
Sepanjang perjalanan, Rymon hanya menginjak gasnya tanpa tahu harus kemana. Sepanjang jalan dia melihat orang-orang yang berpasangan.
Hanya naik motor tapi pria dan wanita itu sepertinya sedang bahagia, gumam Rymon dalam hatinya yang melihat sejoli yang asik dengan percakapan mereka.
Tidak terasa perjalanannya malah melewati Toko wanita yang berani menolak orderannya. Tapi Rymon menyadari kalau dia juga bersalah. Tidak bisa sopan dengan orang lain, apalagi toko itu begitu panas. Entah kenapa orang dalam toko itu betah gumam Rymon.
Karena asik melamun, Rymon tidak lihat orang sedang menyeberang jalan dan dengan cepat Rymon menginjak rem mobilnya. Hampir saja gumam Rymon yang gegas turun dari mobilnya.
Wanita itu masih meringkup didepan mobil Rymon. Maaf saya tidak sengaja, apa anda baik-baik saja. Merasa ucapannya tidak dihiraukan, Rymon mendekati wanita itu. Yang menangis karena tubuhnya gemetar.
"Maaf saya tidak sengaja, mari saya bantu berdiri." ucap Rymon yang membantu wanita itu berdiri membawanya kepinggir, beruntung jalan sepi karena hampir jam maghrib.
Saat sudah dipinggir, cepat Rymon memarkirkan mobilnya menepi. Dan turun kembali melihat kondisi wanita itu.
Masih menagis saja gumam Rymon.
"Apa ada yang sakit, biar saya bawa kerumah sakit" ucap Rymon yang masih berusaha melihat wajah wanita itu.
Saat wanita itu mengangkat wajahnya mereka saling bertatap.
"Kamu" kompak jawaban mereka berdua.
"Ngapain kamu Maghrib begini berada dijalan dengan melamun mau bunuh diri"
"Seenaknya saja, anda yang terlalu kencang membawa mobil. Mentang-mentang jalan sepi lantas anda seenaknya ngebut dijalan" Vika berdiri dan meninggalkan Rymon sendiri.
Sialan kenapa aku bertemu wanita itu selalu saja emosiku naik, malah pergi lagi. Sialan sebaiknya aku pergi dari sini.
Rymon pergi dan lagi-lagi menginjak gasnya dengan kecepatan tinggi. Dan sampai dihalaman parkir sebuah Cafe, dia ingin menghabiskan malam untuk sekedar duduk gumamnya.
Sudah 3 jam lebih Rymon disana dan gawainya berbunyi. No rumah, apa ini Ibu tapi biasanya Ibu telepon lewat HP nya. Pasti hanya ingin aku pulang.
Rymon tidak menggubris telepon itu yang sudah berulang kali berbunyi. Dia membiarkannya sampai telepon itu tidak berdering lagi.
Karena malam semakin larut, Rymon pergi meninggalkan cafe itu untuk pulang kerumah. Dan jam seperti ini Ibu biasanya menunggu aku, biarlah siapkan kuping ini untuk mendengar titah Ibu Ratuku gumamnya.
Sampai dirumah pagar dibukakan penjaga, penjaga yang melihat Tuannya sudah memarkir mobil segera menghampiri.
"Maaf Tuan"
__ADS_1
"Ada apa pa?"
"Nyonya besar belum pulang dari sore tadi saat Tuan keluar rumah" ucap pa penjaga.
"Apa memang kemana pak? Kenapa kalian tidak meneleponku dari tadi saja. Ibu mana tahu seluk beluk kota"
"Mbok mencoba menghubungi Tuan lewat telepon rumah tapi tidak terjawab Tuan" ucap Pa penjaga yang juga ketakutan kalau berbicara dengan Tuan Rymon yang galak.
"Saya akan mencari Ibu, tolong telepon saya kalau Ibu pulang nanti" ucap Rymon pada penjaga rumahnya dan menaiki lagi mobilnya.
Dalam mobil Rymon menghubungi Cikko, menanyakan keberadaan Cikko. Agar membantunya mencari Ibunya. tidak lama telepon Rymon diangkt Cikko.
Rymon yang sudah tahu posisi Cikko dikantor menjemput Cikko agar membantunya mencari Ibunya.
"Kenapa Nyonya Besar bisa keluar sendiri tanpa bodyguard Bos? Biasanya selalu keluar ditemani mereka." tanya Cikko.
"Entah lah dia naik taksi, tanpa dicegah oleh orang rumah."
"Maaf Bos kalau saya boleh tahu. Apa Bos bertengkar dengan Nyonya Besar, sepanjang yang saya tahu Nyonya Besar tidak pernah pergi seperti ini" ucap Cikko yang takut pertanyaannya salah.
