
"Rame ya bu, ternyata bener juga kata Ayu"
"Ia nak, kalau doa mengalahkan segalanya. Gimana nak urusan dikantor polisi hari ini sudah dapat siapa yang ngancurin kemaren"
"Alhamdulilah bu, pelaku sudah tertangkap. Ternyata teman Vika waktu kuliah dulu, entah apa salah Vika sama teman Vika itu bu. Vika Kuliah saja keluar karena tidak tahan dari bullyan mereka"
"Begitu lah kalau orang yang sudah terbiasa dengan kekayaan, akan memandang rendah orang dibawahnya. Tapi tidak semua seperti itu nak, ada orang tertentu" ucap Ibu yang duduk sebelah Vika untuk beristirahat.
"Semoga Vika bisa menjadi orang yang takut akan Allah, Vika bantu Ayu dan Dewi yaa bu. Ibu istirahat dikamar Vika saja" berlalu pergi membantu Ayu dan Dewi.
"Bisa nak kalau ibu lelah bisa nanti istirahat dikamar, pergilah"
~Ditempat lain~
Cikko sudah sampai dirumah besar bosnya untuk menjenguk bosnya yang sudah 2 hari ini beristirahat. Pintu rumah terbuka, saat Cikko mengetuk pintu rumah besar itu.
"Dimana Tuan Rymon mbok?"
"Tuan Rymon dikamar bersama Nyonya Besar"
"Terima kasih Mbok, saya naik dulu" pamit Cikko yang melangkah menuju kamar Bosnya.
Tok tok tok
"Masuk"
"Selamat siang Nyonya Besar" sapa Cikko serta menunduk sebentar.
"Permisi Tuan, saya sudah menjalankan perintah Tuan. Dan tersangka sudah tertangkap"
"Baik, besok saya mulai bekerja. Jemput saya seperti biasa dan sekarang kembali keperusahaan untuk mengecek laporan yang harus saya tanda tangani" kata Rymon yang sedang berbaring.
"Baik Tuan, saya kembali kekantor sekarang juga. Permisi Nyonya Besar saya ijin pamit. Selamat Siang" pamit Cikko dari hadapan bosnya dan Nyonya besar.
Saat Cikko meninggalkan kamar Rymon, Ibu bertanya pada Rymon. "Tugas apa yang dilakukan Cikko, sampai ada kata tersangka nak?"
"Kepo sekali Ibu aku yang cantik ini, hee."
"Kamu malah bercanda Ibu serius, memang sudah vit sampai harus masuk kerja. Ingat jangan pernah kesana lagi, Ibu akan pergi dari rumah ini dan tinggal dikampung bersama Nenek kembali" ucap Ibu yang memalingkan wajahnya kearah lain dan tidak menatap Rymon.
__ADS_1
"Seperti kekasih saja Ibu ini, nanti keriputnya keluar kalau mukanya seperti itu" mencolek lengan Ibunya yang masih dengan muka sewot.
"Terserah, peringatan terakhir Ibu. Kalau kamu masih menginjakkan kakimu pada tempat maksiat itu, jangan harap Ibu tinggal bersama kamu lagi" berlalu pergi dari hadapan anaknya.
"Bu jangan pergi, Rymon kesepian bu. Hanya disanan Rymon bisa bahagia. Meskipun orang, hanya berteman denganku karena uang" ucap Rymon yang melihat Ibunya sudah ada diluar pintu.
Ibu Rymon mendengar semua yang diucapkan anaknya, hanya saja dia tak ingin kembali dan dia ingin anaknya berubah dengan gaya hidup sekarang.
Ibu menyandarkan dirinya didepan pintu, dengan linangan air mata. Mbok yang melihat itu, mendatangi Nyonya Besarnya.
Menggenggam tangan itu, memberikan kekuatan kepada Nyonyanya. Membawa Nyonyanya turun dan membawa masuk Nyonya Besarnya kekamar untuk beristirahat.
"Sudah Nyonya, jangan menangis nanti migrain Nyonya kumat." ucap Mbok yang tak tahu bagaimana membantu Nyonyanya.
"Mbok saya bingung cara menghadapi Rymon yang selalu menghabiskan waktunya dengan minuman keras. Dia mengatakan kalau dia kesepian, makanya dia selalu pergi ketempat itu"
"Nyonya kalau Tuan Rymon kesepian, carikan Istri kalau saja dia bisa berubah. Tuan Rymon tampan hanya saja tertutup karena badannya yang besar."
