Catatan Tanpa Judul

Catatan Tanpa Judul
Petunjuk


__ADS_3

Melalui rangkaian kata sulit dicerna entah guna, entah sia-sia


° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °


"Udahkan?" tanya Fai.


"Udah sih tapi, masih ada yang ngeganjal hati gue," ujar Nea.


"Ya tanya sendiri makannya! Lo tuh terlalu ngandalin kita sih," ujar Fai.


"Mending kita makan sekarang," ujar Arka.


"Gue masih penasaran. Gimana dong?" tanya Nea.


"Ya udah sana tanya. Kita tunggu sini ah!" ujar Fai yang kemudian mendorong pelan tubuh Nea.


"Haduh. Malu!" ujar Nea.


"Sekarang atau gak. Terserah lo ya gue mah," ujar Fai.


"Lo tuh emang dasarnya ribet Nea. Buru! Sebelum pada bubar. Kalau gak ya gak, kalau mau ya mau," suruh Arka.


"Iya, iya!"


Sst! Mari kita ungkap rahasia lain milik seorang gadis asal Bandung itu. Nea merupakan salah satu dari golongan manusia yang benci berinteraksi dengan orang asing. Sulit berkenalan dengan orang baru membuat Nea sempat ragu untuk bertanya perihal lelaki misterius yang hingga detik ini masih dipertanyakan keberadaannya. Bagi Nea menyapa orang asing itu lebih sulit ketimbang menyelesaikan soal fisika sewaktu SMA dulu. Walaupun begitu, Nea tetap berusaha. Baginya terlalu sia-sia membuang harap mengenai kesuksesan karena rasa takut. Akhirnya ia putuskan untuk mendekat ke arah sekumpulan mahasiswi yang tengah duduk-duduk ria di bawah pohon rindang dekat gedung jurusan. Langkahnya diiringi degupan jantung yang terdengar cepat. Ah, Nea pemalu. Iya, Nea pemalu.


"Hai," sapa Nea dengan suara setengah terdengar.


"Oh, halo kak. Ada apa ya?" tanya salah seorang mahasiswi di sana. Responnya sangat berbeda dengan pembicaraan mereka dengan Arka sebelumnya. Mahasiswi itu cenderung lebih ramah ketika Nea ajak bicara.


"Boleh tanya gak?" tanya Nea.


"Boleh, boleh."


"Kalian tau gak? Anak jurusan musik laki-laki, rambutnya ikal warna hitam legam, kulitnya putih, matanya bulat warnanya cokelat, hidungnya mancung kayak perosotan, bibirnya tipis, mukanya ganteng, terus kalau senyum mungkin dia manis? Terus anaknya jago banget main pianonya. Oh, dia tinggi."


Pertanyaan yang Nea lontarkan mengundang gelak tawa sekumpulan mahasiswi di sana. Mereka dibuat gemas kala melihat antusiasme Nea ketika bercerita. Menurutnya Nea terlihat bak seorang manusia yang tengah diporak-porandakan oleh ombak pasang berlabel cinta.


"Hahaha, kakak gemesin deh."


"Loh? Kok tiba-tiba?" ujar Nea.


"Habisnya kakak nanya kayak orang lagi jatuh cinta aja. Hahaha. Kakak pasti temennya kating cowok tadi yang nyamperin kita ya?" Jawaban mahasiswi yang berbentuk pertanyaan retoris itu mampu membuat Nea tersipu, hanya perlu hitungan detik untuk pipi Nea berubah menjadi merah.


"Gak kok!" Nea memberikan penolakan.


"Gak untuk yang mana kak? Kayaknya jawaban untuk dua pertanyaan saya tadi iya deh, habisnya kakak mirip orang jatuh cinta. Hahaha."


Nea berani sumpah, ketika dirinya masih menjadi maba, ia tak pernah berani berbicara seluwes mereka kepada kating. Baik kating dari jurusannya ataupun bukan. Pertanyaannya sekarang, bagaimana Nea bisa tahu mereka maba? Jangan kaget ya! Nea itu tipe manusia analisis banget, ia cenderung memperhatikan keadaan sekitar, jadi ia tahu betul siapa saja teman-teman setingkat ataupun di atasnya, dan Nea rasa muka mahasiswi ini terlihat asing.


"Dari mananya coba," ujar Nea sembari memalingkan wajahnya.


