Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 45


__ADS_3

Sedang menunggu giliran masuk ruang penyidik Vika dan Rymon masih menunggu.


Sampai keluarga Pa Rektor menyadari ada Vika disana, seorang yang sudah berani melaporkan Pa Rektor sekaligus anak Pa Rektor.


"Nah itu wanita yang duduk disana bersama pria besar itu adalah manusia yang telah memfitnah Pa Rektor dan anaknya" tunjuk pengacara Rektor yang sedang melakukan wawancara terkait penangkapan Rektor besar dikota itu.


"Bukan kah pria itu adalah pengusaha muda Pa Rymon Kartanegara dari PT. Nusa Kartanegara" ucap salah satu karyawan.


Beberapa wartawan datang menghampiri Vika dan Rymon dan menyodorkan berbagai pertanyaan. Tapi tidak satupun yang mereka jawab, mereka pergi dari sana karena nama Vika dipanggil pihak penyidik.


"Lihat kalian lihat, wanita itu bahkan tidak berani menjawab pertanyaan kalian, dia wanita kampung yang dikeluarkan dari kampus karena telah memfitnah anak Rektor" ucap Pengacara Rektor itu sok tahu.


"Tapi pria itu orang ternama dikota ini apa anda mengenalnya?" tanya salah satu wartawan.


"Kalian salah, masa Pria Gendut seperti itu CEO dari sebuah perusahaan haaa" pengacara tertawa lepas.


"Silahkan anda lihat profil perusahan PT. Nusa Kartanegara disana Pa Rymon yang berbadan besar itu memang CEO disana" celetuk salah satu wartawan.


Asisten pengacara membuka gawainya mencari nama PT yang diucapkan wartawan tadi dan menyerahkan gawai itu pada atasannya.


Saat melihat profil disana, betapa terkejutnya pengacara itu kalau yang ada dihadapannya tadi adalah Ceo dari PT. Nusa Kartanegara.


Pengacara itu langsung membubarkan pertemuan itu dengan para wartawan dan pergi juga dari sana untuk mendatangi kliennya.


Sedangkan dalam ruang penyelidikan Vika dan Rymon mendengar penjelasan pihak penyelidik jika hasil Visum sudah keluar dan laporan mereka bisa dilanjutkan kepengadilan. Akan datang surat panggilan dari pengadilan.


Mendengar kabar itu Vika dan Rymon ijin pamit dan akan menunggu surat pengadilan untuk sidang pertama.


Saat mereka keluar dari ruang penyelidikan ruangan yang penuh wartawan tadi sudah sepi dan sekarang Vika dan Rymon akan menuju parkiran mereka yang lumayan jauh dibelakang kantor kepolisian.

__ADS_1


Saat akan keluar kantor kepolisian banyak wartawan yang menunggu Vika dan Rymon diluar kantor kepolisian.


Vika yang kaget bersembunyi dibelakang Rymon yang tinggi dan besar.


"Pa Rymon ijinkan kami bertanya, hanya sebentar Pa. Apa hubungan Bapak dengan wanita kampung yang sudah berani melaporkan Pa Rektor Gunawan Beki?" tanya seorang wartawan.


Melihat Vika yang ketakutan, Rymon tetap diam seribu bahasa meskipun hatinya marah karena Vika disebut wanita kampung.


Rymon menuntut Vika agar berjalan cepat menuju mobil Rymon. Menghindari wartawan yang tidak berhenti mengikuti mereka.


Sampai dimobil mereka segera pergi dari sana meninggaklan grombolan wartawan yang masih bertanya hubungan Rymon dengan Vika.


Dalam mobil Vika dan Rymon terdiam masing-masing. Karena suasana diam itu begitu lama, Rymon berinisiatif memulai pembicaraan.


"Apa kamu baik-baik saja Vika?" tanya Rymon sambil sekali-sekali menatap Vika dan menatap jalan.


Ternyata Vika masih tidak tahu siapa saya, bukannya dia menghadiri syukuran dikantor kemaren kenapa jadi tidak mengenali saya direktur perusahaan itu, ucap Rymon dalam hatinya.


"Sama-sama kamu tenang saja Cikko bisa membantu saya menyelesaikan pekerjaan saya." ucap Rymon


"Maaf bagian apa anda dikantor sampai punya sekretaris" tanya Vika lagi yang penasaran kenapa orang itu mengenali Rymon.


