
Permainannya adalah bentuk pelampiasan rasa pilu penuh warna yang nyata
° • ° • Catatan Tanpa Judul • ° • °
15.46
4/12/2018
'Crash crash'
Langit nampaknya tengah bersedih. Warnanya berubah kelabu, seolah-olah meninggalkan identitas aslinya yang penuh warna, pun disukai oleh ratusan bahkan ribuan manusia yang berpijak di muka bumi ini.
Bandung merupakan tanah kelahiran seorang gadis berparas cantik bernama Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya. Nama yang memiliki sejuta harap, pun setelahnya dituang melalui sebuah frasa apik hasil perdebatan kedua orangtuanya. Kerap kali Nea mendengar keluhan orang-orang perihal namanya yang panjang. Namun, Nea tampak tak peduli perihal itu.
Desahan kasar milik Nea terdengar mengalun bersama gemuruh langit. Sungguh, Nea benci hujan. Seiring berjalannya waktu, Nea merasa iri kepada orang-orang yang mungkin saat ini telah berhasil kembali berpulang pada pelukan hangat dinding-dinding monoton yang tak pernah terasa membosankan, atau mungkin mereka yang kini tengah meminum secangkir cokelat panas, pun kemungkinan lainnya, yaitu bersua dengan Tuan Kasur. Lagi, ia tekankan, Nea membenci hari ini. Pasalnya melalui berbagai probabilitas yang disebutkan Nea, gadis itu masih berdiri di sini, tempat di mana ia mengenyam pendidikan selama 3 tahun terakhir. Oh, salah! Tepatnya Nea tengah berada di sebuah gazebo kecil, meneduh dan menunggu hujan tuk reda.
'Tap, tap, tap'
Tepat di bawah naungan langit kelabu beserta tangisannya yang datang tanpa penjelasan, tengah berlari seorang wanita paruh baya. Sebutlah ia seorang ibu-ibu. Tujuannya di detik itu sama dengan Nea, berteduh.
Ya, setidaknya Nea tak lagi sendiri di sana. Faktanya, Nea benci sendiri. Seperti tertimpah durian runtuh, Ibu itu baru saja mengusir penat yang datang melalui keheningan.
"Neduh neng?" tanya ibu-ibu itu.
"Iya bu," jawab Nea dengan senyuman manis miliknya.
"Jurusan apa neng?" tanya ibu-ibu itu lagi.
"DKV bu." Entahlah, Nea selalu merasa euforia aneh tiap kali menyebutkan nama jurusannya. Ia selalu merasa bahwa sedikit banyaknya hal ini mampu membuat dirinya terlihat, nyentrik?
"Oh iya?! Wah, jago gambar dong," ujar ibu-ibu itu sembari memasang air muka terkejut.
__ADS_1
"Gak juga bu. Hehehe." Nea tersipu begitu mendengar pujian dari ibu-ibu itu.
"Ah, suka gitu deh. Kebetulan saya juga punya anak di sini," cerita ibu itu.
"Oh iya bu? Jurusan apa?" tanya Nea.
"Jurusan seni musik," jawab ibu tadi.
"Woah! jago nyanyinya dong?! Main instrumen juga gak bu?" tanya Nea dengan nada yang terdengar antusias.
"Dia main instrumen, tapi gak terlalu menguasai. Anak saya tuh sebenarnya lebih menguasai teknik vokal. Emang kenapa neng?" tanya ibu-ibu tadi.
"Sebenernya aku tuh lagi nyusun tugas animasi yang nantinya bakal aku gunakan untuk tugas akhir. Nah, kita, maksudnya anak-anak DKV, disuruh buat kolaborasi sama anak-anak jurusan musik, kebetulan aku belum nemu pasangan yang tepat buat isi soundtrack animasi aku bu, kalau ibu berkenan aku mau da di pasangin sama anak ibu. Anak ibu siapa namanya?" tanya Nea.
"Oh, boleh-boleh. Nama anak saya Adiba Balqis Firdaus, biasanya temen-temen dia manggil nama anak saya Balqis. Nanti saya tanya deh ke anak saya. Oh iya, ngomong-ngomong saya juga belum tau nama kamu siapa," ujar ibu itu yang diakhiri dengan tawa keduanya.
"Oh iya! Aku lupa bu, maaf-maaf. Nama aku Ladira Raina Anuhea Zulfa Tsuraya," ujar Nea.
"Hehe, ayah sama ibu aku sih bu, ngasih nama panjang-panjang. Ya udah, panggil aja aku Nea bu," ujar Nea dengan senyuman.
