
Mengenai memori relung hati yang entah bertualang ke mana
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
"Oke. Ghai? Dipanggil?" Nea bertanya mengenai sesuatu hal yang sudah pasti.
"Ghai... Emangnya mau dipanggil apalagi coba?" Ghai merasa bodoh begitu menyadari bahwa dirinya menjawab sebuah pertanyaan retoris yang keluar dari mulur gadis di hadapannya ini.
"Oh oke. Ayo tetapin harinya, lo bisa kapan aja?" Nea bertepuk tangan, antusias. Tak lama kemudian Nea menunjuk Ghai dengan jari telunjuknya.
"Sebentar, emangnya aku udah bilang mau collab? Belumkan." Ghai kemudian menggelengkan kepalanya.
"Loh? terus perkenalan tadi buat apa?" Nea kembali pada posisi semula, dengan tangan yang bertengger di samping pinggang, Nea kemudian menghentakan kakinya.
"Kamu nanya nama aku-kan? Makannya aku perkenalin diri. Lagian aku juga gak pernah bilang mau kerjasama kok," jawab Ghai dengan nada santai sembari menengadahkan ke-dua telapak tangannya.
"Oh, come on!! Susah amat ngebantu orang lain. Lagipula ini buat lo juga-kan? Lo bilang lo anak jurusan seni musik yang sama-sama dapet tugas untuk kolaborasi sama jurusan gue, berarti lagu lo bisa kebantu sama animasi gue, di mana artinya mv-nya bakal lebih menarik kalau lo collab sama anak jurusan DKV kayak gue," jelas Nea panjang lebar.
"Emang kapan aku bilang semua yang kamu bilang?" Ghai terlihat terkejut begitu mendengar pernyataan dari Nea.
"Lah, lo kan tadi lo yang bilang sendiri. Lo ganteng-ganteng oon ya?" sindir Nea.
Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar dari dalam pikiran Ghai. Mengisi pikirannya, membuat si pemilik senyuman manis itu segera menoleh ke arah lorong gelap di sebelah kirinya.
'Ck, udah terima ajalah.. siapa tau dia orangnya-kan? Orang yang di bilang sama Si "Kampret" itu..'
Ghai yang sedari tadi nampak sibuk memerhatikan lorong gelap, mengabaikan semua umpatan yang Nea ucapkan. Tak lama kemudian, Ghai malah sibuk berdebat dengan suara yang berada di dalam pikirannya, tenggelam dalam telepati bersama seseorang yang sedari tadi ia cari sosoknya secara diam-diam.
*'Dia? Gak mungkin. Aku sendiri sadar kalau aku gak suka sama cewek kasar. Di mana artinya itu juga berlaku sama diri aku yang dulu.*'
"Woy! Lo malah sibuk sendiri. Kacang mahal ya maaf!" ujar Nea sembari memutar bola matanya, l-a-g-i.
Ghai kemudian melirik Nea sejenak, tak lama kemudian ia kembali bergelut dengan pikirannya. Nea yang semakin merasa jengkel kembali menghentakkan kakinya berulang kali.
"Hallo?! Lawan bicara lo ada di sini. Liat kemana sih lo? Ini kesempatan terakhir lo ya, setelah ini gak akan ada lagi kesempatan ke-tiga." Peringatan dari Nea tampaknya berhasil menarik perhatian Ghai.
"Kenapa?" tanya Ghai.
"Karena gue udah kasih kesempatan ke-dua buat lo. Gak sadar?" tanya Nea.
"Oh," ujar Ghai sembari mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh?!! Lo ini manusia apa robot sih?! Kaku amat," ujar Nea.
"Gak tau," jawab Ghai.
"Gue tanya nih ya, untuk yang terakhir kalinya. Mau gak collab sama gue?" tanya Nea.
"Udah berapa lama kamu berdiri di depan sana?" tanya Ghai.
"Hah? Kok out of topic sih? Lo ganteng-ganteng suka ngelantur ya?" ledek Nea.
"Jawab atau aku gak ikut. Itu salah satu penentu aku mau atau gak nya collab sama kamu. Jawabnya yang jujur ya," peringat Ghai.
