Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 31


__ADS_3

Ayu yang sudah bangun lebih dulu menyapa Bu Cantika dan Vika yang keluar kamar untuk Sholat subuh. Membersihkan diri dan menyelesaikan Sholat mereka.


Kemudian membantu Ayu menyediakan sarapan untuk mereka, masakan sudah mereka sajikan dan semua orang mulai duduk diposisi masing-masing.


Selesai makan Ayu bergegas membuka toko yang dibantu Rini dan Adi yang sudah datang saat itu. Sedangkan Vika membantu Ibu membereskan beberapa baju Ibu Cantika kedalam tas yang Vika beli waktu itu untuk bu Cantika.


"Bu kalau ada waktu berkunjunglah ketoko ini lagi bu, Vika dan Ayu minta maaf selama Ibu disini ada kata dan perbuatan kami yang menyakiti hati Ibu kami minta maaf. Maaf juga ya bu selama ini jadi merepotkan Ibu ikut berjualan hee" Vika dan Ibu tertawa karena dipikiran Vika, Nyonya Besar mana mungki mau berjualan kolor.


"Kamu ini nak, kolor kamu laris manis nak apik dan kainnya adem bahkan kalau pakaian dalam itu masuk mall bisa satu pcs ratusan harganya"


"Oh yaa bu, wah untuk banyak pemilik toko yaa bu. Vika sih asal pembeli senang nyaman dan tidak menggerutu saat keluar toko Vika karena harga masih terjangkau. Karena bagi Vika doa pelanggan itu dijamah sama Allah"


"Amin" kompak Ibu dan Vika berucap.


"Kamu kalau kangen sama Ibu, kangen tidur juga. Jangan sungkan main tempat Ibu, nanti Cikko jemput. Kamu telepon saja, nanti Ibu kasih no kontak ibu lewat Cikko. Bagi Ibu kalian berdua adalah anak Ibu. Tidak ada kata yang salah atau ucapan yang salah dari lisan kalian. Kalian anak-anak yang terdidik dengan baim meskipun tidak memiliki orang tua lengkap." ucap Ibu sambil membelai rambut Vika yang mencoba bersandar pada dada Bu Cantika.


Tidak lama Ayu masuk dan menyusul Vika dan Ibu yang dari tadi membereskan barang belum jadi-jadi. Padahal tuan Cikko menunggu Ibu lama sekali.


"Wah pantas ngepak barang jadi lama, lagi ada hujan dikamar mba Vika sama Ibu. Kasian Tuan Cikko berdiri tidak mau duduk diluar sana" ucap Ayu yang datang membuyarkan kesedihan Ibu dan Vika.


"Sini nak, Cikko sudah biasa menunggu biarkan dia berdiri lama." kata Bu Cantika pada Ayu yang juga duduk disebelah bu Cantika yang memanggilnya.


"Nak Ayu terima kasih sudah rawat Ibu dan bubur kamu sangat enak. Bisa bikin Ibu rindu dengan bubur Ayu. Terima kasih juga buat Ayu yang sangat baik sama Ibu. Bahkan tak ada lisan kalian yang menyakiti hati Ibu. Ibu begitu betah disini. Jika anak Ibu tidak terbaring sakit Ibu senang lama disini" Ucap bu Cantika yang juga membelai rambut Ayu.

__ADS_1


"Sebenarnya Ayu iri sama mba Vika yang tiap malam ada Ibu tidur bersamanya. Aku ingin juga tidur bersama Ibu, liat Bu Cantika ingat Ibu yang sudah tiada. Walaupun Ibu Ayu jelek gak cantik kaya bu Cantika" ucap polos Ayu.


Semua jadi tertawa dalam kamar Vika, Cikko yang mendengar juga ikut tertawa kecil. Anak ini begitu polos, membuat Cikko semakin manaroh hati pada pada Ayu yang sebenarnya Ayu itu pantas jadi adiknya.


Tok tok tok


"Maaf Nyonya besar saya lancang, apa kita bisa pergi sekarang?" ucap Cikko yang sebenarnya tidak tege mengganggu kebersamaan mereka tapi apa daya Tuan Rymon menyuruh menjemput Ibunya.


