Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 34


__ADS_3

"Maafkan saya Cikko selama ini saya sudah keterlaluan dengan sikap saya. Saya melakukan semua itu bukan karena rasa sakit hati saya, itu sudah terkubur lama. Hanya saja tubuh saya yang besar ini membuat saya malu". Ucap Cikko yang tertunduk.


"Tuan kalau Tuan ingin mengembalikan bentuk tubuh ayo saya temani Tuan jogging tiap hari dan makan makanan bergizi."


"Tapi saya sudah terlanjur candu dengan minuman, apa saya bisa?"


"Kalau ada niat pasti bisa Tuan, yakin saja semua ada prosesnya"


"Tapi kamu tidak jadi meninggalkan saya, apa kamu sudah bosan hidup Cikko hmm!!"


"Saya kira sudah sadar, istirahatlah besok anda bisa pulang"


~ Ditempat Lain ~


Taksi Bu Cantika berhenti diseberang toko Vika, karena banyak kendaraan parkir tepat didepan toko. Karena toko ramai, jadi Ibu lewat samping toko.


Karena ramai orang, jadi Ayu dan yang lainya tidak memperhatikan kehadiran Bu Cantika. Hanya Rini yang melihat kedatangan Bu Cantika karena Rini menyelesaikan orderan jahitan.


"Ibu balik?" tanya Rini


"Sttss" menaruh telunjuknya dibibir memberi kode agar Rini tidak bersuara.


Rini yang paham mengganguk dan memberikan jempolnya pada Ibu dan melanjutkan jahitan.


Ibu kekamar mengganti baju dan memasang tas khusus melayani pembeli. Cekatan Ibu melayani pembeli yang membeli pakaian dalaman.


Setelah Siang dan hanya ada beberapa pembeli, Ayu yang heran ada sosok mirip bu Cantika. Mendatangi Orang itu lebih dekat, memastikan apakah itu benar Bu Cantika.


"Permisi"


Bu Cantika tersenyum mengarah Ayu yang menyapanya.


"Looo Ibu???" memeluk Ibu Cantika.


"Ibu kenapa ada disini, bukannya Ibu dirumah Sakit menjaga anak Ibu?? Mana Mba Vika bu, tadi mba Vika nyusul ibu bawa jaket Ibu ketinggalan sama bubur juga bu takut Ibu lupa makan siangnya." jawab Ayu panjang kali lebar.


"Bingung Ibu jelaskannya, pertanyaannya. Satu-satu nak hee. Jadi Nak Vika kerumah sakit."


"Ayu, Bu Cantikanya disuruh istrirahat dulu. Ayo panasin masakan yang Ibu bawa tadi untuk kita makan siang." ucap Bu Rahma.


"Siap Bos" ucap Ayu pada Budenya dan pergi kedapur biar bisa makan bersama Ibu cantika dan yang lainnya.

__ADS_1


Dari pintu samping sosok Vika datang dengan aneka cemilan dan makanan ditangannya.


"Asslamualaikum" sapa Vika


"Waalaikumsalam" jawab mereka kompak menyahut salam Vika.


"loh Ibu kenapa ada disini, tadi Vika nyusul Ibu kerumah sakit tapi.."


Bibir Vika dikasih jari oleh Ayu yang datang dari dapur.


"Kagetnya nanti dulu mba, gimana kita makan siang dulu. Soalnya pelanggan sudah menunggu kita buka." kata Ayu yang mengambil aneka makanan dari Vika.


Rini karyawan Vika lebih dahulu memanasi makanan yang dibawa bu Rahma. Menantanya ditikar agar bisa dimakan bersama.


Ayu juga menata makanan dan cemilan yang dibawa Vika, mereka makan setelah melaksanakan Sholat dan berkumpul untuk makan siang.


Pa becak sekarang membantu Vika merapikan kendaraan didepan toko. Tapi Vika bilang ke pa Becak jangan dipungut uang parkir diberi gratis saja.


Selesai makan siang dan tidur siang, toko kembali dibuka. Semua kembali kebagian pekerjaan masing-masing.


Ingin sekali Vika bercerita dengan Bu Cantika kejadian dirumah sakit tapi diurungkannya karena Vika juga harus menyelesaikan orderab jahitan dan jahitan yang akan dijual ditoko.


Hari mulai sore, Toko pelan-pelan ditutup Ayu sebelah agar consumen tahu waktu toko akan tutup. Hingga jam tutup, toko benar-benar sepi dari pelanggan.


"Bu, apa boleh Vika bicara sebentar?"


"Ngomong saja nak, Ibu pasti mendengar" ucap Bu Rahma yang duduk santai dan mengobrol bersama bu Cantika.


"Apa boleh Vika membeli toko ibu dan bapak ini beserta tanahnya bu. Vika merasa tempat Ibu ini membawa hoki untuk Vika dan Ayu. Vika berminat membangun toko ini lebih besar. Dan Vika juga mau membuat kamar yang banyak biar bisa menampung anak-anak yang mau bekerja dengan Vika?"


