Celana Dalam

Celana Dalam
BAB 35


__ADS_3

Ayu yang mengintip dari balik dinding, ikut mengeluarkan air matanya. Dia juga merasa beruntung bertemu bude Rahma dan Mba Vika.


Ibu Cantika yang melihat kepala Ayu kadang muncul kadang hilang. Penasaran kenapa Ayu seperti itu. Ibu Cantika memberi kode pada Vika dengan bibirnya.


Vika yang melihat kode dari Bu Cantika menoleh kebelakang. Kebetulan Vika duduk membelakangi Ayu yang nguping mereka bicara.


"De, kenapa jadi nguping. ngapain nangis sendiri disitu. Sinilah.. Haa" Vika dan yang lainnya tertawa lihat Ayu ketahuan menguping dan menangis sendiri.


"hiks hikss, mba Vika.." memeluk Vika dari belakang.


"Ayu sedih, aku susah mba lebih susah lagi. Aku gak mau sekolah deh mba. Aku mau bantu mba Vika biar kita jadi kaya dan tidak dihina orang mba." ucap Ayu yang masih menangis, bergelayut manja dibelakang Vika.


"Janganlah de, kamu tetap sekolah setidaknya tamat SMA." kata Ayu yang mengelus tangan Vika yang masih bergelayutan.


"Aku ambil paket C saja mba sudah bisa masuk kuliah, teman aku dulu dikampung gitu mba" ucap Ayu yang duduk disebelah Vika.


"Betul juga, Ibu pernah dengar seperti itu nak Vika" Jawab Bu Rahma.


"Tapikan waktu itu mba sudah daftar kamu de, nanti berkasnya gimana" tanya Vika menatap Ayu.


"Gampang lah mba, tinggal ditarik. Sayang uang SPPnya mending buat masuk kuliah nanti hee" jawab Ayu cengegesan.


"Wes lah yu, terserah kamu. Kamu yang sekolahnya"


"Asik makasih mba, Ayu mau bikin jahitan yang banyakkkkk. Biar mba Vika kaya, aku ikut kaya juga."


"Jadi orang kaya gak gampang nak Vika, lihat anak Ibu. Sibuk bekerja, tapi Ibu tidak diperhatikan." ucap Bu Cantika.


"Wah serba salah ya" ucap Ayu garuk-garuk kepala.


"Sudah malam bu, apa kita pamit dulu. Biar Bapak siapin surat menyurat toko" ucap Bapak yang merasa lama meninggalkan rumah yang tidak terkunci olehnya.


"Ya sudah pa, nak Vika Ayu Bu Cantika kami pamit ya. Ibu makasih Nak sudah membeli toko ini. Tapi Ibu tetap bantu kamu, dari pada sepi dirumah"


Bu Cantika masuk kamar untuk beristirahat, Vika mengurungkan niatnya untuk mendengar cerita Bu Cantika. Vika dan Ayu bergelut dalam mesin jahit mereka masing-masing.


Tidak ada pembicaraan diantara mereka, yang ada hanya bunyi mesin jahit. kegiatan menjahit ini Vika lakukan agar pagi mereka bisa melayani pembeli.


Orderan yang masuk semakin banyak, tapi mereka tidak ingin orderan menjadi beban. Mereka membuat orderan dengan santai tapi rapi dan pelanggan puas.


Nota orderan setiap hari masuk, Vika selalu menggantungnya di papan orderan. Orderan yang terselesaikan dan diterima pelanggan Vika simpan dalam album.


Ayu lebih dulu kekamar setelah pamit beristirahat, Ayu menyelesaikan orderannya dan siap dikirim esok hari.

__ADS_1


Vika juga kembali beristirahat, sebelum tidur Vika menyempatkan sholat dan berdoa padaNya untuk mengucap syukur atas nikmat hidup yang diberikan. Vika mengucap syukur atas kehadiran orang-orang yang baik dikelilingnya.


Ibu Cantika yang sempat terbangun, meneteskan air mata mendengar doa Vika. Takut Vika terganggu istirahatnya, bu Cantika tidak ingin Vika tahu dia bersedih. Jadi Bu Cantika kembali memejamkan matanya.


Pagi Hari


~Kediaman Rymon~


Rymon bangun lebih awal dari biasanya, karena Cikko membangunkannya untuk Sholat dan menemani Tuannya untuk memulai hidup sehat. Sulit memang karena candu, tapi demi hidup lebih baik. Rymon siap dengan segala resikonya.


Hari mulai terang, Rymon berlari kecil ingin mengelilingi komplek. Cikko yang ada dibelakang membuntuti tuannya dengan sabar.


Tapi belum 5 menit berlari kecil Rymon tidak kuat, dia ingin duduk dipinggir jalan tapi Cikko melarangnya. Bahkan rumah saja masih terlihat ucap Cikko saat menemani tuannya Joging.


"Berisik kamu Cikko, saya ini baru mulai wajar saja saya lelah. Tubuh saya masih beradaptasi dengan aktivitas ini" ungkap Rymon yang kesal dilarang duduk dan meminta air pada Cikko.


Cikko yang mendengar itu, hanya terdiam. Baik pikirnya dia membiarkan untuk kali ini, mungkin benar tubuhnya tuan masih perlu beradaptasi.


"Ayo tuan 5 menit lari 10 menit tuan beristirahat" ucap Cikko yang melihat jam ditanggannya.


