
Gunawan berlari kearah mobilnya dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju Universitas tempatnya menjabat sebagai Rektor disana.
Tidak butuh waktu lama, Gunawan sudah sampai dihalaman Universitas dan memarkirkan mobilnya ditempat khusus Rektor tapi sudah ada mobil lain yang parkir disana.
Karena emosi yang sering terjadi pada dirinya, dia menabrak mobil yang parkir ditempat khususnya parkir biasanya.
Mobil miliknya dan milik PJ Rektor hancur bagian mukanya. Mendengar suara keras yang berbunyi semua orang keluar dari kantor Universitas.
Penjaga disana sudah menghalau perbuatan Gunawan tapi mereka tidak berani karena beliau ingin menabrak mereka dengan mobil yang hancur itu.
Karena mobil Gunawan tiba-tiba mati lekas semua orang disana menyuruhnya turun dari mobil itu dan bertanggung jawab terhadap mobil Pj Rektor yang rusak.
Hampir saja Gunawan dihamuk massa, jika tidak segera membawa Gunawan masuk ruang rapat universitas.
Disana Gunawan masih diperlakukan baik oleh staf-stafnya dahulu. Memberikan minum dan memberikan kesabaran kepada Gunawan saat ini.
Pihak Universitas yang melihat Gunawan sudah tenang mencoba membicarakan semua ini dengan baik, Gunawan mendengar semua yang disampaikan orang-orang padanya.
"Baik saya terima semua ini, hanya karena saya terjerat hukum lantas saya dikeluarkan sepihak tanpa ada pembicaraan. Apa kalian tidak punya anak, saya melakukan itu karena putri tunggal saya yang sekarang juga ikut kena imbasnya masuk penjara. Jadi saya sebagai seorang Ayah berhak menolong anak saya dengan cara saya sendiri. Apa tidak ada pertimbangan dengan masa jabatan saya. Saya yang banyak memberikan dana untuk Universitas yang hampir tenggelam ini dulu"
Semua orang mendengar perkataan Gunawan dan memang universitas ini maju dan bangkit dari keterpurukan karena sokongan dana dari sang Rektor sendiri.
Tapi yang namanya aturan tetap harus dijalankan.
"Dengan sangat terpaksa kami mengambil keputusan ini pa Gunawan, bukan kami tidak mempertimbangkan royalitas anda pada Universitas tapi semua ini kembali pada aturan yang berlaku disini. Bukan kah anda sendiri yang membuat aturan itu dahulu, dan kami menjalaninya sesuai aturan" ucap perwakilan universitas yang dipercaya untuk menangani hal yang seperti ini.
"Sialan kalian semua, kalian akan mendapatkan kehancuran dari universitas ini kembali. Tanpa dana saya kalian tidak ada apa-apanya." pergi meninggalkan ruang rapat itu dan kembali menyuruh sopirnya dirumah menjemput dia.
Karena kejadian itu terjadi dikampus yang besar jadi sangat rentan media berada disana. Kejadian itu terekam awak media yang memang selalu berkeliaran di universitas.
Tidak butuh waktu lama, rekaman kejadian diparkir universitas itu menyebar dimedia sosial. Menjadi konsumsi publik saat ini.
Sampai dikediamannya, Gunawan disambut oleh istri dan anaknya.
__ADS_1
"Kamu baik-baik saja mas?" tanya Frida pada suaminya yang terlihat emosi.
Belum menjawab pertanyaan istrinya kini mereka berjalan kearah ruangan keluarga.
"Baik-baik saja ma, lihat Korry ulah kamu yang seenaknya diluar sana. Papa sekarang kehilangan jabatan Papa. Apa yang sudah Papa bangun kamu hancurkan seketika, uang Kita banyak papa gunakan disana. Apa ini yang kamu cari hem!!" menatap anaknya yang biasa-biasa saja tanpa ada rasa bersalah.
"Sudah lah Pa, kita masih punya perusahaan Opa kan. Papa bisa kembali bekerja disana. persoalan aku dikeluarkan, biarkan saja masih bisa kuliah ditempat lain" jawab Korry yang cuek dengan kejadian yang menimpa Orang tuanya.
"Anak kurang ajar, kemanjaan dia ma" hampir saja tangan Gunawan menampar putrinya sendiri dan berhasil dihalau istrinya.
"Sudah pa sabar dia anak papa satu-satunya, kita yang salah sudah memanjakan dia. Untuk itu mama akan kirim kamu keluar negeri. Disana kamu akan tinggal bersama tante Syila.
"Tidak aku tidak mau ma, tante syila kan miskin kebetulan saja dia disana karena bekerja jadi Tkw, gak mau. Korry tidak mau tinggal disana titik!" jelas Korry pada mamanya.
