
Ibu Cantika sampai dikamar anaknya dengan wajah yang bersedih. Dia melihat anaknya yang sudah bisa bersandar diranjang.
"Selamat pagi, sepertinya keadaan kamu semakin membaik." ucap Ibu yang langsung membelai tangan anaknya.
"Pagi Bu,iya sudah bisa duduk aku menunggu ibu dan ingin makan" lancar sudah Kata-kata Rymon dan celingak celinguk melihat arah pintu.
Ibu yang melihat Rymon menatap pintu seperti ada yang ditunggu.
"Cikko sedang mengurus administrasi Rumah sakit nanti juga akan kesini, kalau lapar Ibu suap ya biar Ibu siapkan dulu makanannya." begitulah Rymon meskipun umur sudah 30 tapi dia masih manja dengan Ibunya.
"Mana wanita yang bersama Ibu malam tadi, apa tidak ikut bu dan kenapa mata Ibu bengkak?" tanya Rymon
"Oh, kamu menunggu Vika dan Ayu? Mereka tidak ikut nak, kalau mereka ikut siapa yang mengurus jualan mereka kan mereka hidup dikota ini seorang diri, jadi harus berjuang menghidupi diri mereka. Kalau mata Ibu ini karena kami dari malam tadi bersama nak Vika menangis, mereka tidak ingin berpisah dengan Ibu" jawab Ibu
"Mungkin karena Ibu orang kaya jadi mereka seakan menahan Ibu disana," ucap Rymon yang tak punya beban sama sekali saat mengucapkan perkataan Ibu.
Ibu yang mendengar perkataan Rymon terhenti dengan aktivitasnyas.
"Jaga bicara kamu nak, mereka bukan orang yang seperti itu. Selama mereka tidak tahu siapa Ibu, mereka memperlakukan Ibu begitu mulia. Karena mereka adalah anak yatim. Meskipun mereka miskin mereka tetap berbagi. Asal kamu tahu, setelah kamu sembuh nanti Ibu akan kembali kesana dan menetap disana. Karena Ibu tahu, kamu tidak akan mendengar perkataan Ibu. Dan Ibu tidak mau tinggal dirumah mewah dan besarmu itu. Kamu membiarkan Ibu seorang diri disana, dan Ini makan kamu makanlah kamu sudah sehat" ucap Ibu panjang lebar, hatinya sakit saat anaknya menghina Vika dan Ayu. Duduk Ibu disofa yang ada didalam kamar anaknya dengan tetesan air mata.
Cikko yang ada didepan pintu menyaksikan Ibu dan anak itu adu mulut. Benar-benar tuan Rymon tidak punya perasaan, orang baik seperti nona Vika dikatakan seperti itu, gumam Cikko dalam hatinya. Dan masuk keruangan Tuan Rymon.
"Main masuk saja kamu Cikko tidak mengetuk pintu"
"Maaf Tuan saya sudah mengetuknya saat masuk, ini obat tambahan yang diberikan pihak rumah sakit dan Tuan bisa pulang sore ini" ucap Cikko setelah meletakkan obat itu dia mendatangi Nyonya Besar.
__ADS_1
"Ini Nyonya tisu, jangan bersedih lagi nanti mata Nyonya bengkak dan Nona Vika pasti akan sedih jika tahu Nyonya" senyum Cikko saat memberikan tisu itu pada Nyonya Besar.
"Terima kasih nak" kata Ibu sambil mengelus lengan Cikko.
"Oh, jadi kamu berani sekarang membangkak saya dan kamu memilih Ibu. Mau saya pecat kamu Cikko?" Rymon mengambil nampan bubur yang diberi Ibu dipangkuannya. Dan membuangnya sembarang tempat.
Bunyi nampan yang terbuat dari stainless itu memekikkan telinga saat terbentur lantai.
"Maaf tuan saya seperti ini karena saya menyaksikan sendiri ketulusan Nona Vika pada Nyonya Besar. Ayu adik Nona Vika bercerita saat mereka menemukan Ibu pingsan didepan toko, Vika menggendong Ibu dipunggung belakangnya. Bisa tuan lihat, kalau badan Nyonya lebih besar dari nona Vika yang bertubuh kecil."
