
Vika yang kedatangan Rymon dan Cikko begitu senang karena ada Rymon disana. Pria yang tidak pernah absen hadir dalam mimpinya.
"Maaf nona Vika saya lancang, apakah nona sudah terima surat dari pengadilan?" tanya Cikko yang menatap Vika dan menatap Rymon juga. Takut tuannya marah alias cemburu haa.
"Sudah kak Cikko, tolong panggil saya Vika saja kak. Saya wanita biasa dan kalangan biasa. Saya risih atas panggilan nona itu. Lagi pula kak Cikko pantas saya panggil kakak karena umur kakak lebih tua dari saya. Dan itu saya dapat kan infonya dari Ibu" ucap Vika panjang lebar.
"Tidak masalah Nona ehhh Vika, apa lah arti sebuah nama jika hanya ada nama saja tapi tidan memiliki raga dan jiwa haaa" kekeh Cikko yang diikuti tertawa Vika dan yang lainya
Hanya Rymon yang datar disana, berkata dalam hatinya. Enak kali Cikko dipanggil kakak sama Vika. Lah dia hanya dipanggil nama. Apa dia sebaya Vika pikirnya.
Vika beruntung dikelilingi orang-orang yang baik. Besok Vika akan ditemani Rymon dan Cikko serta Bu Cantika. Sedangkn Ruko masih ditutup.
Ayu dan yang lain masih memproduksi pakaian dalaman yang banyak agar dapat stock banyak juga saat Ruko dibuka nanti.
~Ditempat Lain~
Didalam penjara Pa Gunawan dan Korry mendapat kunjungan dari Istrinya serta pengacara mereka.
Karena besok hari sidang untuk Ayah dan Anak itu. Pengacara yang tidak habis akal membuat strategi untuk mengalahkan pihak menggugat.
Istri Pa Gunawan dan Ibu dari Korry terlihat pucat karena keras berpikir untuk nasib Suami dan Anaknya.
Dia bahkan ingin mengunjugi Vika agar menarik laporan. Mungkin baginya bila sesama wanita bisa mendengar segala keluhan yang ada.
Hari sudah sore, Ibu Korry satang dengan sopirnya. Sempat salah masuk toko, karena tidak tahu toko sudah pindah.
Ibu Korry kagum pada anak yang dibenci keluarganya ini, dia pun terpaksa harus mengunjungi Vika agar mencabut laporan Suami dan Anaknya.
Pintu Ruko terlihat terbuka dan Ibu Korry melihat aktivitas orang yang menjahit disana. Kehadirannya terlihat karena Vika belum membeli bilik pemisah antara ruangan menjahit dan Ruangan lainnya.
__ADS_1
Vika yang tahu siapa yang datang langsung berdiri menghampiri Ibu Korry itu dan mempersilahkan duduk. Karena masih kosong barang hanya ada ambal tempat Vika menerima tamunya.
"Wah ada tamu yang terhormat datang kemari, saya sangat tersanjung atas kunjungan anda, saya juga begitu bahagia karena mendapat kunjungan yang mendadak seperti ini" ucap Vika dengan senyum yang merekah dan pastinya dia tahu maksud kedatangan beliau.
Ibu Korry terpaksa tersenyum karena disambut sebagai tamu kehormatan. Sebenarnya dia jijik menginjakkan kaki ditempat kumuh itu.
"Apa saya datang diwaktu yang tidak tepat?" tanya Bu Korry.
"Oh tidak kami hanya menjahit orderan saja, maaf tempat saya jelek, panas dan kumuh seperti sekarang ini" rendah Vika yang tahu jika Ibu Korry ini sedang kepanasan karena mengibas tangannya kepanasan.
"Batah tinggal ditempat ini? Eh maaf maksud saya apa tidak sebaiknya dipasang Ac agar tamu datang bisa nyaman dan tidak kepanasan. Maaf jika saya lancang hanya berpendapat." ucap Bu Korry yang terpancing perkataan Vika.
Dia sudah menduga karena orang kaya seperti mereka tidak akan pernah betah ditempat seperti ini.
Bahkan terlihat dari mana seorang anak seperti Korry bisa memiliki sifat yang tidak baik karena diturunkan dari orang tuanya.
