ghai. Sedih memang, kenapa di antara ratusan bahkan ribuan manusia yang ada di muka bumi ini Nea malah terjatuh untuk sesosok hantu seperti Ghai.
"Tuh-kan! Jahat banget lo Ya," ujar Derren.
"Yak maap, kan gue orangnya pelupa. Udah-udah mending kita lanjut pencarian ini dulu," ujar Nea.
"Satu clue dari gue, cari tau masa lalu lo Nea," ujar Derren tiba-tiba.
"Masa lalu?" tanya Nea.
Ghai menoleh menatap Derren dengan penuh rasa heran. Ghai kemudian menatap Nea tak lama setelah mendapatkan respon gugup dari Derren. Pasalnya tiap kali Ghai meminta sebuah petunjuk mengenai masa lalunya Derren selalu menghindar. Oke, Ghai tidak akan meributkannya, tapi kini Ghai yakin, Derren adalah seseorang dari masa lalunya.
"Ada banyak hal yang lo lupain. Coba ingat itu," ujar Derren.
"Maksud lo gue kenal Ghai sebelum ini?" tanya Nea.
"Bukan gitu maksud gue. Pokoknya nurut aja sama yang gue katain," ujar Derren.
"Masa lalu gue ya? Hmm, masa lalu gue gak ada yang spesial Der. Sahabat gue itu-itu doang, Arka sama Fai. Ah! Yaza juga dulu temenan deket sama gue, cuma ya gitu. Pergaulan buat gue sama Yaza menjauh," ujar Nea.
"Yakin karena pergaulan?" tanya Derren.
"Kamu apaan sih Der? Kalau mau kasih tau jangan tanggung-tanggung," protes Ghai.
Derren berdecak sebagai jawaban. Sesuatu yang tak dapat Derren katakan sudah cukup membuat Derren frustasi, terlebih lagi tatapan seseorang dari lorong yang menusuk terus membuat Derren merasa terbebani.
"Coba cari di internet tentang kecelakaan mobil baru-baru ini," perintah Derren pada Nea.
"Udah gue cari, tapi gak ada hasil apapun yang berkaitan sama mahasiswa jadi korban," ujar Nea.
"Mana, coba aku mau liat," ujar Ghai yang segera mendekat kepada Nea.
Lucunya, Nea mampu merasakan kehadiran Ghai. Dirinya dengan segera menghindar, lalu mencari sosok Ghai yang mungkin tengah berada di hadapannya.
"Lo di mana? Gue ngerasa gak enak nih, tiba-tiba ada rasa dingin di deket leher gue," ujar Nea gelagapan.
"Di sini," jawab Ghai.
"U-udah dulu ah, pencariannya sampai di sini," ujar Nea.
Ghai kemudian terkekeh pelan, dirinya pergi menjauh untuk mengambil posisi duduk di kursi piano. Derren kembali menatap ke arah lorong, seseorang di sana sudah pergi. Nea yang menatap gelagat Derren segera bertanya.
"Lo liat apaan sih? Jangan bilang ada seseorang lagi di sini," tanya Nea.
"Gak kok. Lagian lo niat bantu apa kagak sih?" tanya Derren.
"Niat kok!" jawab Nea.
"Kok bentar amat penyelidikannya?" tanya Derren.
"Bentar darimana?! Liat udah jam berapa sekarang," ujar Nea.
"Lah, udah berapa jam coba kita cari tahu hal ini?" tanya Derren.
"Ghai mana?" tanya Nea.
"Anaknya lagi duduk di kursi piano," jawab Derren.
Nea-pun menoleh melihat ke arah kursi piano, kemudian berdiri untuk menghampiri Ghai. Sudah berancang-ancang akan duduk di sampingnya tiba-tiba saja suara Ghai terdengar.
"E-eh, bentar," ujar Ghai.
__ADS_1
Nea kemudian menengok kanan kiri, mencoba mencari sosok Ghai. Di sisi lain Ghai tengah tersipu malu, pipinya memerah. Faktanya tadi Nea hampir saja menempatkan tubuhnya di atas Ghai, tak berlama-lama dirinya segera berdiri dari kursi. Derren yang melihatnya terkekeh kemudian beranjak pergi tak ingin mengusik momen reuni manis keduanya, lagipula dirinya harus mencari sosok tadi
"Eh, kenapa?" tanya Nea.
"G-gak, duduk aja," ujar Ghai.
"Lo di mana sih?" tanya Nea.
"Samping kiri kamu, lagi berdiri," jawab Ghai.
"Loh, kok berdiri?" tanya Nea.
"Gak apa-apa," jawab Ghai singkat sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Ngomong-ngomong ngapain kamu duduk di situ?" tanya Ghai.