"Kalimat yang kakak pakai bikin kakak kelihatan lagi jatuh cinta sih. Lucu deh."


"Aduh, udah dong! Jadi malu gue. Kalian tau gak?" tanya Nea.


"Hmm, ciri-ciri yang kakak kasih belum spesifik. Kakak masih inget ciri-ciri lainnya?"


"Bentar, gue ingat-ingat dulu." Nea kemudian berpose layaknya seorang yang tengah mempertaruhkan hidupnya pada selembar kertas ujian.


"Oh! Gue ingat. Dia punya bekas luka, di keningnya. Kira-kira 2 inci?" Nea menepuk telapak tangannya keras begitu mendapatkan selintas kenangan tentang rupa lelaki itu.


Semuanya terlihat terkejut begitu mendengar pernyataan Nea. Pasalnya satu inci bukan ukuran yang kecil. Jangan salahkan pikiran mereka yang kini terisi dengan wajah-wajah si penjahat ulung.

__ADS_1


"D-du-dua inci? Kakak gak salah?"


"Eh? atau 2 centi ya? Pokoknya ada bekas luka di keningnya," ujar Nea.


Semua mahasiswi di sana menghela nafas begitu mendengar pernyataan Nea. Kemudian salah seorang mahasiswi tersebut bertanya.


"Kacamataan kak?"


"Iya deh? Soalnya seingat gue dia bawa kacamata di saku bajunya," ujar Nea.


"Kebetulan banyak kak kalau anak sini yang punya bekas luka di kening dan kita kenal. Tapi, bener gak kalau ukuran bekas lukanya 2 centi? Kalau 2 inci kayaknya gak ada yang kita kenal."


"Eh, gue lupa. Pokoknya yang jelas ada bekas luka di kening."


"Sebelah kiri apa kanan? Soalnya si Theo, Revan, sama Fikrah juga punya bekas luka ya gak sih?"


Pertanyaan salah seorang mahasiswi itu mengundang perdebatan mengenai siapa yang dipertanyakan Nea. Memastikan siapa yang memenuhi ciri yang Nea ucapkan.


"Gak mungkin Theo. Soalnya Theo gak pake kacamata."


"Gak mungkin Revan juga. Secara rambut dia botak, inget gak?"


"Oh iya tapi, Fikrah juga gak mungkin. Dia kan salah cat rambut kemarin. Jadi rambutnya gak mungkin hitam legam."


"Lah terus siapa? Kakak tingkat gitu?"


"Siapa coba?"


"Jangan-jangan." Seolah-olah tengah bertelepati, ke-5 mahasiswi itu kemudian membulatkan matanya.


"Gak mungkin ah."


"Jago-kan main pianonya."


"Ya tapi masa aja. Gak mungkin. Lagian selama ini rumornya belum terbukti-kan?"


"Kang itu-kan?"


"Tapikan."


"Gimana? Kira-kira kalian tau gak?" tanya Nea yang berhasil memberhentikan debat mereka.


"Kak, kalau boleh tau. Kakak ketemu sama cowoknya kapan?"


"Kemarin, sekitar jam 4 sore-an," jawab Nea. Semua terdiam sesaat kemudian tertawa kikuk.


"Waduh, kita kurang tau kak kebetulan. Soalnya temen kita gak ada yang memenuhi ciri-ciri yang kakak sebutin. Terlebih lagi kita masih termasuk maba jadi belum kenal banyak orang. Maaf ya kak gak bisa bantu."


"Eh, gak papa. Ya udah deh kalau gitu." Nea kemudian berpamitan. Benarkan tebakan Nea, mereka maba.


"Tapi kak! Mungkin kakak yang di situ tau, soalnya dia sering di sini. Coba aja kakak tanya tapi, kalau ajak dia bicara mohon bersabar ya kak. Orangnya... emang gitu."


Kedua manik hazel milik Nea mengikuti arah telunjuk mahasiswi itu. Nea kemudian mendapatkan sesosok wanita dengan rok sepanjang betis berwarna cream, dilengkapi dengan sweater berwarna merah maroon, rambutnya ia untun, tengah terduduk secara manis di bawah naungan bayang-bayang pohon rindang.


"Oke, makasih ya." Nea kemudian beranjak pergi.