Ayu dan yang lain sangat jelas mendengar pembicaraan itu. Geramnya Ayu karena toko mba Vikanya direndahkan seperti itu.
"Terima kasih atas saran Ibu, maaf tujuan anda datang kesini apa ya bu? Karena saya sangat sibuk dengan orderan pelanggan saya. Dan mohon maaf lagi jika kedatangan Ibu untuk membujuk saya menarik laporan suami anda, saya tidak dapat membantu" senyum Vika memandang dan masih sopan karena menghadap orang tua yang sedang berbicara.
"Sombong sekali kamu, berapa sih hasil jahitan kamu itu tidak akan dapat menyayangi harta kami. Kampungan dan lulusan seperti kamu memang tidak pantas kuliah ditempat elite seperti Universitas suami saya pegang" ucap Bu Frida ibu Korry yang tersinggung karena ucapan Vika.
Ayu dan yang lainnya berdiri dan berjalan kearah Vika dan tamunya duduk. Berdiri tepat dibelakng Vika, mereka menjaga Vika dari serangan tamu itu yang membawa bodyguardnya.
Ayu tidak tahu jika Ayu dan yang lain ada dibelakangnya. Hanya Ibu Korry yang memandang sinis orang yang berdiri dibelakang Vika.
Karena arah mata bu Korry yang menatap kebelakangnya, sehingga Vika menoleh kebelakang juga.
Dia tersenyum pada Ayu dan yang lainnya dan kembali menatap Bu Korry.
__ADS_1
"Maaf Ibu berapa pun hasil saya ini hasil jerih lelah saya, mungkin tidak sebanding dengan harta anda. Mungkin sekarang anda bangga akan jabatan Pa Rektor, siapa tahu setelah masuk penjara jabatan itu menjadi boomerang untuk dirinya sendiri." kata Vika yang mempersilahkan Ibu Korry pergi dari tempatnya karena dia tidak ingin berbuat dosa melawan orang tua seperti Bu Korry.
Dengan wajah yang kesal Bu Korry bangkit berdiri dari duduknya dan pergi dari tempat Vika bersama sopir yang diduga Ayu dan yang lainnya bodyguard.
Vika berdiri juga saat mengantar tamunya pulang, meskipun tamu itu pulang dengan mengomel dan tidak dapat apa yang diinginkannya.
Vika masuk dan gelak tawa riuh karena mereka membuat takut Istri Pa Rektor yang datang hanya menghina orang lain saja.
Geram dan mengomel sepanjang perjalanannya pulang kekediamannya. Kurang ajar berani sekali mereka, bermain keroyokan. Tujuan utama ku hancur ulah mereka, gumam bu Frida yang gatot alias gagal total membuat laporan suaminya dicabut.
Apa dia yang lupa mengontrol diri agar tidak terpancing emosi saat Vika berbicara tadi, ahhhh sialan anak kemaren sore berani dengan orang tua gerutunya dalam hati.
~Ditempat Lain~
Rymon dan Cikko yang berada dalam mobil untuk pulang kerumah berbicara ringan soal pekerjaan mereka.
"Cikko boleh saya bertanya" tanya Rymon yang sedang bersandar dijok belakang mobil.
"Silahkan tuan" jawab Cikko sambil mengemudi.
"Apakah kamu pernah bermimpi hal yang sama setiap malamnya?" tanyanya lagi yang tatapannya menoleh kearah luar jendela.
"Mimpi saat tidur maksudnya tuan? Balik bertanya.
"Aisss kamu Cikko! Memang kalau mimpi itu saat orang masih sadar gimana sih kamu" ucap Rymon yang geram. Sebenarnya dia malu karena bertanya itu, selama ini dipendamnya.
Cikko tertawa "maafkan saya Tuan, saya pikir mimpi meraih cita-cita atau semacamnya ternyata mimpi saat lelap tidur, saya belum pernah pa mengalami itu. Biasanya yang seperti itu terjadi pada orang yang sedang memikirkan orang itu sepanjang hari, terbawa dalam mimpi. Begitu yang saya tahu Tuan" jawab Cikko.
Tapi aku tidak memikirkan Vika awal-awal dulu, bahkan bisa bertemu wujud Vika pun baru sekarang ini karena orderan Pakaian ********** dan karena Ibunya bisa dekat dengan Vika.
__ADS_1
Bersambung