Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 41


__ADS_3

" Sudah siap Nona, anda pas sekali memakai gaun ini. Dengan warna hitam begitu kontras dan elegant dikulit anda yang putih mulus ini. Coba dilepas kacamatanya Nona saya yakin anda begitu cantik malam ini" ucap Pelayan yang membantu Vika memasang gaun itu.


"Tidak saya tidak ingin dilepas, nanti saya terlihat jelek. Saya sudah percaya diri dengan berkacamata." ucap Vika menatap pelayan itu.


"Coba saja lepas sebentar Nona, saya menjamin anda akan terlihat cantik. Dengan make up minimalis diwajah anda. Saya percaya anda akan luar biasa diluar sana. Untuk memberikan sedikit penghargaan akan diri anda, anda bisa mencobanya meski hanya sekali nona. Hee maaf saya lancang banyak berbicra" tunduk pelayan yang kepalanya tertunduk karena lancang banyak berbicara.


"Ahh kamu jangan begitu, saya sangat berterima kasih. Saya akan mencobanya, ini boleh minta tolong untuk simpan kacamata ini dulu" ucap Vika memberikan kacamatanya dan melihat dirinya dalam cermin besar.


Benar juga, aku terlihat berbeda. Hanya sekali ini, aku harus percaya diri karena disana aku tidak ingin Ibu Cantika malu melihat penampilanku.


Aku keluar dari kamar ganti, disana ada Ibu Cantika dan Ayu yang sudah menunggu.


"Maaf apa Vika terlalu lama, maafkan Vika Bu" ucap Vika berjalan kearah Bu Cantika dan Ayu disana. Dan ada Cikko juga yang semua terlihat mematung menatapku.


Ibu Memutar badan Vika, saat Vika sudah sampai dia depan mereka.


"Kamu Cantik sayang hanya dengan gaun saja kamu terlihat cantik. Ada apa dengan kacamata kamu nak" berhenti didepan Vika setelah puas memutar Vika melihat dari ujung kaki sampai ujung kepala.


"Mba aku cantik, liat mba ini pilhan mas Cikko. Aku terlihat dewasa" memutar dirinya didepan orang banyak.


Cikko tersenyum dan senang karena pilihannya disukai Ayu. Dia juga mengagumi penampilan Nona Vika yang tampak berbeda.


tanpa make up berlebihan dia terlihat cantik. Cepat Cikko pergi kekasir untuk membayar belanjaan Nyonya Besar.


Semua tertawa dan tersenyum saat didalam mobil mendengar cerita Vika dan Ayu berada dalam mall.


"Apa Vika bisa punya butik Pakaian Dalaman rancangan Vika dan Ayu haaa" Vika tertawa karena menghayal memiliki Toko sebesar mall.


"Kamu tidak perlu punya sebesar itu nak, kamu cukup membuatnya dan menyebarkannya keseluruh Indonesia. Kalau butik tadi mungkin ada satu atau dua butik saja. Sedangkan punya nak Vika, ada diseluruh Indonesia. Gimana?" jawab Ibu yang memberikan petuah.


"Iya betul itu nona Vika, buat pabrik khusus pakaian dalam. Tidak perlu dijual ecer lagi, cukup memproduksi untuk grosiran dan reseller." ucap Cikko yang ikut memberikan pendapat.


"Wah itu ide yang baru terpikirkan. Terima kasih Bu dan tuan Cikko. Aku bisa memikirkannya nanti." kata Vika dan Ayu yang tersenyum melihat Cikko yang sedang menyopir dan sekali-sekali mata mereka bertemu dikaca depan mobil.


Tepat pukul Tujuh Malam mereka sampai diaula kantor. Cikko menuntun mereka memasuki ruangan aula melalui pintu VIP khusus.


Saat ini Rymon sedang berdiri diatas panggung yang besar. Menyampaikan keberhasilan untuk kantor mereka akan tender yang mereka raih tahun ini.


Semua orang bertepuk tangan dan berdiri dari kursi masing-masing. Disaat semua orang bertepuk tangan, Cikko masuk mengantar Nyonya Besar untuk menduduki kursi khusus pemilik perusahaan diikuti Vika dan Ayu.


Vika takjub pada ruangan yang besar itu dan berdiri dipanggung yang besar juga sosok pria besar yang sering hadir dalam mimpinya.


Begitu tampan dan berwibawa tidak terlihat sisi arogan dan egois yang sering dijumpainya jika mereka bertemu.


Pasti dia orang penting sampai bisa berdiri dipodium gumam Vika yang masih berdiri.


