
Sentuhanmu tak pernah diberi kesempatan oleh semesta untuk menghadirkan kata temu diantara kata terbiasa di dalamnya
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
"Nea?"
"Ayo duduk dulu, gue bantu. Aduh Ghai, lo ngagetin gue tau gak?!! Duduk yang bener coba, bisa duduk? Lagian lo kenapa sih tidur di kursi piano kayak tadi? Gak etis banget tau, udah gitu pake acara jatuh segala. Jangan bilang lo punya penyakit kronis?? Apa karena ini lo ngadain kesepakatan itu? Bikin gue jantungan tau!" omel Nea panjang lebar.
Sikap Nea memang asing di mata Ghai, namun yang saat ini mengisi pikirannya adalah kesamaan di antara suara milik gadis itu dengan seseorang yang baru saja menghampiri mimpi buruknya, atau bisa disebut sedikit dari ingatan miliknya yang baru saja kembali. Perhatian Ghai kini tertuju pada Nea. Ghai menatap gadis itu lekat-lekat, berusaha dalam diam untuk mengingat wajahnya juga hubungannya bersama Nea.
'Mungkin kata-kata Derren waktu itu bener,' monolog Ghai.
"Ghai lo beneran gak apa? Sini gue bantu berdiri."
Nea mengulurkan tangannya, sayang tindakannya itu tidak disambut baik oleh Ghai. Ghai memilih berdiri sendiri kemudian duduk di kursi piano seperti suruhan Nea. Nea kemudian menepuk tangannya seolah-olah baru saja membersihkan sesuatu yang berdebu.
"Lo beneran udah baik-baik ajakan?" tanya Nea sekali lagi dengan harap yang selalu menjadi sia, pasalnya Ghai masih berkutat dengan pikirannya saat ini.
'Derren, kamu di mana? Jawab aku. Aku butuh jawaban sekarang.' Lagi, monolog Ghai mengantar pertanyaan Nea menjadi sebuah pertanyaan yang tak menemukan jawabnya.
"Ck! Orang nanya malah dicuekin! Ngeliat lo ngediemin gue kayak gini, udah pasti lo sehat wal afiat. Geser! Aduh, gue mau duduk aja susah." Perkataan Nea mengundang perhatian Ghai. Seharusnya Nea mengucapkan ini saja sedari tadi.
"Tadi suruh duduk, sekarang disuruh geser hah?" tanya Ghai dengan nada ketus.
"Huh hah heh hoh, huh hah heh hoh. Geser, pantat gue gak muat kalau cuman di kasih space sekecil itu."
Nea menunjuk ke arah kursi piano yang diduduki Ghai. Lantas, Ghai memutar manik hazel miliknya malas, lalu menggeser posisi tubuhnya.
"Kamu ini sebenernya siapa? Kita pernah ketemu sebelum ini?" Ghai kini menyuarakan isi pikirannya. Alih-alih menjawab dengen serius, Nea malah merasa jengkel. Menurutnya, Ghai itu manusia teraneh ke-2 setelah Yaza.
"Ha?! Lo kenapa sih? Amnesia? Ini gue, Nea. Orang yang ketemu lo kemarin hari. Gimana sih?" tanya Nea.
'Iya, gak mungkin. Pasti dia cuma orang lewat waktu kejadian itu,' pikir Ghai.
"Tau gak sih, lo manusia ter-absurd yang pernah gue kenal. Ini gue, Nea." Sekali lagi Nea berusaha mengingatkan Ghai.
"Iya, tau. Sst! Kamu berisik banget sih," ujar Ghai.
"Lo bener-bener mau ngerasa bogeman gue ya?" tanya Nea dengan nada menyelidik.
"Ya gak-lah!" ujar Ghai.
Nea menggelengkan kepalanya, tak habis pikir atas ucapan Ghai tadi. Apa serangan tadi baru saja membuat Ghai mendadak menjadi lebih menyebalkan dari biasanya? Entahlah, Nea tidak bisa menjawabnya.
"Sekarang jam berapa?" tanya Ghai.
"Jam 4 lebih 20 menit. Udah sadar lo?!" tanya Nea.
"Emang di luar hujan?" tanya Ghai.
"Gak kedengeran? Segitu derasnya hujan," ujar Nea.
Ghai mengambil langkah berjalan mendekati jendela, kemudian mengangguk. Kini Nea yakin 100% bahwa, Ghai memang sejenis dengan Yaza yang jalan pikirnya tak pernah bisa ia tebak.
"Gue ke sini mau nanya tentang progress. Udah sejauh mana lo bikin lagunya," ujar Nea.
"Lagu?" tanya Ghai.
"Iya, lagu. Gimana? Nada dasarnya udah ketemu belum?" tanya Nea.
