
Ghai terbangun, di sebuah tempat antah berantah dengan pemandangan pohon pinus di sekitarnya. Ghai berjalan, kemudian mencari tahu tempat apa ini sebenarnya. Tiba-tiba saja sekelebat bayangan hitam lewat dan tergambar secara rancu di manik hazel miliknya.
"Siapa di sana?"
Tak kunjung mendapatkan jawaban, Ghai memilih untuk mengejar bayangan itu. Langkahnya terhenti ketika mendengar suara anak lelaki bersuara, tidak jauh dari tempatnya. Ghai menghampiri sumber suara dan tentunya dengan cara mengendap-endap.
"Kamu lagi?"
Ghai menerawang. Netranya menangkap seorang anak kecil tengah memunggungi Ghai dan berbicara sendirian. Ghai lantas penasaran. Apa itu bagian dari masa lalunya juga? Siapa gerangan anak lelaki itu.
"Kenapa main di sini tanpa alas kaki?"
Pandangan Ghai mengikuti arah pembicaraan anak lelaki itu. Tapi garis bawahi! Hanya melihat tanah yang sama-sama dituju oleh anak kecil itu.
"Sudah ku duga, makannya aku datang ke sini dan membawa ini."
Anak lelaki itu kemudian mengeluarkan sandal berukuran kecil dari balik cardigan rajut miliknya. Tak lama kemudian anak lelaki itu mengulurkan tangannya.
"Aku Ghai, ayo berteman. Kamu siapa?"
Ghai terkejut, tiba-tiba dirinya kembali ditarik ke sebuah ingatan lainnya, di sebuah tempat yang berbeda dari sebelumnya ia berpijak. Jika yang sebelumnya merupakan sebuah tempat dengan pelukan pohon pinus di sekelilingnya, kini tempat itu hanya berisikan ilalang-ilalang liar yang tampak seperti kehilangan warna tetapi tetap cantik, Ghai akui itu.
"Ghai, jangan berteman lagi sama dia."
Ghai kemudian menatap ke-dua anak lelaki yang kini tengah berbincang. Ghai bisa menerka umur ke-2 nya dari perawakan yang terlihat. Kira-kira umur 7 tahun.
"Kenapa emangnya? Kan kasihan gak ada yang mau temenan sama dia."
"Masalahnya dia parasit. Kalau terus bersama kamu bisa dirugikan. Kata-kata Derren waktu itu benar."
Ghai cukup terkejut mendengar ucapan lawan bicara dirinya sewaktu itu. Bisa Ghai akui, pasti anak itu cerdas. Ghai kecil kemudian memukul anak lelaki lawan bicaranya dengan ilalang yang dia gunting.
"Yaza jahat. Gak boleh gitu."
"Aku gak bohong. Ayo berhenti, jangan main lagi sama dia. Buktinya udah banyak Ghai, kalau kamu menyangkal bodoh namanya."
Lagi, Ghai ditarik ke sebuah kenangan lainnya. Sudah yang ke-3 kalinya dia melompat ke potongan puzzle miliknya yang kini malah semakin menimbulkan banyak pertanyaan di benaknya.
"Ghai! Kamu apakan Renren?!"
Ghai kecil terperanjat kaget. Dirinya takut bukan main, sedangkan di saat yang bersamaan Ghai yang tengah menggali rahasia dirinya terkejut melihat seorang anak perempuan kecil tergeletak lemah. Ghai yakini perempuan kecil itu baru saja pingsan.
"Maaf tante, tapi bukan Ghai pelakunya."
"Iya! Bukan Ghai pelakunya, anak itu yang melakukannya!" anak kecil yang sebelumnya sama-sama berada di tempat penuh ilalang itu angkat bicara sembari menunjuk sesuatu.
"Kalian ini apa-apaan sih?"
"Ghai gak jahat tante, Nea sama Yaza bisa jamin. Itu bukan Ghai, Renren yang jatuh ke kolam itu sendiri." Ghai terkejut lagi, Nea tiba-tiba muncul di sana.
