
"Mba tinggal dulu ya, pengen istirahat juga. Buat modal jahit nanti malam" Vika berlalu kekamarnya untuk beristirahat siang. Karena setiap malam dia harus menjahit untuk membuat stock tokonya yang tadi habis diorder pelanggan baru.
Saat menguap serta meregangkan tubuhnya Vika mengumpulkan kesadaraannya setelah tidur beberapa jam. mencium bau masakan yang wangi lewat dihidungnya, siapa yang masak sampai baunya masuk kamar gumam Vika.
Vika berdiri dan melangkahkan kakinya untuk kedapur, setelah mencium bau masakan tadi membuat Vika merasa lapar. Didapur Vika melihat meja makan banyak makanan.
"Sore mba Vika, sudah bangun?" Ayu keluar dari kamar mandi yang ada disamping dapur.
"kamu masak yu?"
"Ia mba, maaf aku lancang buka kulkas mba Vika. Aku masak sayur dan ikan yang ada dalam kulkas mba" berhenti disamping meja makan berhadapan dengan Vika takut mbanya itu marah karena tidak ijin memasak yang ada dikulkas.
"Astaga ini sepertinya enak yu, jadi kamu pinter masak. Kalau gini mba bisa kemanjaan dimasakin kamu terus" Vika mengambil piring dan mengambil nasi.
"Apa tidak mandi dulu mba sebelum makan" Ayu tersenyum lihat mba Vika yang lupa baru bangun tidur langsung makan.
"Astaga lupa mba belum mandi, mba mandi dulu baru makan deh. Makasih sudah diingatkan" kata Vika yang berlari kekamar mandi dan menarik handuknya yang ada digantungan depan kamar mandi.
Ayu tersenyum melihat tingkah mbanya itu, Ayu kekamar menganti bajunya dan duduk dimeja makan menunggu mba Vika yang sudah ada dikamarnya setelah mandi tadi.
__ADS_1
"Kok belum dimakan yu??"
"Nunggu mba Vika donk,biar sama-sama. Kalau sendirian gak enak ga ada temannya."
Ucap Ayu yang mengambil piring dan menaroh nasi didalamnya untuk mba Vika.
"Makasih" ucap Vika yang disodori piring berisi nasi oleh Ayu.
"Emm, ngeledek mba kamu, selama ini mba makan sendirian. Rebus mie sampai 2 bungkus, yang penting makan" ucap Vika sambil mengunyah makanannya.
"Pantas bak sampah banyak bungkusan mie, apa gak bengkak perut mba Vika" hee
"Udah jangam sedih, biar itu menjadi penyemangat kamu biar kerja lebih keras lagi. Setidaknya selesaikan sekolahmu, mau lanjut kuliah bisa dipikirkan kalau sudah tamat SMA."
"Iya mba, trmks banyak mba mau menampung Ayu disini. Keluarga mb dimana mb." tanya Ayu yang gugup karena menanyakan hal yang sensitif.
"emm, nanti mba ceritakan keluarga mba sama siapa mba yu. Kita habiskan makanan dulu, biar deh malam ini mba jahit. Mba mau cerita-cerita sama kamu,mumpung mba sekarang punya teman ditoko"
"Siap mba bos" tersenyum dan kembali mengunyah makanannya.
__ADS_1
Vika duduk disofa mameriksa medsosnya yang lama tidak dimainkannya. Punya ide mau posting foto-foto jahitannya disana.
"Mba?"
"Ehh, duduk yu. Sudah beres cucian kamu?" tanya Vika yang masih mengotak atik gawainya.
"Serius amat mba, liatin apaan sih" tanya Ayu.
"Liat medsos mba yu, mba mau coba pajang foto jualan mba kali aja nambah pelanggan toko. Kamu punya hp yu?
"Boro-boro hp mba, buat makan saja susah" memainkan jari tangannya.
Vika mendekati Ayu, "mba dulu juga gak punya apa-apa yu. mba sekarang hanya punya Ayah dikampung, kalau ibu sudah meninggal waktu melahirkan mba. Ayah mba kerja petani. Buat kuliah mba, tapi disini mba gak kuliah. Sampai sekarang Ayah gak tau tu mba berhenti kuliah." cerita Vika
"kenapa mba gak kuliah, kasian Ayahnya kerja keras tapi mba Vika gak kuliah" tanya Ayu yang binggung kenapa orang seperti mba Vika harus berhenti kuliah padahal sudah dikasih orang tua yang sanggup bekerja.
"Mba kalah yu, sama bullyan teman-teman mba dikampus. Dari awal masuk sampai mba keluar dari sana. Mba dimaki orang miskin, udik, kampungan, bahkan fisik pun mba terima dari mereka. Tapi mba tidak kalah sampai disitu, kalau mba sukses dengan usaha mba, punya segalanya. Mba bakal balik kekampus itu, mba mau tampar mereka dengan kesuksesan mb." ucap Vika panjang lebar.
"Sekarang mba kan sudah sukses, bisa punya toko sendiri. Mau nyekolahin aku juga, berarti mba sukses itu" jawab Ayu.
__ADS_1
Bersambung