"Ya belumlah. Kamu pikir aku punya waktu sebebas itu. Aku juga sibuk."
"Bener juga. Gue lupa lo manusia yang sebelas-dua belas sama kota New York!" ujar Nea.
"Maksudnya?"
"Gak tau ah! Lo mabok ya?" Nea benci berspekulasi, tapi otak manusia memang suka bertemu dengan kata itu. Pertanyaan Nea kini mengundang amarah Ghai.
"Bercanda dikit gak bisa ya kalau sama kamu?" tanya Ghai sinis.
"Lo bercanda pake nada datar kayak gitu, mana gue tangkep maksud lo Baginda Ghai!" ujar Nea.
Langkah kaki Nea menuntun dirinya menghampiri Ghai yang sedari tadi sibuk memperhatikan hujan turun sembari menatap kosong jalanan di dekat halte bis tempat Nea biasa menunggu jemputan pulangnya, melalui dinding kaca. Tak berhenti di situ, kini jemari Nea pun tangannya terangkat, berniat menarik tangan Ghai untuk segera fokus pada pekerjaan utama mereka. Namun dengan sigap Ghai menghindar.
"Eits! Mau ngapain kamu pegang-pegang?" tanya Ghai.
"Lo haphephobia ya? Takut amat kayaknya ke pegang sama gue. Gue bukan liur anjing *l*oh! FYI," ujar Nea.
*Gangguan psikologi di mana penderita takut bersentuhan dengan orang lain.
"Gak. Aku cuma gak suka disentuh, bukan takut," jawab Ghai. Nea memutar bola matanya malas sebagai jawaban.
Tak lama setelahnya perut Nea melakukan aksi protes akibat belum diberi makan sedari tadi. Ghai yang mendengarnya segera menoleh lalu melihat Nea yang kini tengah terkekeh pelan sembari menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal sama sekali. Ghai yang melihatnya segera tertawa begitu melihat Nea yang segera mencari alasan.
"Hahahaha. Lapar mbak?" goda Ghai.
"Sialan lo. Orang lapar malah diejek. Ini semua karena lo tau, gue gak berani bangunin lo dan pergi ninggalin lo sendiri di sini. Padahal kan gue belum makan, jadi aja," ujar Nea.
"Kok jadi salah aku?" tanya Ghai yang masih tertawa akibat reaksi tersipu dari Nea.
"Ya habisnya... Udah cari makan aja yuk! Ke Cafetaria-kan deket," ajak Nea.
"Gak bisa."
"Bisa..."
"Gak bisa karena aku-nya gak mau," ujar Ghai.
"Harus mau. Dasar anak-anak pecinta jurusan sekaligus gedungnya," ujar Nea.
"Enak aja. Lagian kenapa harus mau?" tanya Ghai diiringi senyuman.
"Harus, karena gue gak bisa makan sendiri," ujar Nea.
"Manja," ujar Ghai sembari memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Serius... Bukan manja ini, kalau lo gak mau makan ya udah gue gak makan," ujar Nea sembari mengeluarkan laptop dari tasnya yang sedari tadi ia gendong.
"Lah, gak jadi makan?" tanya Ghai.
"Gak," jawab Nea.
"Serius? Ya udah deh aku antar. Ayo, mau?" tanya Ghai.
"Gak," jawab Nea.
"Ayo, sebelum berubah pikiran nih," ujar Ghai.
"Gak mau," ujar Nea.
"Dih ngambek," ledek Ghai.
"Dikira gue gak tau akal bulus lo?! Pastinya lo cuman nganter dan ujung-ujungnya gak nemenin gue makan," ujar Nea.
"Emang. Hahahaha," ujar Ghai diiringi gelak tawa.
"Tuh-kan, bener gue. Ya udah sono cepat cari nadanya. Seenggaknya gue tenang dikit," ujar Nea.
"Kenapa gak pesan Ga food aja sih? Solusi terbaik dari akal cerdas seorang Ghai," ujar Ghai sembari membanggakan dirinya.
"Bener juga lo. Kenapa gak kepikiran dari tadi ya?" ujar Nea.
Segaris lengkungan indah nan manis terukir di garis muka Ghai. Ia menatap lekat-lekat gadis yang kini tengah sibuk menatap layar ponselnya sembari membuka aplikasi Gajek untuk memesan makanannya. Entah perasaan apa yang datang padanya, yang jelas perasaan ini tidak asing. Terasa menghangatkan di kala dinginnya hujan menyelimuti.
"Mau makan apa lo? Gue traktir, tenang aja," ujar Nea sembari membusungkan dada-nya.
"Gak usah. Kamu aja," ujar Ghai.
