
Sampai ditoko, banyak orang mengerumuni toko Vika, Vika pikir orang yang berbelanja banyak sekali sampai membludak. Turun dari becak memberi ongkos becaknya, dengan tergesa-gesa.
Ini orang belanja apa ada yang ditonton, pikir Vika yang menerobos orang banyak melihat ada apa orang ramai menonton isi tokonya.
"Siapa kalian, kenapa kalian mengancurkan tempat saya berjualan!" ucap Vika lantang tanpa takut, pada preman-preman yang mengacak daganggannya.
"Mbaaa" lari Ayu memeluk Vika karena ketakutan.
"Ada apa ini de, kenapa mereka mengacak tempat ini" tanya Vika yang menelepon no kantor polisi yang disimpannya bila sewaktu-waktu memerlukan.
Mematikan teleponnya dan Vika mendatangi Ibu kost dan Dewi yang juga ketakutan saat melihat preman-preman itu mengobrak - abrik jualan Vika.
Mobil patroli polisi datang dan beberapa polisi menembus gerombolan warga yang hanya menonton aksi preman-preman itu.
Suara pistol pa polisi yang ditembakkan kearah langit, membubarkan preman-preman yang mengobrak-abrik tempat orang jualan.
Warga juga ikut bubar dengar suara pistol itu ditembakkan kearah langit. Begitu lah masyarakat sekarang, bukan menolong malah menonton dan merekam aksi preman-preman itu.
Beberapa preman dapat ditangkap anggota polisi sedangkan yang lainnya berhasil lolos.
Seorang komandan pimpinan patroli itu mendatangi kami yang ketakutan dan hanya bisa menyaksikan tempat jualan itu porak poranda.
"Selamat Siang Ibu Vika yang mana?" tanya pa polisi yang terlihat tampan dengan baju seragamnya.
Polisi kenapa ada yang putih bersih pikir Vika yang berhasil terpana melihat ketampanan komandan polisi, badan Vika digoyangkan Ayu karena Vika tidak melihat tangan pa polisi yang mengarah padanya.
"Mba pa polisi nanya mba tu, kenapa mba malah bengong" bisik Ayu ditelinga mbanya.
Kaget Vika dan spontan menyambut tangan pa komandan. Maaf pa saya masih shock kejadian tadi.
"Saya Vika pa, saya yang menelpon kekantor polisi tadi. Terima kasih atas bantuannya pa sudah membantu kami atas kejadian tadi."
"Saya Ferry komandan dari polsek Jakarta kebetulan sedang patroli dan mendapat telepon dari kantor kawasan ini sedang terjadi keributan dari preman-preman."
"Apa ada yang terluka bu Vika?"
lagi-lagi Vika terpana, tapi cepat Ayu mencoleh tangan mbanya.
"Tidak pa, tidak ada yang terluka hanya kami shock atas kejadian ini. Biasanya kawasan disini aman tentram." ucap Vika yang masih menatap pa komandan berbicara.
"Kalau ada waktu silahkan kekantor bu, untuk membuat laporan kejadian hari ini. Agar dapat kita usut, siapa dibalik dalang semua ini" ucap pa komandan dan pamit pada Vika dan semua yang ada diruangan toko.
"Ya ampun nak, toko kamu jadi berantakan seperti ini. Siapa orang-orang itu, kenapa mengirim preman-preman itu menghancurkan tempat ini" ucap ibu kost yang masih panik
"Tapi ibu baik-baik saja ada yang terluka" tanya Vika
"Tidak nak, ibu hanya kaget"
__ADS_1
"Dewi, Ayu..apa kalian juga terluka?"
"Tidak mba" kompak menjawab sambil menyusun barang-barang yang berantakan.
"Mba apa ini ulah pria gendut yang sempat berdebat sore kemaren mba? celetuk Ayu disela merapikan barang-barang.
"Siapa nak?" tanya Ibu
"Tidak tahu Ayu, aku juga tidak mau menuduh orang itu. Kalau pun dia pelakunya, biar polisi usut. Kemaren ada 2 orang pria berjas sepertinya orang kantoran bu, mereka mau order tapi tidak sopan dan aku sempat berdebat dengan bosnya."