Nea menatap Ghai dengan tatapan menyelidik. Menunggu penjelasan lebih lanjut dari anak semesta bernama Ghai ini sepertinya tidak akan pernah digubris olehnya. Akhirnya Nea pun bertanya.
__ADS_1
"Beneran nih?" tanya Nea.
"Ya udah." Ghai kemudian tampak siap pergi dari tempat itu..
"Eh! Tunggu dulu. Oke kalau gitu, tadi gue sehabis pulang neduh bentar di sini karena hujan. Terus kalau gak salah, gue nyampe sini sekitar jam 3.50 lebih-an?" Nea berhenti sejenak untuk mengingat kapan tepatnya ia menginjakkan kaki di area ini. Tampak menemukan titik terang, Nea menepuk tangannya cukup keras setelah berhasil mengingat pukul berapa ia sampai di depan gedung jurusan seni musik itu.
"Oh, gue inget. Jam 3.59 gue berdiri di luar situ. Terus gue dengerin lo main deh," ujar Nea.
"Selama 1 menit ke jam 4, apa kamu denger suara permainan piano aku?" tanya Ghai.
"Lo mau ngecek gue jujur apa bohong ya? Se-gak percaya itukah? Gak, gue gak denger lo main lagu apa-apa selama 1 menit itu," jawab Nea dengan nada sinis.
"Terus gimana kamu bisa inget jam berapa kamu sampai sini?"
"Ya gue inget karena gue itung mundur detik mau ke jam 4-lah, jenius. Lagian gue juga bingung sama lo. Seinget gue pertama kita ketemu juga di jam 4-kan? Menurut sepengetahuan gue nih ya, selama gue udah kuliah di sini, anak-anak kampus kita-kan gak boleh ada di area sekitar sini kalau waktu udah nunjukin jam 4-an," ujar Nea sembari menyindir Ghai dengan sebutan 'jenius'.
"Pertama, mana aku tau kamu hitung mundur detik. Ke-dua, aku punya ijin khusus di sini. Jadi, jangan sok tau ya. Seharusnya setelah kamu tau aturan itu, kamu gak ada di sini dong. Ngapain kamu ada di sini?" tanya Ghai.
"Ya namanya juga orang mau neduh. Gimana sih? Jadi gimana nih.. Mau gak collab sama gue?" tanya Nea sekali lagi.
Lalu untuk yang ke-dua kalinya, Ghai menatap lorong kosong di sebelah kirinya. Terlarut dalam pikirannya dan lagi-lagi bertemu kata debat bersama suara di kepalanya.
'Terima aja dulu Gha. Siapa tau dia jalan buat nyusun lagi puzzle kamu yang kececer.'
Ghai kemudian mengangguk yakin. Nea yang sedari tadi menunggu Ghai selesai dengan lamunannya, mulai tersenyum begitu mendapat sebuah pemandangan anggukan seorang Ghai.
"Gini kesepakatannya nona. Kita cuma bisa ketemu di jam 4 sore saat hujan turun. Gimana?" tanya Ghai.
"Lo bercanda? Hujan turun tuh gak nentu ya. Tolong deh kesepakatannya dibuat agak logis dikit," protes Nea.
"Ya buat tau progress-lah. Lo pikir ngapain lagi?" tanya Nea.
"Intinya, temuin aku di jam 4 sore saat hujan turun, titik. Lagipula, siapapun yang mau collab bareng aku, harus mau nurut sama aturan aku. Ya, itupun kalau mau 'kerjasama' ya. Oh, dan satu lagi.. Kalau mau kerjasama sama aku, perbaikin tuh cara ngomong kamu yang nyebelin, terima kasih," ujar Ghai.
Layaknya sebuah tamparan keras bagi Nea, Ghai kini berhasil menggeser posisi gadis cantik siang ini yang sebelumnya baru saja memenangkan peringkat satu di deretan manusia yang Nea benci. Nea kemudian menyilangkan tangan di depan dada sembari tersenyum miring, Setelahnya ia mengambil satu langkah maju mendekat ke arah Ghai.
"Peraturan yang cukup aneh ya, Pangeran? Jangan bilang lo mau ketemu pas hujan turun karena sesuatu yang bersangkutan sama nama lo dan sebagainya," sindir Nea.
