
Sosok-mu adalah tualang bagi-ku
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
6/12/2018
07.32
"Gila aja udah masuk jam segini. Masih ngantuk gue!" protes Nea.
"Syukur-syukur lo bisa sekolah. Protes mulu lo! Sana ajuin aspirasi ke dosen, siapa tau didengar," balas Arka dengan nada yang terdengar kesal.
"Berisik ah! Bisa gak sih? Sehari.. aja, gak ribut. Cape gue dengernya," protes Fai.
"Eh Fai, anak-anak jurusan seni musik kapan beres liburan semesternya?" tanya Nea.
"Lo ngebet banget. Dari kemarin nanya ituuu mulu. Kan gue udah bilang, baru juga liburan kemarin," ujar Fai sembari memutar bola matanya.
"Kan si Nea mau pindah jurusan, lo gak tau Fai?" tanya Arka dengan senyuman di wajahnya.
"Sumpah lo?!" tanya Fai dengan nada terkejut. Kedua tangannya reflek memukul pundak Nea dengan cukup keras.
"Sadar Nea! Sadar! Kita lagi nyusun tugas akhir lo malah mau keluar dan pindah jurusan. Katanya mau lulus bareng, terus gimana sama mimpi lo buat kerja di Di**ey?!" ujar Fai tanpa ada titik koma dalam pengucapannya. Arka yang melihat sikap Fai segera tersenyum gemas.
"Ya gila aja! Lo masih aja percaya sama ucapan Arka," ujar Nea.
"Karena emang Fai tuh sahabat gue yang sebenanya Ne," balas Arka yang tengah membusungkan dadanya bangga saat ini.
"Friend zone mulu. Kasianlah si Fai," protes Nea yang berhasil membisukan mulut ke-dua sahabatnya, sekaligus membuat ke-2 nya saling bertukar pandang, memberikan tatapan canggung sembari tersenyum kikuk.
"U-udah ah! Lo kalau lagi masalah kayak gini demen banget ngeluarin kata-kata kek gitu. Eh emangnya ada apa sih Ya? Nanya-nanya hal itu mulu," tanya Fai.
"Lo tau sendiri gue belum dapet pasangan buat collab project animasi. Dari kemarin gue hunting, dan akhirnya menemukan pasangan yang tepat!" ujar Nea.
"Terus kalau misalnya udah nemuin pasangan ngapain lo masih harus hunting?" tanya Fai.
"Justru itu Fai! Nea tuh udah nemu sih iya, tapi pas diajak kerjasama orangnya gak mau dan malah kabur," ujar Arka.
Tidak ada seorangpun yang membahas perihal tidak adanya kepaduan di antara pernyataan Nea dengan pertanyaan Fai. Padahal sudah jelas-jelas Nea mengatakan bahwa akhirnya bukan 'sudah berpasangan' dengan rekan yang tepat, tetapi baru 'menemukan rekan' yang tepat. Dasar Fai.
"Lah, takut dia liat muka lo Nea! Hahahaha. Ya udahlah, cari yang lain aja," ujar Fai.
"Lo kayak yang gak tau gue aja Fai. Gimanapun caranya gue bakal dapetin dia!" ujar Nea.
"Eh, bentar-bentar. Mereka-kan lagi pada liburan semester, lo pikir logis ada anak yang dateng ke kampus dan anehnya di jam terlarang?" tanya Fai.
"Bener juga lo Fai! Lo yakin yang lo liat itu manusia? Bukan hantu gitu?" tanya Arka.
"Lo apaan sih ah! Gak usah takut-takutin gue begitu. Gue berani taruhan! Kalau misalnya masih ada anak jurusan seni musik yang bisa gue temuin di sana, lo pada mau beliin apa buat gue?" tanya Nea.
"Beliin permen karet di cafetaria," jawab Arka.
"Dih! Gak elit banget, yang agak mahalan dikit dong!" ujar Nea.
"Yodah, kita beliin pizza. Tapi sebaliknya, kalau misalnya lo yang salah dan ternyata gak ada satupun anak jurusan seni musik di sana, lo yang beliin kita berdua pizza," ujar Fai.