Siapa sebenarnya Yaza ini? Ghai kebingungan bukan main, hingga tiba-tiba suara yang ia kenal dengan baik terdengar. Itu Derren, iya tidak salah lagi. Dia Derren si hantu kecil yang menemaninya selama ini.
"Ghai, berhenti. Jangan berbohong terus, kamu penyebabnya. Semuanya gara-gara kamu yang masih berteman sama mahluk itu."
Ghai tersentak, ia kembali ditarik ke tempat lain. Kini dirinya berdiri menatap pemandangan yang sama dan sudah dia lihat sebelumnya. Pemandangan dimana dirinya tengah bermain piano bersama seorang gadis cilik.
"Ghai! Dia cari kamu, katanya kenapa berhenti main? Kamu berusaha menjauhinya?" anak bernama Yaza itu menghentikan permainannya.
"Kata kamu aku harus, aku rasa itu jalan terbaik?"
"Kalian ngomongin apa sih? Nea gak ngerti."
__ADS_1
"Nea, pergi main dulu sama Arka sama Fai dong. Yaza mau bicara sama Ghai."
Demi tuhan, pemikiran Ghai kini dipenuhi dengan kalimat 'Aku waktu kecil udah tingkah sok dewasa aja'. Memang benar, selama memori itu diputar Ghai beserta orang-orang di dalam memorinya bertingkah layaknya orang dewasa saja, penuh misteri dan terkesan aneh bagi ukuran anak-anak kisaran 7 tahun.
"Aku udah bilang, makannya jangan pernah sahut mereka kalau gak sengaja ketemu."
"Aku gak ngerti kenapa Yaza jahat banget sama mereka."
"Aku gak akan jahat sama mereka kalau mereka juga gak jahat sama kita Ghai."
"Nea gak ngerti, Yaza jahat ke siapa?"
Tiba-tiba Derren muncul, ia berlari kecil sembari menudingkan tongkat kayu ke arah Ghai. Ghai terkejut melihatnya, Ghai besar maupun Ghai kecil, Yaza bocah kecil itu segera berjalan ke arah Derren dan menurunkan tongkatnya.
"Jangan begitu, Ghai juga korban."
"Serius deh! Dari tadi Nea bicara gak didengar, kalian ributin apaan?"
"Teman baru Ghai." jawab Derren.
"Ghai punya teman baru? Siapa? Kok gak kenalin ke Nea, Arka, Fai sama Balqis?"
Arka dan Balqis? Siapa lagi mereka? Teruntuk Fai, kalau tidak salah Ghai rasa pernah ia dengar namanya dari Nea. Sudah cukup bagi Ghai yang baru saja menemukan fakta bahwa Derren dan dirinya ternyata teman masa kecil. Kini muncul lagi 5 orang yang bahkan tak pernah ada sebelumnya di ingatan Ghai. Ah, jika dirinya tidak salah berarti 6 orang yang bahkan eksistensinya masih dipertanyakan.
Kepala Ghai rasanya seperti berputar. Dirinya kemudian memegang kepalanya, mulai meremat rambutnya untuk menghilangkan rasa sakit yang tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan. Hingga tiba-tiba sebuah suara terdengar menyapa, dan Ghai mengenal siapa pemilik suara itu dengan baik.
"Sudah ingat aku?"
"Derren?! Kok lo bisa--." Nea terkejut bukan main. Pasalnya ini pagi menuju ke siang hari, Derren tidak bisa terkena cahaya matahari. Bahaya baginya.
"Sebelum teriknya makin terasa menyengat ayo ikut aku." Derren memutus perkataan Nea.
Derren tampaknya membawa Nea beserta yang lainnya ke sebuah tempat dengan cahaya matahari yang minim. Sebuah cafe dengan latar belakang yang bisa dibilang... biasa saja, ayolah jangan berpikiran buruk. Bagaimanapun Derren masih bocah ketika dirinya pergi, pikirannya masih polos, halus, dan belum tersentuh dengan gelapnya fakta dunia.