"Apa dia pelakunya" tanya ibu yang juga bertanya sambil membantu anak-anaknya.
"Tidak tahu bu, semoga polisi bisa usut semua. Ibu istirahat saja bu, biar disini aku dan Ayu yang mengurusnya. Dewi bawa Ibu pulang de, takut ibu Shock dengan kejadian tadi"
"Tidak nak, Ibu disini menemanimu sampai semua ini beres" ucap ibu kost tidak meninggalkan anak-anaknya.
"Terima kasih bu, memeluk ibu kost merasakan kehangatan Ibu yang dia dapat dari Ibu kost. Hiks. Vika takut bu, tapi mencoba sabar agar yang lainnya ikut kuat"
Ayu dan Dewi juga menghampiri Vika yang memeluk Ibu kost, ikut memeluk Ibu kost dan menangis bersama.
"sudah-sudah kita lewati bersama-sama, ibu yakin ini ujian dari Tuhan untuk Vika nak. Agar Vika bisa menghadapi semua rintangan dan halangan. Perbanyak doa dan Sholatnya" mengelus lembut belakang anak-anaknya. Karena Ibu kost sudah menganggap Vika seperti anak sendiri.
"Ayo de, kita tutup tokonya biar enak dibereskan" ucap Vika mengajak Ayu menutup toko pedahal hari masih siang.
Menghapus sisa air mata yang masih tersisa, Vika mencoba tabah menghadapi kejadian hari ini.
Saat hendak menutup toko sebuah mobil barang datang dan menurunkan mesin jahit pesanan Vika dipasar tadi.
"Habis topan badai mba tokonya berantakan" ucap pa kurir yang melihat kejadian ditoko Vika.
"Tidak apa-apa pa, hanya ada insiden sedikit. Tolong ditaroh disitu saja pa, nanti kami tata kembali" ucap Vika menanggapi perkataan pa kurir.
Vika menelepon 2 orang yang akan masuk bekerja hari ini, agar masuk awal bulan nanti saja karena ada kendala ucapnya. Karena tidak mungkin mereka bekerja dengan kondisi berantakan dan Vika akan disibukkan dengan laporan polisi juga.
Toko mulai ditutup, lagi-lagi ada mobil yang berhenti didepan toko Vika. Vika seperti pernah melihat mobil itu.
Seorang pria berjas turun, mendatangi toko Vika yang hampir ditutupnya. Vika mengingat laki-laki itu adalah anak buah bos gendut yang berdebat dengannya sore kemaren.
"Siang nona, kenapa cepat sekali tutup" ucap Cikko yang kembali datang ketoko Vika untuk meneruskan orderan yang tertunda sore kemaren.
"Heii, kalian masih belum cukup menghancurkan toko mba aku. Pura-pura bertanya kenapa toko tutup" bentak Ayu, yang pendiam tapi bisa marah juga karena Ayu ingat wajah Cikko yang datang bersama Bosnya sore kemaren.
Cikko bingung akan pernyataan gadis manis idolanya itu yang tiba-tiba marah padanya.
"Maksudnya nona?"
"Begini tuan, ini lihat toko saya dirusaki oleh preman-preman dua jam yang lalu" ucap Vika yang lebih pelan berbicara karena dia cape dengan kejadian hari ini.
__ADS_1
Kaget Cikko mendengar perkataan nona pemilik toko itu. Pamit permisi untuk melihat kondisi toko Vika, Cikko melihat isi toko yang porak - poranda.
"Maaf nona Vika, saya sebagai sekretaris tuan Rymon berani bersumpah kalau pa Rymon bukan dibalik semua ini. Bahkan tuan kami masih terbaring dirumah sakit setelah pulang dari sini, maaf. Tuan kami pergi ke club malam untuk minum-minun dan pulangnya mabuk, entah kenapa tidak biasanya tuan kami tidak sadarkan diri setelah pulang mabuk tadi malam. Biasanya tuan kami sudah biasa minum sampai mabuk seperti itu" ucap Cikko yang membela Bosnya, karena memang bosnya tidam pernah menyuruh orang untuk merusak tempat jualan Vika.
