
Mereka kina sampai dikantor polisi, ini untuk kedua kalinya Vika berada dikantor polisi. Vika sudah hafal kemana arah kakinya memberikan laporan.
Setelah polisi menulis laporan yang diberikan Vika. Tim penyidik memberikan surat untuk Vika kerumah sakit yang sudah bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melakukan visum.
Rymon dan Cikko setia menemani Vika untuk memerika hasil kekerasan fisik itu. setelah satu jam lebih Vika melakukan pemeriksaan. Diminta untuk pulang saja karena hasil akan mereka berikan pada pihak kepolisian.
Saat berjalan menuju parkiran Vika merasa pusing dan hampir saja terjatuh. Tangan besar itu reflek menangkap tubuh Vika yang hampir terjatuh.
"Kamu baik-baik saja? apa kita kedalam mumpung ini masih dirumah sakit" ucap Rymon pada Vika yang masih setengah sadar.
"Tidak tuan saya mau pulang saja"
Rymon mengangkat tubuh Vika dan Cikko membuka pintu mobil.
"Tuan berikan minyak ini pada nona Vika, kepala kaki tangan belakang dan perutnya" ucap Cikko.
"Apa???perut?" tanya Rymon yang benar saja dia wanita suci mana berani mengusap hal itu gumam Rymon.
"Cepat tuan, sepertinya nona Vika masuk angin karena belum makan siang" ucap Cikko.
Pelan Rymon menggosok minyak itu pada kepala, kaki, tangan, hidung, punggung dan Rymon masih ragu.
"Maaf Nona Vika saya menyentuh badan anda" pelan Rymon membuka sedikit baju Rymon dengan gemetar.
Cikko yang melihat itu tersenyum dan ingin tertawa tapi takut tuannya tersinggung dan marah.
Rymon Meneguk salivanya saat melihat kulit Vika putih dan mulus serta tangannya bisa menyentuh kulit itu. Bagai mimpi disiang bolong, Rymon mengusapnya pelan dan menutup kembali baju Vika.
Terlihat keringat masih mengalir dipelipis Rymon, padahal Ac mobil sudah full. Cikko menjalankan mobilnya mencari tempat makan.
Diperjalanan Vika sadar dan menyentuh kepalanya.
"Apa kepala kamu sakit" kata Rymon menatap Vika disebelahnya.
__ADS_1
"Sudah berkurang tuan maaf saya merepotkan, melupakan pesan Ibu tadi tidak makan dulu sebelum berangkat" ucap Vika menyesal tidak mendengar perkataan bu Cantika.
Rymon tertegun karena orang lain lebih mendengarkan perintah ibunya, bahkan panggilan Ibu itu diucapkan orang lain untuk ibunya. Orang lain lebih menyayangi Ibunya melebihi dirinya pikir Rymon.
"Tuan..Tuan" ucap Cikko yang melihat tuannya melamun.
"Yaa ada apa?"
"Kenapa Tuan Rymon melamun, apa anda sakit juga?" tanya Vika
"Tidak apa-apa, apa kita sampai? ayo kita makan dulu biar kita bisa berurusan tanpa kandala apa pun" ucap Rymon yang turun dari mobil dan diikuti Vika dan Cikko.
Mereka memesan makanan dan makan dengan hikmat setelah 15 menit pesanan datang.
Gawai Vika berbunyi pihak kepolisian menelponnya karena hasil visum sudah keluar. Agar bisa kembali kekantor polisi agar laporannya bisa naik kepengadilan.
"Siapa nona Vika?" tanya Rymon.
"Pihak kepolisian, hasil visum sudah keluar dan mereka meminta saya kembali. Kembali lah bekerja tuan saya bisa sendiri mengurusnya, setelah dari sana saya bisa pulang naik taksi online" ucap Vika.
Paham kode Cikko agar dia bisa dekat dengan Vika.
"Saya sudah dikasih amanat oleh Ibu tadi agar menemani nona Vika, kita akan antar Cikko kekantor baru setelah itu kita kekantor polisi. Ayo lebih cepat lebih baik, sebentar lagi jam kerja akan habis dan jalan bisa macet" ucap Rymon yang lebih dahulu berdiri.
