Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 28


__ADS_3

Hari menjelang siang, Cikko datang untuk mengambil pesanan tuannya. Seperti biasa ditoko Vika penuh pembeli. Agar Vika tahu keberadaannya disana Cikko terlebih dahulu menghubungi Vika, saat menunggu sang pemilik toko keluar mata Cikko menangkap seseorang yang dikenalnya. Menerobos orang-orang disana. Vika yang sudah berada di halaman celingak celingkuk mencari tuan Cikko.


“Nyonya Besar??”


Bu Cantika yang mendengar namanya dipanggil, menoleh orang yang ada disebelahnya. Cepat bu Cantika menarik tangan Cikko mencari tempat sunyi.


“Jangan kasih tahu Rymon keberadaan saya disini, saya ingin memberi pelajaran pada anak itu agar bisa mendengar perkataan orang tua. Dan kenapa kamu berada disini” menatap Cikko yang masih tidak percaya Nyonya besar mereka sedang melayani pembeli.


“Maaf Nyonya saya, masih tidak percaya Nyonya ada disini. Sedangkan tuan Rymon mengirim 50 anak buahnya mencari keberadaan Nyonya. Dan saya ada disini karena ingin mengambil orderan tuan Rymon dan saya..”


“Tuan Cikko?” ucap Vika yang melihat Cikko.


“Loh kok ada Ibu disini?” tanya Vika lagi.


“…” Cikko terdiam.


“Ibu tadi melihat, mas ini  nyasar nyari kamu nak. Karena mas ini sudah ketemu nak Vika. Ibu lanjut bantu jualan lagi.”


“Tuan Cikko kenapa sampai nyasar, ayo tuan barang sudah didepan tadi” ucap Vika yang berjalan mendahului tuan Cikko.


Cikko masih kebingungan, kenapa Nyonya Besar mereka ada ditempat nona Vika. Apa aku memberitahu tuan Rymon soal ini tapi nanti Nyonya Besar marah gumam Cikko.


“Ini orderan tuan Cikko, ditaroh dimana biar Adi (karyawan Vika yang baru) bantu angkatkan tuan” tanya Vika.


“DIbelakang nona Vika terima kasih banyak sudah membantu membuat orderan kami”


“Kami juga banyak terima kasih tuan karena sudah order disini, salam buat tuan Rymon.”


Cikko masuk kemobilnya dan pergi berlalu meninggalkan toko Vika.

__ADS_1


Pagi tadi karyawan Chika yang membantu menjahit dan mengirim barang sudah mulai bekerja jadi Ayu sambil melayani pembeli juga ikut membantu mengajari karyawan yang baru masuk.


Hari mulai siang toko ditutup sementara untuk melaksanakan Sholat dan mengisi perut mereka, makanan yang Vika pesan juga datang. Semua larut dalam obrolan masing-masing. Dan tak lupa pa becak juga hadir disana diundang Vika ikut makan siang.


Vika memberikan waktu 3 jam untuk beristirahat lumayan lama, Ibu Cantika dan bu Rahma kompak tidur siang dikamar Vika. Sedangkan anak-anak yang lain ikut berbaring diruang tamu yang lumayan untuk menggelar tikar.


Tepat pukul setengah 2 semua aktivitas berjalan kembali, para pembeli dari luar kota juga sudah antri untuk membeli pakaian dalam untuk dijual kembali. Semua sibuk dengan tugas masing-masing.


Vika membantu Rini karyawan baru untuk membuat ****** ***** yang sudah sesuai pesanan pelanggan. Orderan datang silih berganti, membuat rejeki datang seperi air mengalir.


Tidak lama gawai Vika berbunyi no baru yang masuk, Vika pikir orang yang memesan orderan tapi seorang rektor yang terhomat. Menelepon Vika dengan mencaci maki karena sampai sekarang anaknya tak dapat bebas.


Untung Vika sempat merekam pembicaraan mereka saat itu, Vika malas memikirkan masalah itu dia serahkan semua pada pihak kepolisian. Vika menikmati  masa-masa berjuang, merintis dari nol bukan lah sesuatu yang mudah menurutnya.