"Pizza ditambah nasi goreng!" Nea mengudarakan negosiasinya.
"Lo kebiasaan deh, apa sih enaknya makan pizza yang dipadu padan sama nasi goreng?" tanya Fai.
__ADS_1
"Itu selera gue dan lo gak boleh komen," balas Nea.
"Ok. Deal!" final Arka. "Gue gak mau satu berdua sama Fai ya. Harap diingat."
"Bawel lo!" ujar Nea.
"Tapi Nea.. Lo taukan pantangan gedung seni musik? Anak-anak sana gak boleh ada di kawasan kampus lebih dari jam 4 loh. Dengan lo nemuin satu anak di gedung itu pas lagi liburan semesteran aja udah aneh, apalagi kalo diingat-ingat lagi lo ketemu anak cowo itu pas jam-jam yang udah jelas-jelas gak akan ada mahasiswa di sana," ujar Fai.
"Berisik, berisik." Nea tampaknya mulai merasa risih kala merasakan hawa-hawa menyeramkan menyelimuti sosok Nea.
Nea mungkin bukan satu-satunya mahluk bumi yang membenci banyak hal, tapi terkadang apa yang dibencinya terlampau banyak ketimbang orang-orang di sekitarnya. Nea benci ini-itu, dan salah satu ketakutan terbesarnya adalah hal-hal yang berbau mistis. Mudah membuat Nea takut. Cukup dengan membawa Nea menonton film Casper. Memang aneh pribadi Nea, pasalnya apa yang harus ditakuti melalui sesosok hantu lucu yang bernama 'Casper' itu?
"Lo gak tau rumor gedung jurusan seni musik Ya?" tanya Fai.
"Gak, dan gak mau tau," jawab Nea.
"Mau gue ceritain da..." ujar Arka dengan mengangkat ke-dua bahunya. Seketika semilir angin menyambut Nea, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Jadi, katanya--"
Belum selesai berbicara, tiba-tiba saja seorang dosen yang sedari tadi mereka tunggu kehadirannya terlihat memasuki kelas. Membawa setumpuk lembar tugas milik anak didiknya sembari tersenyum lebar.
"Katanya apa Arka? Belum beres kan ceritanya, silahkan dilanjut. Saya juga mau dengar," ujar dosen tersebut.
"Oh, rumor gedung jurusan seni musik bu," ujar Arka masih dengan nada santainya.
"Percaya kamu? Jangan suka nyebar gosip aneh-aneh, nanti malah berujung fitnah. Gak baik. Itu gedung punya batasan pemakaian karena masalah yang gak pantas kalian tau," ujar dosen tersebut.
Seisi ruangan kemudian menatap Arka yang kini tengah terdiam sembari menunjuk langit-langit kelasnya dengan jari telunjuk miliknya. Dengan ekspresi yang masih sama Arka mengangguk begitu melihat tatapan dari Sang Dosen yang terlihat seolah-olah siap membunuh Arka.
"Yuk kita mulai kelasnya."
6/12/2018
Demi taruhan yang mereka buat pagi ini, ketiganya, Nea, Fai, dan Arka kini tengah berada di depan gedung seni musik. Nea yang memimpin jalan bersama dengan sosok Fai yang membuntutinya dari belakang sembari jalan berdampingan bersama Arka.
Nea tampak senang begitu ia tahu bahwa hari ini ia tidak akan mati kelaparan begitu mendapati kerumunan mahasiswi tengah duduk-duduk di daerah gedung. Tangannya tergerak untuk bertepuk tangan.
"Tuhkan! Gue bilang juga apa! Kemarin juga jelas-jelas ada orangtua mahasiswi yang neduh bareng gue buat nunggu anaknya keluar. Lo sih, pada gak percaya," ujar Nea.
"Wah! Arka traktir nih! Makasih Arka!" ujar Fai yang segera memukul pelan bahu Arka.
"Lah, lo-kan awalnya satu kubu sama gue Fai, kenapa lo sekarang berpihak sama si Nea?" tanya Arka.
