Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 43


__ADS_3

Suara orang ribut-ribut didepan membuat Vika yang sedang menjahit didalam keluar bersama Rini untuk melihat siapa yang membuat keributan di luar.


Melihat seorang bapak yang terhormat sedang mengacak jualan Vika yang ada didalam toko. Cepat Vika merekam aksi itu, dia biarkan Pak Rektor mengacak semuanya. Vika memberi benda pipih itu pada Rini agar terus merekam keributan ditoko.


Dengan satu suara dari Vika, agar Pa Rektor berhenti. Dan aksi yang dilakukan Pa Rektor itupun berhenti dia kaget dengan suara lantang itu.


“Keluar juga kamu anak kurang ajar, kampungan lagi-lagi kamu memasuki anak saya didalam penjara. Apa belum puas kamu dengan ancaman saya selama ini heh??” menatap Vika nyalang tapi Vika tidak takut sama sekali.


“Apa Bapak yang terhormat tidak tahu etika bila bertamu tempat orang, anda dan anak anda sama saja. Sama-sama suka menghamburkan jualan orang, apa Bapak juga ingin menyusul anak Bapak kepenjara sana!!”


Plak..


Satu tamparan mendarat dipipi Vika, Ibu Cantika maju karena geram Vika ditampar seperti itu.


“hentikan anda tidak boleh menampar orang lain sembarangan, dia perempuan anda tidak pantas melakukan itu” Ibu memegang pipi Vika yang merah dan diujung bibirnya ada darah yang keluar.


“Anak anda tidak sopan dia pantas mendapatkan itu semua!!!”


“Vika baik-baik saja bu, Rini apa kamu merekam semuanya” menoleh pada Rini yang merekam kejadian tadi.


“Sudah mba sangat lengkap” jawab Rini dan menyerahkan gawai itu pada Vika.


“Asal Pa Rektor terhormat yang begitu sopan ini tahu, jika bukan saya yang mencebloskan anak anda kepenjara. Tapi orang-orang yang ada dikantor tempat saya dikunci oleh anak Bapak. Saya berniat melupakan kejadian itu, tapi melihat perbuatan Bapak hari ini. Saya akan membuat laporan baru, agar anda bisa Bersatu dengan putri terhormat anda dipenjara. Siap-siap saja pa, jabatan baru menanti anda bukan penjabat lagi tapi Pelaku Pidana” ucap Vika lantang.


“Kurang ajar, hapus rekaman itu kalau kamu masih ingin berjualan dengan tenang” nyalang melotot menatap Vika.


Karena keributan ini terjadi dipinggir jalan jadi tontonan gratis untuk warga sekitar. Melihat kerumunan orang itu, polisi datang untuk mengetahui kejadian apa disana.


Beberapa orang polisi datang dan masuk ketoko Vika melihat keributan antara Vika dan Pa Rektor.


“Selamat siang, mohon maaf ini ada keributan apa. kenapa menjadi berantakan toko ini dan mohon jangan membuat keributan yang membuat jalanan jadi macet” ucap Pa Polisi yang menghampiri Vika dan Pa Rektor.

__ADS_1


“Kebetulan anda datang pa, bapak ini datang kesini seorang diri mengacak tempat ini dan telah menampar pipi anak perempuan saya sampai mengeluarkan darah” jawab bu Cantika.


“Apa itu benar pak??”


 Pucat pasi muka Pak Rektor sekarang, karena tidak menyangka aksinya membuat kerumunan orang dan banyak kamera yang mengabadikan kejadian itu.


“Saya melakukan itu karena ada sebabnya pak, say ini Rektor ternama dikota ini. Dan anak ingusan ini telah mempenjarakan anak saya. Menuduhnya dengan keji!!” berkata lantang karena emosi pa Rektor belum turun.


“Mohon maaf pak, jika ada masalah diselesaikan baik-baik tidak seperti ini. Apalagi anda seorang penjabat dikota ini seharusnya anda tahu tata cara berkomunikasi dengan baik. Mohon maaf apa kita kekantor saja agar bisa menyelesaikan permasalahan anda pak?” ucap pa Polisi yang memberi kode untuk keluar dari tempat itu.


“Tunggu pak, saya punya bukti atas perusakan tempat jualan saya. Bahkan saya siap divisum atas kejadian hari ini. Karena saya tidak merasa mempenjarakan putri terhormat bapak ini. Malah saya yang dikunci ditoilet atas kejadian waktu itu” kata Vika yang memberikan gawainya berisi rekaman pengerusakan.


“Mari ikut kami bu, Ibu bisa buat laporan dikantor polisi” ucap seseroang polisi disana.