"Gak apa-apa, bagus itu. Artinya ayah sama ibu kamu punya doa dan harapan yang banyak untuk kamu," ujar ibu tersebut.
"Waduh! banyak banget bu." Nea kemudian tertawa.
Nampaknya sakit yang dirasakan langit tak lagi terasa, walau kelabunya masih tetap setia berpegangan dengan kanvasnya. Nea kemudian menatap ke arah langit. Setelahnya, ia teringat tujuan asli yang membawa langkahnya kembali ke tempat membosankan ini yaitu, bertemu dengan sahabatnya, Arka, untuk mengambil laptop miliknya yang dipinjam. Nea segera menoleh menatap ibu yang baru saja menjadi teman barunya sekitar beberapa menit yang lalu.
"Bu, aku duluan ya?" ujar Nea.
"Eh, masih gerimis loh. Biasanya yang bikin sakit jenis hujan kayak gini," ujar ibu tersebut.
"Gak apa-apa bu. Segini doang mah kuat kok aku. Hehehe," ujar Nea.
__ADS_1
"Oh, ya sudah kalau begitu. Hati-hati ya neng," ujar ibu tersebut.
"Iya, makasih bu."
Nea kemudian berlalu pergi. Berlari meninggalkan gazebo kecil yang menjadi tempatnya meneduh selama 10 menit. Sialnya Nea, entah apa alasannya langit terasa lebih sedikit 'rese' dari yang biasanya. Ketika hujan yang sebelumnya mulai reda kembali deras, Nea berlari pergi menuju gedung jurusannya. Mencari jalan memotong untuk lebih cepat sampai ke tujuan, hingga akhirnya memutuskan untuk melewati gedung jurusan seni musik yang terkenal menyeramkan.
Seperti yang diduga, gedung seni musik memang selalu sepi di jam-jam seperti ini. Pasalnya mereka, mahasiswi pun mahasiswa yang memilih jurusan ini diharuskan pulang di setiap jam 4 sore. Tanpa alasan yang jelas dan selalu begitu. Entah apa yang pihak kampus ini sembunyikan, melalui peraturan aneh yang disahkan oleh mereka.
Nea terus berlari, mengingat ini sudah pukul 4 kurang 4 menit. Sungguh Nea akan membunuh Arka atas perilakunya yang dianggap Nea sangat tidak bertanggung jawab.
Sudah siap mengambil langkah baru, tiba-tiba saja langkah Nea terhenti tepat di depan pintu utama gedung seni musik, Nea merasakan bulu kuduknya merinding. Pakaiannya yang basah, beserta rambut panjangnya yang jadi lepek dalam hitungan detik, makin menambah rasa bencinya terhadap hujan. Badannya menggigil. Di sela-sela keluhan yang terus ia ucapkan melalui hati kecilnya, sebuah alunan indah yang terasa menyakitkan terdengar menyahut telinga Nea.
Nada yang mengalun itu terdengar akrab. Nea bisa merasakan segala emosi yang dituangkan Si Pianis setiap menekan tuts piano. Bahkan kini, kaki panjang miliknya menuntun Nea untuk melangkah mendekat ke arah pintu masuk gedung seni musik, pun tangannya tergerak membuka pintu yang tidak tertutup sepenuhnya. Laksamana lautan pasang pun hangatnya mentari yang menyapa melalui fajar, Nea hanyut di dalam nada seindah itu.
Hal pertama yang tertangkap oleh netra Nea adalah sebuah grand piano berwarna hitam di pusat ruangan dengan sorotan cahaya dari atap dengan warna transparan, bersama seorang lelaki yang tengah terhanyut dalam permainannya. Matanya terpejam, seolah ia tengah melukis segala emosi juga kegundahan hatinya melalui nada yang mengalun lembut dan menyapa masuk ke relung hati milik Nea.
Nea terjebak di ruang hampa dengan pijakannya yang terjatuh di hamparan pasir putih, dengan membawa segenggam rasa kehampaan, keputus-asaan, kerinduan, dan kepedihan mendalam. Lalu, entah kenapa rasanya sudah lama, sudah lama Nea menanti untuk kembali mendengar semua alunan melodi indah itu. Hingga untuk pertama kalinya dalam kurun waktu yang cukup lama. Nea kembali menjatuhkan air matanya.
Tanpa Nea sadari, ia telah terjatuh.Tepatnya, kembali terjatuh setelah sekian lama kehilangan pemilik hatinya. Sayangnya, Nea tidak mengetahui perihal ini. Bahwa bisa dikatakan, Nea mencintai sesosok khayalan.
16.00
4/12/2018
©AksamalpaAksara
__ADS_1