Belum habis Cikko berkata Rymon murka karena semua orang memuji wanita itu. Pergi kalian semua dari sini, kalau kalian merasa senang tinggal bersama Vika itu segera angkat kaki dan pergi dari tempat ini. Jangan membawa barang apapun dari harta saya.
Ibu mendengar perkataan anaknya menarik Cikko ikut keluar dari kamar anaknya.
Sialan semua orang sama saja, meninggalkanku disaat aku seperti ini. Ibu sudah dipelet wanita itu dan kamu Cikko akan aku buat kamu kembali miskin dan pulang kekampungmu. DASAR KAMPUNGAN KALIAN!!!
"Nyonya kita mau kemana, kasian Tuan seorang diri"
"Stop kamu menjadi penyabar Cikko, biarkan dia seorang diri biar sadar akan sikapnya. Kamu selama ini diinjak-injak bahkan selalu dicaci maki. Dimarahi oleh anak saya diam saja, jadinya dia manja dan seenaknya sendiri" masih memegang tangan Cikko menuju parkiran mobil.
Cikko tahu tuannya berkata seperti itu karena hidupnya terasa kesepian, tuan tidak mau membebankan Ibunya dengan bercerita kepedihan hatinya. Dia memendamnya seorang diri dan menjadi pemarah. meskipun Tuannya terlihat pemarah ada sisi baik dari tuannya yang hanya Cikko yang tahu.
Sampai diparkiran mobil, Ibu menepuk jidatnya. "Astaga Cikko, kenapa kita disini. Seharusnya mencari angkotan umum" kata Ibu yang menggelengkan kepalanya. Dia tidak mau memakai mobil anaknya lagi.
Depan rumah sakit Ibu menunggu angkot lewat.
__ADS_1
"Nyonya kita akan kemana?" tanya Cikko.
"Kita akan kembali ketoko Vika dan Ayu" jawab Ibu yang mukanya begitu berseri saat mengucapkan tujuannya.
"Nyonya pergilah kesana, biar saya tetap disini bersama tuan Rymon. Kalau kita semua pergi meninggalkan Tuan Rymon dia akan kesepian Nyonya. Saya akan baik-baik saja Nyonya, saya akan disisi tuan sampai kapanpun." ucap Cikko.
"Astaga nak, Ibu yang Ibunya sendiri tidak tahan dengan perkataan anak Ibu. Kamu punya stok kesabaran yang begitu besar. Ibu tidak salah membawamu dari kampung, terima kasih sudah menjaga anak Ibu dan masih mau mengurusi pria gendut yang pemarah itu. Ibu pergi ya, kamu tahu kemana Ibu akan pergikan?"
"Baik Nyonya, apa saya antar saja, disini angkot jarang lewat kebanyakan taksi Nyonya." ucap Cikko.
"Tidak nak, Ibu naik angkot saja. Ibu trauma naik taksi." Saat angkot lewat, cepat Cikko melambaikan tangannya dan mempersilahkan Nyonya besar masuk dengan hati-hati. Dia menaruh telapak tangannya agar kepala Nyonyanya tidak terantuk pintu angkot.
Penumpang angkot itu menyaksikan perbuatan Cikko, melindungi Nyonyanya dari terluka. Mereka berbisik satu dengan yang lainya. Sopir angkot juga menyaksikannya.
Saat Ibu Cantika sudah duduk bersama penumpang lainnya, seorang ibu menegurnya.
"Maaf Ibu saya kepo, apa itu tadi anak Ibu. Begitu mulianya hati anak Ibu dia menjaga Ibu dengan sangat baik. Bahkan saya tidak pernah diperlakukan seperti itu oleh anak dirumah.
Ibu Cantika hanya tersenyum, bahkan dalam hatinya Cikko yang bukan anaknya begitu memperdulikannya dan melindungi. Anak kandung sendiri malah memarahiku. Sungguh ironis sekali perbedaan yang begitu jauh, bahkan tak pernah mendidik anak dengan salah.
Cikko yang akan kembali kekamar tuannya, dipanggil seorang yang mengenalinya. Cikko melihat ternyata yang memanggilnya adalah teman Cikko saat bersekolah didesa.
Karena lama tidak bertemu, mereka memutuskan untuk mengobrol dikantin rumah sakit. Dan Cikko lupa tujuan awalnya.
Bersambung
__ADS_1