"Oh, gak apa-apa. Emang gak boleh?" tanya Nea.
"B-boleh sih," jawab Ghai.
Nea menepuk-nepuk kursi di sebelahnya, menyuruh Ghai untuk duduk. Ghai kemudian melangkah maju untuk mengambil posisi duduk bersebelahan dengan Nea.
"Sini, ajarin gue main piano," ujar Nea.
"Kok tiba-tiba?" tanya Ghai.
"Gak tau gue juga, pengen aja tiba-tiba bisa main piano setelah ngeliat lo main," ujar Nea.
"Mau main lagu apa?" tanya Ghai.
"Lo main klasikan ya?" tanya Nea.
"Klasik main, pop main, jazz main," ujar Ghai.
"Sumpah?! Biasanya pemain piano cuma ikut 1 aliran musik aja loh!" ujar Nea.
"Banyak kok yang main aliran musik di piano lebih dari satu. Cuma karena penghayatan aku mungkin? Makannya aku di cap sehebat itu, padahal mah sebenernya biasa aja gak sih?" jawab Ghai.
"Merendah untuk meroket lo bisa juga. Cap hebat deh lo! Hahahaha," jawab Nea.
"Eh serius," jawab Ghai sembari tertawa pelan.
"Ambil yang paling lo dalami aja deh," ujar Nea.
"Klasik," jawab Ghai.
"Oh iya? Apa judulnya?" tanya Ghai.
"Pathetique Sonata 2nd karyanya Beethoven kalau gak salah," ujar Nea.
"Oh, oke. Kamu main kiri? Masih inget gak?" tanya Ghai.
"Sepertinya tidak, sepertinya iya," jawab Nea.
"Ngaco, hahaha. Biarin aja jari kamu main, nanti ingat sendiri," ujar Ghai.
"Oke deh," jawab Nea.
"Kalau gitu berdiri dulu," ujar Ghai.
"Lah, ngapain?" tanya Nea.
"Kamu-kan main tangan kiri, aku tangan kanan. Otomatis posisi kita ketuker dong," ujar Ghai.
"Oh iya. Gak usah berdiri juga gak apa-apa kali," ujar Nea.
Nea kemudian menggeser pantatnya ke sisi kiri dan Ghai cepat-cepat berdiri. Ghai yang terkejut segera memegang dadanya, sedangkan Nea tersenyum lebar sembari menengok ke arah kanan-nya, padahal Ghai masih berada di sebelah kirinya.
"Udah siap?" tanya Nea.
"Haduh, untung aja kamu perempuan" ujar Ghai yang kemudian berjalan dan segera duduk di sebelah kanan Nea.
"Bukannya udah dibilang jangan ikut campur? Sepertinya kamu memang tipe yang tidak belajar dari kesalahan ya?"
"Lucu ya? Seseorang yang dulu mengikat persahabatan bisa semudah itu jadi musuh di masa depan," ujar Derren dengan senyuman miris.
"Ayolah, semakin kamu ikut campur, semakin terpuruk mereka. Aku juga mencoba menyelamatkan mereka asal kau tau."
"Terus kenapa harus berbelit-belit seperti ini caranya? Katanya mau menyelamatkan ke-duanya?" ujar Derren dengan nada marah.
"Bukannya dia sudah bilang? Ini jalan yang dipilih Ghai. Aku bukan pengabul dan jawaban dari segala masalah, aku hanya jalan yang diberikan oleh-Nya untuk Ghai."
"Berhenti, mendengar omong kosong dari mulutmu buat pengen muntah," ujar Derren.
__ADS_1
"Kita sudah sama-sama dewasa dan bukan hantu kecil lagi, harusnya kita sudah belajar dan mengerti cara untuk tidak ikut campur bukan?" Derren menatap sosok itu penuh amarah. Di sisi lain sosok itu tersenyum menang.
"Salah, kita sama-sama masih bocah. Sifat kamu dan sifat aku, gak pernah berubah dari dulu."
Sosok itu kehilangan senyumnya, matanya menatap Derren. Derren yang sudah siap meninggalkan ruangan berhenti ketika berada tepat di depan pintu.
"Karena itu, aku akan terus ikut campur." Derren meninggalkan sosok itu di belakang setelah berbicara.
"Aku sudah bilang jadi, lihat saja hasil dari kebodohanmu."
"DERREN!!!"
Ghai menaruh jari jemarinya ke atas tuts piano, begitu pula dengan Nea. Ke-duanya sudah siap memainkan alunan musik dengan judul Pathetique Sonata 2nd. Belum juga memulai permainan, lagi-lagi Ghai merasa dirinya ditarik ke belakang.