"Hai Yaza, Hai Balqis. Maaf butuh waktu lama untuk menyapa." Derren menundukkan kepalanya.
Tampaknya Arka dan Fai masih belum menyadari keanehannya di sini. Derren menggunakan perawakan semasa kecilnya, di mana artinya tubuh juga wajahnya tergambar persis seperti foto di album yang mereka lihat kemarin hari. Harusnya hal ini sudah cukup membuat ke-duanya terheran-heran, benar bukan? Tapi, bukan Arka dan Fai namanya jika mereka menyadari keanehan ini dari awal mula.
"Derren, lama gak ketemu ya?" jawab Balqis, sedangkan Yaza kini tengah memandang Derren dengan perasaan campur aduk.
"Lo, siapa? Bocah ikut nimbrung," ujar Arka tiba-tiba.
"Lo nyesel Ka begitu tahu dia siapa," ujar Yaza kepada Arka dengan nada yang terdengar pedas.
Derren terkekeh pelan mendengarnya. Yaza dan Arka masih sama, ke-duanya musuh bebuyutan sejati sedari kecil. Yaza dengan identitas penghujat dan Arka dengan identitas yang tersakiti.
"Kalian masih sama, gak berubah dari dulu," ujar Derren tiba-tiba.
Nea menghela napas frustasi. Apa lagi ini? Berarti ke-6 orang yang kini tengah berkumpul di sini saling mengenal sebelumnya? Ayolah berhenti bermain teka-teki, Nea jenuh.
"Tampaknya cuma kita ber-3 yang gak ngerti situasi di sini." Fai akhirnya angkat bicara setelah sedari tadi hanya menyimak dan berpikir keras.
"Kalian gak sadar? Foto di album Nea, itu diambil sekitar hampir 13 tahun yang lalu," ujar Derren.
"Ya terus?" benarkan, Arka dan Fai masih belum menyadari keanehannya bahkan setelah dikatakan secara terang-terangan oleh Derren seperti tadi.
"Apa gak aneh liat anak kecil yang gak tumbuh kayak kalian? Padahal harusnya aku tumbuh besar kayak kalian," terang Derren.
Nea tiba-tiba saja tersadar, Derren menggunakan aku-kamu sedari tadi. Tampaknya ia gugup saat ini, bahkan Nea sadari seseorang pemegang kunci puzzle pun tengah gugup setengah mati di momen ini.
__ADS_1
Mendengar penuturan Derren, Arka juga Fai merinding. Mereka mulai terlihat gelisah, hingga akhirnya Arka melihat ke arah kaki Derren dan tentu saja hal itu berhasil membuat dirinya terlonjak kaget dan hampir terjungkal. Kaki Derren nyaris tak nampak secara kasat mata. Fai yang melihatnya sama-sama terkejut bukan main.
"Ha-hantu!!" teriak Fai histeris.
Jujur saja, reaksi Nea mungkin akan sama seperti Arka dan Fai jika dia baru mengetahuinya detik itu. Balqis berhasil mengeluarkan senyumannya setelah dari tadi setia memasang muka lelah, berbeda dengan Yaza yang masih berkutat dengan rasa gelisah di benaknya.
"Apalagi maunya kali ini? Gak cukup dengan Renren waktu itu?" tanya Yaza dengan nada yang terdengar lelah.
Derren tersentak. Sumpah demi apapun, Nea sudah tidak tahan lagi dengan semua teka-teki ini. Renren? Siapa lagi dia?! Seolah-olah Yaza dan Derren bermain teka-teki yang hanya mereka berdua mengerti, ralat ditambah Balqis.
"Yaza..." Balqis menggeleng pelan.
"Gak cukup dengan ngerenggut 2 sahabat gue?! Sekarang mau ditambah Ghai juga?!!" teriak Yaza yang tiba-tiba saja lepas kendali.