Ibu Rymon terdiam dan berpikir ide bagus, Rymon juga cukup umur untuk memiliki Istri. Tapi wanita hanya memanfaatkan uangnya saja.
"Memang ada Mbok wanita yang mau sama Rymon yang gendut dan besar itu. Yang ada hanya wanita melihat uangnya saja, apalagi Rymon suka menghamburkan uang. Sampai sakit seperti itu karena full bekerja, dan uang seenaknya dihamburkan" Ucap Ibu Rymon yang bertanya pada Mbok yang menatapnya.
"Akan aku pikirkan Mbok, terima kasih sudah menghiburku"
"Sama-sama Nyonya, saya pamit kembali bekerja" pamit Mbok dan menutup pintu kamar Nyonyanya.
Ibu Rymon membaringkan badannya, sambil memikirkan perkataan Mbok yang ada benarnya. Tapi diera sekarang wanita yang tulus dan menerima fisik seperti Rymon begitu susah. Apa aku tanya Rymon langsung, apa dia punya kekasih sekarang ini? ucap Ibu Rymon dengan lamunannya.
Aku tanya Cikko saja, kalau Rymon pasti diledekin dicandain kalau nanya yang aneh-aneh dan pasti tidak akan menemui jawaban.
Karena rasa penasaran yang tinggi, tidak menunggu Cikko berkunjung kerumah langsung menelpon Cikko saat itu juga.
Cikko memang bisa diandalkan, tidak pernah lama kalau menghubungi Sekretaris Rymon segera terangkat.
Cikko (Halo, selamat siang Nyonya)
Ibu Rymon ( Siang, Cikko jawab yang Ibu tanya ini dengan jujur. Apakah Rymon punya kekasih?)
Cikko ( Kekasih?? Setahu aku tidak adanya Nyonya. Kalau boleh tahu ada apanya Nyonya Besar bertanya kekasih?)
__ADS_1
Ibu Rymon (Tidak ada apa-apa, terima kasih lanjutkan pekerjaan kamu nak)
Cikko kebingungan dengan telepon Nyonya Besar, tumben menanyakan kekasih Tuan Rymon.
Sedangkan dikediamannya Ibu Rymon kembali memikirkan cara agar Rymon punya istri. Dengan begitu dia akan melupakan tempat itu.
Wanita disana tidak benar, hanya mau uang Rymon saja. Mulai besok aku mencoba menanyakan teman-teman arisan apa mereka punya anak perempuan yang cocok untuk Rymon.
~ Dikamarnya Rymon ~
Rymon memainkan gawainya karena bosan hanya beristirahat. Tidak lama Rymon mendapatka gawainya berbunyi dengan nama Cikko yang tertera dilayar gawai.
Rymon (Halo)
Cikko (Hallo Tuan maaf mengganggu, tadi Nyonya besar menelpon menanyakan saya apa Tuan punya kekasih)
Rymon (Apa, kamu serius apa lagi yang orang tua itu rencanakan. Lalu kamu jawab apa)
Cikko (Tentu saya menjawab tidak ada)
Rymon (Seharusnya kamu bilang ada, kamu tidak bisa diandalkan)
Telepon itu dimatikan sepihak oleh Rymon.
Apa lagi yang Ibu rencanakan, apa dia ingin mencarikan aku kekasih. Ahh Ibu ini kalau sudah ada keinginan pasti kekeh dengan yang dia inginkan.
Sebaiknya aku mandi dan keluar dari rumah ini, aku merasa sehat. Bisa gila aku karena keinginan Ibu yang aneh-aneh. Ucap Rymon yang berkata dalam hatinya.
Pergi kekamar mandi dan bersiap pergi, Rymon turun dari kamarnya untuk sekedar mencari angin.
"Kemana kamu nak, bukannya istirahat malah keluyuran" ucap Ibu yang menatap anaknya turun dari tangga.
"Mencari angin bu, sebentar saja aku sumpek dalam kamar." mencium Ibunya dan pergi.
"Kamu ini tidak bisa mendengar perkataan Ibu Rymon, hanya untuk beristirahat tidak kamu turuti. Ibu mending pergi dari rumah ini" ucap Ibu yang menangis saat mengucapkan kata-kata itu agar Rymon iba dan tidak pergi.
Mendengar perkataan Ibunya Rymon tidak iba sama sekali, ibu cerewet pikirnya dan tetap berlalu pergi.
Bersambung
__ADS_1