Tangan Pa Rektor dengan secepat kilat mengambil benda pipih ditangan polisi itu dan menghancurkan benda itu didepan orang banyak.


“Apa yang anda lakukan pa? anda bisa dituntut karena melakukan pengerusakan terhadap barang bukti” polisi itu langsung memborgol tangan Pa Rektor, yang melakukan pengeruskan terhadap barang bukti.


“Maaf Bu, jika anda berkenan dan ingin membuat laporan silahkan datang kekantor polisi”


“Baik Pa saya akan kesana, saya merapikan toko saya dulu” ucap Vika.


Karena no telepon Vika tidak dapat dihubungi setelah mengirim rekaman tadi, Cikko dan Rymon langsung meluncur ketoko Vika.


Kerumunan orang yang banyak menonton tadi juga sudah bubar, Vika duduk dibantu bu Cantika mengompres bibir Vika yang terluka karena tamparan keras tadi. Sedangkan bu rahma dan lainnya membantu membersihkan toko yang berantakan.


Rymon dan Cikko datang berhenti didepan toko yang masih berantakan, ada Ayu sedang Menyusun barang yang berjatuhan dilantai. Rymon menanyakan dimana Ibunya dan Ayu menunjukan keberadaan Bu Cantika.


Cikko berhenti melihat Ayu begitu juga Ayu.


“Ada apa mas?” tanya Ayu.

__ADS_1


“Emm maaf apa kamu tidak kenapa-kenapa?” menunduk Cikko saat menanyakannya.


“Aku baik mas, mba Vika yang terluka sempat digampar begini sama bapak yanga tadi” ucap Ayu yang mempraktekkan Pa Rektor menampar Vika.


Cikko tersenyum saat Ayu memegangi pipinya yang memperagakan gerakan ditampar.


“Mas Cikko tau gak, kami kaget saat mba Vika datang dari dalam sana dengan suara lantang. Pa Stress itu kaget juga, aku baru mendengar suara mba Vika kalau marah. Seperti ada Api yang keluar dari belakang kepalanya. Bahkan tadi hp mba Vika dihancurkan Pa Stress sampai hancur karena ketakutan terekam kamera mba Vika. Tapi mba Vika gak marah malah tersenyum. Dan bapak stress tadi dibawa tuhh kekantor polisi. Cihh kalau aku sudah aku jambak rambutnya, aku pelintir tangannya” cerita Ayu yang menggebu-gebu saat menceritakan itu pada Cikko.


Cikko tertawa terpingkal-pingkal saat Ayu cerita dia ngos-ngosan.


“Udah ndooo, cape nak Cikko dengar cerita kamu. Sampe napas kamu ilang-ilang gitu ceritanya” ucap Bu Rahma yang mendengar Ayu cerita sampai menggebu-gebu.


“Gerem aku bude, sama bapak stress itu beraninya sama kaum kita saja, silahkan mas Cikko kalau mau ketemu mba Vikw. Maaf ceritanya kepanjangan” ucap Ayu tersenyum dan memberi jalan untuk Cikko lewat.


“Baik aku liat kondisi nona Vika dulu, nanti ceritakan lagi yu. Permisi” Vikko pamit melewati Ayu dan Bu Rahma.


Sampai diruang tamu Toko, Bu Cantika sedang mengompres pipi Vika yang merah lebam dan luka dibibirnya.


"Cikko saya sempat mengambil foto wajah yang merah dan lembam karena tamparan itu dan ada luka dibibir Nona Vika. Ini bisa jadi bukti Visum nantinya" kata Rymon yang mengirim bukti itu pada Cikko.


"Maaf Apa bisa antar saya untuk membuat laporan tuan Rymon, karena tadi pa polisi meminta saya untuk datang kekantor polisi" ucap Vika.


"Tentu, tentu saya akan mengantar anda. Karena kejadian kemaren saya yang membuat laporan saat anaknya saya cebloskan dalam penjara"


"Terima kasih, saya mohon maaf sudah merepotkan. Bu, Vika tinggal sebentar yaa. Maaf Vika tidak bisa menemani makan siang, nanti setelah laporan selesai Vika akan makan"


"Apa tidak makan siang dulu nak, takut kamu pingsan menghadapi pa Rektor itu" ucap Ibu.


"Nanti muka lembam ini berkurang merahnya bu, takut tidak bisa jadi barang bukti" jawab Vika.


"Betul juga, ya sudah makan diluar saja nanti. Rymon bawa nak Vika makan setelah kalian selesai nanti" Menatap Rymon yang menggangguk menjawab perkataan Ibunya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2