"Kan udah di bilang berapa kali. Kalau gue gak bisa makan sendiri. Ya udah samain aja sama gue ya!" ujar Nea.
Ghai yang kemudian merasa menyerah untuk menolak segera berdiri lalu berjalan ke arah piano, membiarkan jemari-jemari lentiknya menari di atas tuts piano untuk menciptakan sebuah alunan musik nan indah juga menyentuh ke relung hati. Nea sempat terpaku untuk sesaat, namun dirinya kembali mencari makanan kala suara gemuruh itu kembali terdengar.
7/12/2018
16.58
Sekitar 30 menit telah berlalu setelah Nea tenggelam dalam ke-fokusan dirinya terhadap ponsel miliknya, juga Ghai yang masih memainkan nada sekaligus menyempurnakan musiknya. Diam-diam, Ghai menaruh perhatian pada gadis yang kini tengah menidurkan tubuhnya di lantai yang entah bersih, entah kotor.
"Lama banget," keluh Ghai.
"Apaan?" tanya Nea.
"Makanan. Bukannya lo udah lapar dari tadi?" tanya Ghai.
"Iya. Gue masih bingung ini mau makan apa," ujar Nea.
"Lah, jadi dari tadi belum pesan?" tanya Ghai.
"Iya," jawab Nea singkat, padat, dan jelas namun, terdengar menyebalkan kala menyambut telinga Ghai.
"Kok lo tau gue mau itu dari tadi?!" tanya Nea yang kemudian terlihat antusias.
"Terus masalahnya apa? Kok belum pesan-pesan?" tanya Ghai.
"Pilihan udah ditetapkan. Cuma sekarang masalahnya tinggal satu," ujar Nea.
"Apa?" tanya Ghai.
"Rumah makannya enak yang mana?" tanya Nea dengan polosnya.
"Astagfirullah, yang paling dekat aja. Nanti magh lo bisa-bisa jadi," ujar Ghai.
Ghai tersentak kala menyadari perkataan yang keluar dari mulutnya. Ia merasa terheran-heran kala ia berbicara seolah-olah mengenal Nea dengan baik.
"Kok lo tau gue punya magh?" tanya Nea.
Ghai menoleh menatap Nea yang masih merasa takjub kala mendengar ocehan Ghai yang mungkin terdengar seperti terkaan yang tepat. Namun, tak lama kemudian Nea menepuk tangannya secara antusias.
"Bentar-bentar! Kalau gue gak salah dengar. Lo manggil gue apa?!" tanya Nea dengan ekspresi muka bahagia.
"A-apaan?" tanya Ghai.
"Lo tadi manggil gue bukan pake 'kamu' tapi pake 'lo'!! Hahahaha, akhirnya seorang Ghai gak kaku-kaku amat," tawa Nea menggelegar mengisi setiap sudut ruangan.
"Terus?" tanya Ghai yang kini menaruh ke-dua tangannya di pinggang.
"Ya selamat!! Hahahaha," ujar Nea.
"Dasar gak jelas. Udah pesan makanan aja deh, nanti makin lama," ujar Ghai.
"Oh iya bener juga!" ujar Nea sembari menepuk dahinya.
Ghai kini tengah menatap Nea, dirinya kembali merasa mendapat sebuah jawaban atas teka-tekinya yang lain. Kini ia kembali memikirkan terkaannya. Namun, lagi-lagi ia menyangkalnya dengan alibi, 'jika iya mengapa semua tingkah laku Nea mengatakan sebaliknya?'
7/12/2018
17.20
Kini, baik Ghai pun Nea kembali tenggelam pada kesibukan masing-masing. Ghai dengan pianonya dan Nea dengan pen tabletnya. Hingga tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponsel Nea.
'Pesanan anda sudah tiba.'
"Ghai, gue ambil makanan dulu ya di depan!" ujar Nea.
"Mau ditemenin?" tanya Ghai.
__ADS_1
"Gak usah," ujar Nea.
"Gak takut?" tanya Ghai.
"Gak," jawab Nea. Nea kemudian berlari kecil ke arah Cafetaria, lalu segera mencari driver yang mengantar pesanannya.
"Di sini pak," ujar Nea sembari melambai-lambaikan tangannya. Driver tersebutpun segera menghampiri Nea yang kini tengah sibuk mengeluarkan uang dari dompetnya.
"Ini neng pesanannya."
"Makasih pak, sebentar ya uangnya."
Kala masih sibuk dengan urusan uang beserta dompet-nya, driver tersebut berusaha membuka obrolan dengan Nea. Di samping itu, keadaan Cafetaria sudah sepi, tak lagi ada mahasiswa maupun penjual makanan di sana.
"Belum pulang neng?"
"Belum pak."
"Udah sepi. Rajin amat si neng."