"Papa setuju ma, anak ini harus bisa diajarkan hidup susah. Secepatnya papa urus keberangkatan kamu kuliah disana. Dan kamu cari uang sendiri untuk keperluan kamu. Ini semua hukuman untuk kamu!" ucap Gunawan yang marah karena sikap anaknya yang membangkang.
Gunawan pergi dari hadapan istri dan anaknya, berjalan kearah kamar mereka dan memijit kepalanya yang terasa begitu sakit.
Dengan jabatan Rektor itu Gunawan bisa menjadi petinggi didaerah mereka kerena ulah anaknya dia kehilangan kesempatan itu.
Dikantor Rymon disibukkan dengan pekerjaannya yang masih menumpuk. Notif pesan masuk dan itu dari Vika.
'Bisa kita bertemu, ada yang ingin saya sampaikan Rymon' Pesan Dari Vika
Hati Rymon begitu bahagia bukannya tadi mereka sudah bertemu dipengadilan dan dikantor.
Ini adalah hal yang jarang terjadi baginya, dengan jari yang menari-nari Rymon membalas Chat Vika. Menyetujui pertemuan yang Vika inginkan.
'Bisa.dimana kita bertemu' balas Rymon dengan hati gembira.
'Ok Cafe dekat toko saja, biar saya minta antarkan mang becak'
'tidak saya akan jemput, sampai bertemu malam nanti'
__ADS_1
Tidak sabar menunggu malam nanti, tanpa Rymon sadari Cikko berada dihadapannya.
Rymon kaget melihat sosok Cikko ada dihadapannya "kenapa kamu ada disini, lupa kamu cara mengetuk pintu hem??" tatap Rymon dihadapan Cikko.
"Maaf Tuan saya sudah mengetuk pintu sejak tadi tapi tidak ada jawaban, jadi saya masuk dan melihat Tuan sedang tersenyum bahagia. Apa ada yang membuat Tuan bahagia, bagilah dengan saya Tuan" duduk dihadapan Tuannya.
"Aisss kamu Kepo tingkat akut, asal kamu tahu saya mendapatkan notif chat dari Vika. Dia mengajak saya bertemu dicafe dekat tokonya. Jadi malam ini saya akan keluar dan kamu tinggal dirumah awas kamu meninggalkan rumah" Ucap Rymon bahagia.
"Saya balik ke apartemen saja Tuan, kasian apartemen saya hanya dibeli tidak ditepati" kata Cikko.
"Kamu ditinggal sebentar mau pulang saja, bukannya Ibu menyuruh kamu menjaga saya. Ada petugas kebersihankan untuk membersihkan apartemen untuk apa kamu lelah membersihkannya!!"
"Baik lah saya menyerahkan berkas-berkas ini, setelah selesai ditanda tangani akan saya ambil kembali permisi Tuan" pamit Cikko.
"Hem"
Cikko pergi meninggalkan ruangan Rymon, benar-benar tuan Rymon sedang jatuh cinta, misi saya dan Nyonya besar berhasil. Semoga saja Nyonya besar juga bisa secepatnya balik kerumah jadi aku bisa pulang ke apartemenku ucap Cikko dalam hatinya
Hari sudah sore, pekerjaan kantor sudah selesai Rymon dan Cikko pulang lebih awal karena bosnya yang bucin.
Ditengah jalan Rymon meminta Cikko membelikan sesuatu yang bisa dia bawa untuk Vika saat bertemu nanti.
Cikko yang bingung akan membawa apa nanti mencari-cari apa yang cocok untuk Vika. Saat matanya tertuju pada bunga mawar jadi Cikko memutuskan membeli bunga mawar.
Warna merah seperti Jiwa Vika yang selalu membara karena semangat untuk bisa maju dari kemiskinan. Wanita tangguh yang tak pantang menyerah dengan kehidupan.
Digampar pun Vika tetap kuat, semoga saja Bunga itu Vika suka gumam Cikko yang keluar dari mall menuju parkiran mobil Tuannya.
"Apa-apaan kamu membeli mawar memang saya mau menyatakan cinta untuk Vika. Yang ada dia ilfeel sama saya, hanya pertemuan biasa yang saya tidak tahu akan membicarakan apa" kata Rymon yang melihat Cikko datang dengan setangai bunga mawar untuknya.
"Berikan saja tuan karena Vika menggambarkan setangkai mawar ini. Tangkai mawar menggambarkan Vika sendiri sedangkan mawar itu sendiri menggambarkan wanginya seorang Vika dari sikap dan perbuatannya. Lalu warna mawar itu sendiri menunjukan keberanian dari sosok Vika" ucap Cikko panjang lebar.
"Saya tahu tapi, isss masuk lah saya sudah bosan disini"
__ADS_1
Meletakkan bunga itu disamping Rymon dan Rymon membiarkannya.
Bersambung