"Alhamdulilah, rejeki anak Ibu semakin banyak. Orang baik pasti dibalas dengan kebaikan. Begini saja nak, kalau nak Vika mau membelinya bisa bicarakan dengan Bapak. Karena surat bangunan dan tanah ini atas nama Bapak." kata Bu Rahma yang bahagia Vika memiliki kemajuan yang signifikan.


"Baik bu, nanti kalau Ibu dijemput bawa Bapak masuk saja bu. Minta waktu Bapak sedikit membahas niat Vika tadi yaa Bu"


"Nah untuk Ibu ku yang cantik ini, Ibu punya hutang cerita hari ini. Nanti dikamar ceritakan yang terjadi dirumah sakit ya bu" ucap Vika menatap Bu Cantika dengan kedipan satu mata.


"Anak ini memang ada saja keinginannya, tapi Vika ijinin Ibu gak balik lagi kesini?" jawab Ibu yang juga mengedipkan matanya meniru Vika.


"haa" semua orang tertawa.


Dan tak lama bunyi klakson motor Bapak bunyi mengkode Ibu Kost kalau dijemput.

__ADS_1


"Nah itu Bapak, Ibu panggilin dulu ya." pamit Bu Kost pada Vika dan Bu Cantika.


"Terima kasih bu"


Beberapa menit, Ibu sudah datang membawa Suaminya.


"Asslamualaikum" ucap Ibu dan Bapak yang masuk dipintu samping


"Waalaikumsalam" Kompak Ibu Cantika dan Vika menyahut salam.


"Duduk pa, ini minuman ala kadarnya pa dan ini ada cemilan juga" suguh Vika pada suami bu Rahma.


"Walah pantas Ibu semakin berisi, ternyata pulang dari sini jajanan cemilannya berlimpah, terima kasih suguhannya nak. Mari minum bu, Vika" ucap Bapak pada semua orang.


"Ini cemilan ringan pak, gak bikin ibu gendut kok percaya saja pa haa" Ibu Rahma membela diri karena dikatakan berisi oleh suaminya.


Saat semua selesai ngomong ngalor ngindul, Vika mulai bicara serius dengan suami bu Kost. Menyampaikan niatnya ingin membeli bangunan dan tanah yang sekarang Vika tempatkan untuk berjualan.


Bapak, menyambut baik niat Vika dengan menawarkan berapa kemampuan Vika membelinya. Bapak setuju jika Vika membelinya, karena lebih baik dijual dari pada disewa jadi Ibu dan Bapak punya tabungan dimasa tua kata Bapak yang menanggapi niat Vika.


"Alhamdulilah, terima kasih pa. Saya tidaj bisa menentukan harga. Berapa pun Bapak sebut, Vika setuju pa. Bapak sebut saja pak, Vika ihklas dengan nominal yang Bapak sebutkan. Kalaupun tidak mencukupi, Vika siap menyicilnya." Kata Vika yang menatap Bapak dan Ibu Kostnya.


"Bagaimana Kalau 200juta nak, kalau pun mahal nak Vika bisa tawarkan" ucap Bapak yang disaksikan istrinya sendiri.


"Setuju pak, Vika akan bayar Cash. Tapi pak, Vika mau Bapak carikan tukang bangunan yang menurut Bapak bagus agar bisa membangun toko beserta tempat tinggal yang bisa digunakan juga untuk menjahit"


"Baik Bapak punya kenalan tukang yang bagus untuk toko nak Vika."


"Kapan Vika Bisa mulai membayar pak, Vika gak sabar mau jemput Ayah dikampung kalau Toko Vika yang baru sudah jadi"


"Besok saat jemput Ibu, Bapak bawakan kwitansi pembelian. Beserta notaris yang menyaksikan pembelian surat tanah dan bangunan. Bagaimana nak?"


"Iya pak Vika setuju, terima kasih Bu Bapak sudah baik sama Vika. Tapi Bu kost tetap bantu Vika disinikan Bu, Nanti Vika bayar mahal kalau Ibu ada buat Vika tiap hari."


" Wah berduit anak Ibu sekarang" memeluk Vika dan meneteskan air mata.


"Nak Ibu bangga padamu, Ibu tahu betapa perjuanganmu saat pertama menginjakkan kaki dikota ini. Dan jangan lupa lanjutkan kuliahmu nak, kasian Ayahmu dikampung, hiks."


"Terima kasih banyak Bu, ibu selalu ada buat Vika dari awal dikota ini. Vika meresa ada Ibu yang hadir disosok Ibu Kost dan Ibu Cantika. Aku bahagia dikelilingi orang baik, Vika janji akan menyelesaikan kuliah Vika juga bu, hiks" tangis Vika pecah dalam pelukan Ibu Rahma.


Ayu yang mengintip dari balik dinding, ikut mengeluarkan air matanya. Dia juga merasa beruntung bertemu bude Rahma dan Mba Vika.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2