"Aduh, gue lupa kapan gue berpihak sama lo," balas Fai.
"Kampret emang dua orang ini," protes Arka.
"Hehehehe."
"Gue bilang juga apa! Udah-udah gak apa-apa, gue aja yang traktir tapi, sebagai gantinya lo tanyain salah satu mahasiswi yang lagi kumpul di sana tentang kejadian kemarin sore," ujar Nea.
"Widii! Seriusan nih? Gampanglah itu mah. Hahahaha, kalem Ya." Arka kemudian berjalan menghampiri salah seorang mahasiswi yang tengah duduk melingkar di sebuah bangku.
"Eh, mau nanya dong. Boleh gak?" tanya Arka.
"Iya, ada apa kak?" jawab salah seorang mahasiswi yang tengah duduk di sana.
__ADS_1
"Lo semua lagi pada liburan semesterkan? Ngapain pada di sini?" tanya Arka.
"Iya, lagi pada liburan semester. Emang kenapa kak kalau kita di sini? Masalah buat kakak?" tanya mahasiswi tersebut.
"Eh, bukan gitu maksud gue. Maaf ya, gue cuma kepingin nanya," jelas Arka.
"Nanya apa kak?" tanya teman si mahasiswi tadi.
"Kalau kalian kemarin kumpul di sini juga gak?" tanya Arka.
"Gak kak, tapi saya tau anak yang setiap hari ke sini," jawab si mahasiswi.
"Wah, kalau punya kontaknya boleh tuh," ujar Arka.
"Gak usah repot-repot minta kontaknya, itu orangnya lagi makan di bawah pohon." Si Mahasiswi menunjuk sesosok wanita yang tengah sibuk memakan bekalnya sembari membaca lembaran partitur.
"Oh, oke. Makasih ya!" Arka kemudian pamit undur diri.
Nea bangkit dari duduknya setelah melihat sosok Arka kembali dengan iringan lari kecil yang dibawa kakinya melangkah ke arah Nea juga Fai. Ibu jari Arka bergerak menunjuk satu arah yang sama sembari terus berbisik kalimat 'coba tanya anak itu!'.
"Ayo Fai, sekarang tugas lo," ujar Nea.
"Iya, iya." Fai kemudian bangkit dari posisi duduknya. Ia kemudian berjalan menghampiri seorang mahasiswi yang tengah duduk di bawah bayangan pohon.
Begitu Fai sampai di tempat, ia kemudian ikut duduk di sebelahnya. Fai kemudian tersenyum, lalu menepuk pelan bahu mahasiswi tersebut.
"Hai."
"Oh, hai," jawab mahasiswi itu dengan air muka terkejut.
"Mau nanya sebentar boleh?" tanya Fai.
"Oh, mau tanya apa?" tanya mahasiswi itu sedikit ragu.
"Kemarin kamu ada di sinikan? Kebetulan aku mau nanya, kemarin liat anak cowok jurusan seni musik masuk ke gedung ini gak? Sekitaran jam 4," ujar Fai.
"Jam 4 ya? Ada apa emang?" tanya mahasiswi itu.
"Ada perlulah pokoknya. Liat gak?" tanya Fai sekali lagi.
"Mungkin liat tapi dia bu--." Belum juga selesai berbicara Fai segera bangkit dari posisinya.
"Oke, makasih ya. Oh, sekalian. Kalau boleh tau, kamu tau namanya gak?" tanya Fai.
"Hm? Gak kayaknya," jawab mahasiswi itu dengan sedikit terbata ketika membantah dengan air muka yang sulit dideskripsikan.
"Yah... Okedeh kalau gitu. Aku pergi dulu ya! Makasih atas bantuannya!" Fai kemudian segera berlari ke arah Nea yang tengah berdiri bersama Arka.
"Gimana-gimana??" tanya Nea.
"Ada. Anak seni musik yang kemarin kesini beneran ada. Tinggal lo cari siapa namanya," ujar Fai.
"Oke. Pencarian dimulai!"
©AksamalpaAksara
__ADS_1