
Malam hari Cikko datang menemui kembali kediaman Tuannya. Cikko datang mengajarkan Tuannya dasar Sholat. Tidak butuh lama Rymon dengan mudah melakukannya.
"Kamu tidur disini saja, pagi nanti kita Sholat bersama. Agar aku bisa mempraktekkan apa yang kamu ajari tadi" ucap Rymon yang berjalan kearah kamar.
"Baik tuan" jawab Cikko.
Cikko yang sering menginap dikediaman tuannya, masuk dikamar tamu lantai pertama. Disana dia membaringkan badannya.
Ditempat Lain
Vika dan Ayu masih bergelut dengan menjahit orderan Pakaian Dalaman yang masuk setiap hari.
Mereka terdiam satu sama lain, tidak ada pembicaran antara Vika dan Ayu saat mengerjakan jahitan.
Pukul 12 malam Ayu menyudahi jahitannya, pamit pada Vika dan kembali ke kamarnya.
Sedangkan Vika masih melanjutkan jahitannya. Rasa kantuk selalu mendera mata Vika saat itu, dia harus tahan demi masa depannya.
Kasus Vika dengan anak Rektor sebenaranya belum selesai. Karena Ayahnya mempunyai uang dan jabatan membuat kasus itu ditutup begitu saja.
Bukan Vika menolak pengacara yang ditawarkan Cikko waktu itu. Dia membiarkan kasus itu hilang begiti saja. Karena dia tidak ingin mengganggu aktivitasnya saat ini.
Vika tidak mengetahui kalau banyak mata-mata yang mematai aktivitasnya berjualan selama ini.
Korry yang meminta orang lain untuk melakukan itu semua. Diluar pengetahuan ayahnya.
Untuk kasus kemaren tidak diketahui halayak ramai, masih bisa dibebaskan tanpa seijin pelapor. Vika yang miskin menurut mereka pasti hanya diam kalau Korry bisa bebas cepat.
Vika malas berurusan dengan pihak kepolisian, dia ingin mengejar impiannya. Meskipun awal mulanya Vika datang kekota untuk kuliah tapi kini dipendamnya dalam-dalam.
Dia akan melanjutkan kuliah jika kesuksesannya sudah ditangannya.
Jam Menunjukan pukul 2 dini hari, Vika mengakhiri aktivitas menjahitnya. Masuk kekamarnya dan berbaring bersama Bu Cantika.
__ADS_1
hanya tidur beberapa jam Vika yang sudah terbiasa, menunaikan sholat bersama bu Cantika dan membantu Ayu menyiapkan sarapan mereka.
Semua sudah beres, Ayu membuka toko dan Vika melanjutkan jahitannya. Rini dan Adi karyawan Vika juga sudah datang pukul 8 pagi tadi.
Sedangkan Bu kost tidak hadir selama seminggu ini karena keluarga pa Abdul ada yang meninggal dunia dikota lain.
Bu Cantika duduk dikursi Ayu menjahit biasanya, ingin mengatakan akan pergi ke acara syukuran kantor anaknya.
"Ehhh Ibu, mau belajar menjahit? Hee" ledek Vika yang melihat Ibu duduk disebelahnya tepat dikursi Ayu menjahit biasanya.
"Boleh juga, hitung-hitung curi ilmu dari nak Vika hee. Begini nak, Ibu mau ngajak Vika sama Ayu untuk pergi malam nanti, kebetulan dikantor anak Ibu ada acara syukuran. Ibu tidak ingin pergi sendiri, kalian mau kan temani Ibu?" menatap Vika yang menatap Ibu Cantika setiap mengajaknya berbicara.
Rini yang ada diruangan menjahit ikut mendengar obrolan mereka. Dia tetap fokus menjahit walaupun telinganya mendengar pembicaraan Vika dan Bu Cantika.
"Maaf Bu, Vika bukan menolak ajakan Ibu. Vika tidak ingin membuat Ibu malu nantinya. Ibu lihat gaya berpakaian aku, aku masih Vika yang kampungan miskin dan jelek bu. Aku tidak bisa menemani Ibu, itu acara syukuran yang besar sekali bu. Maafkan Vika tidak bisa menemani Ibu" ucap Vika yang menggenggam tangan Bu Cantika.