Satu lagi kegiatan yang entah faedah atau tidak tetapi selalu Nea lakoni, yaitu mencari arti dari sebuah nama. Mungkin karena namanya yang panjang? Nea tak tahu sejak kapan ia mencintai kegiatan itu, hingga tau-tau, sedikit banyaknya Nea tahu arti dari nama-nama seseorang yang menurutnya unik.
"Pokoknya kalau mau dibantuin aku, ya diem aja princess," ujar Ghai yang kemudian mengambil langkah mundur.
"Unik ya, btw seneng ketemu sama lo. Walau agak ngeselin sih tapi, makasih. Sekarang udah maghrib, gue harus pulang. Pamit ya," ujar Nea.
"Ya, sama-sama," jawab Ghai.
"Lo gak pulang juga? Bentar lagi pasti ni gedung dikunci," ujar Nea.
"Emang udah dikunci," ujar Ghai dengan santainya.
"Hah?! Seriusan lo?" tanya Nea yang kemudian segera berlari ke arah pintu dan mencoba membukanya namun nihil.
"Yah, masa gue ke kunci lagi di sini?!" monolog Nea.
Ghai mengeluarkan sedikit senyumannya begitu melihat aksi Nea yang entah sejak kapan mampu membawa sebuah perasaan asing yang mungkin ia kenal. Ghai menyilangkan ke-dua tangannya di depan dada, kemudian melangkah mendekat ke arah Nea.
__ADS_1
"Tenang aja. Ada aku, aku tau jalan pintasnya," ujar Ghai.
"Oh, ada jalan pintasnya?" tanya Nea.
"Ya. Ayo ikutin aku," ujar Ghai.
Nea pun menurut, kemudian ia mengekor di belakang Ghai. Tapi, tak lama kemudian Nea mulai merasa takut akibat kegelapan yang menyelimuti mereka berdua.
"Eh, tunggu. Jalannya beriringan dong," pinta Nea yang kini mulai menyeimbangi langkah miliknya dengan langkah milik Ghai.
"Kenapa? Takut ya?" ledek Ghai sembari tersenyum miring.
"Gak tuh!" sanggah Nea.
"Haha. Keliatan tuh dari wajah kamu," ledek Ghai sekaligus penutup perbincangan ke-duanya.
Selama Ghai dan Nea menyusuri gedung, mereka tenggelam dalam kesunyian. Tak ada seorangpun yang mencoba membuka pembicaraan. Hingga akhirnya Nea merasa jenuh.
"Ghai, ceritain tentang diri lo dong. Siapa tau kita bisa jadi makin deket kan? Toh gak mungkin selamanya kita jadi teman gelut," ujar Nea.
*gelut merupakan bahasa sunda yang artinya berantem.
"Kenapa tanya-tanya? Mau PDKT?"
Ghai bertanya tanpa adanya rasa gugup sekalipun saat mengucapkannya. Berbeda dengan Nea yang kini mulai merasakan degupan aneh yang berasal dari jantungnya. Seolah terlukiskan dengan jelas, pipi Neapun turut memerah akibatnya.
"Gak-lah bego."
Nea yang mendengar pertanyaan Ghai, spontan mengumpat. Tampaknya pertanyaan itu mampu membuat Nea salah tingkah.
"Kamu cewek, tapi ngomongnya kasar ya," ujar Ghai.
"Ya terserah gue dong," ujar Nea.
"Ingat perjanjian dan syarat dari aku. Kolaborasi ini bisa gagal di tengah jalan loh," ujar Ghai.
"Eh, jangan dong. Lagian bilang aja kalo lo gak mau cerita, kan lebih gampang," ujar Nea.
Ghai kemudian menghentikan langkahnya. Berdiri mematung, terdiam beribu basa. Merasa begitu ironis ketika menyadari bahwa dirinya tak memiliki sedikitpun memori.
"Kenapa? Udah sampaikah?" tanya Nea.
"Aku gak tau," ujar Ghai.
"Hah?! Tersesat?!!" tanya Nea panik.
"Aku gak tau kisah tentang diri aku. Jadi, berhenti bertanya."
©AksamalpaAksara
__ADS_1