Hari sudah sore, toko ditutup anak-anak sudah pulang. Ibu kost juga pulang, Dewi tidak ikut berjualan karena sudah masuk kuliah. Ayu dengan rutinitas didapur dan Ibu Cantika sedang sholat. Vika mengurus orderan yang sudah selesai dijahit, setelah itu menyusul sholat diikuti Ayu.


“Mba ini laporan pemasukan dan pengeluaran kita, kan besok tanggal 1” Ucap Ayu memberikan laporan toko pada Vika.


“Terima kasi hade mba, kamu memang rapi yu kalau bikin kaya gini. Bulan depan rasanya kamu sudah masuk sekolahkan?”


“Oh iya yaa mba, hemm kenapa rasanya aku senang jualan saja dari pada sekolah mba hee” ucap Ayu yang tertawa.


“Jangan yu, kamu harus sekolah. Nanti kalau sudah lulus sekolah terserah mau kuliah atau mau kerja sama mba lagi. Besok mba akan kepasar beli bahan, kita sekalian beli baju sekolah kamu gimana?


“Mau mba”


“Ibu boleh ikut yaa, Ibu mau lihat pasar biasanya belanja dimall” ucap Bu Cantika yang kaget karena sudah mengucapkan mall.


“Dikampuang Ibu ada mall??” tanya Vika

__ADS_1


“Ini nak, kapal yang besar-besar itu biasanya kami bilang mall karena lengkap barang-barangnya”


“Ohh, ayo besok kita kepasar biar Rini dan Adi sementara kita pergi menjaga toko”


“Kalau gitu Ibu pamit duluan istirahat yaa nak” pamit dan pergi kekamar.


“Baik bu, Vika dan Ayu menjahit dulu nanti menyusul” ucap Vika yang berdiri dari kursinya untuk melanjutkan jahitannya, diikuti Ayu.


Dalam benaknya, dia punya keinginan membeli tempat Ibu Kost ini dan membangun toko yang besar dan sebelahnya akan membangun rumah kecil sebelahnya.


Jahitan sudah selesai dan kembali membungkusnya agar besok bisa diantar Adi ke ekspedisi. Jam sudah pukul 1 dini Vika ikut Bu Cantika kekamar.


Jam sudah jam 9 pagi, Vika, Ayu dan Ibu bersiap pergi kepasar tapi kali ini naik taksi online. Ibu kost bersama karyawan Vika membantu berjualan.


Dijalan Ayu begitu takjub karena baru pertama kali melihat Gedung yang tinggi-tinggi, Vika tersenyum melihat tingkah Ayu. Begitu juga Bu Cantika, kasian pikirnya belum pernah liat kota besar dan miris karena keadaan membuat mereka harus hidup susah gumum Bu Cantika.


Sampai dipasar Vika menunjukkan tempat langganan berbelanja bahan toko, setelah itu Vika membawa Ayu dan Ibu menuju pasar orang berjualan pakaian.


Ayu sedang memilih baju seragamnya dan Vika menyuruh Ibu juga membeli miliknya. Tanpa segan dan tak enak hati menolak penawaran Vika. Memilih 2 potong baju dan 1 daster. Tidak lupa juga membeli beberapa potong untuk Ibu kostnya, Dewi, Rini, Adi dan Pa becak. Mereka juga membeli makan siang mereka ditoko.


Hampir pukul 11 siang mereka kembali ketoko, menunaikan sholat dan makan siang bersama.


Setelah makan siang Vika memberikan beberapa baju yang dibelinya untuk Ibu kost, Dewi, Rini, Adi dan Pa Becak. Semua merasa senang karena dapat bagian baju, apalagi Rini dan Adi yang baru bekerja bisa dapat baju dan Gaji yang seharusnya belum gajian. Pa Becak juga ikut senang karena mendapatkan baju baru, bahkan dia bukan siapa-siapa disana.


Ibu Cantika, melihat orang-orang yang berbahagia hanya karena beberapa lembar baju. Namun Ibu Cantika memperhatikan Vika yang begitu baik, bahkan tidak membeli sepotong baju selembar pun untuknya. Baju yang digunakannya pun dapat dilihat hanya itu-itu saja.


Bersambung


 

__ADS_1


__ADS_2