Untunglah dia hanya ditatap sinis oleh Tuan Rymon, untuk sekarang dia selamat karena tuan Rymon masih terbaring lemah.


"Ayo antar Ibu kedepan nak" sambil berjalan Vika dan Ayu menggandeng Ibu Cantika. Tas baju Bu Cantika dibawakan oleh Cikko kedalam mobil.


Melihat Sikap Vika dan Ayu yang tak mau kehilangan bu Cantika jadi tontonan sendiri oleh Rini dan Adi yang paham bos mereka itu anak Yatim yang rindu Ibunya. Begitu juga Ayu yang kehilangan kedua-duanya.


Bu Cantika membuka kaca mobil melambaikan tangannya pada Vika dan Ayu dengam air mata. Vika dan Ayu berlari mengikuti mobil Ibu Cantika yang sudah mulai bergerak.


Bu Cantika menguluarkan kepalanya takut anak-anak itu mengejarnya dan mereka jadi kenapa-kenapa.


Vika dan Ayu terhenti dengan masih melambai tangannya karena mobil itu semakin cepat dan mereka tak dapat lagi melihat mobil itu.


Dari kejauhan Ibu Rahma yang turun dari mobil diantarkan Dewi yang sekalian pergi kuliah. Melihat Vika dan Ayu dipinggir jalan dengan melambai tangan dengam bersedih. Menyadarak lamunan mereka.


"Kenapa kalian sedih nak? Siapa yang kalian tangisi dan melambaikan tangan dengan siapa" ucap Bu Rahma yang bolak balik kepalanya menoleh Vika dan Ayu.

__ADS_1


"Ibuu hiks" kompak mereka berdua memeluk Bu Rahma yang tiba-tiba ada ditengah mereka berdua.


Bu Rahma bingung kenapa dengan keduanya, membawa mereka masuk tak enak dilihat orang.


Saat duduk disofa tamu, mereka masih memeluk bu Rahma yang binggung melihat Vika dan Ayu bersedih.


Rini yang ditanya Ibu Rahma dari kejauhan dengan kode, mendatangi mereka dan menceritakan kepulangan Bu Cantika yang membuat mereka bersedih.


"Astaga jadi Bu Cantika dijemput keluarganya, lah bagus nak kenapa kalian harus menangis." jawab Bu Rahma yang susah bergerak karena Vika dan Ayu masih menangis dipelukan Bu Rahma.


"Aku rindu punya Ibu dari dulu bu, aku jadi merasa punya Ibu saat bisa tidur sama bu Cantika. Ternyata bu Cantika punya keluarga dan orang kaya juga. Mungkin Vika gak sepadan jadi anak Bu Cantika yang Kaya bu,hiks" ucap Vika yang kembali menangis dan Ayu pun menjawab hal yang sama.


"Jangan ngomong ngidul gitu, nanti jatuhnya fitnah nak. Belum tentu Bu Cantika memandang rendah kalian. Orang beberapa hari disini, senang ikut melayani pembeli sama seperti Ibu Rahma juga. Kan ada Ibu Rahma masa Ibu gak dianggap Ibu kalian juga sih. Nanti malam Ibu tidur ikut kalian gimana? Udah donk nangisnya. Liat Rini dan Adi melayani pembeli, kan mereka harusnya menjahit. Kasian cepat kita kerja semuanya" ucap Ibu panjang lebar dan membuat Vika dan Ayu mengambil tisu bersamaan dan mengeluarkan air ingus mereka yang meler akibat kelamaan menangis.


"Astaga anak dua ini jorok" lantas Ibu pergi yang ditatap bersamaan oleh Vika dan Ayu yang langsung tertawa.


Rini dan adi yang melayani pembeli masih bisa mendengar celoteh mereka sampai mereka mengeluarkan ingus yang membuat Ibu geleng-geleng kepala.


Ibu Cantika yang berada didalam mobil kepikiran dengan Vika dan Ayu apa mereka masih bersedih pikirnya.


Cikko yang melihat Nyonya Besar melamun paham apa yang dipikirkan Nyonya Besar.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2