"Ais, kamu keterlaluan Cikko. Kenapa aku punya sekeretaris seperti kau!" kesal Rymon dan kembali berlari.


Kali ini Rymon berlari lebih kencang agar lebih cepat sampai tujuan mereka. Tapi Rymon salah, justru dia lebih lelah dan terasa capenya dari awal mulai.


"Tapi aku merasa sudah jauh Cikko! Kenapa hanya sampai segini saja " ucap Rymon yang mengatur nafasnya dengan tangan dipinggang.


"Begini saja Tuan, kita jalan kaki saja dulu beberapa hari ini. Nanti kalau terasa ringan baru kita berlari bagaimana?" usul Cikko


"Astaga Cikko kenapa tidak dari tadi saja bilang itu, ahhh kamu ini" geram Rymon yang kembali berjalan sampai depan komplek dan berjalan kembali kearah rumahnya.


Penjaga rumah Rymon menyapa tuannya yang terlihat kelelahan. Rymon hanya menggangguk saat menyahut sapaan penjaganya.


Cikko yang ada dibelakang tuannya, disapa juga oleh penjaga dan mereka melakukan tos tangan saat bertemu.


Kenapa penjaga dan Art dirumah ini lebih akrab dengan Ibu dan Cikko. Tapi dengan saya mereka seperti melihat hantu dan ketakuktan. Gumam Rymon yang terus berjalan memasuki rumah dan pergi kekamarnya.


Seperti setahun rasanya Rymon meninggalkan tempat tidurnya. Tempat ternyaman saat ini gumam Rymon dalam hatinya setelah berjalan beberapa km tadi.


tok tok tok


Tidak ada sahutan, Cikko membuka kamar dengan pelan. Astaga tuan masih terbaring ditempat tidur, lekas Cikko masuk dan membangunkan tuannya.


Beberapa kali goyangan ditubuh Rymon membuat Rymon terbangun dan langsung duduk.

__ADS_1


" Apa-apaan kamu membangunkan tidur saya, baru saja baring." geram Rymon.


"Tuan ini sudah pukul 7, sudah sejam Tuan berbaring dari joging kita tadi"


"Masa rasanya aku baru terbaring, aku mau tidur. Hari ini tidak masuk kerja" ucap Rymon kembali tidur.


"No no no, tidak seperti ini perkataan tuan kemaren. Kamaren tuan semangat akan mengikuti joging kenapa hanya kata-kata saja, bangun tuan dan makan sarapan dietmu" kata Cikkoa yang bersusah payah menarik Tuannya agar bangkit dari pembaringan.


"Astaga Cikko kenapa kamu jadi cerewet melebihi Ibu sih? Ucap Rymon geram dan bangkit menuju kamar mandinya.


Sepanjang langkahnya menuju kamar mandi mulut Rymon tidak henti-hentinya memaki Cikko yang selalu mengganggu tidurnya.


Cikko tidak patah semangat, meskipun sulit mengatur pola sehat tuannya. Dia tidak mau kalah, karena semua demi tuannya.


Beberapa menit berlalu, Rymon sudah keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit dipinggang. Menuju lemari bajunya, dia melihat Cikko masih ada dikamarnya.


"Ngapain masih disini, tunggu saya dibawah saja. Macam istri menunggu suaminya pakai baju saja kamu"


"Saya mau menunggu tuan, takut tuan kembali tidur. Dan saya menunggu tuan juga agar bisa sarapan bersama" ucap Cikko yang sudah berdiri dari duduknya.


"Astaga Cikko, segitunya kamu. Terserah, salah saya harus minta kamu yang menemani joging bawel macam wanita" jawab Rymon yang kembali memasang pakaiannya.


setelah beberapa lama menunggu Rymon bersiap, mereka keluar bersama menuju meja makan.


Meneliti meja makan yang ada hanya menu sayur mayur dan segelas susu. Dimana makanan beratnya gumam Rymon dalam hatinya.


Cekatan Cikko menarik kursi tuannya dan Rymon duduk dikursi yang disiapkan Cikko.


"ini sarapan saya Cikko? Mana makanan beratnya?" tanya Rymon yang meminum segelas susu yang tandas diminum Rymon


"Tidak ada makanan berat tuan, karena mulai sekarang tuan akan memakan sayuran ini sepanjang hari. Kalau Tuan ingin makan daging ikan ada harinya tuan tidak bisa setiap hari" kata Cikko panjang lebar dan duduk jauh didepan tuannya.


"Mbeeeeee" Rymon meniru suara kambing.


Art yang menguping Rymon dari tadi cekikikan saat Tuan mereka menirukan suara kambing.


"kamu pikir saya kambing sapi gitu sayur seperti ini, ihhh tidak Cikko. Silahkan kamu makan saya tunggu kamu dimobil" ucap Rymon yang berdiri dari kursinya. Lekas Rymon menarik tangan tuannya untuk duduk kembali.


"Sialan kamu Cikko, saya ini bos kamu. Berani kamu memaksa saya seperti ini" geram Rymon yang masih menahan gemuruh emosu didadanya, tunggu meledak maka habislah Cikko.


"Saya hanya membantu tuan, semua ini untuk anda."


Cikko membisikkan sesuatu ditelinga tuannya dan lekas Rymon memakan makanan yang ada dihadapannya. Enak juga gumam Rymon karena sayuran itu bercampur dengan buah-buah yang manis dan ada saus mayones yang menemani.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2