"Hehehe. Biasalah pak, tugas."
"Oh... Emang ini teh tutup jam seginian neng?"
"Iya pak. Aneh ya?"
"Gak kok. Sendirian aja neng?"
"Gak, bareng teman di dalam," jawab Nea sembari menunjuk ke arah tembok tempat dirinya keluar masuk.
"Kenapa ambilnya gak bareng teman? Gak diantar?"
"Gak pak."
"Awas neng, pulang jangan terlalu malam. Bahaya bisi ada begal, lagi rawan."
"Iya pak. Oh iya, ini pak. Makasih ya," ujar Nea sembari mengulas senyumnya.
"Iya sama-sama neng."
Nea kemudian segera berlari kembali memasuki gedung jurusan seni musik. Bukan takut karena ucapan bapak driver tersebut, Nea malah merasa merinding karena sikap bapak driver yang menurut Nea ingin banyak tahu. Merasa gemas akibat terus memikirkan hal tadi, Nea mempercepat larinya sembari berteriak sepanjang lorong.
Nea melihat ke arah pergelangan tangannya. Membutuhkan waktu sekitar 5 menit untuk kembali mencapai tempat di mana Ghai berada. Rasa parno Nea semakin menjadi-jadi kala berbagai spekulasi menyeramkan kembali menghampiri dirinya. Inilah alasannya kenapa Nea membenci spekulasi. Ketika imajinasi liarnya lagi-lagi memikirkan berbagai adegan kejahatan. Di mana Nea diikuti oleh bapak driver tadi. Nea memang se-parno itu, tidak hantu, tidak manusia, menurut Nea dua-duanya menyeramkan.
Walau takut, Nea terus menerus menengok ke belakang hingga ia berbelok kemudian menabrak tubuh seseorang. Nea kemudian memejamkan matanya lalu berteriak sekeras mungkin.
"AAAAAAAAHHH!!!!"
"AAAAAHHH!!!"
Masih dengan mata terpejam, Nea terdiam dalam posisi jatuh terduduk. Kemudian suara kekehan seseorang terdengar menyapa telinganya.
"Hahaha. Separno itukah?" Nea membuka matanya kala mendengar suara yang terdengar akrab, dan satu-satunya yang Nea tahu kala membuka mata, Ghai di sana.
"Ih! Untung gak jatoh berceceran makanannya!" ujar Nea. Lagi Ghai tertawa terbahak-bahak akibat aksi Nea. Sudah yang ke-berapa kalinya hari ini.
"Lagian ngapain coba lari-lari sambil teriak kayak gitu. Kaya lagi dikejar sesuatu aja." Ghai kemudian melihat ke arah belakang Nea, kemudian ia tersenyum memberikan acungan jempol.
"Lo ngapain ngasih jempol kayak gitu?" tanya Nea dengan nada curiga.
"Habis makan pulang aja. Ini udah ke-sorean, takut ada macem-macem," ujar Ghai.
"Apa maksudnya?" tanya Nea.
"Nanti ada yang ngikutin kamu pulang kalau pulangnya lebih malam dari ini," ujar Ghai sembari menunjuk ke belakang.
"Ghai! Gak lucu!!" ujar Nea yang kini mematung di tempat.
"Tuh lagi jalan ngedekatin kamu," ujar Ghai dengan senyuman jahil menghias wajahnya.
"AAAA!" Nea spontan melompat ke arah Ghai, memegang erat pundak Ghai sembari bersembunyi di balik tubuh Ghai yang kurus.
Ghai merasa terkejut lalu segera melangkah maju dengan tujuan melepas tangan Nea dari pundaknya. Di sisi lain, Nea masih bersikukuh menutup matanya.
"Jangan pegang-pegang!!!" teriak Ghai. Sejujurnya, Nea terkejut, tetapi rasa takut di dalam dirinya masih menghantui. Ghai yang kesal kembali berbicara, bedanya nada kali ini terdengar sangat menekan.
"Aku bilang lepas, ya lepas."
"Habisnya gue takut!!" teriak Nea.
"Pulang, cepet."
"Apa?" tanya Nea.
"Aku antar cuma sampe Cafetaria," ujar Ghai.
"Terus makanannya?" tanya Nea.
"Makan sendiri, jangan manja."
7/12/2018
18.15
Di sinilah Nea berdiri, di depan halte bus dalam keadaan rambut lepek akibat terkena gerimis. Mulutnya tak menemukan kata henti dalam aktivitas mengumpat pun mengutuk sesosok orang yang kini tengah mengisi pikirannya.
"DASAR HAPHEPHOBIA!!! MANUSIA TERKUTUK DARI JUPITER!!"
__ADS_1
©AksamalpaAksara