"Ghai?!" Nea segera menoleh menatap Yaza yang kini tengah bertatapan dengan Derren.
"Za, lo kenal Ghai?!" Nea segera menggenggam erat pergelangan tangan Yaza.
"Guys, bentar. Otak gue gak setinggi itu untuk memahami situasi kali ini. Tolong jelasin pelan-pelan," pinta Arka.
"Ghai? Ghai anak jurusan seni musik itu? Orang yang kolaborasi sama lo Ne??!" tanya Fai.
"Kita ada hubungan apa sih?! Kenapa seolah-olah semuanya jadi makin rumit di mata gue? Nea, tolong jawab!" ujar Arka yang menuntut penjelasan.
Kepala Nea serasa sudah mau pecah saja. Nea dihujani banyak pertanyaan oleh ke-2 sahabatnya itu, Arka dan Fai, dengan ekspresi penuh kecewa.
"BENTAR! GUE JUGA GAK NGERTI!" teriak Nea tiba-tiba. Hal ini mampu membuat ke-4 orang ditambah 1 hantu di sana terkejut dan terbungkam.
"Gue mau lo jelasin semuanya sekarang," ancam Nea kepada 3 orang yang tempaknya mengetahui sesuatu.
"Kita, gak bisa ikut campur. Itu peraturan mainnya," jawab Derren.
"TERUS MAU LO SEMUA APA *****, LO MAU BUAT GUE DEPRESI DI AKHIR GARA-GARA HAL GAK JELAS INI?!" tanya Nea yang sudah habis kesabarannya.
"Gak gitu Nea, kita mau bantu. Tapi, dia bos-nya... Kita gak mau siapapun terluka lagi karena aksi bodoh kita kemarin hari," jawab Yaza kali ini.
"Terus mau lo gimana? Gue gak bisa mecahin teka-tekinya kalau gak ada yang kasih clue ****," ujar Nea.
"Sebagai ganti dari campur tangan kita. Kita cuma bisa nuntun kamu buat *nemu *clue lainnya. Aku cuma mau kamu tahu, mulai saat ini aku beserta Yaza dan Derren pemandu jalannya. Di akhir tetep harus kamu yang pecahin, dan untuk kalian berdua. Maaf, tapi kita juga cuma bisa bantu kalian berdua untuk ingat lagi, karena sebenarnya ingatan kita juga gak seutuh itu," ujar Balqis panjang lebar.
"Jadi kunci untuk jawaban itu semua ada di gue?" tanya Nea masih dengan emosinya.
"Terus peranan kita apaan di sini?" tanya Arka emosi, merujuk pada dirinya dan Fai.
"Kalian pemegang kunci pentingnya. Sekali lagi aku, Yaza, dan Derren cuma pemandu yang gak berhak ikut campur di sini."
"Brengsek kalian semua. Terserahlah, gue mundur."
Arka beranjak pergi, ia merasa dikhianati oleh Nea yang diam saja. Apa kepercayaan Nea pada dirinya hanya sebatas itu? Bukan, Arka bukan marah karena memiliki semacam perasaan suka ataupun cinta pada Nea. Tapi pikirnya bukankah mereka sahabat? Kenapa Nea ragu untuk bercerita hal seperti itu, yang gilanya ternyata Arka sendiri masuk ke dalamnya.
Berbeda dengan Fai. Fai memang marah, tapi dirinya tau Nea pasti punya alasan di balik itu semua. Walau begitu, Fai masih ingin membantu Nea memecahkan misterinya. Terlebih lagi Fai memang sudah merasa kehilangan sesuatu yang entah apa itu sedari lama. Mungkin saja Fai mendapat jawabannya kali ini.
"Gue kecewa sama lo Ya. Kita bicarain lagi nanti, sekarang biar gue yang kejar Arka." Fai berlalu pergi. Menyisakan Nea, Yaza, Balqis, dan Derren di sana.
"Maaf, semua ini karena aku."
__ADS_1
©AksamalpaAksara