Rymon yang melihat kehadiran Cikko bersama Ibunya tersenyum. Dan lebih menarik perhatian Rymon adalah hadirnya sosok Vika dan Ayu.


Ternyata Ibu tidak sendirian, tapi Kenapa wajah wanita itu begitu berbeda seperti biasa. Lebih cantik dan ada yang hilang. Hemm kacamata tebalnya gumam Rymon yang masih terpana.

__ADS_1


Seseorang datang menghentikan lamunan Rymon, siapa lagi kalau bukan Cikko.


Rymon melanjutkan sambutannya dan mengakhirinya dengan doa bersama sekaligus acara ramah tamah.


Semua orang menikmati syukuran itu, ada yang bercengkrama dan ada juga yang bernyayi.


Rymon sedang menjamu kliennya yang hadir saat itu. Sedangkan dimeja lain Ibu Cantika asik mengobrol dengan Cikko, Vika dan Ayu.


Hati Rymon ingin sekali bisa bersama mereka duduk disana. Tapi kenapa Cikko yang sekretarisnya malah enak menikmati jamuan, tidak mendampinginya menghadap klien. Awas kamu Cikko, geram Rymon dalam hatinya.


Entah kenapa tatapan Cikko tidak sengaja menatap Tuannya yang berbincang dengan klien. Dia melihat tatapan membunuh dari Tuan Rymon yang melotot dari kejauhan.


Mati aku mata itu seperti ingin keluar, jangan-jangan aku keenakan ngobrol dengan Nyonya besar dan lupa dengan tuan Rymon. Mati aku maaaa, cepat Cikko pamit pada Nyonya Besar, Vika dan Ayu untuk menemani Tuan Rymon.


Cikko datang dengan keringat yang menetes didahinya, dia ketakutan dengan tatapan Rymon. Cikko membungkuk dan memberi salam pada klien mereka yang juga sudah mengenal Cikko yang kaki tangan Rymon.


Rymon pamit saat Cikko sudah bergabung dengan klien-klien yang hadir. Dia ingin menyapa tamu yang lainnya, sebelum itu Rymon lebih dahulu pergi ketoilet karena menahan buang air kecil.


Vika yang mengobrol dengan Bu Cantika pamit ingin ketoilet. Bu Cantika menyuruh Vika berhati-hati jangan sampai nyasar.


Vika paham dan berjalan mencari arah yang sudah ditunjuk Bu Cantika.


Ayu yang sibuk dengan cemilan serba manis yang diambilnya dimeja dessert. Bu Cantika hanya tersenyum dan membiarkannya karena ini makanan yang jarang Ayu makan.


Sekali-kali Ibu Cantika mengobrol dengan tamu yang mengenalinya. Kadang mata orang saat berbicara dengan Bu Cantika tapi matanya memperhatikan Ayu yang lahap makan.


Bu Cantika hanya menghela nafas kasar, baginya kata-kata itu tidak penting. Melihat anak-anak perempuannya yang baru dia temui itu adalah anak-anak yang luar biasa sopan santunnya, membuat Bu Cantika betah dan jatuh cinta. Meskipun tidur harus sekamar dengan Vika yang hanya beralas sofa kecil. Tapi tidurnya nyaman, ada teman sholat dan yang pasti teman mengobrol.


Vika yang sudah menemukan Toilet segera masuk dan melewati para wanita yang memandang Vika terburu-buru masuk.


Vika tidak menyadari kehadiran Korry dan temannya disana. Mungkin karena tidak pakai kacamata jadi Vika tidak tapi mengenal siapa-siapa orang yang dilewatinya.


Korry tersenyum senang bisa bertemu langsung dengan Vika wanita yang berani mencebloskannya kedalam penjara.


Mereka mengunci pintu toilet yang dimasuki Vika dengan sapu diganggang pintu. Cepat mereka meninggalkan tempat itu sebelum Vika menyadari dirinya terkunci.


Vika yang selesai buang air kecil merapikan dirinya didalam toilet dan saat akan membuka ganggang pintu tapi tidam terbuka juga.


Vika pikir rusak atau apa karena ganggang pintu tidak dapat dia buka. Mencoba lebih keras sampai tanggannya merah, sambil berteriak minta tolong.


Sayangnya tidak ada yang masuk kedalam toilet wanita karena ditulis Korry kalau toilet sedang rusak.


Vika mulai panik karena teriakannya tidak ada yang merespon, karena suara musik memang begitu besar volumenya.


Vika mulai menangis, dia lupa tidak membawa tas kecilnya yang berisi Hp. Dia terus berusaha teriak sampai Rymon yang melintas sayup-sayup mendengar ada teriakan dari Toilet wanita.