Vika dan Ayu bertatapan setelah mendengar penjelasan laki-laki itu.
"Laporkan saja kejadian ini dikantor polisi, apa mau saya temani nona?"
"Astaga sampai lupa saya tadi pa komandan itu menyuruh saya membuat laporan kejadian tadi" ucap Vika menepuk jidatnya saking panik dengan keadaan.
"Mari saya antar nona, biar saya temani agar cepat ditangkap pelakunya" ucap Cikko.
"pergilah nak, kamu harus ada yang mendampingi. Sepertinya pria itu baik, kamu pasti aman" ucap Ibu kost yang mendengar juga percakapan mereka dari awal pria berjas itu datang.
"Apa boleh saya pergi bersama ade saya Ayu?" tanya Vika
"Tentu nona, maaf dengan nona siapa'l" tanya Cikko
"Saya Vika ,ini adik saya Ayu dan Itu Ibu saya dan adik saya juga Dewi." ucap Vika pada Cikko dan Vika menghampiri Ibu kost.
"Ibu, Vika tinggal apa berani ditoko hanya berdua dengan Dewi saja. Kalau ibu mau pulang saja bu, biar aman dan ibu bisa beristirahat" ucap Vika menggenggam lembut tangan ibu Kostnya yang sudah Vika anggap Ibu sendiri.
"Ibu dan Dewi tetap disini nak, biar Bapak nanti menemani disini. Dewi teleponkan nanti, takutnya ada apa-apa saat kita semua tidak ada yang menunggui tokomu nak." ucap Ibu Kost Vika yang kekeh tetap menuggu Vika pulang dari kantor polisi.
Tidak berapa lama, mobil yang ditumpangi Vika dan Ayu meluncur kepolres terdekat.
Vika dan Ayu turun dari mobil dan disusul Cikko mengekori dua wanita itu berjalan masuk kantor polres.
Mereka dipersilahkan duduk oleh komandan Ferry yang masih berada dikantor setelah penangkapan preman-preman tadi.
"Maaf Pa Komandan, saya baru bisa mendatangi kantor polisi setelah membereskan sebagian isi toko saya" ucap Vika yang masih terpana juga melihat ketampanan komandan Ferry.
Mata Cikko melihat Vika menatap Komandan itu begitu terpana. Memang aneh pikir Cikko anggota polisi kok bisa putih bersih. Apa dia kerja diruangan tidak diluar ucap Cikko menggerutu dalam hatinya.
"Baik, tidak apa-apa ibu Vika. Kami paham dengan kejadian seperti itu membuat ibu panik dan shock juga. Baik, apa ibu akan membuat laporan sekarang" ucap pa komandan yang sedikit canggung berbicara karena Vika tidak berkedip menatapnya.
Ayu lagi-lagi harus menyadarkan Vika dari lamunannya, entah kenapa pikirnya mba Vika kalau berbicara dengan komandan itu dari tadi tidak berkedip sedikit pun.
Sadar akan kode dari Ayu, lagi-lagi Vika malu karena terlalu lama menatap wajah pa komandan yang tampan mirip oppa korea.
"Saya akan membuat laporab kejadian tadi pa"
Ucap Vika terbata-bata karena malu ketahuan menatap komandan begitu lama.
"Baik bu mari saya membawa ibu kepada teman kami yang akan membantu ibu mengusut kejadian hari ini" ucap pa komandan membawa Vika dan teman-temannya keruangan penyelidikan.
Saat diruang penyelidikan Vika disuruh mengisi beberapa formulir pengaduan. Beberapa pertanyaan diajukan pada Vika dan Ayu saat itu.
__ADS_1
Untuk melanjutkan perkara itu, Vika disuruh menunggu kabar dari pihak kepolisian kabar selanjutnya.
Bersambung