Sampai dihalaman kantor, Cikko turun dan Rymon menggantikan Cikko didepan.
"Sukses tuan, ambil hati nona Vika dengan baik" ucap Cikko sambil berbisik dan melempar senyum pada Rymon dan Cikko pamit pada Vika juga.
Dijalan Rymon dan Vika hanya diam, tidak ada yang berbicara. saat ada Cikko tadi Vika masih bisa mengobrol karena sering bertemu Cikko dibandingkan Bosnya.
Merasa suasana begitu sepi bagai kuburan, Rymon membuka suara ditengah perjalanan mereka.
"Apa nona Vika sudah baik-baik saja sekarang, karena kita pasti akan dipertemukan dengan pelaku nantinya" ucap Rymon yang membuka pembicaraan.
__ADS_1
"Saya sudah siap Tuan, bismillah saya sangat siap" jawab Vika dan ingin mengatakan sesuatu yang mengganjal dihatinya.
"Syukurlah kalau begitu" ucap Rymon yang menatap Vika dari kaca depan mobil.
"Tuan, emm.." Vika masih ragu mengucapkannya.
"Kenapa nona Vika? katakan saja, saya siap membantu" jawab Rymon.
"Begini Tuan, saya minta maaf atas kejadian ditoilet waktu itu. Karena ketakutan saya memeluk tuan sampai terjerembab dan saya juga sudah menindih anda dengan tidak sopan. Bukannya minta maaf saya malah pergi dan tidak membantu tuan berdiri. Saya minta maaf tuan" jelas Vika yang mantap mengatakannya karena selama ini dia memikirkan kejadian itu. Yang tidak pantas diperbuatnya, karena meninggalkan tuan Rymon sendiri disana.
"Ohh masalah itu tidak usah dibesarkan nona Vika, saya baik-baik saja. Justru saya minta maaf sebagai tamu Ibu saya, anda malah menjadi korban kejahilan orang lain. Semoga nanti kita dipertemukan dengan teman kamu itu, siapa namanya?"
"Korry namanya Tuan" jawab Vika
"Ya betul sakali, bodoh sekali dia dan teman-temannya. Anak orang kaya, tapi tidak tahu disana ada Cctv" ucap Rymon yang mencari parkiran kosong dikantor polisi.
Rymon sudah mendapatkan parkiran, parkiran penuh dari awal mereka datang.
"Mari nona Vika kita turun, rupanya banyak kejadian hari ini sehingga parkiran begitu penuh dan kita terpaksa berjalan kaki sedikit nona" ucap Rymon
"Tuan panggil saya Vika saja, saya mendengar anda dan tuan Cikko memanggil saya seperti itu" kata Vika yang berjalan beriringan dengan Rymon menuju pintu masuk kepolisian.
"Baik tapi anda juga bisa panggil saya Rymon, maaf awal kita bertemu dulu saya begitu kasar dan emosian, saya iri melihat anda begitu dekat dengan Cikko" ucap Rymon.
"Tenang saja tuan ehh maaf Rymon saya bukan tipe pendendam, orang baik dengan saya. Saya bisa lebih baik lagi, mari kita mulai dengan berkenalan dan kita bisa berteman nama saya Vika" kata Vika yang menyodorkan tangannya pada Rymon.
Rymon menyambut uluran tangan itu dengan memperkenalkan namanya juga. Selesai berjabat tangan mereka masuk kedalam kantor polisi.
Ternyata disana banyak wartawan yang meliput masalah kepala Rektor yang ditahan. Mereka sedang mewawancara pihak keluarga Rektor.
Rymon membisikkan sesuatu pada Vika.
"Sedang ada wawancara dari pihak keluarga Rektor terkait penahanannya disini. Kamu jangan takut, saya akan membantu dan menemani kamu, tetap tersenyum walau mereka menyudutkanmu" Bisik Rymon pada Vika.
__ADS_1
Vika menggangguk dan paham, dia bukan orang yang penakut. Dia berhenti kuliah bukan dia takut akan bullyan. Hanya saja dia ingin membuktikan orang kampung miskin bisa sukses dikota besar.
Bersambung