Tapi sejak kapan pikirnya toilet ini menjadi rusak. Tidak ada laporan kerusakan toilet, saat musik sedang berhenti suara teriakan minta tolong semakin jelas.


Rymon yang mencoba mengecek apakah pendengarannya yang salah. Berjalan masuk kedalam toilet, disana Rymon mendengar suara tangis wanita. Suara tolong menjadi hilang tergantikan dengan tangis wanita.

__ADS_1


Apa hantu pikirnya, tapi jaman sekarang mana ada hantu. Rymon mendekati suara tangis yang berada di bagian tengah toilet. Rymon melihat ada sapu yang menganjal ganggang pintu.


Rymon mencoba melaps itu dan membuka pintu itu dengan pelan. Vika yang melihat ganggang pintu bergerak. Memundurkan diri karena seseorang datang pikirnya.


Pintu toilet terbuka Vika berlari kearah Rymon yang menutupi pintu toilet dengan badannya yang besar.


Rymon yang belum siap diposisi dipeluk tiba-tiba, terdorong kebelakang dan...


Rymon terjatuh kebelakang dengan posisi Vika diatasnya.


Mata ketemu mata, mata yang menghiasi mimpi mereka setiap malam. Rymon sadar posisinya salah dan tidak baik terlihat orang menyadarkan lamunan Vika.


"Apa begitu empuknya tubuhku sampai kau betah diatasnya" ucap Rymon yang menatap lebih dekat wajah yang selalu ada dalam mimpinya.


Vika sadar langsung bangkit dan berlari meninggalkan Rymon begitu saja. Wajah Vika merah menahan malu karena begitu lama berada diatas badan orang lain.


Rymon terpaksa bangkit dari posisinya yang terbaring. Dengan badan yang besar dia begitu susah mengangkat tubuhnya sendiri.


Cikko yang melihat Vika berlari kearah parkiran dengan wajah merah dan air mata. pamit pada orang-orang yang ada dihadapannya.


Berlari kearah mana Vika berlari, Cikko celingak celinguk mencari sosok Vika yang lebih dahulu keluar darinya sehingga Cikko kehilangan jejak.


Mendengar suara tangisan, Cikko mencari asal suara dan benar dia menemukan Vika yang meringkuk dibalik mobil orang dengan wajah yang basah. Menangis dengan posisi duduk dan menangkup mukanya dengan tangannya sendiri.


"Maaf kenapa Nona menangis, apa anda sakit nona? Biar saya antar pulang." tanya Cikko.


Vika kaget dan menoleh arah suara yang dikenalnya, dan benar orang itu Cikko. Lekas Vika berdiri tapi dia berhati-hati takut memeluk orang lagi, karena dia begitu takut terkunci.


Ditambah dia juga sudah memeluk orang serta menindih tubuh seorang pria yang dikenalnya. Wajah dan mata yang selalu menghiasi mimpi Vika tiap malam.


"Nona Vika baik-baik saja" melambaikan lima jarinya kearah Vika yang melamun dengan muka yang basah karena menangis.


"Maaf saya baik-baik saja, tadi saya pergi ketoilet tapi pintu itu tidak bisa terbuka. Saya minta tolong tapi suara musik membuat suara saya tidak terdengar. Dan Tuan Rymon yang membantu saya keluar" ucap Vika yang masih sesugukan sisa tangisnya.


"Apa??siapa yang berani bermain hal seperti itu mengunci pintu sembarangan. Akan saya cek di cctv siapa pelakunya." jawab Cikko yang kaget mendengar Nona Vika terkunci.


"Maaf Tuan apa bisa saya pulang sekarang, maaf saya tidak bisa mengikuti acara itu sampai habis."


"Saya akan menghubungi Nyonya Besar, siapa tahu Nyonya juga ingin pulang untuk beristirahat" ucap Cikko yang dibalas anggukan oleh Vika.


Bu Cantika yang mendapat kabar hal seperti itu terjadi pada Vika, membuatnya kaget dan ikut pulang tanpa pamit pada Rymon.


Vika yang sudah lebih dahulu dalam mobil menunggu kedatangan Bu Cantika dan Ayu. Sementara itu diluar mobil Cikko menghubungi tuan Rymon kalau Nyonya besar, Nona Vika dan Ayu pulang.


Rymon dan Cikko sempat membahas tragedi yang menimpa Vika ditoilet dan membenarkan kalau dia yang menemukan Vika terkunci disana.


Rymon menyuruh Cikko agar mengecek cctv agar mengetahui siapa yang telah mungunci Vika ditoilet tadi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2