"Bagian...wah sudah sampai Vik. Toko kamu juga sudah tutup. Aku langsung saja ya, bilang sama Ibu saya. Saya belum bisa mampir karena badan saya lepek seharian diluar" kata Rymon yang tersenyum.


"Maafkan saya membuat anda lelah seharian ini, akan saya sampaikan pesan anda untuk Ibu Cantika. Sekali lagi terima kasih Rymon" ucap Vika dan turun dari mobil Rymon serta melambaikkan tangannya pada Rymon yang berlalu dihadapannya.


Didalam penjara Pa Rektor sedang berkonsultasi dengan pengacaranya. Sampai dimana kasus dia dan anaknya.


"Saya mohon maaf pak Gunawan tidak dapat membebaskan anda dengan cepat karena hasil Visum sudah keluar dengan berat hati kita akan masuk ranah pengadilan." ucap Pengacara Pa Rektor.

__ADS_1


"Apa tidak bisa dibayar saja kasus saya ini agar segera keluar beserta anak saya. Seperti kamu membebaskan anak saya dulu" tanya Gunawan pada pengacaranya.


"Susah pak, wanita itu didampingi oleh orang ternama dikota ini" jawab pengacara yang tertunduk lesu.


"Siapa maksud kamu? saya ini orang ternama dikota ini. Universitas yang saya pegang bisa maju dan dikenal di seluruh Indonesia karena ketekunan saya dalam memajukan sekolah itu." ucap Pa Gunawan yang sombong itu.


"Dia pemilil perusahan Properti terbesar dikota ini bahkan sudah mancanegara pak. Dia adalah Direktur dari PT. Nusa Kartanegara. Rymon Kartanegara putra mendiang Kartanegara yang terkenal darmawan dan terkaya." kata pengacara itu menatap Gunawan.


Gunawan yang mendengar itu menyandarkan tubuhnya dikursi dan mengusap kepalanya.


"Tidak mungkin wanita itu bisa mengenal keluarga mendiang Kartanegara. Saya kenal Kartanegara merupakan pengusaha sukses entah anaknya karena dulu perusahaan itu sempat redup. kapan sidang saya, kamu harus bisa membuat saya menang dalam sidang ini, saya yakin wanita itu tidak akan memakai pengacara. Meskipun dia sedang bersama Putra Kartanegara." ucap Gunawan.


"Saya dan tim akan mencoba semampu kami pak, semoga kita bisa menang dalam sidang pertama nanti" kata pengacara Gunawan. Meski ragu dihatinya tapi pengacara harus profesional dalam pekerjaan.


Waktu kunjungan habis, Gunawan masuk dan pengacara itu juga pergi dari sana untuk mengumpulkan bukti-bukti yang bisa membantu kliennya nanti.


Vika yang diberondong pertanyaan oleh Ayu dan Bu Cantika hanya bisa tersenyum karena dengan tersenyum Vika bisa menyembunyikan masalahnya dari orang lain. Dia tidam ingin melibatkan orang lain lagi, sudah cukup seharian ini dia membuat Rymon sibum dan tidak dapat bekerja.


"Sudah Ibu dan Ayu tenang saja. Masalah laporan sudah selesai, hasil visum juga sudah keluar dan akan ada sidang pertama dari kasus ini nanti. Berdoa saja meskipun Vika tidak menggunakan Pengacara, Vika bisa menang dari kasus ini." ucap Vika menyemangati dirinya yang sejujurnya dia takut karena belum pernah masuk ruang persidangan.


"Apa benar seperti itu nak, setahu Ibu kita kalau sidang membutuhkan pengacara. Kalau hanya seorang diri kamu bisa kalah nak" kata Ibu yang sudah megenggam tangan Vika.


Ayu jadi pendegar untuk hal itu karena dia belum paham masalah yang demikian.


"Ada Allah yang jadi pengacara Vika bu dan ada Ibu, Ayu dan yang lainnya yang akan mendoakan Vika. Semakin banyak doa, maka kita semakin dikuatkan" ucap Vika yang menatap Ibu dan Ayu bergantian.


"Sudah ah Vika mandi dulu, mau Sholat juga. Terima kasih Ibuku dan terima kasih Ayu kalian mau menjaga toko ku bahkan sekarang sudah kembali keposisi semula." Vika mengecup pipi Bu Cantika dan Ayu dan berlalu pamit untuk membersihkan diri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2