Ruangan aula gedung jurusan seni musik berubah menjadi sebuah ruangan dengan nuansa putih, dirinya tengah berdiri menatap sepasang anak kecil dengan kaki menggantung tengah terduduk di kursi piano. Ke duanya tengah tersenyum sembari memainkan piano. Dilihatnya si anak perempuan yang salah memilih nada, permainan berhenti lalu si anak laki-laki mengetuk dahi si anak perempuan sembari memarahinya.
Tak lama kemudian Ghai kembali dalam posisi meringkuk di lantai. Hanya terdengar erangan bagi Nea, dirinya terlihat panik mencari sosok Ghai. Merasa tak bisa membantu apa-apa, Nea segera berteriak memanggil Derren.
"DERREN!"
"Ya?" Derren terkesiap melihat Ghai yang terbaring lemah di lantai.
"Gha!"
Tak lama setelahnya Nea merasa pusing, beberapa kali Nea menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa pusing yang hadir sesaat. Setelah dirasanya hilang Nea segera berlari menghampiri Derren.
"Ghai-nya lo gak kenapa-napa?" tanya Nea.
"Gha, tarik napas pelan-pelan. Kontrol emosi," ujar Derren.
Suara Derren dan Nea terdengar mengecil. Ghai lagi-lagi ditarik ke sebuah bukit yang dipenuhi bunga, tangan kecil itu terulur untuk Ghai. Ghai meraihnya, lalu ia berdiri dengan bantuan tarikan si pemilik lengan kecil itu.
"Ghai, ayo ke sana. Mama manggil, katanya makan."
Ghai menurut, dirinya berjalan dengan tuntunan dari gadis kecil dengan senyuman manis yang wajahnya masih terlihat samar. Ghai kemudian melihat sebuah teras, di sana ada 4 orang sudah berumur yang bisa Ghai tebak sebagai ke-dua orangtuanya dan gadis itu.
"Ghai dan Nea sudah puas mainnya? Makan dulu ya. Aduh, itu kalung dari Ghai dipakai terus."
"Udah aku bilangkan, Ghai sama Nea dijodohin aja nanti pas udah gede."
"Heh, enak aja. Anakku harus milih pujaan hatinya sendiri nanti. Syukur-syukur kalau memang Nea jodohnya. Nanti kita besan, hahaha."
Ghai terkejut, dirinya baru sadar gadis kecil yang sedari tadi menggenggam hangat tangannya sembari menatap bingung pada ke-4 sosok berumur yang tengah berbincang hangat adalah sosok Nea kecil. Perlahan wajah gadis cilik itu semakin jelas terlihat.
"Ghai, kamu gak apa-apa? Mama! Ghai mimisan!!"
Kepala Ghai berdengung hingga akhirnya, ia kembali.
Nea memandang Derren dan lantai silih bergantian. Merasa kesal mengenai Ghai yang tak kunjung terlihat. Nea menggapai-gapai secara asal dan berhenti menyentuh pergelangan tangan Ghai.
"Gha, tenang ada gue sama Derren di sini," ujar Nea.
Ghai secara perlahan membaik, sakit yang baru saja menghampiri dada-nya telah menghilang. Napasnya terengah-engah. Dirinya menatap sendu tangan Nea juga dirinya yang tidak bisa dikatakan berpegangan juga tidak berpegangan. Ghai-pun akhirnya menarik tangan dirinya dari sentuhan tangan Nea.
"Maaf ngagetin. Padahal tadi mau main piano," ujar Ghai.
"Yang penting lo gak kenapa-napa dulu," ujar Nea yang berbicara namun tidak menatap Ghai karena salah arah.
"Lo mandang kaki Ghai Ne, orangnya ada di sini," ujar Derren.
"Oh, maaf. Gue ulangi, yang penting lo gak kenapa-napa dulu," ujar Nea.
Ghai terkekeh pelan menatap Nea, Derren kemudian tersenyum setelah memastikan Ghai sudah membaik. Tak lama kemudian Ghai berdiri dibantu oleh Derren.
"Ternyata karena itu," ujar Ghai tiba-tiba sembari menatap Nea.
"Kenapa?" tanya Nea.
"Kamu masih punya kalung itu?" tanya Ghai.
"Apa maksudnya?" tanya Nea.
Ghai kemudian menatap kalung yang memeluk manis leher Nea, bentuknya sama persis seperti yang dilihatnya di alam bawah sadar sebelumnya. Kalung kayu dengan perpaduan resin berwarna biru terang berbentuk kunci kecil mengalung di leher Nea. Dirinya tersenyum lalu menatap Nea.
"Nea, ini aku Ghai."
__ADS_1
©AksamalpaAksara