Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 30


__ADS_3

Ibu Cantika memandang wajah anaknya yang lebam dimana-mana, air mata jatuh dengan sendirinya. Yang dia tahu anaknya pintar bela diri tapi sekarang dia begitu lemah dengan badannya besar itu.


Dalam hatinya dia tidak tahu caranya lagi bagaimana menyadarkan anaknya agar berhenti minum.


Melihat Ibu Cantika yang tak pernah bersedih selama tinggal bersamanya, merangkul pundak Bu Cantika. berharap Bu Cantika bisa sabar akan musibah yang menimpa anaknya.


Semakin lama Vika memandang wajah gendut itu memang mirip dengan laki-laki yang selalu ada dalam mimpinya. Kenyataan memang tidam sama seperti mimpi, dialam mimpi Vika dan Rymon bisa duduk bersama tanpa ada debat satu pun.


Lamunan Vika buyar kala Ayu mengeratkan pegangannya pada Vika. Ayu yang tidak pernah berada dirumah sakit sebesar itu begitu takut, takut hilang, takut nyasar, takut ada hantu. Pokonya imajinasi ketakutannya bermain diotaknya.


Cikko melihat Ayu yang dari tadi tidak pernah melapas tangan Vika dibuat tersenyum karena dipikirannya Ayu menggemaskan meskipun sedang ketakutan.


Sentuhan lembut tangan Ibu Cantika membangunkan Rymon yang dari tadi belum sadarkan diri.


Saat membuka mata, Rymon menatap wajah Ibunya yang ada dihadapannya saat ini.


Dengan susah payah Rymon membuka suaranya memanggil sang Ibu tapi masih berat.


Ibu Cantika yang paham anaknya ingin mengatakan sesuatu tapi tidak bisa segera mendekati telinganya kearah sang putra.


"I...Bu da..ri ma..na a.ku.. Ri..n..du bu"


Mendengar hal itu Ibu menangis lagi.


"Maafkan Ibu nak, Ibu meninggalkanmu, apa ada yang sakit. Maafkan Ibu Rymon,pulihlah nak Ibu akan menjagamu" mengelus kepala anaknya dengan lembut.


Air mata keluar dari sisi mata Rymon mendengar perkataan Ibunya. Ini semua bukan salah Ibu, tapi salah dirinya yang tak bisa mendengar perkataan Ibunya. Kata-kata itu dia ucapkan dalam hati.


Mata Rymon berpindah melihat orang asing yang ada disebelah Ibunya. Melihat mata Rymon yang berpindah kearah Vika.


Bu Cantika pun mengenalkan Vika dan Ayu kepada Rymon. Rymon yang kenal dengam dua wanita itu tapi dia tidak tahu kenapa bisa bersama Ibunya.

__ADS_1


"Rymon selama beberapa hari ini, Ibu tinggal bersama mereka. Yang ini Vika dan itu adik nya Ayu, mungkin kamu sudah kenal lebih dulu dari Ibu. Ibu pun baru tahu, saat bertemu Cikko mengambil pesanan Pakaian Dalam waktu itu. Mereka berdua merawat Ibu yang pingsan didepan Toko mereka"


Rymon kaget mendengar penjelasan Ibunya yang mengatakan dia dirawat karena pingsan.


Dan Cikko berhutang jawaban padanya karena berani menyembunyikan keberadaan Ibunya.


Mata Rymon berpaling pada Cikko, Cikko yang ditatap dengan mata melotot tahu kalau tuannya sedang marah padanya. Dia terpaku ditempat berdiri dengan menundukkan kepalanya.


"Sudah-sudah kamu jangan begitu, kamu jangan marah sama Cikko. Ibu lah yang melarangnya mengatakan keberadaan Ibu saat itu. Sekarang kamu beristirahat saja, biar besok pagi bisa lebih baik"


"Jangan lupa berdoa tuan karena doa mampu mengurangi rasa sakit tuan" celetuk Vika yang dari tadi hanya menjadi pendengar disana.


Rymon berpaling menatap Vika, tapi tatapan itu bukan marah seperti menatap Cikko tadi. Ibu yang melihat Rymon ingin bicara, mendekatkan telinganya.


"Bim..bing Aku ber..doa.." ucap Rymon masih terbata-bata


"Bisa bimbing Rymon berdoa nak Vika, dia tidak pernah berdoa. Ibu minta tolong ya, Ibu percaya doa Vika pasti membantu kesembuhan anak Ibu. Karena nak Vika orang baik yang Ibu kenal." ucap Ibu memandang Vika yang berdiri disampingnya.


Rymon mengangguk pelan tanda setuju dengan ucapan Vika. Dan semua orang pun mulai menengadahkan tangan saat Vika membimbing Rymon berdoa kesembuhannya.


Meskipun doa pendek tapi lama Rymon lafalkan karena keadaannya. Semua orang mengucapkan amin saat doa itu selesai Rymon ucapkan.


Setelah semua orang mengatakan amin, Rymon menitikkan air mata. Baru sekarang dia berdoa pada Tuhannya. Selama ini dia sibuk dengan kekacauan hidupnya.


