
"Ehh nak Vika, masuk nak. Duduk dulu, gimana-gimana betah tinggal ditoko ibu? Tanya ibu Kost saat aku datang kerumahnya.
"terima kasih bu" Vika duduk disamping ibu kost
"Vika betah kok bu tinggal ditoko Ibu luas dan nyaman. Ohh iya bu, Vika boleh nanya gak bu?
"syukurlah Vika betah, mau bertanya apa nak?
"Malam kemaren Vika ketakutan bu, tiba-tiba ada yang ngetuk pintu. Vika takut buat bukain, Vika diamin aja sampai orangnya pergi" ucapku dengan muka yang masih ketakutan.
"Ya ampun, tapi kamu baik-baik sajakan nak?" memegang badan Vika melihat apa ada yang terluka.
"Baik Bu, apa ibu punya keluarga atau kenalan bisa jahit dan mau nginap sama Vika ditoko bu?biar Vika ada temannya dan bisa bantu menjahit juga, nanti Vika bisa kasih gajihnya dari hasil jualan ****** *****."
"......"
"Bu..kok bengong?" tanyaku
"ibu lagi mikir nak, nanti ibu carikan buat kamu ya. Sekarang kamu mau kemana ini?"
__ADS_1
Vika membuka tasnya mengambil amplop putih dan memberikannya pada Ibu kost.
"Apa ini Vika?" Bingung Ibu kost saat aku sodorkan amplop putih yang panjang, membolak balik amplop itu.
"Ini gak seberapa bu, buat nyicil harga sewa tokonya Ibu. Kebetulan Vika sudah menyelesaikan orderan Ibu Fatimah" senyum bangga karena bisa memberikan sebagian rejekinya untuk membayar sewa toko.
"Ya ampun Vika ibu kira ini apa, jangan seperti ini nak. Kamu kan baru memulainya tabungin aja buat masa depan kamu. Dari pada tidak ditempati toko itu dan belum ada yang sewa juga." ucap Ibu kost memberikan kembali amplop putih itu ditanganku.
"Jangan gitu donk bu, ini bener gak seberapa. Anggap aja ucapan makasih Vika buat Ibu selama ini sudah menampug Vika dikost ibu, kadang bayar kostnya, kadang gak. Kadang numpang makan juga hee" aku tertawa kecil didepan Ibu kost yang sudsh aku anggap seperti Ibu sendiri.
"Baik lah Ibu simpan, kalau ada apa-apa kamu bisa memakainya kembali. Dan ingat apa yang Ibu kasih selama ini itu murni karena Ibu anggap kamu seperti anak Ibu." mengelus rambutku dan terharu.
Aku reflek memeluk Ibu Kost dan menangis dipelukan Ibu. Hangatku rasakan pelukan dan dekapan Ibu Kost yang aku anggap seperti Ibu sendiri.
Pelukanku dan Ibu kost terlepas karena suara anak Ibu kost yang bertanya kenapa aku dan ibunya berpelukan.
"Dewi!! kamu ini ngagetin Ibu sama mbak Vika saja." celetuk Ibu Kost yang liat Dewi anak Ibu kost yang bungsu datang dari dalam rumah ibu kost.
Tanpa mendengar ocehan Ibunya, Dewi duduk di depan aku dan Ibunya yang hanya berbatas meja tamu
__ADS_1
"Cengeng banget sih mbak, orang pindah satu gang doank dari sini. Kalau mbak takut, Dewi siap nemanin mbak Vika malam nanti"
"Jadi Dewi nguping mbak sama Ibu bicara tadi?" tanyaku pada Dewi
"heeee, kebetulan aku lagi nonton mbak. Dengar suara Ibu sama mbak, gimana mau Dewi temanin mbak, gak.mahal kok semalam 50rb" memperlihatkan 5 jarinya kearahku.
Bantal kursi melayang kearah Dewi saat itu juga. Dan dewi menangkapnya dengan tertawa.
"Dasar bocah gendeng, mbaknya kesusahan malah minta uang lagi, bantu itu yang ihklas Dewiii" Ucap ibu kost pada anaknya
"haaa, tidak apa-apa bu. 100 ribu juga aku kasih asal bantu mbak jahit juga sama nyuci piring, ngepel, masak..."
"Cukup mbak...mbak kira aku ART, orang aku dirumah saja cuman tahunya makan tidur main sekolah hp heee, Yaa kan bu?" tanya Dewi pada Ibunya berharap ada yang membelanya.
"Kapok kamu,sana ikut mbak kamu biar tahu cari uang gimana. belajar mandiri juga, Ibu setuju sama Vika"
"aiiisss ogahh mending aku sekolah" Dewi ngacir masuk kedalam rumah lagi"
"haaaa" Aku dan Ibu tertawa lihat kedekilan Dewi yang juga sudah aku anggap adik sendiri, terkadang minta dibantu buatkan pekerjaan sekolahnya saat Aku masih tinggal dikamat kost dulu.
__ADS_1
Aku pun pamit pada Ibu mau melanjutkan jahitan yang masih belum rampung, biar bisa cepat membuka toko dan mencari rejeki.
Bersambung