"Ya ampun nak, pakai pakaian apa saja tidak akan ada orang yang membicarakannya. Itu hanya perkataan teman-teman kamu dikuliah saja yang iri kamu pintar dan bisa masuk universitas seperti itu" kata Ibu yang membesarkan hati Vika agar tidak menggangap dirinya rendah.
"Tapi bu semua itu benar, dan aku tidak punya baju bagus untuk keacara yang begitu"
Memang hal yang tidak gampang membujuk seorang Vika karena dia bukan orang yang suka pergi kepesta-pesta seperti itu.
"Kasian Tuan Cikko direpotkan kita Bu."
"Kalau nak Vika tidak mau tidak mengapa, Ibu akan bilang dengan Cikko. Ibu juga tidak pergi" Ibu pergi dari kursi duduknya menuju Ayu dan Adi yang melayani pembeli.
"Mba Vika kok begitu, kasian Bu Cantika sedih mba. Pergi saja mba, mba itu pakai apa saja sudah cantik. Coba deh mba lepas kacamata mba, mba itu cantik loh" ucap Rini yang geram mendenga mba Vika menolak ajakan Ibu Cantika.
"Kamu ini, nanti mba Vika burem kalau dilepas. Tapi gimana ya Rin, kasian Ibu jadi gak bisa datang acara anaknya."
Cepat Vika berdiri dari kursinya mendatangi Ibu yang duduk dikursi kasir dengan raut wajah yang sedih.
"Bu jangan sedih nanti Vika dan Ayu temani Ibu yaa" jawab Vika merangkul Ibu dari belakang.
__ADS_1
"Betul??" cepat Ibu membalikan badannya tersenyum pada Vika.
"Iya betul bu, jangan sedih lagi ya. Maafkan Vika, tapi Ibu janji jangan malu kalau ngajak Vika dan Ayu yang kampungan disana." ucap Vika
"Ibu percaya apapun yang kamu pakai pasti cantik, karena kecantikan itu terpancar dari hati kamu yang baik" kata Ibu menatap Vika.
"Vika lanjut menjahit ya bu?" pamit pada Ibu dan Ibupun melanjutkan ikut Ayu dan Adi melayani pembeli.
Pukul setengah 12 siang toko ditutup, Vika dan yang lainnya menunaikan Sholat.
Begitu juga Rymon dan Cikko, hari itu pertama kali Rymon masuk Mushola yang ada dikantornya.
Semua mata karyawan menatap Bos mereka yang terkenal dingin dan angkuh bisa masuk ditempat ibadah.
Rymon yang tahu kalau sedang ditatap oleh karyawan disana hanya berlalu saja.
Cikko memperhatikan Tuannya, yang diperhatikan karyawan. Membisikan agar sabar dan tetap tenang.
Rymon mulai terbiasa melakukan sholat, dalam doanya dia minta dimaafkan segala salah dan dosanya terhadap Ibunya dan orang-orang yang disakiti.
Rymon selalu berdoa agar diberikan jodoh yang mencintainya apa adanya dengan segala kekurangannya. Setiap doa meminta jodoh Rymon selalu terbayang wajah Vika.
Wajah yang manis dan senyum yang selalu terukir membuat wajah itu sempurna dimata Rymon. Meskipun Vika menggunakan kacamata, dibalik kacamata itu ada mata yang indah. Cepat Rymon mengakhiri doanya, karena doanya sudah melantur kemana-mana.
Cikko dan Rymon keluar dari Mushola semua orang menunduk dan membicarakannya. Tapi Rymon hanya diam saja, karena dia tidak mau pikirannya jahat lagi seperti dulu.
Cikko mengatakan kalau Nyonya minta dijemput malam nanti kepada tuannya. Tuannya mengijinkan Cikko untuk menjemput Ibunya. Cikko pulang kerumah dengan mobil yang lain.
Cikko datang lebih awal dari jam yang diminta Nyonya Besar karena dia harus mengantar Nyonya kebutik tempat langganan keluarga Rymon.
Jam 5 sore Cikko sudah datang, mengetuk pintu toko samping. Ayu yang membukakan pintu saat itu, membuat jantung Cikko berdetak jika bertemu Ayu.
"Mas Cikko, mas Cikko" Ayu berusaha menyadarkan lamunan Cikko dengan 5 jarinya melambai kearah Cikko.
__ADS_1
Bersambung