Hidupnya berlimpah harta, pekerjaan yang mapan dan masa depan yang baik. Tapi dia merasa hidupnya begitu hampa seakan semua orang yang ada hanyalah debu yang melewatinya.


"Ibu dan Tuan mohon maaf Saya dan Ayu tidak dapat menunggu tuan Rymon lebih lama, karena Ayu sepertinya sudah mengantuk, begitu juga dengan saya. kami juga ada jahitan yang belum kami selesaikan. Maaf bu, apa Ibu ikut Vika pulang. Tadi Ibu janji ikut Vika pulangkan, ini sudah larut bu tidak baik jika Ibu menunggu tuan Rymon disini, Vika takut Ibu masuk angin. Kalau mau besok Vika antarkan Ibu kembali. Bagaimana bu?" ucap Vika memandang wajah Bu Cantika yang setiap malam selalu tidur bersamanya.


Bu Cantika terdiam saat kata-kata Vika keluar, dia terharu kehadirannya begitu diharapkan seorang anak wanita seperti Vika. Sebenarnya dia ingin menunggui putranya sampai dinyatakan sembuh. Tapi apa yang dikatakan nak Vika juga benar gumamnya dalam hati.


"Nona Vika benar Nyonya Besar, Biar saya yang menjaga Tuan Rymon malam ini bersama yang lainnya. Saya akan antarkan kembali Nyonya bersama Nona Vika dan Ayu. Bagaimana bu? kata Cikko yang masih tidak berani menatap tuannya, dan matilah dia malam ini akan dapat tatapan amarah dari bos pemarahnya itu.

__ADS_1


"Nak, Ibu minta maaf tidak bisa menjaga Rymon. Besok Ibu kembali, kamu beristirahat saja agar besok lebih baik" ucap Bu Cantika yang mendapat anggukan dari Rymon.


Saat itu juga semua orang keluar dari kamar inap Rymon dan Cikko meminta Bodyguard kembali menunggu bos mereka. Sementara dia kembali.


Saat dalam mobil Cikko melihat 3 wanita yang saling berpautan tangan. Ayu menggandeng Vika, Vika mengandengan tangan Ibu Cantika. Dan Ibu Cantika membelai tangan Vika yang ada dipergelangan tangannya.


Saat mereka sampai, Ibu membersihkan dirinya. Lelah itu yang dirasakan IBu Cantika, lelah hati dan pikirannya karena dari tadi hanya menangis.


Vika dan Ayu memutuskan untuk kembali menjahit besok pagi. Dan beristirahat, Ayu kekamarnya dan Vika menyusul Ibu kekamar.


Saat masuk kamar Vika melihat Ibu masih bangun dengan mata yang terpaku. Vika memanggil nama Ibu Cantika dan Ibu Cantika kaget.


"Kok melamun bu, tidak tidur. Apa masih memikirkan Tuan Rymon?"


"..." Ibu terdiam dan hiks.


"Maafkan Vika bu, karena keinginan Vika membuat Ibu jauh dari Tuan Rymon. Malam ini saja bu, Vika minta Ibu tidur bersama Vika. Vika janji akan mengantarkan Ibu kerumah sakit. Vika terlanjur sayang dengan Ibu dan merasa jadi punya Ibu hiks" tangis Vika pecah karena keinginan hatinya yang memisahkan Ibu dan Anak yang lama berpisah.


"Kenapa kamu jadi menangis nak, Ibu memang memikirkan Rymon tapi bukan Rymon saja yang Ibu pikirkan. Rymon sudah bolak-balik masuk rumah sakit karena sering pulang mabuk dan sering berkelahi dengan orang lain."


"hiks" air mata Vika masih mengalir sambil mendengar cerita Ibu Cantika. Dan Ibu Cantika yang tadi berbaring langsung duduk membelai lengan Vika yang menangis.


"Ibu menangis karena Ibu merasa dicintai disini, nak Vika nak Ayu yang selalu melayani Ibu dengan baik. Mau berbagi makanan yang ala kadar dan membeli baju juga untuk Ibu"


"Dan sebenarnya Ibu tak enak hati menolak keinginan Vika untuk mengambil beberapa potong pakaian karena Ibu pasti punya banyak pakaian mahal dirumah, maafkan Vika ya bu. Jika tahu Ibu orang tua tuan Rymon, Vika pasti membelikan baju yang bagus waktu itu" ucap Vika tersenyum dalam air mata yang masih mengalir.


"Kamu ini ada-ada saja, Ibu ini dari kampung juga nak. Karena Rymon minta ditemani dirumahnya yang besar dan Ibu begitu kesepian saat Rymon pergi bekerja. Pulang-pulang pasti mabuk, Cikko yang selalu jadi amukan amarahnya. Untung Cikko punya stok kesabaran yang banyak"


"Emm, gimana kalau kita Sholat malam bu. Biar kita tenang dan bisa mendoakan anak Ibu juga biar bisa berkumpul lagi bersama Ibu" ucap Vika yang langsung disetujui Bu Cantika dengan anggukan.


Mereka pergi dari kamar mengambil air Wudhu dan mulai melakukan Sholat serta berdoa untuk kesembuhan anak Ibu Cantika. Setelah itu mereka kembali membaringkan diri tidur dengan berpelukkan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2