Kini langkah Nea membawanya menghampiri gadis yang tengah duduk sembari membaca secarik kertas bukti sejarah nada-nada indah yang mungkin nikmat untuk didengar. Entahlah, Nea tidak bisa membaca partitur, ia hanya menerka.


"Halo, boleh tanya?"


Pertanyaan Nea seolah angin lewat, gadis itu tidak menggubris sapaan Nea juga pertanyaannya. Bahkan gadis itu terlihat menghindari pandangan mata Nea. Nea terlihat kesal, namun ia sadar bahwa ia membutuhkan jawaban dari wanita itu.

__ADS_1


"Kamu tau gak cowok---." Belum sempat menyelesaikan dialognya, gadis yang sedari tadi diam itu lantas bersuara memotong kalimat Nea.


"Tau, tapi hanya sebatas kenal. Orangnya udah lama pergi, kalau mau cari tahu tentang dia lagi. Langgar aja peraturan jurusan seni musik."


Gadis itu kemudian beranjak pergi, meninggalkan Nea yang terlihat jengkel dengan sikapnya yang menurut Nea sangat-sangat menyebalkan. Ingin rasanya Nea mengumpat tepat di situ dan di detik itu. Jelasnya, kini Nea beserta Arka juga Fai memiliki bahan gibah yang baru. Merasa tidak lagi ada urusan, Nea kemudian berdiri lalu kembali menghampiri ke-dua sahabatnya.



"Udah?" tanya Fai.


"Berengsek emang," umpat Nea tiba-tiba.


"Eh-eh, kenapa ini? Balik-balik jol marah." ujar Arka.


"Masa ya?! Gue ketemu cewek nyebelin banget! Cantik sih iya. Tapi, sikapnya nyebelin!" ujar Nea.


"Lah, harusnya lo senenglah. Alhamdulillah akhirnya Nea ketemu kembaran," ujar Arka.


Nea kemudian memukul punggung Arka cukup keras. Iya, Nea itu ringan tangan. Beruntung Arka dan Fai masih betah berteman dengan Nea. Fai yang melihatnya kemudian tertawa.


"Aw! Sakit-sakit. Udah yuk, makan aja. Lo yang traktirkan?" tanya Arka dengan antusias.


"Enak aja! Kan lo berdua yang kalah taruhan. Kok malah jadi gue yang yang suruh traktir?!" tanya Nea.


"Lah, bukannya lo yang bilang sendiri?" pertanyaan Arka berhadiah cubitan dari Fai.


"Lo kalau nanya lagi bisa mati kampret," bisik Fai.


"Waduh. Ya Allah, kenapa gue dapet temen gini amat," ringis Arka.


Tak lama kemudian ponsel Arka berdering. Arka dengan segera merogoh saku celananya, untuk mencari ponselnya.


"Bentar." Arka kemudian pergi meninggalkan ke-dua sahabatnya. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Arka kembali pada ke-duanya. Arka terlihat gelisah juga terburu-buru.


"Kenapa?" tanya Fai.


"Traktirannya lain kali. Ada kondisi gawat darurat," ujar Arka.


"Kenapa?" tanya Nea dengan mimik panik.


"Ibu gue dateng, ke kost-an ala apartemen gue!" ujar Arka.


"Gak penting banget Ka! Awas aja ya kalo lo kayak gini cuma buat menghindar dari traktiran!" ujar Nea.


"Kagak! Masya Allah, curigaan banget sih lo! Lo kan tau kapan terakhir kali gue beresin kamar. Bisa-bisa gue mati dibunuh sama ibu gue," ujar Arka.


"Mampus!" ujar Fai.


"Udah ya! Gue duluan! Bye ciwi-ciwi ku." Arka kemudian beranjak pergi, meninggalkan Fai dan Nea di belakang.


"Awas ya! Jangan lupa traktiran! Kalau gak, gue bakal ngehantuin lo dan dateng ke setiap mimpi lo sambil ngomong 'traktiran mana?'," ujar Nea sebelum sosok Arka benar-benar menghilang dari pandangan ke-duanya.


"Mending juga dihantuin Fai!" teriak Arka yang kini benar-benar telah menghilang dari pandangan ke-duanya.


"Mau makan?" tanya Fai dengan pipi merah.


"Dasar bucin. Ayo, ke warteg ibu itu aja," jawab Nea.


"Hehe, ayo."


 


 

__ADS_1


 


©AksamalpaAksara


__ADS_2