"Tadi saya tidak menghiraukan perkataannya, karena akhir-akhir ini Ibu cerewet. Aku bisa gila kalau dalam rumah terus, sepanjang hari hanya mengomel" kata Rymon menceritakan kenapa Ibunya pergi.
mendengar itu, Rymon merasa bersalah. Tidak menghiraukan ancaman Ibu. Ancaman yang benar-benar dia buktikan.
"Telusuri jalan ini dan cari Ibu, saya mencoba menghubungi keluarga atau teman Ibu kalau saja beliu kesana" ucap Rymon yang kesal dan merasa bersalah juga.
~ Ditempat Lain ~
Seorang Ibu berjalan dengan tangan memeluk dadanya. Udara dingin malam, membuat Ibu itu merasa begitu kedinginan. Perut lapar membuat Ibu itu tersiksa. Karena tidak kuat berjalan Ibu itu mencoba mencari tempat untuk berbaring agar perutnya tidak sakit karena lapar dan dingin.
sebuah toko yang sudah tutup menjadi persinggahan Ibu itu untuk berbaring. Tanpa alas dan selimut yang menghangatkan.
Mencoba menutup matanya agar tidur dan besok pagi mencari taksi agar bisa pulang kerumah mereka.
Semakin Ibu itu menutup matanya, semakin terasa dingin malam. Kondisinya yang tua, tidak mampu menahan angin malam.
Beruntung Vika dan Ayu yang naik becak baru pulang mencari makan. Tiba ditoko mereka, saat Ayu turun lebih dahulu dari Vika kaget ada orang yang berbaring dimuka toko mereka.
"Mba Vika itu siapa?"
__ADS_1
Vika tidak mendengar perkataan Ayu karena sedang berbincang dengan pak becak langganannya. Setelah itu baru Vika menyusul Ayu masuk.
"Siapa itu yu, itu yang aku tanyakan sama mba Vika. Tapi mba gak dengar, aku takut mba kalau saja orang jahat lagi"
"Itukan wanita, ngapain takut. Ayo kita tanyakan kasian ini malam udaranya dingin." ucapnya seraya mendekat pada Ibu yang berbaring.
"Selamat malam Ibu, kenapa tidur diluar bu udara dingin?" tanya Vika pada Ibu itu, tapi tidak ada respon.
Memberanikan diri Vika memegang pundak Ibu itu agar merespon perkataannya.
"Astaga Ibu ini menggigil yu, dia demam" ucap Vika saat melihat Ibu itu menggigil dan dahinya terasa panas.
"Gimana kalau kita bawa kedalam saja mba, malam begini susah cari taksi kalaupun dibawa kerumah sakit" jawab Ayu memberi ide.
"Ayo bantu mba kita angkat dan baringkan dikamar mba saja"
"Gimana bawanya mba, Ibu ini lebih besar dari badan kita. Dia juga susah dibopong harus diangkat mba"
"Kamu angkat Ibu ini dibelakang mba, nanti mba gendong. Ayo cepat yu, udara semakin dingin sebentar lagi hujan"
"Baik mb"
Dengan posisi duduk Vika membelakangi Ayu, agar Ayu mudah menaroh Ibu itu dibelakangnya.
"hati-hati mba" ucap Ayu sambil memegang tubuh Ibu itu dari belakang Vika.
Cepat Ayu membuka kunci toko samping dan sampailah mereka dikamar Vika. Menyelimuti Ibu itu dengan selimut dan memberikan minuman hangat agar Ibu itu merasa hangat perutnya.
Saat Ibu itu sudah mendingan Vika mencoba membanguni Ibu itu untuk minum obat penurun panas. Namun nihil, Ibu itu pingsan. Terpaksa hanya dikompres berkali-kali agar panasnya turun.
Vika dan Ayu tertidur disatu kamar yang sama dengan Ibu itu. Meskipun agak besar dari kamar Ayu tetap saja kalau bertiga mesti berdesakan.
Vika yang masih terjaga dari tidurnya mengganti beberapa kali kompres Ibu itu, Ayu sudah tidak sanggup lagi matanya dan sudah masuk didunia mimpi.
Vika membiarkan Ayu tidur agar besok pagi dia bisa cepat masak bubur untuk Ibu ini. Vika masih menjaga kompres Ibu itu. Dan dirasakannya dahi Ibu itu dengan tangannya.
Alhamdulilah, panasnya turun ucap Vika dalam hati. Meskipun begitu Vika tetap menjaga Ibu itu mengganti kompresnya. Takut panasnya kembali.
Bersambung
__ADS_1